Trust In Timing

Trust In Timing
I've been looking for you


__ADS_3

Alora langsung mematikan teleponnya, dia tak pernah menyangka Allen akan melakukannya, dia tahu Allen memang gila tapi tak pernah menyangka akan segila itu


"Lo gilaa ya!" Alora tampak sangat kesal sementara Allen hanya tersenyum, entah kenapa dia merasa sangat senang


"Allen! Lo benar-benar gila!" Alora benar-benar tak bisa berkata-kata lagi, dia menyadari Allen benar-benar tak akan mudah untuk dilawannya terlebih itu juga kesalahannya karena telah mempercayai Allen. Alora menghela napas dan memilih untuk diam, menyenderkan tubuhnya ke kursi mobil dan menutup wajahnya dengan topi yang dibawanya, kini dia harus memikirkan apa yang harus dikatakannya pada ibunya.


"Gue cuma bantu lo buat mengurangi beban pikiran lo!" Alora mengabaikannya perkataan Allen


"Lo pasti bingung gimana cara ngasih tau keluarga lo, makanya gue putuskan buat bantu lo!"


"Ngebantu? Jelas-jelas lo menjerumuskan gue!" Batin Alora, dia merasa malas untuk menanggapi Allen


"Gue gabutuh waktu yang tepat, gue butuh secepatnya!"


"hah?" Mau tak mau Alora menanggapinya karena tak mengerti dengan maksud Allen


"Untuk kenal keluarga lo!"


"Kenapa?"


"Karena lo calon istri gue!"


"Allen..."


"Gue cuma takut rugi!"


"hah?"


"Gimana kalo lo kabur? Karena itu gue harus kenal keluarga lo!" Alora menghela napas lagi, apa yang dia harapkan dari Allen?! Bukankah semuanya sudah sangat jelas bahwa mereka hanya rekan bisnis yang memperhitungkan keuntungan dan kerugian, pikir Alora.


"Tenang saja! Gu-e gaakan pernah bikin lo rugi! Gue jamin, lo bakal selalu untung!" Ucap Alora, dia jelas terdengar kesal


"Oke!" Setelah mendengar jawaban Allen, Alora langsung memasang earphonenya, menyalakan musik sekencang mungkin agar tak lagi mendengar suara Allen dan berusaha memejamkan matanya, dia ingin sekali segera turun dari mobil itu tapi perjalanan menuju kostnya masih jauh ditambah mereka juga terjebak macet, Alora tak yakin untuk memilih kendaraan umum di tengah jam pulang kantor di pusat kota jadi tak ada pilihan lain selain tetap di mobil itu dan satu-satunya solusi yaitu tidur dan benar saja, setelah 10 menit berlalu Alora kini sudah terlelap membiarkan Allen ditemani kesunyian di tengah kemacetan


"Gue pasti udah gila!" Gerutu Allen melihat kemacetan di hadapannya


"Buat apa gue jemput dia?! Anterin dia ke kost dan rela terjebak macet?!" Allen mulai menyesalinya karena merasa lelah di tengah kemacetan


"dia malah tidur nyenyak, dikira gue supirnya!" Meski terus bergerutu Allen tetap saja perduli pada Alora, dia melepaskan topi yang dikenakan Alora yang hampir jatuh agar tidak mengenai matanya, dia juga mengatur posisi kursi Alora, menurunkannya agar dia bisa lebih nyaman dan dia juga menurunkan ac mobilnya agar lebih sejuk, dia berusaha untuk membuat Alora senyaman mungkin.


***


"Lo dimana sa?" Aksa kembali ke ruangannya sambil menghubungi Raksa


"Di kantor bokap. Ada apa? Tumben lo nanya!"


"Lo ada waktu malam ini?"


"Mau ngapain?"


"Lo inget cewek yang pernah kita tolong?"


"Hem, cewek lo!"


"Bukan cewek gue!"


"Oke! Terus?"


"Waktu itu bokapnya janji mau traktri kita dan tadi siang ngehubungi gue buat nepati janjinya, so lo bisa ga?"


"Waktu itu gue nggak bilang apa-apa"


"Maksud lo?"


"Yang setuju buat ditraktir cuma lo jadi lo aja yang pergi"


"Lo bener-bener yah!"

__ADS_1


"Udah lo pergi aja sana, gue liat-liat dia emang cocok sama lo!"


"Lo ngomong apaan sih?!"


