
"Huhh... Allen?" Cassie yang hendak pulang melihat Allen yang baru keluar dari mobilnya
"Allen, ada apa kesini?" Cassie menghampiri Allen
"Alora belum pulang?"
"Alora? Dia ga masuk kerja hari ini"
"Nggak masuk kerja?" Allen tampak bingung
"Emm, dia cuti. Alora nggak ngasih tau?" Tanya Cassie juga tampak bingung
"Kenapa? Apa ada masalah?"
"Dia pulang ke rumahnya, katanya ada sedikit urusan. Alora beneran ga ngasih tau?" Allen menggeleng
"Dia cuti selama 3 hari"
"Oke, thanks!" Setelah berterima kasih pada Cassie, Allen masuk kembali ke dalam mobilnya dan segera menghubungi Alora namun panggilannya tak kunjung mendapat jawaban bahkan setelah berkali-kali Allen mencoba untuk terus menghubunginya panggilannya tetap dialihkan hingga akhirnya Allen berhenti menghubunginya dan bergegas membawa mobilnya keluar dari area parkir kantor Alora. Setelah menyaksikan Allen pergi dengan mobilnya, Cassie melanjutkan langkahnya untuk pulang. Hari ini tampak sepi bagi Cassie terlebih dia harus berjalan seorang diri menuju halte busway
"Cassie!" Seseorang tiba-tiba merangkul bahu Cassie
"Defi?"
"Ehem, ada cowo yang dari tadi ngikutin lo"
"hah?" Cassie hendak berbalik badan namun defi segera menahannya
"cowo yang terakhir kali bertengkar sama lo di depan kostan"
"Hendri?"
"Siapa dia?"
"Mantan gue"
"Dia ngangguin lo?"
"Emm, lo mau bantuin gue?"
"Bantuin gimana?"
"Lo mau balik ke kost?" Defi mengangguk, itu memang tujuannya dan kebetulan mereka menuju tujuan yang sama, defi merupakan teman kantor juga teman satu kost Cassie
"Lo bantu buat rekam dia dari belakang"
"hah?"
"Dia ngikutin gue dan lo ngikutin dia sambil rekam untuk jadi bahan bukti"
"Lo yakin? Nggak akan bahaya?"
"Gue yakin. Gue harus hentiin dia buat terus ganggu gue. Lo mau kan bantu gue?"
"Oke, gue bakal bantu lo"
"Oke, nanti di depan gang ke kost lo tunggu dulu sampe dia ngikutin gue, gimana?" Defi mengangguk menyetujui ide Cassie lalu mereka segera bergegas menuju halte dan benar saja Hendri juga bergegas mengikuti mereka menuju halte. Setelah menunggu selama beberapa menit busway yang hendak mereka tumpangi akhirnya tiba, Cassie dan defi segera menaiki busway tersebut begitu juga dengan Hendri yang segera ikut naik ke dalam busway setelah melihat Cassie naik. 20 menit berlalu dan akhirnya Cassie dan defi sampai di pemberhentian tujuan mereka, mereka segera turun dari busway yang juga diikuti Hendri dan sesuai dengan arahan Cassie, Defi berbelok menuju arah yang berbeda sambil merasa was-was dia memperlambat langkahnya, dia kemudian berhenti di depan minimarket yang berada tak jauh dari gang kost mereka. Defi berdiri di depan minimarket menunggu Hendri masuk ke dalam gang dan setelah beberapa menit berlalu akhirnya Hendri tampak menuju gang untuk mengikuti Cassie, melihat hal itu Defi langsung berlari sambil menyalakan camera di ponselnya, dia merekam dari jarak yang lumayan jauh hingga akhirnya dia melihat Cassie yang sebelumnya bersembunyi tiba-tiba muncul di hadapan Hendri, melihat itu defi langsung mendekat untuk merekam dari balik pohon yang tak jauh dari mereka
__ADS_1
"Jadi lo udah tau?" Hendri tersenyum
"Mau apa lagi lo?" Dari dalam tas nya Cassie menyalakan perekam suara yang telah disiapkan sebelumnya untuk merekam percakapan mereka
"Gue? Jelas mau lo!"
"Hendri cukup!" Cassie berteriak
"Cukup! Tolong jangan kayak gini!"
"Gue gabisa! Gue nggak bisa lepasin lo gitu aja Cassie!" Hendri hendak meraih tangan Cassie namun Cassie langsung menepisnya
"Lo bener-bener berengsek! Selama berhari-hari ini lo terus ngikutin gue kan?!"
"Iya, untuk selalu memastikan kalo lo aman"
"Justru sebaliknya! Lo bikin gue ngerasa nggak aman!" Suara Cassie terdengar gemetar, dia sebenarnya ketakutan
"Berhari-hari lo ngikutin gue, mondar-mandir di depan kostan gue, di depan kantor gue, lo juga mukulin orang lain karena gue dan lo bahkan nyakitin gue!"
