Trust In Timing

Trust In Timing
i'll be seeing you


__ADS_3

Sepulang kerja Alora memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar, mengisi perutnya dengan makanan yang dia inginkan, mencari beberapa kebutuhan sehari-harinya dan dia juga berencana untuk mencari buku yang sudah lama dia minati. Alora memilih menaiki kereta MRT untuk mempersingkat waktu di perjalanannya agar tidak terjebak macet. Alora kini sedang terduduk menunggu kereta MRT tiba sambil membaca buku yang dia bawa. Setelah menunggu selama beberapa menit akhirnya kereta MRT tiba, Alora segera menaiki kereta MRT dan memilih tempat duduk di dekat pintu dan langsung melanjutkan membaca bukunya lagi sambil mendengarkan musik melalui earphonenya. Di tengah perjalanan Alora terus mendapatkan panggilan masuk, awalnya dia mengabaikannya dan ingin fokus dengan buku yang dia baca namun dia merasa terganggu juga merasa penasaran, siapa yang terus menghubunginya dan kenapa hingga terus-menerus menghubunginya, dia juga merasa khawatir, bagaimana jika itu seseuatu yang penting hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengecek ponselnya. Alora meletakan bukunya di kursi kosong sisi kanannya dan segera menyalakan ponselnya, di layar ponselnya terlihat 7 panggilan tak terjawab dari adiknya


"Kenapa? Kakak lagi di jalan" Alora segera mengirimkan pesan pada adiknya, jelas dia merasa khawatir


"Gawat...gawatttt!" Dalam hitungan detik adiknya sudah membalas pesan Alora membuat Alora merasa semakin khawatir, wajahnya terlihat gelisah


"Kenapaa?! Ada apa?! Yang jelas!"


"Mama..." adiknya masih mengetik setelah mengirim pesan itu


"Mau ke Jakarta buat ketemu calon suami kakak!" Alora mengerutkan keningnya lalu menghela napas merasa lega karena itu bukan ketakutan yang sempat terpikirkannya


"Katanya, dia harus menemui pacar kakak secepatnya sebelum dia kabur karena sikap kakak"


"Kabur? Memangnya sikap kakak kenapa?" Dengan polosnya Alora bertanya ke adiknya


"Jutek! Egois! Galak! Dan nggak romantis" Balas adiknya sedikit menggoda Alora


"Bercanda!" Setelah sadar diabaikan Alora, adiknya segera mengirimkan pesan lagi


"Jadi gimana nih? Gapapa mama ke Jakarta?" Tanya adiknya, dan itu yang saat ini sedang Alora pikirkan, apa yang harus dilakukannya


"Sial! Gara-gara Allen nih!" Batin Alora


"Bilangin ke mama jangan ke Jakarta nanti kakak yang pulang" Tepat setelah mengirimkan pesan itu Alora mendengar pemberitahuan kereta MRT akan berhenti di stasiun tujuannya, Alora langsung berdiri begitu kereta berhenti dan dia langsung keluar dari kereta, melupakan bukunya.


"Ahh... buku gueee!" Teriak Alora begitu menyadari bukunya tertinggal di dalam kereta, wajahnya terlihat murung, buku yang sulit didapatkannya kini hilang karena keteledorannya


"Disini!" Seseorang di belakang Alora tiba-tiba bersuara


"Buku inikan?" Dia berjalan ke hadapan Alora dan bertanya padanya sambil menunjukan buku yang dibawanya dari kereta MRT, buku milik Alora


"Heem, buku itu... punya gue" Jawab Alora terdengar ragu


"Kok ragu?"


“karena bukan cuma gue yang punya buku seperti itu”


“Yes Is More. An Archicomic on Architectural Evolution” Dia membaca judul pada buku itu


“Seorang Arsitek?” tanyanya sambil menatap Alora, dia menebak pekerjaan Alora setelah melihat buku yang dibacanya


“Bukan!”


