Tuan Muda dan Gadis Kampung

Tuan Muda dan Gadis Kampung
8. Mike dan Lamunannya


__ADS_3

Setiap detik, menit, bahkan jam dari waktuku habis hanya untuk memikirkannya yang mungkin tak memikirkanku sedetik pun -Mickhael Dos Carlo


"Kita mau kemana, Mike?" tanya Kevin bingung, karena dia yang menyetir tanpa arah, tak tahu kemana tujuannya.


Mike berpikir, "Kalau ke Depok tekejar gak buat rapat nanti?"


Kevin mengerutkan dahi. Setahunya, Mike ke Depok hanya saat liburan atau urusan penting, bukan di jam kantor mendadak seperti ini.


"Ada urusan apa ke Depok?"


"Entahlah. Mungkin urusan hati."


Kevin ngerem mendadak saat mendengarkan ucapan mengerikan Mike. Jarang sekali dia mendengar kata itu. Walau dia tahu Mike sering meniduri banyak wanita, tapi tak satupun yang berhasil meluluhkan hati Tuan Muda Perusahaan Carlo itu.


"Wanita seperti apa yang kau tiduri? Apa dia punya gairah tinggi, makanya kau jatuh cinta padanya? Aaaah... Lagi-lagi kau tidak mengajakku," cecar Kevin menatap Mike.


"Intinya dia sempurna untuk dibawa ke ranjang, Vin," goda Mike sambil menjulurkan lidahnya itu.


Kevin bergidik ngeri melihat kelakuan Mike. "Sekarang jam sudah hampir jam sebelas, kalau mau ke Depok pasti ga tekejar, Mike. Apalagi kau tahu sendiri Jakarta macetnya gimana. Kalau ga macet aja butuh waktu 1 jam dari sini," jelas Kevin.


Mike bernapas pasrah, "Ya sudah kita ke kafe biasa saja. Makan siang di sana."


"Kau tak makan siang dengan kekasihmu?"


Mike menoyor kepala Kevin, "Dia di Depok, Bodoh!" cibirnya mencela.


Kevin tertawa, "Iya, iya, Tuan Muda. Maafkan hambamu ini," candanya kemudian dia melajukan mobil menuju kafe biasa.


Sesampainya di dalam kafe, Mike dan Kevin segera memesan makanan. Tak perlu berpikir dan melihat menu makanan itu lagi, karena mereka akan memesan makanan yang sama jika mampir ke kafe ini. Bahkan, pelayan di sini sudah hampir mengetahui menu favorit mereka berdua itu, kopi susu dengan makanan nasi goreng kare kambing spesial. Karena memang makanan dan minuman itu menjadi favorit di kafe ini.


"Nanti malam, siapkan gadis cantik, bohai, montok dan sexy untukku!" ucap Mike memerintah pada Kevin.


"Siap, Tuan Muda," balasnya menghormat pada Mike. Seolah-olah sekarang dia menjadi sekretaris patuh yang tak melawan.

__ADS_1


"Kau mau kubawakan gadismu?" goda Kevin. Sikap patuhnya tadi mendadak hilang.


"Kau bahkan tak mengenalnya, *****!" kata Mike kasar, tapi Kevin tak memasukkannya dalam hati.


Kevin mendengus, "Gimana sih orangnya? Aku kepo!" katanya.


Mike menyeringai tipis, "Cantik, Vin. Dia membuatku gak berhenti memikirkannya sedetik pun. Aku rasa bulu matanya sudah rontok bahkan hampir botak, tapi satu pun bulu mataku gak ada yang jatuh. Apakah dia gak memikirkanku, Vin?" ucap Mike membuat Kevin tercengang. Pasalnya, selama mereka bersahabat cukup lama, baru ini Kevin mendengar Mike berbicara romantis seperti ini.


"Iya, Mike-" Kevin menghentikkan ucapannya, dia mengambil napas sejenak. "Aku merindukanmu," ucapnya dengan humor kentara.


"Bukan kau, ******!" Mike menoyor kepala Kevin lagi.


"Lama-lama betulan ****** aku ini," batinnya mengusap-usap kepala yang dari tadi menjadi sasaran empuk Tuan Mudanya itu.


"Siapa namanya?" Kevin bertanya.


"Laurensia Edgin," jawab Mike menyebut nama lengkap gadis itu.


"Oh ...," jawab Kevin manggut-manggut.


---oOo---


"Mike, silahkan ke ruangan rapat sekarang juga. Rapat akan kita mulai sepuluh menit lagi," kata Kevin.


"Baiklah."


