
Dreeeg... Dreeeg....
Ponsel Mike bergetar, dia mengambilnya dari tempat di sebelahnya dan membaca nama pemanggil. Nama Ibunya terpampang di situ. Berbeda dengan sebelumnya yang selalu menolak panggilan Mikha, ini dia mengangkat panggilan itu.
"Kamu ke mana, Mike? Dari tadi Mommy teleponi, tapi ga di angkat. Kami ga ada liat mobil kamu lagi di belakang. Kamu nyasar? Tapi mana mungkin. Kamu 'kan udah hapal betul jalanan di Depok." Mikha mengomel dari balik telepon. Baru juga Mike menekan tombol hijau, wanita itu sudah mengeluarkan banyak kata.
Mike menjarakkan handphonenya dari kupingnya. "Tadi ada problem sedikit, My. Mommy sama Poppy di mana? Nanti Mike nyusul."
"Di rumah Tante Florence. Cepat nyusul ke sini kalau masih mau melihat Mommy dan Poppy."
Mike belum berkata apa-apa, tapi Mikha sudah mematikan panggilan mereka. Ucapan terakhir Mikha membuat Mike mikir aneh-aneh.
Padahal kenyataannya, panggilan diputus sepihak setelah Mikha mengucapkan kalimat ini, "Di rumah Tante Florence. Cepat nyusul ke sini kalau masih mau melihat Mommy dan Poppy."
"Bahagia."
---o0o---
Mike memarkirkan mobilnya begitu tiba di pelantaran halaman rumah Florence. Lauren menatapnya penuh pertanyaan, "Kita makan di sini?" tanyanya sembari melihat rumah Florence yang ada di depan mereka.
"Enggak. Kau tunggulah di sini sebentar. Aku ada urusan bentar." Mike membuka safety belt yang masih melingkar di pinggangnya.
"Jangan kemana-mana dan jangan nakal," katanya mengedipkan mata.
Lauren mendengus, "Tau gini lebih baik aku ngemis di jalan atau gak nyari makanan di tong sampah. Udah tau lapar, malah disuruh nunggu," gumamnya kesal setelah Mike keluar dari mobilnya.
"Ada apa, Mommy?" Mike berucap ketika ia sudah sampai di ruang tamu. Mikha, Marcel, Florence dan Elis sedang berkumpul di sana.
"Duduk dulu, Mike," tawar Elis. Dia adalah teman masa kecil Mike. Dari SD-SMA mereka selalu satu sekolah.
Setelah duduk, Mike memperhatikan Elis, yang masih berdiri, dari atas sampe bawah. Gadis itu mengenakan blouse biru dan celana jeans hitam. Mukanya tak di poles bedak sedikitpun. Elis masih sama dengan gadis yang dua tahun lalu mereka bertemu terakhir kali, sebelum Mike pindah ke Ibu Kota.
"Heran sama nih anak. Tante Florence 'kan kaya, tapi kenapa tampilannya sederhana banget?"
Omong-omong Ayah Elis sudah meninggal sejak dia masih berumur 12 tahun.
"Ini ada apa, ya?" Mike bertanya lagi.
"Jadi, maksud kedatangan kami kemari, kami mau melamar Elis untuk Mike." Penjelasan Marcel membuat Mike terpelongo. Pasalnya, dia tak tahu apa-apa tentang acara lamaran ini.
__ADS_1
Mike geram sendiri melihat ulah orang tuanya. "Mommy sama Poppy udah gila kali, ya." Dalam hati dia mengatai orang tuanya gila.
Dia bangkit berdiri dan langsung berkata dengan tegas. "Mike gak tahu apa-apa! Kenapa kalian jodohkan Mike sama Elis, 'sih?!" Dia menatap orang tuanya dengan tatapan mengintimidasi secara bergantian.
"Kamu sama Elis 'kan udah kenal lama. Dan lagi, Elis 'kan suka sama kamu," jelas Marcel.
"Lo, ya yang ngerencanai ini?" tanyanya pada Elis dengan nada meninggi.
Elis menciut mendengat ucapan Mike. Dia menunduk dan kemudian menggeleng tanpa berani menatap mata Mike.
Florence yang sebelumnya diam, angkat bicara. "Elis dan Tante juga gak tahu soal lamaran ini."