"Yaudah intinya gue nggak bisa, lagi sibuk, lo sampein terima kasih aja! Gue tutup!" Raksa langsung menutup teleponnya bahkan sebelum Aksan menjawab dan Aksan hanya bisa menghela napas lagian tak ada gunanya memaksa Raksa. Aksan memeriksa jam di tangannya, dia kemudian bergegas membereskan barang-barang di mejanya dan membawa tasnya untuk segera pergi setelah jam menunjukan pukul 17.25


"Cassie" Aksan melihat Cassie berjalan menuju pintu keluar begitu keluar dari ruangannya, mendengar namanya dipanggil, Cassie membalikan badan dan menunggu Aksan yang sedang berjalan ke arahnya


"Hai!" Sapa Aksan pada Cassie dan Alora yang sudah berdiri di hadapannya


"Hai, ada apa ya kak?" Tanya Cassie


"Hmm, lo mau dinner sama bokap lo?"


"Iya, eh... kok kak Aksan tahu?"


“Lo… pergi bareng Alora?” Bukannya menjawab pertanyaan Cassie, Aksan malah balik bertanya


“Nggak kok kak, gue langsung balik”


“Oke, kalo gitu lo bareng gue aja!”


“Bar-eng kak Aksan? Maksudnya?” Cassie tampak bingung


“Ehem, kalo gitu…gue duluan!” meski tak paham apa yang sedang terjadi antara Cassie dan Aksan, Alora memilih untuk segera pergi agar tak mengganggu mereka


“Gue tunggu cerita lo!” Alora berbisik pada Cassie


“Bye, hati-hati yaa!” Alora berpamitan sambil menepuk pelan Pundak Cassie


“Hati-hati Al!” Ucap Aksan sebelum Alora pergi meninggalkan mereka dan Alora membalasnya dengan anggukan kepala sambil tersenyum lalu dia segera bergegas pergi dari hadapan mereka


“Maksud kak Aksan tadi gimana ya? Bareng kemana?” Cassie masih meminta penjelasan dari Aksan


“Emmm, din-ner bareng bokap lo”


“Yap, bokap lo…ngajak kita dinner”


“Ki-ta?”


“Iya, tapi Raksa gabisa dateng”


“Kak Raksa juga? Kenapa?”


“Buat nepati janjinya”


“Hah?”


“Waktu di kantor polisi bokap lo janji bakal traktir gue dan Raksa sebagai ungkapan terima kasih karena udah nolong lo, inget?”


“Ahhh, iyaiyaa, inget!”


“Yaudah yuk! Nanti kemaleman” Aksan mengajak Cassie untuk bergegas, namun Cassie tampak ragu


“Kenapa lagi?” tanya Aksan melihat Cassie yang terdiam


“Hmm, aku takut kak Aksan terpaksa”


“Hah? Apa maksudnya?”


“Iyaa, takutnya kak Aksan terpaksa dinner bareng papah aku karena nggak enak nolaknya. Atau gini aja, aku bisa bantu kak Aksan buat cari alasan untuk nolak papah aku, kak Aksan nggak perlu datang!”


“Segitu ga maunya dinner bareng gue?” Aksan menatap Cassie


“Bu-kann tapi…”


“Aku setuju karena aku mau, bukan karena terpaksa”

__ADS_1


“Hah?” Jelas Cassie terkejut mendengar ucapan Aksan


“Jadi, ayoo!” Aksan sekali lagi meminta Cassie untuk bergegas


“Cassie …Ayoo!”


“Ahh, oke!” meski masih kebingungan Cassie akhirnya setuju untuk segera bergegas, mereka kemudian segera pergi menuju parkiran dan segera berangkat menuju Restoran yang sudah disiapkan ayah Cassie menggunakan mobil Aksan.


“Perasaan gue nggak masuk Cuma 3 hari, udah dinner bareng keluarga aja, garcep juga kak Aksan!” Alora tersenyum jahil setelah mengirim pesan itu pada Cassie


“Heh… jangan mikir macem-macem ya!” Cassie membalas pesan Alora dalam hitungan detik


“Have fun deh dinnernya!” Balas Alora lagi. Setelah mengirimkan pesannya Alora segera memasukan ponselnya ke dalam tas, dia harus menyeberangi jalan raya untuk menuju stasiun MRT yang berada tepat di seberang kantornya


“bentar, itu beneran dia kan?” Raksa yang baru keluar dari supermarket untuk mengambil dompetnya yang tertinggal di mobil tiba-tiba terhenti begitu melihat seorang wanita yang selama ini dicarinya di seberang jalan


“Itu beneran dia!” wanita itu tampak semakin jelas begitu dia berjalan menyebrangi jalan saat lampu merah sudah menyala


“Kali ini gue ga boleh kehilangan lo lagi!” tekad Raksa, dia langsung berlari mengikuti wanita itu menuju stasiun MRT, dia terus mengikutinya hingga masuk ke dalam stasiun dan kini Raksa terhenti karena dia tak memiliki kartu untuk tap-in


“Aishh… sial!” Kini jaraknya dengan wanita itu semakin jauh karena Raksa tertahan di depan mesin tap-in, Raksa segera mencari vending machine untuk mendapatkan kartu dan segera berlari menuju vending machine begitu menemukannya, dia segera membeli kartu sambil terus memperhatikan wanita itu takut kehilangan jejaknya lagi


