
Ketika mereka ada di depan eskalator, Lauren menghentikan langkahnya. Elis, Mikha dan Marcel sudah naik lebih dulu.
"Kenapa?" tanya Mike bingung karena Lauren hanya mematung. Lagian, jalanan sudah mengantri karena Lauren dan Mike menghalanginya.
"Minggir dong!" teriak salah satu pengunjung mall yang mau naik eskalator.
Mike mendengus, "Pasti dia syok dan takut ngelihat eskalator ini. Tadi katanya 'kan dia belum pernah ke mall," pikir Mike.
"Aku takut naik ini, aaaaakh takut!" teriak Lauren histeris, namun dia masih tetap mematung sambil memperhatikan eskalator. Sedangkan orang-orang menganggapnya aneh dan kampungan.
Karena melihat tingkah Lauren yang sebenarnya memalukan, Mike menggendong Lauren secara mendadak, membuat gadis itu menganga tapi matanya tak lepas memandang wajah tampan Mike. Tak hanya itu, seluruh pengunjung memperhatikannya. Mereka menjadi pusat perhatian sekarang.
"Uhuuuuy, baper."
"Mau dong digendong juga."
"Ah romantis."
Begitulah kata-kata yang terucap pengunjung yang didengar Lauren dan Mike.
"Tangga itu gak makan orang ataupun nelan orang, kau gak perlu takut sampai segitunya," kata Mike lembut sambil menurunkan Lauren karena mereka sudah tiba di lantai atas.
Bukannya Lauren marah karena digendong secara sepihak, gadis itu justru meminta maaf karena tingkahnya membuat masalah baru dan pastinya membuat Mike merasa malu. "Maaf, ya, aku norak dan kampungan yang gak pernah naik tangga jalan kayak gitu. Aku takut aja tadi. Pasti kau malu sekali."
Mike tertawa sejenak, kemudian dia berkata, "Melihat tingkahmu yang konyol begitu, kenapa aku harus merasa malu? Justru aku merasa bahagia, karena kau berhasil membuatku tertawa."
Puitis, sangat puitis bagi Lauren.
"Iya, maaf," ucap Lauren hanya meminta maaf lagi.
"Udah ga apa-apa."
"Kak Mike, Lauren rupanya masih di sini, toh. Dari tadi kami nyariin kalian. Kami kira kalian udah jalan di depan, tapi dicari engga ada," ucap Elis yang baru saja muncul di hadapan mereka diikuti dengan Mikha dan Marcel di belakangnya.
"Kok lama banget naik eskalatornya tadi, Mike?" tanya Mikha menyejajarkan barisannya dengan Elis.
"Hmm." Mike berdehem, memikirkan kebohongan tepat seperti apa yang harus dikatakannya. Tidak mungkin dia berkata jujur, itu artinya sama saja dia membuat wanita yang dicintainya ini malu di depan keluarga dan orang yang mencintainya.
Mata Mike melirik ke lantai bawah, dia melihat ada robot di sana. "Tadi di sana ada robot, My, Py. Mike foto sama itu robot."
__ADS_1
Orang tuanya bingung. Pasalnya, Mike tidak suka berfoto. Tapi akhirnya dengan segala jurus kebohongan yang Mike keluarkan, Mikha dan Marcel pun percaya. Ah, tidak. Mereka sebenarnya tidak benar-benar percaya, tapi karena mereka tak mau membuat cerita kebohongan Mike lebih panjang lagi, akhirnya mereka pura-pura percaya, bukan pura-pura lupa karena itu lagunya Petrus Mahendra.
"Ya sudah, kita mau ke mana ini?" tanya Marcel.
"Ke Matahari," jawab Mike to the point.
Mikha, Marcel dan Elis pun mengangguk setuju. Mereka jalan lebih dulu, meninggalkan Mike dan Lauren di belakang mereka.
"Ke Matahari? Ngapai ke sana? Itu kan panas! Aku gak mau mati kebakar, ya." Dengan polosnya, Lauren berbicara seperti itu.
Mike hanya tertawa kecil. Sebenarnya dia ingin terpingkal-pingkal, tapi diurungkannya karena dia takut menyakitkan hati Lauren. Dan lagian ini tempat umum. Bisa dikata gila Mike nanti.
"Kau itu mulutnya minta ditabok pake bibir, ya," ujar Mike ngasal. Otaknya juga tak sejalan dengan mulutnya. Tapi mulutnya sejalan dengan hatinya.
