Tuan Muda dan Gadis Kampung

Tuan Muda dan Gadis Kampung
10. Melepas Rindu


__ADS_3

"Kenapa kesini?" tanya Lauren tiba-tiba muncul di hadapan Mike, membuat pria tampan itu sedikit terkejut.


"Sejak kapan di sini?"


"Sejak cewek itu minta nomormu," jawab Lauren santai sambil menunjuk ke arah dua gadis yang perlahan menjauh. "Kenapa ke sini?" tanyanya lagi.


"Kangen, boleh?" jawab Mike jujur, tapi terdengar seperti lelucon di kuping Lauren.


"Kalau gak ada yang penting, aku naik lagi, ya. Tontonanku belum siap," ucap Lauren tanpa basa-basi.


"Eh, tunggu." Mike berusaha mencegah Lauren agar tak pergi. "Kau nonton apa?"


"B*kep!" kata Lauren ngasal tapi dengan volume suara yang naik. "Upps...." Dia memandang sekelilingnya setelah menyadari suaranya yang sedikit berteriak tadi, berharap tak ada yang mendengarkan ucapannya.


Mike tertawa, "Ngapai ditonton, mending dilakukan aja sekalian," ujar Mike bercanda sekaligus menggoda.


Lauren menggidikkan bahunya, merasa ngeri mendengar ucapan Mike yang terdengar horor. "Tadi becanda doang kale. Aku nonton anime."


"Genrenya ecchi atau hentai pasti," ucap Mike sambil tersenyum jahil.


Lauren berdecak sebal. Dia merasa menyesal telah berbicara seperti tadi. "Serah, ah!" ucapnya pasrah. Dia tak mau melawan lagi dengan laki - laki di hadapannya itu.


"Dari pada kau nonton, mending kita keluar," tawar Mike.


"Ini kan udah di luar," kata Lauren dengan polosnya. Iya, dia memang tak salah.


"Maksudnya jalan-jalan, loh," balas Mike geram. Rasanya ingin sekali dia menarik pipi gadis itu dan mencium bibirnya.


"Kemana?"


"Kau mau kemana?" Bukannya menjawab, Mike malah bertanya balik.


Lauren berpikir sesaat, "Aku mau di kamar aja."


"Ya udah, aku ikut," kata Mike ngasal.


"Kemana?"


"Kamarmu."


Lauren mendorong lengan Mike, "Ih, ngaco. Mana boleh cowok ke sini."

__ADS_1


"Kalau bisa, kau ngizini emang?"


"Tapi, nyatanya ga bisa, Bambang," ucap Lauren meledek.


"Aku bisa beli kosmu ini dan membuat peraturan baru. COWOK BOLEH MASUK KE KAMAR CEWEK," ucap Mike menekankan kata-kata peraturan yang diucapkannya.


Lagi-lagi Lauren bergidik ngeri, pikirannya mulai menjalar ke hal-hal negatif. "Gila! Senget."


Mike tertawa kecil melihat tingkah Lauren. "Makanya kalau gak mau kos ini aku beli, kau ikut aku," katanya tersenyum licik. Benar-benar cara yang licik.


Lauren tahu kalau cowok yang ada di hadapannya ini memiliki banyak uang. Dia melihat dari mobil mewah yang berganti-ganti digunakan Mike. Waktu ketemu Lauren pertama kali, Mike membawa mobil Mercedes-Benz, Sekarang dia membawa mobil Lamborghini berwarna merah. Walaupun tinggal di kampung, Lauren tahu bahwa mobil yang dimiliki Mike tidaklah murah.


"Beli aja sana," ujar Lauren sengit.


"Kalau aku beli kos ini, aku orang pertama yang akan masuk kamarmu. Kau tau, 'kan gimana jadinya kalau cowok masuk kamar cewek?" Mike berusaha merayu gadis itu. Sebenarnya dia tak terlalu serius untuk membeli kos ini, menghabiskan uang aja menurutnya. Itu hanyalah pancingan supaya Lauren menerima ajakannya.


"Dasar licik!" batin Lauren geram. Dia menghembuskan napas kuat, "Iya udah aku ikut!" jawabnya menyerah.


"Nah gitu dong, siap-siap sana." Mike kegirangan. Akhirnya usahanya mengajak Lauren jalan-jalan berhasil. Hitung-hitung sekalian kencan, hehehe....