“Bukan? Jadi…”


“Jadi itu buku gue atau bukan?” Alora langsung memotong


“Buku lo!” Pria itu tersenyum sambil menyodorkan buku itu pada Alora untuk mengembalikannya, iya dia seorang pria yang sejak awal mengikuti Alora, pria yang terus memperhatikannya Alora di kereta MRT, pria yang rela menukar jam tangan mewahnya yang bernilai ratusan juta dengan sebuah kartu tiket untuk mengejar Alora, dialah Raksa.


“Thanks!” Alora segera menerima bukunya


“Raksa!” Raksa mengulurkan tangannya untuk mengajak Alora berkenalan namun Alora malah terdiam tak menerima uluran tangannya


“bolehkan gue berkenalan dengan lo?” Raksa bertanya karena Alora tak kunjung terima uluran tangannya


“Alora!” Alora menerima uluran tangan Raksa, setelah memikirkannya Alora merasa tak ada salahnya untuk sekedar berkenalan dengannya terlebih dia sudah membantu mengembalikan bukunya dan sepertinya dia bukan orang jahat ataupun orang aneh seperti Allen, pikir Alora


"Alora?" Raksa mengulang namanya lalu tersenyum, tentu saja dia bahagia setelah berhasil mengetahui namanya


"Kok buku gue ada sama lo?"


"Tadi kita satu kereta dan liat lo ninggalin buku lo jadi gue bantu buat ambilin karena setahu gue itu buku yang sulit untuk didapatkan. Baikkan gue?" Alora tersenyum mendengar ucapan Raksa


"Heem, baik. Thanks!"


"Your welcome!" Raksa balas tersenyum


"Tapi itu aja nggak cukup!" Raksa tiba-tiba mulai terpikirkan cara untuk lebih mengenal Alora


"Ohhh, gue traktir"


"Gue nggak mau!"


"hah?"


"Gue nggak mau terima traktiran lo sebagai tanda terima kasih lo" Raksa tanpa ragu mengatakannya membuat Alora cukup terkejut


"Jadi... apa mau lo?"


"Jadi temen lo!" Lagi-lagi Raksa menjawab tanpa ragu, Alora lagi-lagi dibuat terkejut dengan jawabannya


"Gue nggak berteman dengan sembarang orang"


"Gue bukan sembarang orang! Gue orang yang udah bantu lo!" Raksa mengingatkan Alora


"Nggak semudah itu untuk berteman!"


"Oke!" Raksa mulai mengerti, sepertinya Alora memang tidak akan mudah untuk didekati dan tentu saja itu membuatnya merasa senang


"Oke!" Terlihat jelas bahwa Alora tak yakin saat mengatakannya dan Raksa menganggapnya lucu


"Tidak mudan berarti tetap bisa kan?"


"hah?"


"Hanya tidak mudah, bukan tidak bisa. Jadi kita masih bisa untuk berteman. Benar?" Raksa memperjelas maksudnya


"En-tah-lah!" Jawab Alora, jelas dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti itu karena biasanya setelah Alora mengatakan itu mereka langsung berhenti meminta berteman dengannya


"Oke! Berarti gue punya kesempatan!" Raksa meyakinkan dirinya juga memperingati Alora


"Terserah!" Alora lalu pergi setelah mengatakannya dan tentu saja Raksa mengikutinya


"Lo mau kemana?" Raksa berjalan lebih cepat agar bisa sejajar dengan Alora


"Bukan urusan lo"


"Lo jutek ke semua orang kan?"

__ADS_1


"hah?"


"Gue akan kecewa kalo lo cuma jutek dan dingin gini ke gue doang" Alora mendadak berhenti setelah mendengar ucapan Raksa


"Ada apa?" Tanya Raksa


"Lo ngikutin gue?"


"Nggak!" Raksa berbohong


"Sebenarnya iya!" Jelas dia tidak bisa berbohong


"Lo..."


"Gue mau jujur sama lo!" Raksa memotong


"Lo nggak akan bilang, lo suka sama gue- ka-n?"


"Hah?" Raksa berusaha menahan tawa setelah mendengar pertanyaan Alora


"Jangan bilang, lo berharap itu?!" Raksa menggoda Alora


"Justru itu yang nggak gue harapkan!"


