
Raksa memutar balik mobilnya, menancap gas untuk membuat mobilnya mejalu semakin kencang. Raksa bahkan mengabaikan beberapa panggilan masuk karena saat ini tujuannya hanya satu, menuju restoran tempat dia melihat wanita yang selama ini dicarinya, hari ini dia harus bertemu dengan wanita itu, tekadnya. Hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk Raksa sampai di resto itu, dia memarkir mobilnya dan bergegas masuk ke dalam restoran, dia berlari menuju lantai 2, kemudian menuju area outdoor dari resto tersebut, tempat dimana dia melihat wanita itu namun setelah mencari-carinya di sekeliling resto Raksa tetap tak menemukannya. Sekali lagi Raksa memeriksa area outdoor di lantai 2 dan tetap tak menemukan wanita itu
"Permisi" Raksa menghentikan seorang staff
"Iya, ada yang bisa dibantu?"
"Sebentar..." Raksa mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya
"Pernah liat wanita ini?" Raksa menunjukan foto seorang wanita pada staff itu
"Maaf, saya tidak pernah melihatnya" Jawab staff itu setelah memperhatikan foto wanita di ponsel Raksa
"Baik, terima kasih"
"Sama-sama, saya permisi" pamit staff itu lalu pergi meninggalkan Raksa
"Apa gue salah liat?" Gumam Raksa
"Tapi gue yakin itu dia!" Raksa sangat yakin bahwa dia benar-benar melihatnya, dia tak mungkin salah
"Raksa?" Di tengah kebingungannya tiba-tiba terdengar suara yang tak asing memanggil namanya, Raksa melihat ke arah suara itu berasal dan benar saja, Allen sudah berdiri tak jauh darinya bahkan terlihat menghampirinya
"Hai!" Raksa menyapanya saat Allen sudah berada di hadapannya
"Lo di Indonesia? Sejak kapan?" Allen tampak terkejut melihat Raksa yang tiba-tiba muncul di hadapanny
"Sekitar 3 minggu yang lalu" Allen tersenyum mendengar jawaban Raksa, 3 minggu yang lalu tepat peringatan kematian Alana, dia bahkan melihat bunga kesukaan Alana sudah ada di makamnya saat itu, bunga yang hanya diketahui dirinya dan adik kesayangannya dan bodohnya Allen tak menyadarinya.
"Apa kabar bang?" Raksa bertanya untuk memecahkan kesunyian yang tiba-tiba terjadi, yang dengan jelas Raksa tahu penyebabnya yaitu Alana
"Baik, lo sendiri? Apa kabar?"
"Baik"
"Lo balik ke Indonesia tapi nggak kabarin gue, di Jakarta pula" Protes Allen
"Iya sorry bang, belakangan ini gue sibuk jadi belum sempat ngabarin lo"
"Oke! Berapa lama di Indo?"
"Belum pasti bang"
"Oke" Mereka tiba-tiba terdiam lagi, semenjak kepergiaan Alana hubungan mereka menjadi renggang, mereka yang dulu sangat akrab kini menjadi seperti orang asing
"Lo udah makan?"
"Udah bang" Raksa menjawab dengan cepat
"Oh"
__ADS_1
"Allen?" Teriak Clarisa, dia terlihat senang melihat Allen yang berdiri tak jauh darinya, dia kemudian berlari menghampiri Allen. Allen yang terkejut melihat Clarisa hanya bisa terdiam
"Raksa?" Clarisa berhenti berlari begitu menyadari Raksa yang berdiri di sebelah Allen, dia kemudian berjalan menghampiri mereka dengan ragu-ragu
"Lo... ad-a di Indo?" Tanya Clarisa begitu tiba di hadapan mereka
"Yap, seperti yang lo lihat!"
"Sej-ak kapan?"
"Sejak 3 minggu yang lalu, sehari sebelum peringatan kematian kakak gue" Jawab Raksa dengan tegas seperti sedang memperingati Clarisa dan benar saja setelah mendengar itu wajah Clarisa berubah menjadi gelisah dia bahkan tak berani lagi menatap Allen ataupun Raksa, menyadari hal itu Raksa hanya tersenyum tipis sementara Allen, dia bahkan tak melihat wajah Clarisa, jelas ada kemarahan tiap kali dia melihat wajah wanita itu
"Gue pergi duluan bang" Raksa tiba-tiba berpamitan memecahkan keheningan diantara mereka
"Kenapa buru-buru?"
"Gue masih ada urusan selain itu..." Raksa terhenti dan menatap Clarisa
"Gue takut, nantinya gue bisa murka" Ucap Raksa yang membuat Clarisa mundur satu langkah dari hadapan mereka
"Oke" Allen mengangguk, dia jelas paham maksudnya dan setelah itu Raksa langsung pergi meninggalkan tempat itu, sambil berjalan menuju mobilnya dia mengangkat panggilan masuk sudah berkali-kali dia abaikan sebelumnya
"Iya Kalea, gue kesana sekarang" Raksa langsung berbicara sebelum diceramahi Kalea yang sejak tadi berusaha menghubunginya
"Kenapa baru angkat teleponnya?!" Suara Kalea terdengar kesal
"gue tadi ada urusan"
"Iya gue minta maaf! Kan gue juga udah bilang gue bakal telat"
"lo bilang telat 20 menit tapi ini udah 1 jam lebih!" Protes Kalea
"Oke, gue minta maaf dan lo boleh beli apapun yang lo mau. Oke?!"
