
Gaes, author minta votenya yaa. Maaciw
.
.
Di sepanjang jalan, Mike sibuk mengganti-ganti lagu dari tape mobil Mercedes-Benz miliknya. Kemudian, tangannya berhenti saat sudah menemukan lagu favoritnya berjudul Zombie yang dipopulerkan The Cranberries. Dia memutar lagu itu dengan sangat keras, hingga mencapai volume terakhir.
Another head hangs lowly
Child is slowly taken
And the violence, caused such silence
Who are we mistaken?
Mike ikut bernyanyi, mengeluarkan suara emasnya yang sangat merdu. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan jatuh cinta.
But you see, it's not me
It's not my family
In your head, in your head, they are fighting
With their tanks, and their bombs
And their bombs, and their guns
In your head, in your head they are crying
Seketika dia membayangkan sesuatu. Dia membayangkan bagaimana jika makhluk seram yang ditakutkan orang-orang ternyata hidup, dan mengusik hidupnya. Membayangkannya saja sudah ngeri. Tapi tidak untuk Mike. Dia malah sangat bersemangat bila bertemu zombie. Jika bertemu nanti pun, dia pasti akan membunuh zombie itu lagi. Mungkin orang yang tidak mengenal Mike akan terkejut melihat sifat aslinya yang bisa membunuh orang tanpa rasa bersalah dan penyesalan sedikit pun. Psikopat? Tapi Mike tidak mengganggap dirinya sebagai psikopat.
Dulu perusahaan Carlo tidak sebesar sekarang. Berkat usaha Mike lah perusahaan itu semakin besar dan memiliki banyak cabang serta saham. Hanya ada satu orang yang mengetahui trik Mike membesarkan usahanya itu. Dia adalah Kevin, sekretaris sekaligus sahabat karibnya. Kevin tahu pasti, kalau Mike membunuh orang-orang penting yang menjadi sumber keuntungan bagi perusahaannya bila orang itu mati. Kevin ikut terlibat dalam aksi Mike, dan dengan sigap dia berhasil menutup kasus-kasus dari kematian orang yang dibunuh Mike.
*In your head, in your head
Zombie, zombie, zombie-ie-ie
What's in your head, in your head
Zombie, zombie, zombie-ie-ie, oh
__ADS_1
Du, du, du, du
Du, du, du, du
Du, du, du, du
Du, du, du, du*
Musik masih melantun dengan merdu, tapi suara indah Mike tidak terdengar lagi mengekori lagu itu. Justru matanya tertuju pada sosok orang yang menurutnya tidak asing. Dia memicingkan mata, sambil mengingatnya.
"Kayanya itu gadis yang tadi di kejar-kejar preman," gumamnya mengingat kejadian tadi siang. "Ck. Begitu kecilnya Depok sampai aku bisa bertemu dengannya lagi."
Mike menepikan mobilnya di seberang jalan. Matanya sibuk mengamati Lauren. Gadis itu memegang kantung plastik yang berisi makanan dan menyerahkannya pada ibu pemulung di pinggir jalan. Setelah itu, dia mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. Tapi, seseorang merampas dompet Lauren dan membawanya lari. Lauren berteriak meminta tolong, tapi tak ada yang menolong karena emang jalanan tampak sepi dan ibu pemulung di hadapannya tidak bisa berlari karena ada masalah pada kakinya.
Pria gagah itu keluar dari mobilnya, dia menghampiri Lauren dan pemulung itu. Lauren menangis dan pemulung itu mencoba menenangkannya.
"Kenapa?"
Ketika Mike bertanya, dengan segera Lauren mengusap pipinya, bermaksud untuk menghapus air matanya. Tapi percuma karena Mike sudah melihatnya.
"Adik ini tadi baru kecopet, Tuan." Pemulung itu menjelaskan situasinya.
"Gini amat hidupku di Kota Depok ini. Tadi dikejar preman, terus ngeliat cowok bar-bar yang bertarung sampai berdarah-darah, terus kecopet pas niat baik ngasih makan pemulung. Udah gitu aku ketemu lagi sama cowok bar-bar tadi," ucap Lauren jengkel.
Bukannya kesal karena dipanggil bar-bar, cowok itu justru tertawa terbahak-bahak. Dia pun mendapatkan tatapan tajam dari Lauren, yang membuatnya menghentikan tawanya.