"Ohh, karena terlalu sering mendengarnya?" Tebak Raksa


"Tenang aja! Bukan itu yang mau gue katakan saat ini"


"Terus apa?"


"Gu-e boleh pinjem ponsel lo?"


"Nggak!" Jawab Alora tanpa ragu


"Gue serius!"


"Gue juga serius!"


"Gue harus hubungin temen gue, ponsel dan dompet gue ketinggalan" Raksa menjelaskan situasinya pada Alora


"Lo harap gue percaya?"


"Lo liat gue!" Raksa menunjukan tangan kosongnya lalu memeriksa saku celananya di depan Alora untuk membuktikan kejujurannya dan jelas terlihat bahwa Raksa memang tidak berbohong, tidak ada tas, dompet ataupun ponsel, yang dia bawa hanya sebuah kartu tiket, Alora bahkan terkejut melihatnya


"Gue beneran harus hubungin teman gue buat jemput gue disini" Raksa berusaha untuk meyakinkan Alora


"Ja-di lo cuma bawa kartu tiket?"


"Iya! So... please help me!" Alora benar-benar terkejut, baru kali ini dia bertemu orang sepertinya dan dengan ragu Alora mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya


"Lo...bukan penipukan? Lo nggak akan bawa kabur hp gue kan?" Pertanyaan polos Alora membuat Raksa tertawa


"Pegang gue!"


"Hah?"


"Tenaga gue nggak lebih kuat dari lo!"


"Kalo gitu, kita bisa minta satpam tolong satpam untuk menahan gue saat gue pake ponsel lo"


"Udah udah! Nih!" Alora langsung menyodorkan ponselnya, setelah mendengar ide-idenya Alora yakin dia memang bukan penipu. Raksa segera menerima ponsel Alora dengan wajah tersenyum, dia senang karena rencananya berhasil. Raksa dengan cepat menulis nomor teleponnya dan menghubunginya, tak jawaban sesuai dengan perkiraannya, sejak awal dia memang sudah tahu tak akan ada yang mengangkat teleponnya karena dia memang menghubungi nomor nya dengan tujuan yang lain. Raksa kemudian menuliskan nomor telepon baru di ponsel Alora, nomor milik temannya dan segera menghubunginya


"Hallo?" Raksa langsung bersuara begitu teleponnya tersambung


"Siapa nih?" Raksa menyalakan speaker membuat Alora dapat mendengarnya


"Ini gue!"


"Raksa?"


"Iya, lo buruan kesini!"


"Heh lo dimana? Tiba-tiba ngilang mana nggak bawa hp lagi" Alora dapat mendengar dengan jelas protesan teman Raksa


"Makanya lo buruan kesini!"


"Kesini kemana?" Mendengar pertanyaan temannya membuat Raksa tersadar, dia bahkan tidak tahu dimana dia berada


"Ini dimana?" Tanya Raksa pada Alora


"Ini... di stasiun Bundaran HI" jawab Alora meski dia merasa aneh dia tetap memberitahu Raksa


"Stasiun MRT Bundaran HI" Raksa memberitahu temannya


"Buset dah! Lo serius dong!"


"Gue serius! Ini gue di stasiun MRT Bundaran HI"


"Lo serius disana?"


"Iya, buruan sini! Bawa mobil gue!"


"Lo ngapain kesana? Jauh amat! Perasaan tadi lo bilang mau beli minum doang kenapa jadi..."


"Buruan!" Raksa langsung memotong, menghentikan temannya yang terus berprotes


"Okeoke gue kesana! Lo tunggu disana! Jangan kemana-mana nanti kesasar lagi! Bikin ribet aja!" Protes temannya lalu langsung mematikan teleponnya. Setelah selesai menghubungi temannya Raksa langsung mengembalikan ponsel Alora


"Thanks!"


"Oke, kalo gitu...gue pergi dulu!" Alora mengambil ponselnya sambil berpamitan


"Oke, hati-hati!" Raksa tersenyum dan Alora langsung pergi meninggalkan Raksa


"Aloraaa!" Raksa berteriak membuat langkah Alora terhenti, Alora kemudian membalikan badan


"Jangan tanya penipu and... see you again!"