"Karena itu... berhenti mengabaikan gue!" Hendri membentak Cassie, tangannya yang tiba-tiba mencengkram langan Cassie membuat Cassie tak bisa menghindar. Cengkramannya sangat kuat hingga membuat Cassie kesakitan
"Hendri sakit! Lepasin!" Cassie meringis
"Gue nggak akan lepasin lo sebelum lo jadi pacar gue lagi!"
"Nggak akan pernah!" Mendengar itu Hendri semakin marah sehingga mencengkram lengan Cassie lebih kuat, Cassie yang semakin kesakitan akhirnya memberanikan diri untuk melawan, dia menendang kaki Hendri dengan sekuat tenaga sehingga membuatnya tersungkur ke jalanan
"Jangan pernah harap untuk balikan lagi sama gue! Bukan! Jangan pernah harap untuk mendapatkan maaf dari gue! Dan jangan pernah lagi untuk muncul di hadapan gue!" Cassie berteriak kali ini keberaniannya sudah semakin besar, Hendri berusaha bangun dengan tertatih
"Huhh... lo udah berani?!" Hendri melangkah hendak mendekat
"Kalo lo masih berani... Gue nggak akan segan-segan untuk laporin lo ke polisi!"
"Cassie!!!" Hendri tampak marah
"Inget! Bokap gue polisi!" Cassie memperingati Hendri
"Lo..."
"Pergi dan jangan pernah balik lagi!"
"Cassie..." Hendri masih berusaha untuk membuju Cassie
"Pergi!!!" Cassie berteriak
"Lo pasti bakal nyesel!" Dengan marah Hendri akhirnya memilih untuk pergi meninggal Cassie
"Nggak akan pernah! Pergi lo sana dan jangan pernah balik lagi! Dasar berengsek! Tukang selingkuh! Berengsekkk!!!" Cassie berteriak meluapkan amarahnya
***
"Hallo?"
"Lo kemana aja?! Lo mau kabur dari gue?!" Semprot Allen begitu Alora mengangkat teleponnya
"Gue juga punya urusan lain!"
__ADS_1
"Urusan apa? Kenapa lo nggak ngasih tau gue?"
"Nggak semua hal harus lo tau! Sesuai kata lo, jangan ikut campur urusan satu sama lain! Lo nggak lupa kan?!"
"Tapi lo harus tetap kabarin gue biar kita bisa kompak"
"Kompak?"
"Yaa, biar gue nggak keliatan bodoh karena nggak tau pacar sendiri nggak masuk kantor"
"Lo ke kantor gue?"
"Iya karena lo nggak ngasih tau gue"
"Ngapain lo ke kantor gue?"
"Gue ada urusan!"
"Urusan apa?"
"Itu... lo ada urusan apa tiba-tiba balik ke rumah?" Allen tiba-tiba mengalihkan pembicaraan
"Urusan keluarga"
"Darurat?"
"Lumayan"
"Perlu gue bantu?"
"Nggak usah!"
"Gue bisa selesaikan sendiri"
"Kalo gitu kasih tau gue!"
"hah?"
"Kasih tau gue apa urusannya?! Dan Apa masalahnya?!"
"Tunggu... kenapa rasanya lo terlalu ikut campur urusan gue? Dan kenapa lo terus-terusan ngatur gue!" Alora tiba-tiba merasa aneh dengan sikap Allen. Aneh juga sedikit kesal
"Karena gue nggak mau kalo masalah lo nantinya bisa memperburuk situasi kita"
"Pernikahan kita! Gue nggak mau nanti muncul gosip-gosip yang buruk"
"Wahh... lo..." Alora merasa sangat kesal mendengar ucapan Allen
"Karena itu cepet kasih tau gue!"
"Oke... urusan gue menyelesaikan masalah hutang2 mendiang bokap gue dan lo tenang aja gue bakal menyelesaikannya sebaik mungkin dan sebersih mungkin, gue jamin nggak akan pernah ada gosip buruk kedepannya. Puas lo?!"
"Oke!"
"Ok! Bye!" Alora langsung menutup telepon Allen
"Kalo dia segitu takutnya kenapa masih mau nikah sama gue?! Gue kan udah bilang gue punya banyak masalah dan keluarga gue punya banyak hutang terus kenapa dia masih ngotot nikah sama gue?! Untuk apa kalo akhirnya akan selalu bilang pengaruh buruk... pengaruh buruk?! Ahhh sialannn!!!" Alora melemparkan dirinya ke atas tempat tidur
__ADS_1
"Apa gue nggak usah jadi nikah sama dia aja?!" Keluh Alora
"Tapi cuma dia yang bisa nolong gue!" Alora mengambil bantal untuk menutupi wajahnya, saat ini benar-benar menyesali pilihannya namun juga merasa tak berdaya untuk membatalkan pilihannya.