Kruuuuk...
Suara cacing-cacing di perut Lauren berhasil memecahkan keheningan setelah Mike berhenti tertawa.
Lauren membuang muka, tak berani menatap wajah pria yang kini bakal menertawainya lagi. Dia merasa sangat malu karena perbuatan setan cacing yang ada di perutnya
"Ah, Telor Dadar," batin Lauren mengumpat.
"Kau lapar?" Mike tidak tertawa, tapi justru ia bertanya.
Lauren mengangguk menanggapi pertanyaan Mike. Tapi ia tak berani menatap pemilik mata elang itu.
"Ikut aku!" Mike menarik lengan Lauren, menariknya secara paksa.
Hingga tiba di samping mobil Mike, Lauren menghempaskan tangannya. "Mau kemana, sih! Aku ga mau ikut!" Lauren berkacak pinggang. Dia mendongak, menatap Mike yang lebih tinggi darinya, dengan tatapan mengintimidasi.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Mike malah menyumpal mulut Lauren dengan bibirnya. Mata Lauren membesar. Bola matanya seakan mau keluar. Dia begitu terkejut karena tiba-tiba pria tampan di hadapannya sedang menciumnya.
"Bawel." Tawa Mike saat melihat ekspresi aneh Lauren.
Lauren memukul-mukul bidang dadanya Mike,
"Balikin ga! Itu ciuman pertamaku! Kenapa anda mengambilnya! Balikin!"
"Gimana cara balikinya?" Mike berpikir, kemudian senyum jahil terlukis di bibirnya.
Dia mencium lagi bibir Lauren. Tak hanya mencium, dia juga ******* bibir kecilnya.
Lauren sadar dan dia menarik dirinya. "Kok malah dicium lagi?" katanya kesal.
"Tadi minta dibalikin. Ya udah gitu, 'kan balikinnya?" Mike tertawa.
"Astaga *****! Lauren Bodoh! Mulut bodoh! Iya dia gak salah, yang salah mulutmu, Lauren." Berbagai macam umpatan dilontarkan Lauren dalam batinnya.
Lauren kalah telak.
"Masuklah ke mobilku! Kau lapar, 'kan? Ikut aku kalau kau mau makan." Mike membukakan pintu mobil untuk Lauren, tapi gadis itu masih diam tak beranjak sedikit pun.
"Kalau gak mau makan, ya sudah. Aku tutup lagi pintunya," lanjutnya yang bersiap untuk menutup pintu mobilnya.
"Kalau aku gak masuk, aku gak dapat makan. Malah sekarang aku lapar banget lagi. Sial! Pake acara kecopet segala. Uangku di situ semua!" Lauren sibuk bergelut dengan pikirannya.
Sebelum Mike menutup pintu mobilnya, gadis itu menghentikannya dan ia pun segera naik ke mobil elitnya Mike. Matanya memandang isi dalam mobil itu, dia begitu kagum. Hidungnya mencium aroma kopi sebagai pewangi mobil. Ini kali pertama baginya menaiki mobil mewah. Sebelumnya dia hanya menaiki angkutan umum sebagai alat transportasi utamanya.
"Mobilmu keren," ucapnya saat Mike sudah duduk di sebelahnya.
"Kau mau?"
Gadis itu melihat Mike dan menatapnya dengan tatapan terkejut. "Ya ga mungkin lah," ucapnya meragukan perkataan Mike.
"Menikahlah denganku. Aku akan memberikan apa pun yang kau mau." Mike menatap gadis itu dengan tatapan serius. Tapi Lauren malah tak melihat keseriusan ucapan Mike.
"Aah, lagi-lagi dia bercanda," batin Lauren. Dia memalingkan muka dari Mike. "Mana ada orang yang baru kenal udah langsung ngajak nikah. Ngaco ini anak!"
Mike tertawa melihat Lauren yang gelagapan. Dia kemudian bertanya pada Lauren, "Siapa namamu?"
Lauren masih memalingkan muka dari Mike. Dia melihat pemandangan yang masih diam, karena mobil mereka belum bergerak sedari tadi. "Laurensia Edgina," katanya tanpa menanya kembali siapa nama pria yang duduk di sampingnya.
__ADS_1