Tuan Muda dan Gadis Kampung

Tuan Muda dan Gadis Kampung
19. Dua Makhluk Pencetus Hipertensi


__ADS_3

"Ngapai ke sini?" Lauren mengamati sekitarnya, ramai dan sesak. Terlalu banyak orang di kantin kampus itu.


"Lo lapar, 'kan?"


Lauren menggelengkan kepalanya, "Enggak," bantahnya.


Krruuuk....


Sial! Kalau bisa mengutuki perut sendiri, sudah ingin Lauren melakukannya. Tapi diurungkannya, karena sama saja ia mengutuki dirinya sendiri.


Zura tertawa pelan, ia mengacak-acak pucuk kepala Lauren hingga rambut gadis itu sedikit berantakan. Lauren menatapnya sengit. Bisa-bisanya Zura menyentuh kepala orang yang baru dikenalnya.


"Duduklah! Gue pesan makanan dulu," titah Zura. Dia pergi meninggalkan Lauren.


Lauren patuh. Dia mengambil tempat duduk yang tak jauh dari tempatnya berdiri. "Apa tadi katanya? Dia mau pesan makan? Apa dia mau makan? Bukannya dia udah makan bekalku tadi, ya?" gumam Lauren bertanya-tanya. "Dasar! Emang benar rakus itu anak." Lauren mendengus kasar.


Tak lama Zura datang membawa sepiring nasi ayam penyet dan memberikannya pada Lauren. "Ini, ambillah ... sebagai ganti bekal lo tadi."


Wah, jelas saja Lauren mengambilnya dengan sepenuh hati. Apalagi saat dia tahu kalau itu ayam penyet. Ya, makanan itu adalah kesukaannya. Ternyata monster yang kini sudah duduk di seberangnya tidak semenyeramkan yang ia kira.


Lauren menyantap makanan itu dengan segera, "Enak," lirihnya saat satu sendok nasi dengan ayam yang dicolek sambal sudah melewati kerongkongannya.


Zura tersenyum tipis, hampir tidak terlihat tersenyum. Matanya tak berhenti memandang Lauren yang asyik menyantap makanan dengan lahapnya.


"Kenapa ngeliatin?" Lauren mengalihkan pandangannya dari makanan. Kini dia memergoki Zura yang sedari tadi memandangnya tanpa kedipan.


"Lo cantik, Ren," jawab Zura jujur.


"Awas jatuh cinta sama aku." Lauren menyeringai tipis.


Zura mendengus, "Ya, nggalah. Kan tadi gue udah bilang bakal buat lo tergila-gila sama gue," sanggah Zura dengan cepat.


Lauren menyeringai lagi dan mengalihkan pandangannya dari Zura. Dia kembali menyantap makanan yang sempat tertunda. "Sayangnya itu gak akan terjadi, malah nanti kau yang akan tergila-gila denganku," batinnya. 


"Eh .... Lauren." Panggilan seorang gadis yang sudah tidak terdengar asing lagi di telinga Lauren menghentikan aksi makannya. Lauren melirik ke sumber suara. Si Pemanggil itu Tasya dan di sampingnya ada Yola.


"Tadi kata lo gak ke kantin karena bawa bekal. Tapi, kok lo makan di kantin?" Tasya mengalihkan pandangannya, melirik cowok yang ada di sebrang Lauren. "Bareng sama Zura?"


"Hmm, gini, Sya." Lauren mengumpulkan suaranya. "emang tadi aku bawa bekal. Tapi bekalku di makan sama nih anak." Dia menunjuk Zura dengan ekor matanya.


"Terus Zura gak enak karena udah makan bekalku makanya dia ngajak aku ke sini," jelas Lauren cukup dimengerti.


"Bohong!" sanggah Zura tegas.


Lauren, Tasya dan juga Yola menatap Zura. Tapi, Lauren menatapnya secara intens.

__ADS_1


"Tadi gue dengar cacing-cacing perutnya bunyi, kuat banget bunyinya," lanjut Zura yang sengaja mempermalukan Lauren. Zura tertawa, puas dengan aksinya.


Lauren mengendus kuat. Dia memilih untuk tidak meladeni ucapan Zura. Toh, itu benar adanya. Tidak perlu memperpanjang masalah yang tidak akan berguna. 


"Kamu udah selesai makan, Sya, Yol?" Lauren menatap Tasya dan Yola secara bergantian.


"Udah," jawab keduanya bersamaan.


"Kami balik kelas deluan, ya," ucap Tasya. "Bye." Mereka berdua pun berlalu meninggalkan Lauren dan Zura.