Lauren menatapnya tidak suka, "Orang serius juga!"
"Serius minta ditabok pake bibirku?" kata Mike menggoda.
"Iiih, apaan sih." Lauren membuang pandangannya dari Mike. Dia tersipu malu.
Mike menyunggingkan senyum lebar melihat tingkah Lauren. "Matahari itu tempat belanja," jelasnya.
"Belanja apa? Sayur? Jengkol ada, 'kan?"
"Kau mau jengkol?" goda Mike lagi.
Lauren Manggut-manggut sekali. "Mau."
"Kau suka?"
Lauren manggut-manggut lagi untuk yang kedua kalinya. "Suka kali."
"Kau mau beli?"
Lauren manggut-manggut untuk yang ketiga kalinya. Lama-kelamaan si Lauren udah cocok menggantikan pajangan anjing yang ada di mobil orang tuanya Mike tadi.
"Engga," kata Lauren. Dia ketawa lebar, menampakkan deretan giginya yang tersusun apik.
"Lah? Kenapa?" Mike mengerutkan keningnya, "Tadi katanya suka sama jengkol. Kenapa tiba-tiba gak mau beli jengkol?" pikirnya.
__ADS_1
"Itu 'kan Mataharinya. Cuma jual pakaian, sepatu gitu." Lauren menunjuk ke depan, tepatnya dibacaan Matahari khas dengan logonya.
Mike nengok ke arah yang ditunjuk Lauren, "Kalau tau Matahari gak ada jualan jengkol, kenapa masih ditanya?"
"Hmm ... Kenapa, ya? Ah lupakan aja. Ayo jalan." Dia melengos, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Mike.
Ah! si Lauren malah pergi meninggalkan pembicaraan yang masih menggantung, untung bukan perasaan.
Mike mengatur napasnya, mengikuti langkah gadis itu.
---o0o---
"Sekali lagi makasih, ya, buat bajunya," ucap Lauren saat dirinya dan Mike sudah keluar dari mobil Lamborghini milik Mike. Mereka sekarang berada di depan gerbang kos Lauren, setelah menghabiskan beberapa jam di mall. Tak terasa, waktu pergi langit masih terang begitu pulang langit sudah gelap.
Mike membelikan Lauren sepasang pakaian kasual. Tadinya, Mike mau membelikannya banyak pakaian untuk Lauren, tapi gadis itu selalu menolaknya. Lauren mengancam Mike, katanya, "Kalau kau belikkan aku banyak baju, fix. Aku pulang sekarang."
Dan entah mengapa, Mike langsung luluh dan patuh, seakan egonya mampu ia taklukkan.
"Aku janji akan membayar semua hutangku padamu, termasuk baju ini." Lauren menunjuk tas belanjaannya dengan ekor matanya.
"Baiklah, aku tunggu hutangmu," balas Mike.
Sebenarnya Mike sudah lelah untuk berkata, "Aku memberi itu secara gratis." Tapi, Lauren tetap aja memaksa untuk membayarnya di kemudian hari. Gadis itu benar-benar tidak ingin berhutang budi pada seseorang, apalagi sampai berhutang uang.
"Udah sana, pulang." Seolah-olah Lauren mengusir Mike.
Mike menurunkan bibir bawahnya. Dia merajuk. "Aku mau tidur di sini."
"Gila! Udah sana pulang!"
"Ga mau," ucapnya seperti anak kecil yang meminta permen.
"Kau mau tidur di sini?"
Mike manggut-manggut sambil menyatukan kedua telapak tangannya, seperti orang yang sedang memohon. "Please!"
"Tidur di dalam mobilmu aja, bye." Lauren langsung pergi lari meninggalkan Mike.
Mike tak mengejar, karena gadis itu sudah masuk ke dalam tempat yang tak bisa dijangkau Mike.
__ADS_1
"Dasar." Mike menggeleng-gelengkan kepalanya. Lagi-lagi Lauren berhasil kabur darinya, seperti pertemuan pertama mereka waktu itu, dan selalu saja Lauren meninggalkan Mike. Sudah yang ke berapa kalinya Lauren meninggalkan Mike?
Mike masuk ke dalam mobilnya, menghidupkan mesin mobilnya dan melaju membelah jalan raya yang tidaklah sepi, banyak mobil dan kendaraan lain yang berlalu lalang.