***

__ADS_1


Allen terduduk di kamarnya sambil memandangi foto Alora di kamera lamanya, berkali-kali dia jug menulis pesan lalu menghapusnya lagi terlihat ragu untuk mengirimkannya


"Al-ora" Allen memejamkan matanya berharap bisa berhenti memikirkannya namun tetap tak bisa, dia lagi-lagi memandangi foto Alora


"Kenapa lo ada disini?!" Dan lagi-lagi dia tak mendapat jawaban


"Olivia? Benar, gue harus coba tanya dia!" Allen teringat Olivia dan langsung menghubunginya, dia berharap bisa mendapat jawaban darinya


"Hallo, ada apa len? Tumben!" Tanya Olivia begitu menjawab telepon Allen


"Liv, ada yang mau gue tanyain" Allen langsung berterus terang


"Soal?"


"Alora"


"Alora? Tanya apa nih?"


"Sebelumnya... lo pernah kenal Alora?"


"Maksudnya? Sebelumnya kapan?"


"Sebelum Alora sama gue"


"Nggak lah! Gue baru kenal dia di pesta pernikahan Revan"


"Lo yakin?"


"Yakinlah! Eh... kenapa? Kok tiba-tiba nanya gitu?"


"Gapapa nanya aja!"


"Serius lo?"


"Iya, okedeh thanks! Gue tutup!" Allen langsung menutup teleponnya bahkan sebelum mendengar jawaban dari Olivia


"Hehh dasar! Kebiasaan! Maen langsung tutup aja!" Protes Olivia


"Allen?" Tanya Avi yang sejak tadi duduk di samping Olivia sambil memainkan console game-nya


"Siapa lagi?! Cuma sahabat lo yang punya kebiasaan itu!"


"Jangan marah ke gue dong!"


"Karena lo sahabatnya!"


"Oke" Avi langsung setuju karena malas berdebat dengan Olivia, percuma dia akan tetap kalah


"ngapain dia?"


"nanyain Alora"


"Alora? Kenapa nanya ke lo?"


"Kan gue calon sahabatnya Alora!" Jawab Olivia santai sambil melanjutkan memakan camilannya


"nanya apa?"


"nanyain... sejak kapan gue kenal Alora"


"Kok tiba-tiba nanya gitu?"


"Entahlah! Gue juga bingung dan dia juga nggak ngasih tau alasannya" Olivia juga merasa aneh dengan pertanyaan Allen


"Hmm, sabtu ini jangan ganggu gue!" Ucap Olivia tiba-tiba


"Kenapa? Mau ngapain lo?!"


"Hangout!"


"Hangout sama siapa?"


"Alora"


"Alora? Kapan janjiannya? Kok ngedadak bilangnya"


"Gue juga ngedadak kepikirannya. Nih baru mau gue ajak" Olivia menunjukan ponselnya yang sedang menghubungi Alora


"Hallo Aloraaa" Olivia langsung menyapanya begitu panggilannya tersambung


"Hallo Olivia. Ada apa?"


"Nggak! Gue kangen aja!"


"Kok gue nggak percaya ya?!"


"Ishh, dasar! Eh... sabtu ini hangout bareng yuk!"


"Benerkan! Pasti ada apa-apa! Kenapa tiba-tiba ngajak hangout?!"


"Nggak ada! Kan kita udah pernah janjian dan lo baru di Jakarta nya lagi minggu ini"


"Iya sih tapi..."


"Gue nggak menerima penolakan!" Olivia langsung memperingati Alora


"Huhhh!" Alora terdengar menghela napas di seberang sana


"Oke! Sabtu ini!"


"Oke! Nanti gue jemput ke kost lo!"


"Oke!"


"Oh iya, ada yang mau gue bicarain juga nanti" Ucap Olivia yang berhasil membuat Avi teralihkan dari console gamenya karena penasaraan


"Soal apa?"


"Alana"

__ADS_1


__ADS_2