Mike meninggalkan ruang kerjanya, diikuti Kevin di belakangnya. Mereka berjalan menuju ballroom -ruang pertemuan- yang letaknya di lantai 5 perusahaan. Artinya, Mike dan Kevin perlu turun 2 lantai dari ruang kerja Mike tadi.


Setibanya di lantai 5, Mike melihat seorang gadis yang menurutnya tidak asing masuk ke dalam lift.


"Kevin, sebentar lagi aku nyusul. Tunggulah!" pamitnya pada Kevin, kemudian dia berlari mengejar lift itu. Nihil. Liftnya tertutup dan Mike hanya memperhatikan angka-angka yang ada di atas lift. Untung tadi dia melihat perempuan itu sendirian di dalam lift, jadi kemungkinan masih bisa dilacak ke mana gadis itu pergi.


Lantai satu. Lift itu hanya berhenti di lantai satu. Mike langsung menekan tombol panah ke bawah yang ada di dinding samping lift. Sesaat ketika lift itu tiba dia langsung masuk. Digeseknya kartu lift spesial miliknya itu agar liftnya tidak berhenti di lantai lain.

__ADS_1


Sesampainya di lantai satu, dia mencari sosok wanita itu. Untung semesta mempertemukannya. Dia ingat betul pakaian gadis tadi. Buru-buru Mike menghampiri gadis yang sedang berdiri di depan resepsionis itu.


"Lauren?" Mike mencolek punggungnya. Gadis itu berbalik badan.


Begitu terkejutnya Mike saat melihat mukanya.


"Maaf, Tuan. Anda salah orang," kata gadis itu tersenyum. Diperhatikan dengan jelas, sebenarnya gadis itu tak ada kemiripan sama sekali dengan Lauren. Mike hanya berhalusinasi tadi.


"Oh, iya, maaf," ucap Mike menahan malu. Dengan cekatan dia langsung meninggalkan gadis itu.


"Bodoh! Astaga! Kenapa sih dengan isi otakku ini," batinnya. Dia pun memukul-mukul keningnya dengan sudut jarinya.


Buru-buru ia masuk ke dalam lift saat pintunya sudah terbuka. Dan ketika ia tiba di lantai 5, Kevin masih menunggunya di depan pintu masuk ballroom. Kevin tak bertanya kemana Mike pergi tadi. Yang Kevin pikirkan, waktu yang hanya tersisa sedikit lagi. Dia benar-benar geram pada Mike, tapi mau marah juga hanya buang-buang waktu. Seorang satpam membukakan pintu untuk mereka. Kevin pun masuk lebih dulu dan memperkenalkan dirinya serta Tuan Mudanya yang akan memimpin rapat.


"Tuan Muda, silahkan dimulai rapatnya," titah Kevin sopan seusai perkenalan. Dia sengaja memanggil Mike dengan panggilan Tuan Muda, biar terlihat sopan di depan klien.


Mike tak menjawab. Matanya fokus menerawang satu titik lurus dengan pandangan kosong.


Karena tak mendapatkan jawaban, Kevin melirik ke arah Mike, "Lagi-lagi dia melamun," batin Kevin kesal.


Kevin menyenggol pundak Mike dengan pundaknya, membuat Mike sadar dari alam gaib yang disebut lamunan.


"Hmm...." Mike berdehem, mengumpulkan suaranya yang sedikit serak. "Baiklah, selamat siang semuanya," sapa Mike pada seluruh klien penting yang ada di dalam ruangan itu. Rapatnya pun di mulai.


Seusai rapat, semua klien sudah keluar dari ballroom. Kevin menatap tajam ke arah Mike saat klien terakhir sudah menjauh dari ballroom.


"Kau kenapa, 'sih, Mike? Gak biasanya kau kayak gini!" pekik Kevin.


"Aaarrrg...." Mike berteriak sambil menjambak rambutnya. "Kacau, Vin! Kacau udah otakku ini."


Kevin menarik tangan Mike yang masih menjambak rambutnya sendiri. "Nanti kau bisa botak," ucapnya berusaha menenangkan perasaan Mike yang lagi terombang-ambing itu. "Cerita samaku kalau ada masalah."


Mike menghembuskan napasnya, "Gue terus kepikiran sama Lauren, Vin. Gak tau entah daya tarik apa yang dia punya sampai bisa buat aku terus-terusan memikirkannya. Setiap detik, menit, bahkan jam dari waktuku habis hanya untuk memikirkannya yang mungkin tak memikirkanku sedetik pun, Vin," curhatnya.

__ADS_1


"Itu artinya kau rindu dia. Kalau kau kangen, ya, jumpai lah. Lagian masih Jakarta-Depok, ya kecil lah. Cinta itu perlu perjuangan, Bro," ujar Kevin memukul pundak Mike sebanyak tiga kali.


__ADS_2