
"Lapor!" Alora mengirimkan foto sertifikat tanah yang diambilnya pada Allen dan seperti dugaan Alora, Allen tak membalas pesannya dan itu tak menjadi masalah. Alora kembali membereskan dokumen-dokumen yang serserakan di atas kasurnya lalu memasukannya kembali kedalam lemari. Malam ini dia berencana untuk tidur lebih awal karena besok akan ada banyak hal yang diurusnya. Setelah mencuci muka dan memakai beberapa skincare Alora telah siap untuk tidur namun matanya terbelalak melihat notifikasi di layar ponselnya. Alora segera memeriksa ponselnya untuk memastikan penglihatannya dan benar, penglihatannya tidak salah. Dia kemudian segera membuka m-banking di ponselnya dan benar uang sejumlah 4 M telah masuk ke dalam rekeningnnya dan hal itu berhasil membuat Alora syok selama beberapa menit
"Dia pasti salah kirim!" Alora memaksa pikirannya untuk berpikir seperti itu dan tanpa pikir panjang lagi Alora segera menghubungi Allen untuk meyakinkan dirinya
"Allen, kayaknya lo salah kirim!" Ucap Alora begitu terdengar panggilannya dijawab
"Salah kirim?"
"Iya, uang yang lo kirim. Gue kirim balik sekarang! Mana no rek lo?"
"Gue nggak salah kirim" Jawab Allen terdengar tenang
"Hah?"
"Gue sengaja kirim ke lo"
"Untuk apa?!"
"Tanah yang gue beli"
"Lo udah kirim Allen dan harga tanahnya nggak segitu!"
"Lo salah!"
"Maksud lo?"
"Lo salah ngasih harga tanah itu!"
"Gue nggak salah!"
"Lo salah! Tanah itu seharunya dijual dengan harga 5M, karena itu gue transfer sisanya. Gue baru transfer karena gue baru tahu luas dan lokasi tanahnya"
"Gue nggak ngerti maksud lo!"
"Maksud gue, dengan luas tanah 91.640 meter persegi dan sudah SHM juga lokasi yang strategis, tanah itu seharusnya diberi harga 5M" Allen menjelaskan pada Alora
"Lo gila ya?! Gue nggak mungkin jual dengan harga setinggi itu!"
"Dan gue nggak mungkin beli dengan harga kurang dari itu!"
"Allen!"
"Alora! Lo cukup terima aja!"
"Gue nggak bisa Allen!"
"Oke, kalo gitu gue nggak jadi beli!"
"Hah?"
"Seperti kata gue, gue nggak mungkin beli dengan harga lebih rendah dari itu"
"Allen, gue tau lo punya banyak uang..."
"Dan gue tau lo butuh uang!"
__ADS_1
"Allen..."
"Sekarang lo tinggal pilih! Terima uang itu atau gue batal beli tanah itu!"
"Kalo batal beli, perjanjian kita juga batal"
"Oke, lo mau batalin?" Allen tanpa ragu mempertanyakan itu karena dia yakin Alora tak akan berani melakukannya. Mereka terdiam cukup lama, dalam diam itu Alora terus berpikir, tidak mungkin untuknya menerima uang itu tapi juga dia membutuhkan uang itu, dia harus segera menyelesaikan masalah keluarganya
"Oke"
"Batal?"
"Gue terima...uang itu"
"Oke!"
"Kenapa lo lakuin ini?"
"Karena itu yang seharusnya gue lakuin" mendengar jawaban Allen membuat Alora paham tak akan ada gunanya itu bertanya lagi, pertanyaan selanjutnya hanya akan memancing perdebatan diantara mereka dan Alora sudah cukup lelah untuk terus berdebat dengan Allen
"Ok, kalo gitu gue tutup"
"Kapan lo balik ke Jakarta?" Allen bertanya sebelum Alora berhasil mengakhiri panggilannya
"Lusa"
"Gue jemput"
"Jangan!"
"Tunggu waktu yang tepat"
"Lusa"
"Lusa bukan waktu yang tepat!" Lagi-lagi mereka berdebat tanpa Alora sadari
"Menurut gue waktu yang tepat!"
"Allen!!! Tunggu, sekali aja! Oke?"
"Oke!"