---o0o---


Mata kuliah terakhir di hari ini telah usai. Dosen mata kuliah 'Patologi dan Patofisiologi' itu telah keluar ruangan. Omong-omong, Patologi itu adalah ilmu yang mempelajari tentang penyakit, sedangkan patofisiologi adalah ilmu yang mempelajari gangguan fungsi yang terjadi pada organisme yang terjangkit penyakit. 


Lauren membereskan bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. "Kamu gak pulang, Sya, Yol? Mau bareng gak?"


Kebetulan karena mereka satu kampus, satu kelas, dan satu kos.


"Lo pulang sendiri aja, Ren. Gue sama Yola gak balik langsung ke kos. Ada urusan. Maaf, ya." Tasya bangkit dari duduknya. "Gue deluan, ya." Setelah itu dia pergi bersama dengan Yola.


"Lo gak pulang?" Tak lama setelah kepergian Tasya dan Yola, kini Zura berdiri di depan Lauren. "Mau gue antar?" tawarnya.


"Gak usah," tolak Lauren dengan cekatan.


Lauren berdiri dari duduknya. "Iya."


"Ya udah gue antar, maksudnya," goda Zura.


"Gak," jawab Lauren ketus.


"Kenapa sih lo gak mau diantar sama cowok tertampan di kampus ini?" Zura terlihat kesal.


"Siapa bilang?" Lauren mengangkat alis kanannya.


"Apanya?" tanya Zura tak mengerti kemana tujuan pertanyaan Lauren.


"Siapa yang bilang kalau kamu itu tampan," jawab Lauren sengit.


"Semua orang," kata Zura apa adanya.


Entah kenapa Lauren merasa bawaannya ingin saja marah jika ada di dekat Zura. Bukan semenjak kejadian Zura memakan bekalnya tadi siang, tapi saat pertama kali bertemu dengan cowok itu, Lauren sudah merasa tak menyukai Zura.


Lauren memilih pergi meninggalkan Zura. Langkahnya sengaja di percepat, agar Zura tak dapat mengejarnya. Namun, sesampainya di gerbang kampus, tangan Lauren di tahan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Zura?


Zura menyejajarkan posisinya, tepat di samping kanan Lauren.

__ADS_1


Lauren menghempaskan tangan Zura yang masih memegang tangannya, "Apa lagi, sih?" ketus Lauren.


"Pulang bareng gue. Kos lo di mana? Gue antar," kukuh Zura. Begitu keras kepala. Walau sudah ditolak berkali-kali, hatinya terus saja berusaha semaksimal mungkin.


"Enggak."


"Udah pulang kuliah, Sayang?"


Suara barintone pria yang baru muncul itu mengalihkan pandangan Lauren dan Zura yang dari tadi berhadap muka. Mereka melihat ke arah pemilik suara. Dia Mike.


"Sayang?" tanya Zura.


"Dia pacar saya. Jangan ganggu pacar saya." Mike mendekatkan wajahnya ke Zura. Dia membulatkan matanya, menatap Zura dengan tatapan membunuh.


Zura menciut, ia memundurkan langkahnya. "Maaf, gue kira Lauren jomlo."


"Pergi sana," usir Mike.


Zura pun kocar-kacir berlari.


Lauren masih belum terima pernyataan Mike yang menyatakan dirinya adalah pacar 'pria mesum'. "Aku bukan pacarmu."


"Bukan, tapi belum."


Lauren memutar bola matanya, jengah. "Kenapa ke sini lagi?" Lauren memperhatikan Mike secara mendetail. Pakaian pria itu masih sama seperti pagi tadi. Lauren ingat itu. "Kau nunggu dari tadi pagi di sini?"


Mike mengangguk, "Iya. Nungguin calon pacar pulang," jawabnya enteng.


"Aku bukan calon pacarmu." Lauren kesal. Sehari ini sudah ada dua pria yang membuat tekanan darahnya meningkat. Lauren memang tidak memiliki riwayat hipertensi. Tapi, jika dia terus-menerus mengalami ini, bisa saja hipertensi itu muncul nanti.


"Kalau gitu kita pacaran," jawab Mike masih dengan gampangnya.


"Gak," ketus Lauren.


Semua pria sama aja. Mereka berusaha menggoda, tapi nyatanya malah membuat bencana.


Tanpa Lauren dan Mike sadari, ada seseorang yang dari tadi memperhatikan mereka bahkan mendengarkan ucapan mereka dari awal. Seseorang itu mengamati dengan teliti sambil menyeringai lebar.


---o0o---


Maaf aku telat banget updatenya😭


Komen lanjut dari kalian buat aku kembali menulis, yeaay.


Makanya jangan lupa untuk terus tinggalin komen yaa.

__ADS_1


__ADS_2