
“Katakan!” Alora akhirnya datang setelah membuat Allen menunggu selama 1 jam lebih
“Gue kira lo bakal kabur lagi” sindir Allen
“Gue kira lo gaada waktu buat nunggu!” balas Alora dan anehnya perkataannya masuk akal, tak seharusnya Allen masih menunggu Alora, bukankah Allen yang dulu sangat benci membuang waktu bahkan biasanya dia yang selalu membuat orang menunggu
“Pesan beberapa menu!” Allen menyodorkan buku menu pada Alora dan mengabaikan perkataan Alora sebelumnya
“Katakan!” Alora meletakan buku menu di samping kanannya, dia tak tertarik untuk memesan apapun, keinginannya hanya secepat mungkin menyelesaikan masalahnya dengan Allen
“Oke!” Allen melipat kedua tangan di atas dadanya
“Sikap apa itu?!” Gerutu Alora dalam hati melihat sikap Allen yang terlihat angkuh
“lo percaya cinta?” tanya Allen tiba-tiba
“hah?”
“lo bilang lo ga percaya cinta dan juga ga mau jatuh cinta” Alora menatap Allen dan sedang berusaha memahami apa maksud pria gila di hadapannya itu.
“Apa yang dia katakan? Kenapa dia membahas hal ini? Benar, gue ga percaya cinta dan gue juga ga mau jatuh cinta tapi bagaimana dia tahu? Cassie… Hanya dia yang pernah mendengar semua perkataan itu, apa…” Alora menebak-nebak dalam diam dan pikirannya terus bekerja
“tunggu… lo nguping pembicaraan gue di café waktu itu?!”
“nguping? Jelas-jelas lo bicara di tempat umum, tempat dimana siapapun berhak untuk membuka telinganya” Ucapan Allen membuat Alora terdiam, memang benar dan Alora tak bisa menyalahkan Allen
“Oke! Lanjutkan!”
“G-u-e juga!” Allen terlihat ragu mengatakannya
“lo juga apa?”
“gue juga ga mau jatuh cinta lagi”
“bukan urusan gue!” Alora menjawab dengan spontan membuat Allen mengernyitkan keningnya tak percaya dengan respon yang Alora berikan
“bukan urusan gue dan gue nggak perduli lo mau jatuh cinta lagi apa nggak!” Alora menjelaskan lagi setelah melihat Allen yang tampak kebingungan
“ben-ar! Tapi maksud gue itu bisa menguntungkan kita!”
“menguntungkan?” kini Alora yang mengernyitkan keningnya tak mengerti maksud Allen
“seperti yang pernah gue katakan, lo ga percaya cinta dan gue ga mau jatuh cinta lagi, kita bisa menikah tanpa cinta”
__ADS_1
“gue nggak ngerti, kenapa lo beranggapan kalo gue mau nikah? Sama lo? Orang gil… orang yang bahkan gue ga kenal!”
“karena kita harus nikah!”
“Oke, lo mungkin harus nikah entah itu dipaksa ortu lo atau lo mungkin lagi berusaha lupain mantan lo tapi gue? Kenapa juga gue harus nikah? Dan tahu apa lo soal gue? Kenapa lo yakin banget kalo juga harus nikah? Lo…” Alora terhenti saat melihat Allen terdiam menunduk
"Hei!" Alora mengetok-ngetok pelan meja mencoba menyadarkan Allen mungkin dari lamunannya
"Sorry!" Allen kembali menatap Alora
"Gue rasa kita sama-sama butuh untuk menikah. Lo mungkin beranggapan ga akan menikah tapi untuk sampai kapan? Lo yakin orang tua lo ga akan ikut campur?"
"itu urusan gue!"
"Dari pada lo dijodoh-jodohin, kita bisa bekerja sama"
"bekerja sama? Itu yang lo maksud dengan pernikahan?" Allen tersenyum mendengar pertanyaan Alora
"Jadi apa pernikahan menurut lo? Dua orang yang saling mencintai? Bukannya lo ga percaya cinta?" Alora terdiam, ucapan Allen membuatnya tersadar
"karena itu gue gamau menikah!"
"Lo pikir ortu lo bakal setuju?!"