"Ok, bye!" Alora langsung mengakhiri teleponnya bahkan sebelum dia mendengar jawaban Allen.
"Hahhh! Dia langsung akhiri gitu aja?!" Allen cukup terkejut dengan sikap Alora
"Apa dia benar-benar sangat marah? Tunggu... gue nggak salah! Seharusnya dia berterima kasih karena gue udah bantuin dia!" Gerutu Allen.
***
"Hendri! Berengsek lo! Lepasin gue!" Cassie terus berteriak sejak dia sadar dan melihat Hendri di hadapannya. Cassie telah berteriak-teriak selam 1 jam lebih dan kini suaranya sudah terdengar semakin lemah selain itu, tangannya yang terikat cukup kuat membuat Cassie kesakitan
"Cassie sayang... percuma lo teriak-teriak gue nggak akan pernah lepasin lo!" Hendri mendekat dan memegang dagu Cassie dan hal itu membuat Cassie semakin marah hingga akhirnya dia meludahi Hendri
"Sialann!" Hendri yang tak terima langsung menampar Cassie dengan keras membuat Cassie meneteskan air mata karena merasa semakin kesakitan
__ADS_1
"Cassie... maafkan aku sayang" Hendri tiba-tiba menyentuh bekas tamparannya di pipi Cassie dan hal itu membuat Cassie semakin ketakutan. Cassie menangis, dia tak pernah membayangkan pria yang pernah dia cinta begitu dalam kini menjadi bajingan di hadapannya. Pria yang dulu selalu bersikap manis kini berubah menjadi monster yang menakutkan
"Hendri..." Ucap Cassie dengan lirih
"Iya sayang?" Hendri semakin mendekatkan wajahnya pada Cassie
"Tolong lepasin gue!" Cassie menangis karena ketakutan
"Nggak akan pernah! Gue nggak akan pernah lepasin lo Cassie!" Hendri berteriak
"Gue minta maaf! Maafin gue... dan tolong lepasin gue!" Hendri menggeleng
"Gue mohon Hendri!" Dan Hendri tetap menggeleng
"Mau lo apasih berengsek?!" Cassie semakin murka
"Mau gue? Lo! Pacar gue"
"Gue bukan pacar lo berengsek!!!" Cassie berteriak semakin kencang
"Karena itu lo harus tetap jadi pacar gue!"
"Mimpi lo!"
"Dan lo yang akan wujudin mimpi gue!"
"Brakk!" Pintu ruangan tempat Cassie disekap akhirnya berhasil didobrak
"Jangan bergerak!!!" Teriak dua orang polisi yang sudah masuk ke dalam ruangan itu
"Aishh... sial!!!" Hendri yang melihat kedatangan polisi tampak ketakutan dan hendak melarikan diri namun berhasil dihentikan Cassie dengan menendang kakinya sekuat tenang yang tersisa sehingga membuat Hendri terjatuh. Melihat Hendri yang terjatuh kedua polisi itu segera berlari dan menangkap Hendri
"Cassie!" Teriak suara yang tak asing di telinga Cassie
"Kak Aksan?!" Melihat Aksan yang berlari ke arahnya membuat Cassie menangis dengan keras, dia merasa sangat bersyukur
"Cassie, kamu gapapa?" Aksan segera melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Cassie
"Kak Aksann... g-ue ta-kut!" Cassie langsung memeluk Aksan begitu kedua tangannya sudah terlepas, dia menangis dengan sangat keras di dalam pelukan Aksan
"It's oke! Lo udah aman!" Aksan mengelus rambut Cassie mencoba menenangkannya
"She's oke?" Tanya seseorang yang suaranya terdengar asing di telinga Cassie
"yaa, thanks!"
"Syukurlah!" Ucapnya terdengar lega. Mendengar percakapan mereka Cassie mulai berhenti menangis dan melepaskan diri dari pelukan Aksan dan di hadapannya sudah berdiri seorang pria yang tak dia kenal
"Cassie... ayo kita pulang!" Aksan merangkul bahu Cassie membantunya untuk berdiri
"dia... siapa?"
"ahhh, dia yang nolong kamu. Yang ngehubungin polisi, juga yang membuat Defi menghubungiku"
"Hai... gue Raksa. Kebetulan gue ngeliat lo diculik" Pria itu memperkenalkan dirinya
__ADS_1