"Tunggu di sini, ya," kata Lauren. Otaknya berputar memikirkan suatu cara, "Biarin aja dia nunggu di sini sampe belumut! Aku gak akan datang!" Lauren merencanakan sesuatu dalam batin dan benaknya.


Dia pun hanya bisa berdecak, apalagi saat melihat Mike tersenyum penuh kemenangan seperti itu rasanya sudah buat Lauren hampir gila.


Lauren memutar bola matanya, jengah. "Iya-iya," jawabnya ketus. Dia langsung meninggalkan Mike.


"Emang gila ya itu orang! Gak mau dipaksa! Ahh ...," gumam Lauren di sepanjang jalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, dia langsung mengganti baju. Dia memakai baju kemarin yang dipakainya buat pendaftaran ulang. Mukanya hanya dipoles dengan bedak bayi. Bibirnya memakai lipstik berwarna Sassy Mauve, warna lipstik yang sesuai dengan bibirnya. Rambutnya diikat menjulang ke atas bersamaan dengan poninya, membiarkan jidatnya terbuka.


Hanya membutuhkan waktu 7 menit untuknya prepare, Lauren pun menghampiri Mike yang masih menunggu di bawah.


"Udah?" Mike bertanya saat dilihatnya Lauren baru keluar pintu gerbang.


"Kau punya mata untuk ngelihat, 'kan?" balasnya sedikit kasar. Tapi Mike tidak ambil hati, dia justru senang saat melihat gadis itu marah.


"Mataku sudah buta karena kilauan cantikmu," gombal Mike.


"Gembel." Lauren tak menganggapi gombalan Mike.


Hidung Mike mencium sesuatu yang mengganjal. "Kau belum mandi? Kok bau keringat?" tanyanya saat sudah mendapati sumber bau.

__ADS_1


"Enak aja! Walau pun lagi libur gini, aku rajin mandi, ya. Ini baju semalam yang kupake. Wajar aja bau keringat, orang aku pulang pergi jalan kaki," jelas Lauren jujur apa adanya.


"Gak ada baju lain?"


"Ada, tapi dicuci."


"Yang lain lagi? Semua dicuci emang?" tanya Mike lagi.


"Bajuku yang cantik itu cuma dua. Baju yang pertama pas kita ketemu. Baju yang kedua ya ini. Baju yang lain baju kampung-kampung. Ya kali aku pake baju begitu di kota. Yang ada nanti aku dibully kayak di sinetron-sinetron itu," jelas Lauren dengan cepat.


"Oh, gitu."


Lauren mengangguk.


"Ya udah, berangkat sekarang aja." Dia membuka pintu mobilnya untuk Lauren, mempersilahkannya masuk.


"Loh? Loh? Ini kenapa pintunya kaya gini? Pintunya terbang." Lauren memperhatikan pintu Lamborghini milik Mike yang naik ke atas.


Mike tertawa kecil melihat tingkah Lauren. "Kau asal mana, sih?" tanyanya.


Lauren yang belum masuk ke dalam mobil Mike menjawab lebih dulu, "Kabupaten Tanggamus, Bandar Lampung," jawabnya setelah itu masuk ke dalam mobil Mike.


"Wah ini kursinya enak banget," lanjut Lauren setelah duduk di kursi mobil balap itu.


Mike tersenyum tipis, lalu menutup pintu dan memutari mobilnya. Dia masuk ke dalam mobil, tepatnya di tempat kemudi.


"Di kampungmu gak ada kayak begini?"


"Aku gak pernah ngelihat mobil kayak gini di kampung," jawab Lauren.


Mike membantu Lauren memakaikan sabuk pengaman, tapi tangan mereka bersentuhan dan mata mereka saling beradu.


"Eh, maaf." Lauren menarik tangannya.


"Duuh ... Jantungku berasa kayak mau lepas, saking berdetak keras," batin Mike. "Iya, gapapa." Dia memakaikan safety belt Lauren.


"Omong-omong kau gak ada supir? Biasanya aku liat di tipi-tipi gitu kalau orang kaya itu ada supirnya. Bahkan aku baca komik di Mangatoon, kalau orang kaya itu ada sekretaris sama pengawalnya gitu. Tapi 'kok kau ga punya?" celetuk Lauren ngasal.


"Astaga, aku ngomong apaan, 'sih?!" katanya dalam hati. Dia merasa menyesal pada mulutnya yang tak bisa ngerem.


"Ada 'kok. Aku gak pake supir karena mobil ini cuma muat dua orang. Nanti kau mau duduk di mana?"

__ADS_1


__ADS_2