Tuan Muda dan Gadis Kampung

Tuan Muda dan Gadis Kampung
15. Penilaian Orang Terhadap Penampilan


__ADS_3

Sepanjang ospek berlangsung Lauren selalu memperhatikan Elis yang tampak berbeda dengan senior-senior lainnya. Dia tidak banyak omong, tidak banyak gerak, dan seperti tidak memiliki teman.


Lauren sempat berpikir, mungkin itu ada hubungannya dengan perkataan Tasya tadi yang mengatakan kalau Elis diasingkan.


Tak mau menerka-nerka, setelah kegiatan ospek selesai Lauren pun bertanya pada Tasya untuk memastikan.


"Sya, kenapa dengan Kak Elis?"


"Masih ingat aja ya." Jelas saja Tasya berucap seperti itu, karena omongannya tadi sudah berlalu selama dua jam. "Lo gak perhatikan selama ospek tadi?"


"Perhatikan, sih. Dia kok bisa diasingkan?"


"Karena dia cupu," jawab Tasya dengan cepat dan lantam.


Untung beberapa murid dan senior sudah pulang, jadi Tasya tak menjadi pusat perhatian lagi. Dan orang-orang yang masih tersisa di lapangan Fakultas Kedokteran itu lebih memilih untuk bersikap bodoh amat dengan ucapan Tasya.


"Lo pikir ajalah, mana ada mahasiswa-mahasiswi kedokteran yang cupu gitu."


Batin Lauren terasa pilu seolah merasakan perlakuan mereka semua kepada Elis yang terlampau sadis. Kenapa orang-orang di bumi ini selalu melihat dan memandang orang hanya dari luarnya saja? Walaupun Elis pernah berkata kasar pada Lauren, tapi ia yakin kalau kakak seniornya itu adalah perempuan baik-baik.


"Terus apa kamu sama seperti mereka?"


Pertanyaan Lauren membuat Tasya mengerutkan dahinya, bingung.


"Apa kamu juga bakal ngejauhi Kak Elis hanya karena dia terlihat cupu," jelas Lauren.


Tasya tertawa lepas, "Iyalah."


Lauren melirik ke arah Yola yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan obrolannya dengan Tasya yang membahas senior mereka. "Kalau kamu gimana, Yol?"


"Eh?" Yola menggaruk keningnya, berusaha memutar otaknya untuk menemukan sebuah jawaban. "Ga ada alasan buat menjauhinya hanya karena penampilan dari luar saja," jawab Yola bersungguh-sungguh dengan kata-katanya itu.


Lauren tersenyum tipis. Akhirnya dia punya teman yang sepemikiran dengannya.


"Jadi maksudnya, kalian mau temenan sama Kak Elis?" tanya Tasya memastikan.


Lauren dan Yola saling memandang, kemudian mereka berdua menganggukkan kepala.


"Baik, gue gak maksa lo berdua buat temenan sama Kak Elis. Tapi, lo berdua juga gak berhak maksa gue buat temenan sama Kak Elis," ucap Tasya mendadak dingin.


Lauren tersenyum, senyum yang dibuatnya dengan terpaksa, tak tahu harus merespon seperti apa. Mereka berdua memilih bungkam. Dan dalam hati, Lauren berkata, "Siapa juga yang mau maksa dia buat temenan sama Kak Elis. Aku juga gak tau dia punya masalah apa sampe kayanya segitu bencinya sama Kak Elis. Apa mungkin masa lalu sebelum mereka bereinkarnasi, mereka musuhan. Kaya di drama korea gitu." Lauren pun langsung bergidik ngeri karena pikirannya.


Tak lama sosok Elis muncul.


"Panjang umur tuh orang." Tasya melihat Elis dengan ekor matanya. Lauren dan Yola yang membelakangi Elis, membalikkan badan mereka.


"Kak Elis?"


"Emang kalian pada bicarain aku, ya?"

__ADS_1


Hening. Tasya, Yola dan Lauren hanya saling bertatap-tatapan. Tak lama Tasya melakukan aksinya, aksi berbohong, "Hmm ... Iya, Kak. Tadi kami gak sengaja bahas Kak Elis. Kami hanya bilang kalau Kak Elis cantik," kata Tasya berusaha tetap tenang. Tasya melukiskan senyum kepercayaan dirinya, berusaha meyakinkan kebohongannya supaya terasa benar bagi Elis.


Walaupun awalnya Elis meragukannya, tapi akhirnya dia memilih untuk percaya dan tak banyak bertanya lagi. Dia kemudian langsung pergi meninggalkan mereka. Saat langkahnya sudah menjauh, Tasya, Yola dan Lauren menghela napasnya, lega.


"Bagaimana bisa kebohongannya begitu manis?" batin Lauren salut.


"Untung gue jagonya bohong, 'kan," kata Tasya penuh percaya diri.


Lauren dan Yola hanya menjawab dengan senyuman.


Lauren membuka tasnya, mengambil handphonenya. Lauren baru saja ingat, sepanjang ospek ia belum ada memainkan benda persegi panjang itu. Hanya tadi pagi Lauren membuka handphonenya dan hanya membaca pesan dari Mike, tanpa membalasnya.


Dibukanya ponselnya dengan finger print, kemudian dimatikannya mode pesawat dan datanya langsung hidup. Handphonenya berbunyi panjang, karena begitu banyak notifikasi yang masuk.


