Tuan Muda dan Gadis Kampung

Tuan Muda dan Gadis Kampung
9. Diskotik


__ADS_3

Dentuman musik menyambut kedatangan Mike di sebuah diskotik tempat dia menghilangkan rasa lelah akibat bekerja. Suara beat yang keras berhasil memekakkan gendang telinga serta suaranya yang berdentum-dentum berhasil menyatu dengan jantung. Mike dan Kevin sangat menikmati musik sejenis Acid Jazz dari piringan hitam DJ yang disajikan bersamaan dengan cahaya dengan kerlipan merah dan biru yang mengikuti iringan musik.


Mereka duduk di baristo, menikmati bir yang dihidangkan. Sesekali, mata Mike dan Kevin melirik ke arah perempuan sexy yang sedang berdansa bersama laki-laki yang berhasil mereka goda di lantai dansa dengan pakaian yang kurang jahitan. Pakaiannya terlalu terbuka, menampakkan bentuk kedua gunungnya itu dan paha ayam yang begitu lezat.


"Ada gadis yang membuatmu tertarik?" Kevin berbicara setengah berteriak karena suaranya musik yang begitu kuat.


"Itu!" Mike menunjuk pada gadis yang sedang mabuk. Gadis itu duduk di sofa, sendirian dengan beberapa botol minuman alkohol.


"Buruan sana mainkan." Kevin mendorong bahu Mike, menyuruhnya untuk segera menghampiri gadis itu.


"Kalau kau udah pergi 'kan aku bisa main-main juga," batin Kevin tersenyum tipis. Itulah alasan mengapa dia menyuruh Mike untuk pergi menemui gadis itu dengan segera. Kevin merasa segan bila ingin bersenang-senang dengan perempuan, tapi Mike hanya duduk di baristo.


Mike beranjak dari duduknya dan menghampiri perempuan itu.


"Hay, Nona," panggilnya kuat, menyeimbangi volume suara musik. Dia memperhatikan gadis yang setengah tidak sadarkan diri itu. "Boleh aku temani?"


Gadis itu memeluk Mike dan merayunya. "Kamu ganteng banget." Dibelainya wajah Mike.


Mike tersenyum, "Ternyata mudah banget dapatinya," katanya dalam hati.


Mike pun mendorong wanita itu hingga tertidur di atas sofa, dia mengunci perempuan itu dengan kedua tangannya. Diciumnya bibir perempuan itu. Gadis itu tak mau kalah, dia menyeimbangkan ciuman Mike. Tangan Mike mulai nakal dan masuk ke dalam pakaian perempuan malam itu. Nafsunya sudah muncul membara dan sudah mencapai pada puncaknya, siap untuk dilepaskan. Tapi, tiba-tiba bayangan Lauren muncul di kepalanya. Dia melepaskan ciumannya dan berdiri tegak. Diambilnya dua langkah mundur menjauhi gadis itu.


Gadis itu duduk, "Kenapa?" tanyanya bingung karena tiba-tiba Mike menghentikannya.


"Kau butuh berapa duit?" Dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan sepuluh lembar uang seratus ribu. "Ambillah. Aku pergi dulu." Diberikan uangnya pada perempuan itu. Dia mengambilnya.


Mike pergi meninggalkannya yang menatap uang pemberiannya dengan perasaan senang. Dia menghampiri Kevin yang sedang berjoget-joget di atas lantai dansa. "Ayok pulang!" teriak Mike karena musik di situ cukuplah keras.


"Apa!" Kevin pura-pura tidak mendengarnya.


"Pulang!" Mike meninggikan volume suaranya. Dia menarik Kevin menjauhi lantai dansa dan perempuan lainnya.


Bolak-balik Kevin bertanya kenapa pulang, tapi Mike tak menjawabnya karena suara musik di area diskotik ini terlalu keras.


"Kenapa pulang, Mike? Kau gak tertarik dengan wanita itu?" tanyanya saat mereka berdua sudah keluar dari diskotik, dan sekarang berada di pelantaran parkiran.


"Gak bisa, Vin. Aku keinget Lauren lagi!"


Kevin terkekeh-kekeh. Baru kali ini dia melihat Mike yang tak menikmati hiburannya. Biasanya, Mike sanggup meniduri perempuan dengan napsunya hingga mereka merasa kesakitan.

__ADS_1


"Mike, jangan sampai kau gila. Besok jumpailah perempuanmu itu."


"Iyah, pokoknya besok aku harus ke sana. Kuserahkan urusan kantor padamu." Mike menepuk bahu Kevin satu kali, ia melengos berjalan lebih dulu menuju mobilnya terparkir.