"Okeey!" Suara Kalea terdengar ceria lagi, Raksa jelas tahu apa yang harus dilakukannya. Setelah sukses membujuk Kalea, Raksa mengakhiri panggilan itu dan segera bergegas untuk menemui Kalea.
"Allen!" Clarisa menghentikan Allen yang hendak pergi dari hadapannya
"Allen, lo masih nggak percaya sama gue?" Clarisa menunjukan wajah memelasnya namun lagi-lagi Allen tak memperdulikannya
"Allen! Sekali aja lo liat gue! Coba liat apa lo masih nggak percaya sama gue?!" Begitu mendengar perkataan Clarisa, Allen langsung menatapnya dan dengan jelas Allen dapat melihat wajah Clarisa yang hampir menangis yang justru membuat Allen semakin kesal
"Heem, gue masih nggak percaya sama lo! Jadi stop muncul di hadapan gue sebelum gue semakin benci sama lo!" Allen memperingati Clarisa lagi entah untuk yang ke berapa kalinya
"Allen!!" Clarisa berteriak, teriakannya membuat mereka menjadi pusat perhatian orang-orang yang tengah makan di sekitar mereka. Allen mengepalkan tangannya, jelas bahwa dia sedang marah, dia bahkan tak sudi untuk melihat wajah Clarisa. Jika saja Clarisa bukan seorang wanita dan bukan adik sahabatnya, Allen sudah menghabisinya sejak dulu. Di saat dirinya sedang dilanda kemarahan, di saat itu dia melihat Alora yang berjalan menuju ke sebuah meja di hadapannya
"Sayang!" Teriak Allen membuat langkah Alora terhenti dan juga membuat Clarisa melihat ke arahnya. Alora tampak bingung mendengar Allen berteriak ke arahnya dengan panggilan itu, dan dia lebih bingung lagi saat melihat Allen berjalan ke arahnya dan tiba-tiba melingkarkan tangan di pinggangnya lalu menariknya sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat
"Kamu dari mana aja?" Allen tiba-tiba mengelus rambut Alora, mengambil beberapa helai rambutnya yang terurai di pipi kanannya lalu menyelipkannya ke belakang telinganya, Alora sangat terkejut dengan sikap Allen yang tiba-tiba dia bahkan berusaha mundur untuk menjauh dari Allen namun Allen semakin kuat memeluknya
__ADS_1
"Mengertilah!" Gumam Allen yang dengan jelas terdengar oleh Alora
"hah?" Alora masih kebingungan, Allen memiringkan wajahnya sehingga menutupi wajah Alora dan membuat Clarisa tak dapat melihat wajah mereka berdua
"Clarisa" Gumam Allen
"Kamu udah pesan makanan?" Allen melanjutkan sandiwaranya, dia membawa Alora menuju meja yang telah dia pesan dan meski bingung Alora mulai mengikuti sandiwara Allen
"Heem, udah" Alora tersenyum dan mengangguk, sebisa mungkin dia berusaha untuk terlihat manja dan hal itu berhasil membuat Clarisa kesal. Melihat Allen dan Alora yang tampak mesra di hadapannya Clarisa memilih pergi meninggalkan tempat itu dengan penuh kekesalan sementara itu, Allen dan Alora yang sudah duduk di meja mereka seolah tak perduli dengan kepergian Clarisa, mereka mulai menyantap beberapa makanan yang mulai disajikan
"Dia masih ada?" Tanya Alora setelah beberapa menit mereka hanya fokus makan, Allen berbalik badan untuk memeriksa
"Udah gaada!" Jawab Allen begitu selesai memastikan tak ada Clarisa di sekelilingnya
"Siapa dia?"
"Lo nggak inget?" Alora menggeleng, jelas dia tidak tahu karena itu dia bertanya
"Orang gila yang debat sama lo di acara nikahan Revan"
"Orang gila?" Allen terdiam melihat respon Alora yang tampak bingung
"Lo dari mana tadi?!" Alih-alih menjawab Allen malah balik bertanya
"Toilet!" Jawab Alora, melihat Allen yang tak menjawab kebingungannya cukup menjelaskan bahwa Allen tak ingin memberitahu dirinya dan Alora memilih untuk tak ikut campur lagi
"Eh... kakak ini..." seorang staff yang hendak menyajikan makanan tiba-tiba menunjuk Alora
"Saya? Kenapa?" Tanya Alora merasa bingung
"Emm, it-u tadi ada yang nyari kakaknya" Staff itu menjawab begitu selesai meletakan makanan yang hendak disajikannya ke atas meja
"Mencari saya?"
"Iya, dia bawa foto kakaknya dan bertanya ke saya" staff itu menjelaskannya pada Alora
"Siapa?" Tanya Allen yang tiba-tiba ikut penasaran setelah mendengarkan penjelasan dari staff itu
"Seorang pria tampan, tapi dia tidak memberitahu namanya"
"Ohh, baik. Terima kasih" Ucap Alora, staff itu tersenyum dan mengangguk setelah itu dia kembali meninggalkan mereka untuk mengerjakan tugasnya yang lain
"Siapa?" Tanya Allen lagi, kali ini dia bertanya pada Alora
"Gue gatau" Jawab Alora santai
"Lo nggak tau dan nggak penasaran?"
"Gue penasaran juga nggak ada gunanya"
__ADS_1
"Hah?"
"Gue tetep nggak tahu siapa dia. Dia bahkan nggak sebut namanya" perkataan Alora benar namun tetap saja itu tak menghilangkan rasa penasaran Allen, entah kenapa tiba-tiba dia merasa terganggu bahkan lebih merasa penasaran dari Alora.