Tuan Muda dan Gadis Kampung

Tuan Muda dan Gadis Kampung
1. Pria Gila


__ADS_3

"Heey, Nona. Berhentilah di sana!"


Seorang gadis berlari saat dua orang pria bertubuh besar dan gagah mengejarnya. Napas gadis itu kini tersengal-sengal.


Namanya Laurensia Edgina, atau yang kerap disapa Lauren. Dia kini tengah dikejar dua orang pria asing yang bergairah untuk menidurinya. Bagaimana tidak? Wajah Lauren yang cantik bak bidadari dan aktris Korea itu mampu memikat hati seluruh pria Indonesia.


Lauren baru tiba di kota Depok. Tujuannya pindah dari pedalaman Sumatera ke Depok, tak lain adalah menuntut ilmu di Universitas Indonesia.


Walaupun berasal dari kampung, niat Lauren untuk kuliah sangatlah besar. Dia bercita-cita menjadi wanita karir yang sukses. Untuk mewujudkannya, membutuhkan perjuangan yang ekstra bukan?


"Kalian pergilah!" kata Lauren sambil sesekali menengok ke belakang. Napasnya semakin memburu. Walaupun ia sudah terbiasa berlari, tapi tetap saja bakal lelah juga jika sudah berlari selama lima belas menit tanpa istirahat sedikit pun.


"Ck, pria itu benar-benar gila," batinnya mengumpat. Dia membuang ludahnya sambil berlari.


"Tolong!"


Dan bodohnya, Lauren baru saja menyadari kalau masih ada orang yang bisa membantunya. Itu semua karena perasaan panik karena tiba-tiba ada dua pria yang ingin bermain dengannya dan mengejarnya, ia sampai lupa untuk minta tolong pada orang.


"Tuan, tolonglah aku!" katanya saat di depannya berdiri seorang pria jangkung yang gagah.


"Heey." Saat dua orang pria itu mendekat, Lauren menyembunyikan badannya di balik tubuh pria itu. Pria itu bernama Mickhael, bisa panggil dia Mike.


"Mau apa kalian?" Mike bersuara menghadapi dua pria yang kini berada di hadapan mereka.


"Gadis itu," jawab salah satu dari dua pria tadi. Ia berambut gondrong, banyak brewoknya. Tentu saja sangat menyeramkan, bukan?


"Gadis ini?" Mike menggeser tubuhnya, memperlihatkan tubuh mungilnya Lauren yang sedang ketakutan. Gadis itu memegang jas hitam Mike dengan amat erat. Dia benar-benar takut kalau Mike akan menyerahkannya pada dua pria itu. Dalam hati, Lauren sibuk melantunkan doa-doanya, berharap Tuhan mau menolongnya melalui pria yang belum dikenalnya itu.


"Iya, serahkan gadis itu."


Mike berdesis, tangannya bertaut dengan tangan Lauren. Sesekali ia berbisik, "Tenanglah. Aku akan menolongmu."


Lauren pun tersenyum lega. Akhirnya laki-laki itu tak akan menyerahkannya dan berniat untuk menolongnya. Doanya telah dikabulkan.


"Kalian mau?"


Dua orang pria itu menjawab dengan penuh semangat.


"Apa yang bisa kalian berikan padaku karena aku telah berhasil menangkap gadis ini?" Senyum jahil Mike muncul.


Dua orang tadi saling bertatap-tatapan dan kemudian mereka menggidikkan bahu.


"Kalau tak ada, kalian pergilah sebelum nyawa kalian hilang di sini."


"Waaah, berani main-main sama kita ini orang," kata salah satu dari pria itu mulai serius. Tangannya mengepal kuat dan mungkin akan melayang di wajah Mike, menandakan pertarungan akan dimulai.

__ADS_1


Tapi, kenyataannya beda. Mike mengambil langkah lebih dulu dan membiarkan gadis yang bernama Lauren itu menyaksikan pertunjukkan menyeramkan yang ditontonnya.


Dalam sekejap, dua orang itu bertekuk lutut meminta ampun pada Mike dengan darah yang sudah bercucuran di mana-mana.


Lauren menutup mata dan kedua tangannya menutup mulutnya, ia benar-benar terkejut sekaligus takut pada Mike.


Laki-laki jangkung itu menghampiri Lauren, dia memegang kedua pundak Lauren karena menyadari bahwa gadis itu sekarang semakin ketakutan.


"Tenanglah, mereka ga akan mati," kata Mike. Tangan besarnya kini menggeser kedua tangan Lauren yang menempel di bibir gadis itu.


