
"Loh, Bang Mike tumben ke sini?" kata Elis sambil berjalan masuk ke dalam.
"Ini masih rumah orang tuaku. Emang gak boleh aku ke sini?" ucapnya ketus. Semenjak kejadian lamaran diam-diam yang direncanakan orang tua Mike dua hari lalu, sikap Mike mendadak berubah pada Elis. Memang tak seharusnya sikap Mike seperti itu pada Elis, karena acara lamaran itu bukan salahnya Elis, tapi salah kedua orang tuanya.
"Ga boleh ngomong kasar gitu." Lauren berusaha melerai. Dia sangat tidak suka dengan laki-laki yang bersikap kasar pada perempuan.
"Kau ngapain bela dia? Bukannya dia udah ngomong kasar samamu tempo hari," ucap Mike menunjuk Elis dengan ekor matanya.
Tidak! Lauren tidak membela siapa pun di sini. Lagian, dia juga sudah memaafkan kesalahan Elis. Lauren bukan tipikal yang gampang membenci orang.
"Aku ga bela siapa pun di sini! Aku gak suka liat cowok kasar!" ucap Lauren penuh penekanan. "Cepat minta maaf!" perintahnya.
Mike menuruti perintah orang yang dicintainya itu, "Aku minta maaf, ya, Lis." Dia mengulurkan tangannya, dan mereka berjabatan tangan. "Gak seharusnya aku marah samamu." Mike melepaskan jabatan tangannya dengan Elis.
"Iy-iya ga pa-pa," kata Elis gagap, namun suaranya terasa lembut.
"Loh Elis? Ngapain ke sini, Nak?" ucap Mikha yang baru saja berdiri di ruang tamu. Di sebelah Mikha ada suaminya, Marcel.
"Ini Elis bawa makanan buat Tante dan Om. Tadi Elis belanja dan coba belajar masak." Elis menyodorkan rantang yang dari tadi di pegang nya. "Mudah-mudahan suka, ya."
Marcel mengambil rantang yang dipegang Elis. "Makasih, ya, Lis. Kamu sampai repot-repot begini. Om tarok di dapur dulu, ya." Marcel segera pergi untuk menaruh rantang itu di dapur.
Elis menyunggingkan senyumnya, lalu matanya tertuju pada setelan Mikha yang terlihat rapi. "Mau pergi, Tante?"
"Iya. Tadi Mike ngajak Tante dan Om jalan-jalan. Elis mau ikut?" tawar Mikha.
Elis berpikir sejenak, kemudian matanya melirik Mike yang bersikap acuh. "Tapi, Tante ...." Elis menghentikan ucapannya, dia mengambil napas yang baginya terasa sulit. "Elis tadi ke sini buru-buru, jadi Elis cuma pakai celana pendek dan kaos doang. Masa Elis begini kalau mau jalan-jalan."
"Elis kamu ikut, ya. Pakai baju Tante aja, Nak," saran Mikha.
"Tap-"
"Kalau mau ikut, ikut aja, Lis. Gak usah alasan karena baju." Suara Mike memotong ucapan Elis.
__ADS_1
"Iya Elis ikut aja, ya." Marcel yang baru saja datang dan tak sengaja mendengarkan obrolan mereka, meminta agar Elis ikut.
"Iya, Tante, Om. Elis ikut." Sebenarnya Elis mau menolak ajakan itu, tapi karena Mikha dan Marcel yang sudah memintanya, akhirnya dia setuju. Lagian dia juga ingin melihat Mike lebih lama, walaupun ada sosok Lauren, wanita yang dicintai Mike itu.
"Nah gitu dong, 'kan Tante senang. Yuk ikut Tante, kita ganti baju, Nak." Mikha menarik pergelangan tangan Elis.
"My, tunggu," kata Mike yang membuat Mikha menghentikan langkahnya. "Lauren pakai baju Mommy juga, ya."
Lauren menatap ke arah Mike dan mengerutkan keningnya, "Lah kenapa aku harus ganti baju?" tanyanya bingung.
"Bajumu udah bau," bisik Mike di telinga Lauren.
"Ga mau!" bantah Lauren. Dia menarik kepalanya, menjauhi Mike. Terasa geli baginya bila dibisikkan seperti itu.
"Apa kau mau orang-orang di sekitarmu kebaukan karena menciumimu?"