"Lo pikir bakal selamanya?" Lagi-lagi ucapan Allen membuat Alora tersadar
"Cepat atau lambat ortu lo bakal mendesak untuk cepet nikah, terutama karena lo perempuan"
"Oke, tapi itu belum terjadi"
"Maka seharusnya lo antisipasi sebelum itu terjadi!" Allen memperingatkan Alora
"Lo kenapa ikut campur urusan gue?!" Entah kenapa Alora tiba-tiba merasa kesal
"Alora, gue serius! Kita harus menikah!"
"kenapa gue?!"
"Kita bisa menikah tanpa cinta. Tanpa saling menuntun apapun! Kita masih bisa bebas melakukan apapun yang kita mau dan kita tak perlu saling perduli urusan masing-masing. Menurut lo apa mungkin lo bisa dapat pernikahan seperti itu dengan orang lain? Terutama dengan orang yang akan dijodohkan ortu lo?!" Seharusnya memang tak ada pernikahan seperti itu, seharusnya mereka juga tak terpikirkan pernikahan seperti itu tapi lagi-lagi semua perkataan Allen terdengar masuk akal bagi Alora
"Kenapa lo? Karena lo ga percaya cinta itu artinya lo gaakan mengharapkan cinta yang nggak akan bisa gue beri" Allen menjelaskan alasannya terus membujuk Alora
"Menurut lo gue satu-satunya wanita yang nggak percaya cinta?" Allen menggeleng
__ADS_1
"tapi lo yang yang membuat gue memutuskan untuk menikah"
"kenapa?"
"Takdir!"
"Maksud lo?"
"Maksud gue..." Allen terhenti saat melihat ponsel Alora berdering lagi entah untuk ke berapa kalinya, sejak dia sampai ponsel nya terus berdering
"Gue rasa lo harus terima panggilan itu dulu!" Allen menatap ponsel lalu menatap Alora bergantian, tanpa pikir lagi Alora langsung mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan yang entah dari siapa karena itu nomor baru di ponsel nya
"hallo?"
"iya, saya sendiri"
"ahhh, iya benar-benar!" Jawab Alora terdengar meyakinkan
"Tanahnya masih belum terjual kok, dan yaa sudah SHM" Alora terdiam lagi, memberi kesempatan seseorang di seberang sana untuk berbicara lagi
"yaa benar sesuai dengan deskripsi di iklan"
"hmm... untuk jarak ke jalan raya dari lokasi memang agak jauh tapi..." Alora terhenti karena orang yang menelepon mengajukan beberapa pertanyaan lagi dan menjelaskan beberapa kondisi yang diinginkan dan saat itulah Alora melihat Allen tersenyum sambil menyeruput minumannya
"Aku pasti terlihat menyedihkan, berusaha menjual tanah di depan tuan muda kaya raya yang berkali-kali kutolak" Pikir Alora
"Okee, berarti memang tanahnya belum sesuai dengan keinginan bapak. Baiklah kalo begitu saya tutup dulu, terima kasih sudah menghubungi!" Alora segera menutup teleponnya
"Lo udah dengar? Gue bukan putri dari orang tua yang berstatus sosial tinggi seperti lo, di saat lo pamer kekayaan gue malah kesusahan buat jual tanah dan yang lo harus tau keluarga gue punya banyak hutang yang ditinggalkan mendiang ayah gue. Yakin masih mau nikah sama gue?!" Alora menemukan cara untuk membuat Allen berhenti mengejarnya walaupun dengan cara yang tak diharapkannya yaitu membuka masalah keluarganya
"Lo bisa manfaatin gue!"
"Apa itu? Jawaban apa itu? Apa dia sudah gila?! Bukan itu jawaban yang gue mau! Manfaatin apa maksudnya?!" Pertanyaan-pertanyaan itu kini menghujani pikiran Alora, jawaban Allen yang diluar dugaan membuat Alora diam membeku dengan beberapa pertanyaan yang berperang di pikirannya
"Gue punya banyak uang dan lo butuh uang! Lihat bagaimana kita memang benar-benar ditakdirkan!" Allen tersenyum, senyum yang tak dimengerti Alora
"Pikirkanlah! Gue harap gue bisa dengar jawaban lo besok. Selamat malam!" Allen berdiri dan hendak pergi meninggalkan Alora yang masih terdiam karena syok
"Ahh... Setelah kita menikah, meski akan hidup masing-masing tapi kita bisa tetap saling membantu dan saling mendukung" Allen lalu pergi setelah mengatakannya, dia pergi meninggalkan Alora yang makin kebingungan
"Gue pasti udah ikutan gila!"
"Alora?" Seseorang memanggil Alora
__ADS_1