Lauren pun membuka kedua matanya secara perlahan, dan ia tidak melihat dua pria tadi karena tubuh Mike yang menghalangi. Tapi, ia bisa melihat darah yang tumpah di mana-mana.


"Kau yakin?"


Mike mengangguk, "Sebentar lagi ambulans datang untuk menolong mereka."


Lauren menarik dan menghela napasnya secara dalam, ia merasa lega karena telah terbebas dari dua orang pria mesum tadi. Tapi, ia juga mulai merasa kuatir. Dia takut jika polisi akan menangkapnya nanti, karena terlibat dalam kasus mengerikan yang bisa saja merenggut nyawa.


"Makasih ya udah menyelamatkanku. Permisi," ucap Lauren. Kemudian ia berlari meninggalkan Mike.


"Heey, siapa namamu?"


Tak ada jawaban dari Lauren dan Mike tak berniat mengejarnya karena tenaganya sudah banyak terkuras untuk perkelahian tadi.


Sementara itu, sebelum Mike bertemu dengan Lauren.


Dreeeg... Dreeeg...


Ringtone handphone berdering membuat Mike menghentikan pekerjaannya yang sedang memeriksa saham dan dokumen penting lainnya. Dia memegang benda persegi panjang yang diletakkannya di atas meja kerja, melihat nama pemanggil.


"Mommy?"


Dahinya mengkerut membaca nama kontak itu. Bahkan, ia mengucek-ngucek matanya berkali-kali, barangkali ada yang salah dengan pengelihatannya. Namun, hasilnya tetap sama, tak ada yang berubah.


"Tumben Mommy nelepon aku."


Ditekannya tombol berwarna merah, kemudian ia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi. Tapi, lagi-lagi handphonenya berdering dengan nama pemanggil yang sama.


Mike berdesis, ia tetap menekan tombol merah itu lagi.


Tak lama sebuah pesan masuk.


'Dasar anak durhaka! Angkat teleponmu atau namamu akan kucoret dari kartu keluarga!'


Mike membaca pesan dari Mikha, ibunya itu. Mikha kembali menelepon Mike dan akhirnya dengan berat hati pria tampan penerus perusahaan Carlo itu mengangkat panggilan dari ibunya.

__ADS_1


"Apa?" tanpa mengucapkan salam, Mike langsung mengucapkan satu kata itu dengan nada ketusnya.


"Haloo anak Mommy yang kayaknya namanya mau dicoret dari kk. Kok ketus banget sama mommynya?" Wanita di balik telepon itu mencoba menggoda anak satu-satunya.


Mike menarik napasnya dan menghembuskan napasnya, dalam dan kasar. "Kenapa mommy?" ucapnya lembut. Padahal di balik telepon tangan kirinya sudah mengepal.


"Kamu ke Depok dong hari ini."


Mike terdiam sejenak, memikirkan perkataan apa yang harus disampaikan pada Mikha. Menerima panggilan dari ibunya saja sudah buat ia tak percaya dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin sang ibu tiba-tiba menyuruhnya?


"Ngapai?" tanyanya datar.


"Liatin Mommy dan Poppy lah."


"Emang kalian di Depok? Bukannya di Australia?" Mike menyerngitkan keningnya.


"Enggak. Ada urusan di Depok. Kamu datang ya, kalau masih mau di keluarga Carlo."


"Ta-ta-"


"Mommy sudah pegang pulpen dan kk loh."


Belum selesai ngomong, ibunya sudah mengucapkan kalimat setan itu lagi. Alhasil, Mike menarik napasnya, pasrah. Dia tak menjawab, dan malah mematikan panggilan secara sepihak.


"Dasar Mommy mumi sialan!" desisnya.


Hubungan Mike dan Mikha sebenarnya tidak terlalu erat. Ada jarak yang memisahkan mereka, bahkan waktu yang menjauhkan mereka.


Dari dulu kedua orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka, sampai lupa untuk membangun hubungan yang baik dengan anak satu-satunya itu. Alhasil, Mike memiliki sikap ketus seperti yang tadi.


Omong-omong, kenapa Mikha menyuruhnya ke Depok? Seingat Mike, orang tuanya itu jarang sekali mengunjungi kota itu. Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu di luar negeri.


"Apa ada sesuatu yang dirahasiakan Mommy dan Poppy?"


Mike mencoba menyingkirkan pertanyaan itu dari benaknya. Dia kembali fokus bekerja, menuntaskan segala masalah perusahaan. Baginya, masalah perusahaan adalah masalah kecil dan gampang dipecahkannya secara sendiri.


.


.


Ini setelan Mike. Jas hitamnya tadi ditarik sama Lauren.


Gimana? Siapa yang mau jadi pacarnya Mike?🤣


__ADS_1


__ADS_2