“Sial! Goblok banget sih lo!” Hardiknya pada diri sendiri begitu menyadari bahwa dia tak membawa dompet ataupun ponselnya sehingga dia tak dapat menyelesaikan pembelian kartunya, dia begitu senang saat berhasil menemukan wanita itu hingga membuatnya langsung berlari dan melupakan dompet yang hendak diambil di mobilnya, Raksa memejamkan matanya berpikir keras apa yang harus dilakukannya dan tak lama dia menemukan sebuah cara, dia segera melepas jam tangannya


“mas, lo mau jam tangan gue ga?” tawarnya tiba-tiba sambil menyodorkan jam tangannya pada seorang pria yang sedang menggunakan vending machine di sebelahnya


“apa mas?” tanya pria itu tampak ragu dengan apa yang diucapkan Raksa


“bantu gue buat bayar kartu ini, gue bayar pake jam tangan ini”


“lo serius mas?” tanya pria itu tampak ragu begitu melihat jam tangan yang disodorkan Raksa, bagaimana tak ragu, tiba-tiba seorang pria yang tak dikenalnya menyodorkan jam tangan mewah dengan harga ratusan juga padanya secara cuma-Cuma


“serius! Please gue butuh banget! Tolong mas!”


“Itu asli?” pria itu masih tak percaya


“Asli lo liat aja nih!” Raksa memberikan jam tangannya itu padanya dan pria itu langsung memeriksanya dan benar, jam tangan itu jelas asli bermerek Rolex dengan harga ratusan juta rupiah. Pria itu lalu memperhatikan Raksa dari ujung kepala hingga ujung kaki, dan benar semua barang yang digunakannya terlihat branded dengan melihatnya saja pria itu dapat menyimpulkan bahwa Raksa bukan penipu melainkan pria kaya raya yang memang membutuhkan bantuan


“Dompet sama hp gue ketinggalan dan gue perlu masuk kesana” Raksa menjelaskan situasinya mencoba meyakinkan pria di hadapannya


“Tapi ini… yakin lo mau kasih ke gue?”


“iya, asal lo bantuain gue! Bisa ga lo bantu gue?”


“Bisa bisa!” pria itu segera menyetujuinya


“Ok! Kalo gitu buruan!” Raksa mendesak pria itu dan pria itu segera mengeluarkan ponselnya untuk membantu Raksa menyelesaikan pembelian kartunya


“Lo nggak bakal nyesel? Ini jam tangan lo tuker sama kartu doang?”


“gue bakal nyesel kalo kali ini juga gagal ngejar dia” jawab Raksa sambil terus melihat ke arah wanita itu duduk menunggu kereta MRT, Raksa terus memastikan wanita itu tetap berada disana


“siapa? Pacar lo?”


“Cinta pertama gue!” jawab Raksa dan segera mengambil kartu yang berhasil dibelinya


“Thanks!” ucap Raksa dan segera berlari meninggalkan pria itu untuk menuju mesin tap-in


“Thanks jugaa!” Teriak pria itu sambil memperhatikan Raksa yang berlari


“Semoga berhasil!” Pria itu tersenyum sambil mengepalkan tangannya, jelas dia merasa senang. Raksa menghela napas begitu berhasil masuk dan berhasil berdiri tak jauh dari tempat wanita itu, dia kini sedang memikirkan bagaimana caranya berkenalan dengan wanita itu


“Apa yang harus gue lakukan?” gumamnya dan tak lama kereta MRT tiba, Raksa segera mengikuti wanita itu menaiki kereta MRT, dia memilih tempat duduk tepat di depan wanita itu, dia sengaja tak duduk di sampingnya karena masih memikirkan cara untuk mendekatinya. Raksa tersenyum melihat cinta pertamanya yang sejak dulu dia cari kini sudah berada di hadapannya, dia segera memalingkan wajahnya saat wanita itu mengangkat kepala, mengalihkan pandangan dari buku yang sejak tadi dibacanya. Wanita itu meletakan bukunya di sebelah kanannya, dia terlihat mengetik pesan di ponselnya, tampak serius, beberapa kali dia terlihat mengerutkan keningnya juga menggigit bibir bawahnya dan Raksa hanya bisa tersenyum setelah curi-curi pandang darinya. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama 15 menit wanita berdiri begitu mendengar pemberhentian stasiun selanjutnya dan tentu saja Raksa ikut berdiri. Wanita itu masih fokus dengan ponselnya hingga melupakan bukunya, dia keluar dari kereta meninggalkan bukunya tanpa sadar dan baru tersadar setelah pintu kereta MRT telah tertutup dan kereta bergerak Kembali


“Ahh… buku guee!”


“Disini!”

__ADS_1


__ADS_2