Lauren mengendus bahu kanan dan kirinya. "Ga sebauk itu, kok," ucapnya membela diri.
"Kalau mau pake baju Tante ga pa-pa, Lauren. Nanti Tante pilih baju yang bagus untuk kamu." Mikha yang dari tadi hanya mendengarkan perdebatan kecil antara Lauren dan Mike, akhirnya angkat bicara.
"Udah, sana. Mommy aja bilang ga pa-pa." Mike mendorong Lauren secara pelan, agar gadis itu mendekatkan jarak dengan Mikha.
Lauren hanya mendengus pasrah, dia menyerah untuk menghadapi keras kepalanya Mike. Dan mereka segera berganti pakaian.
Setelah selesai berganti pakaian, mereka kembali ke ruang tamu. Elis memakai baju kemeja berwarna hitam blue ash yang agak kebesaran dan dipadukan dengan celana jeans biru dongker. Terlihat culun, padahal Mikha sudah menyuruhnya memakai baju yang lebih cantik lagi, tapi Elis menolaknya.
Sedangkan Lauren memakai gaun putih yang tak berlengan. Sebenarnya Lauren menolaknya karena dia tak terbiasa memakai baju yang tak berlengan. Lauren lebih suka memakai baju lengan panjang. Tapi dia tak juga tidak berdaya karena rayuan Mikha yang sangat ampuh baginya. Berbeda dengan Elis yang bisa menolak rayuan Mikha.
"Cantik banget," gumam Mike saat melihat Lauren berdiri malu.
"My, kenapa Elis ga dikasih baju yang lebih bagus? Baju Mommy kan banyak tuh yang modis," ucap Marcel saat melihat penampilan Elis yang berbeda dengan Lauren.
"Udah Mommy bilang tadi, Py. Cuma, ya, Poppy pasti tau lah Elis itu anaknya gimana," ungkap Mikha sambil tertawa kecil. Mereka memang sudah mengetahui seluk-beluknya Elis dan keluarganya, karena mereka sudah kenal selama 30 tahun. Florence, Mama Elis, adalah sahabatnya Mikha, dan Almarhum Papa Elis juga sahabatnya Marcel.
__ADS_1
"Ga pa-pa, Om. Elis nyamannya pake gini aja."
"Ya sudah, nyaman kamu gimana aja. Omong-omong kita mau ke mana ini, Mike?" ucap Marcel.
Mike yang sedari tadi memandangi Lauren, mengalihkan matanya saat Lauren meliriknya. "Hmm ... Kita ke mall aja, ya."
"Mall?" Lauren berucap dalam hati. Seumur hidup, dia tidak pernah ke mall. Dia hanya mendengar cerita dari temannya yang pernah ke mall.
"Oke. Udah yuk berangkat sekarang," ucapan Marcel menutup obrolan.
Mereka segera pergi menggunakan mobil orang tua Mike, karena kalau pakai mobil Lamborghini Mike tidak akan muat. Di bangku depan hanya Supri, supir mereka. Marcel, Mikha dan Mike duduk di bangku tengah. Dan yang duduk di bangku belakang Lauren dan Elis.
---o0o---
"My, Py, sini. Kita foto dulu," ajak Mike.
Mikha dan Marcel yang tadinya berjalan di depan mereka mendekat dan menyusun barisan.
"Supri, tolong fotoin." Mike memberikan ponselnya pada Supri, supir orang tuanya itu.
"Baik, Tuan Muda." Supri mengambil ponsel Mike.
Cklek.
Satu foto berhasil ditangkap. Mereka berlima foto dengan berlatar basment mall. Supri pun langsung memberi ponsel yang dipegangnya kepada pemiliknya, Tuan Mudanya.
Setelah itu, mereka masuk ke dalam mall, kecuali Supri karena dia lebih memilih menunggu di dalam mobil. Supri memang tidak suka keramaian.
"Waah, ternyata mall itu begini, ya," kata Lauren tercengang. Matanya dan kepalanya memutar dari kiri dan kanan, hanya untuk melihat isi mall.
"Kau belum pernah ke sini?" Mike yang ada di sampingnya bertanya.
Lauren menggeleng. "Mana pernah aku ke tempat sebesar ini. Di kampungku engga ada, yang ada di kota."
__ADS_1
"Kau gak pernah ke kota?" tanya Mike lagi.
"Engga." Mata Lauren masih sibuk mengamati isi mall.