---oOo---


Keesokan harinya di jam delapan pagi, Mike melajukan mobilnya meninggalkan Ibu Kota. Dia akan ke Depok, menemui Lauren. Segala urusan kantor sudah diserahkannya pada tangan kanannya, Kevin.


Butuh satu jam menempuh jarak dari Jakarta ke Depok, kini Mike telah tiba di depan pagar kosnya Lauren. Dia menunggu sambil melihat ke pintu kamar Lauren yang masih tertutup, berharap wanita itu keluar dari kamarnya. Mike lupa minta nomor handphone Lauren sebelumnya. Kalau saja dia tidak melupakan hal penting itu, sudah dihubunginya Lauren dan meminta gadis itu keluar. Tidak perlu menunggu seperti ini.


Sudah satu jam dia menunggu, tapi Lauren belum juga keluar. Setelah itu, matanya tertuju pada dua orang perempuan yang baru saja keluar dari gerbang.


"Permisi." Mike menghentikan langkah mereka. "Saya bisa minta tolong?" pintanya kemudian.


"Waah gila ... ganteng banget," batin kedua wanita itu saat melihat wajah tampannya Mike. Mereka takjub pada semesta yang mengirim sosok pria seperti ini dihadapan mereka.


"Minta tolong apa?" salah satu wanita berambut panjang, berkulit putih dan terlihat cantik itu kembali bertanya. Namanya Tasya.


"Kalian kenal Lauren?"


Kedua gadis itu saling bertatapan, kemudian menggelengkan kepala. Wajar saja Lauren tidak dikenal, karena dia baru saja pindah.


"Kamarnya di situ." Mike menunjuk pintu kamar Lauren. "Bisa tolong panggilkan dia?"


"Dia pacarku," ujar Mike berpura-pura.


"Yaah, udah punya pacar." Kedua gadis itu kecewa.


"Kakak tunggu di sini, biar aku panggilkan," kata teman Tasya yang bernama Yola.


Mike mengangguk dan tersenyum. Lagi-lagi senyum Mike mampu meluluhkan hati kedua wanita itu. Mereka klepek-klepek melihat senyuman Mike.


Mike menunggu bersama dengan Tasya. Sedangkan Yola pergi memanggil Lauren sendirian. Tapi, suasana di sana sepi. Mike tak membuka pembicaraan dan Tasya hanya diam sambil curi-curi pandang, memperhatikan gerak-gerik Mike.


Tok ... Tok ...


Pintu yang di ketuk terbuka, menampakkan sosok Lauren yang sangat cantik. Yola memperhatikan wajah cantiknya Lauren sesaat.


"Siapa, ya? Ada apa?" tanya Lauren.

__ADS_1


"Hmm .... Tadi ada laki-laki yang mencari kamu. Itu orangnya." Yola menunjuk ke arah Mike yang sibuk memainkan ponselnya.


Lauren memicingkan mata, memastikan cowok yang dilihatnya adalah cowok yang pernah menolongnya.


"Ngapai dia nyari aku?"


Yola menggeleng, "Dia pacarmu, 'kan? Mau ngajak kencan kali," ucapnya ngasal.


Lauren terbelalak, "Bukan," ucapnya menolak.


"Loh? Tadi katanya kamu itu pacarnya," ucap Yola bingung.


"Enggak. Enggak ... Ya sudah, nanti aku turun. Makasih, ya."


"Iya." Yola pergi meninggalkan Lauren dan menuruni tangga.


Setelah Yola sampai di depan gerbang, Mike bertanya, "Udah?"


"Sudah, Kak. Nanti dia turun tadi katanya," jawab Yola.


"Makasih, ya."


"Anuu ... Kak, boleh mi-minta nomor handphonenya ngga?" pinta Tasya gugup.


Mike tersenyum simpul, "Buat apa?"


"Buat kenalan sama Kakak," jawabnya jujur.


"Ini gadis cantik juga, sih. Kasih aja kayanya, siapa tahu bisa ditiduri. Hahaha...," batin Mike. Dia cengar-cengir.


Kedua gadis dihadapannya pun menatap bingung.


"Berapa nomormu?" tanya Mike. Tasya pun langsung menyebutkan nomornya. "Namamu?"


"Tasya Andini, Kak," jawab Tasya tegas.


"Oke, aku simpan. Nanti aku yang hubungi."


Tasya kesemsem dan Yola memaklumi tingkah temannya itu.

__ADS_1


"Udah ayok pergi, Sya." Yola menarik lengan Tasya.


"Kami pergi dulu ya, Kak," pamit keduanya secara kompak.


__ADS_2