"Tujuh belas panggilan tak terjawab dari cowok mesum," gumam Lauren membaca salah satu notifikasi yang muncul.


Lauren memberi nama kontak Mike dengan 'Cowok Mesum' karena emang baginya Mike itu mesum. Ya iyalah, cowok mana coba yang tiba-tiba mencium wanita yang tak dikenalnya, kalau bukan dia cowok mesum? Apalagi itu ciuman pertama seorang gadis polos.


Tiba-tiba ponsel Lauren menerima panggilan masuk. Sumpah! Tak sengaja Lauren menekan tombol jawab, sehingga panggilannya langsung terhubung.


"Kenapa dari tadi gak aktif? Kau tau aku merindukanmu? Dan kenapa kau gak membalas pesanku?" Mike langsung mengoceh di balik telepon.


Lauren mendengus kesal karena pertanyaan Mike yang bertubi-tubi. "Ada apa?"


"Kau harus tanggung jawab."


Kening Lauren berkerut, "Buat apa? Aku 'kan tidak menghamilimu," katanya dengan sikap sok lugu.


"Bodoh! Kau gak belajar anatomi dan fisiologi, ya? Mana ada cowok hamil, kecuali dia punya rahim. Aku tadi cuma iseng aja ngomong gitu."


"Bukan hamil anak. Tapi hamil cinta. Aku sedang mengandung cintamu," jawab Mike dengan serius.


Lauren menghela napasnya yang terasa begitu berat. Dia memilih untuk mematikan panggilan telepon itu dan berusaha melupakan ucapan anehnya Mike tadi.


Tapi, lagi-lagi Mike meneleponnya. Lauren memilh untuk mengabaikannya.


"Kenapa gak lo angkat?" tanya Tasya yang merasa terganggu dengan suara teleponnya Lauren. Mata Tasya pun melirik ke layar ponsel Lauren, "Cowok Mesum?"


"Cowok yang waktu itu ngaku-ngaku pacarku," jelas Lauren.


"Jadi dia bukan pacarmu?"


Lauren menggelengkan kepalanya, "Ya nggak lah! Sejak kapan aku punya pacar yang mesum kayak gitu," sangkalnya.


Betapa gembiranya perasaan Tasya saat ini, mengetahui fakta sesungguhnya bahwa Mike tidak berpacaran dengan Lauren. Yah, lagian juga kalau mereka sudah berpacaran, selagi janur kuning belum melengkung, masih bisa ditikung. Benar begitu, bukan?


Eh, tapi kenapa Mike tidak menghubungi Tasya sampai sekarang? Tasya tak tahu berapa nomornya Mike, bagaimana bisa dia dekat dengan pria tampan itu tanpa komunikasi online?


"Seriusan lo gak pacaran sama Kak Mike?" tanya Tasya memastikan.

__ADS_1


Lauren menggeleng.


"Berarti gue bisa dong sama Kak Mike?"


Lauren mengangkat bahunya, "Mungkin bisa."


"Lo setuju, 'kan, kalau gue pacaran sama Kak Mike?"


Lauren mengangguk.


"Gue minta dong nomornya," rayu Tasya.


Lauren menyodorkan ponselnya yang di layarnya ada nomor Mike. Kebetulan Mike tidak memanggilnya lagi. Tasya langsung menyalin nomor Mike dengan ponselnya.


Tapi, belum selesai Tasya menyalin nomor Mike, pria tampan itu menelpon Lauren lagi. Tasya langsung merampas ponsel Lauren dan mengangkat panggilan Mike.


"Kau di mana?" ucap Mike langsung bertanya.


"Halo, Kak Mike."


Di balik panggilan, Mike mencoba mengenali suara yang berbeda. Dia sangat tahu itu bukan suaranya Lauren. "Ini siapa?" 


"Tasya, Kak. Tasya."


Mike mencoba mengingat nama Tasya, tapi dia sama sekali tak dapat memastikan Tasya yang mana, karena dia banyak mengenal perempuan yang bernama Tasya, "Tasya mana?" 


"Balikin handphone aku, Sya," rengek Lauren berusaha mengambil benda miliknya itu.


"Bentar, Ren. Gue pinjam bentar!"


"Siapapun lo, gue gak peduli. Balikin handphone itu ke pemiliknya," kata Mike marah.


Tasya menciut mendengar kemarahan Mike. Dia langsung mengembalikan benda itu ke pemilinya.


"Ada apa lagi? Dari tadi nelpon mulu! Gak ada kerjaan apa?" kata Lauren merasa jenuh.


"Aku kangen."


"Tapi aku nggak."


Tak menanggapi Lauren, Mike justru mengalihkan pembicaraan, "Sekarang kau di mana?" 


"Aku di kampus."


"Kau kuliah di mana?"


"Nanya mulu kayak wartawan," sahut Lauren sambil berdecak pelan.


"Aku baru dua kali nanya, udah dibilang wartawan. Memang calon pacarmu ini multi talent, bisa mengerjakan pekerjaan ap-" 

__ADS_1


Lauren bergidik ngeri. Belum sempat Mike menyelesaikan kalimatnya itu, Lauren mematikan panggilan itu lagi secara sepihak.


Mike mendengus, "Kayanya handphonenya rusak makanya dari tadi mati-matiin telepon mulu," gumamnya menatap handphonya yang berwallpaper wanita b*hay.


__ADS_2