"Iya, Mike. Mereka ga tahu karena Mommy sama Poppy mau buat kejutan untuk semuanya." Mikha bersuara.
"Hah, gila! Ini kejutan yang benar-benar membuatku terkejut."
Mike mengambil napas dalam dan mengeluarkannya secara kasar. "My, Py, Tante dan Elis. Sebelumnya Mike minta maaf. Mike gak bisa nikah sama Elis," ujarnya pada semua orang yang ada di sini.
"Aku gak bisa nikah sama kau, Lis. Aku udah anggap kau kayak adikku sendiri. Bedakan sayang dan cinta, Lis," ucap Mike lembut.
Elis yang dari tadi masih menunduk, tiba-tiba menitihkan air mata. Ingin sekali dia menahan air mata itu agar tidak tumpah, namun usahanya gagal.
Ucapan terakhir Mike membuat semua orang menatapnya, terutama Elis. Begitu sakit hatinya mendengarkan ucapan Mike yang belum diketahuinya faktanya.
"Kamu pasti becanda 'kan, Mike!" Mikha meragukan ucapan Mike.
Mike menggeleng, "Tunggu sebentar." Dia pergi dari ruangan itu dan menemui Lauren yang masih menunggu di mobilnya.
Tok...
Mike mengetuk jendela mobilnya. Lauren yang sedari tadi fokus bermain gadget pun menoleh ke sumber suara. Dia membuka kaca jendela mobil itu.
"Turunlah!"
Gadis itu menuruti kata Mike. Dia keluar dari mobil, "Kenapa?" tanyanya.
"Kau mau makan, 'kan?"
Lauren mengangguk dengan cekatan.
__ADS_1
"Kalau gitu, aku butuh bantuanmu."
Lauren menyerngit, "Bantuan apa?" sahut Lauren.
"Aku akan memberimu makan sepuasnya. Tapi, kau ikut aku masuk ke rumah itu dan jangan membantah apa pun yang nantinya kubicarakan di sana!" ujar Mike sambil menunjuk pintu masuk rumah Florence.
"Gimana ini? Apa aku ngikut aja?" Ah... Tapi aku benar-benar lapar. Bisa mati kelaparan aku kalau gak ikuti dia. Tapi kalau aku ikut, nanti dia macam-macam gimana?" Lauren mematung dan hanya bertanya-tanya dalam batinnya.
"Tenanglah, aku tak akan berbuat macam-macam padamu," ujar Mike seolah-olah dia bisa membaca pikiran Lauren. "Yaah, itu sih terserahmu. Kalau kau mau makan gratis, ikut aku. Tapi kalau gak, ya silahkan pergi."
Mike mengambil langkah mundur, dan ketika dia hendak berbalik badan gadis itu menahannya.
"Tunggu! Aku akan ikut denganmu. Tapi, janji jangan berbuat macam-macam," tandasnya.
Mike menyunggingkan senyum, "Iya."
Mike dan Lauren pun melangkahkan kaki menuju ruang tamu yang menjadi tempat berkumpul.
"Ini gadis yang menjadi calonku." Mike memperkenalkan Lauren pada semuanya.
Lauren terkejutnya bukan main. Barusan dia mendengar kalau dia disebut sebagai calon. Tapi dia masih belum tahu calon apa yang dimaksud Mike.
"Calon apa? Calon pembantu?"
"Saya Laurensia Edgina. Salam kenal semuanya." Lauren membungkuk sebagai bentuk penghormatannya.
"Kau bohong 'kan, Bang Mike?" Elis berhenti sejenak untuk mengambil napas. "Paling dia cuma ******* yang sengaja kau sewa dan kau suruh dia berpura-pura menjadi calon istrimu," ujar Elis nyolot.
Praaak....
Mike menampar Elis, membuat gadis itu menatapnya tak percaya. Sementara Lauren, dia hanya menunduk menyembunyikan wajahnya yang sebentar lagi akan dibanjiri air mata. Jantungnya nyeri dan berdegup dengan kencang. Air matanya pun mulai menetes. Sebelum itu bertambah banyak, dia berlari keluar.
Mike menatap kepergiannya.
"Sebelumnya Mommy dan Poppy bilang kalau kalian akan menjadi orang tua yang baik. Lakukanlah sekarang! Mike tak akan menikah dengan Elis," ujarnya sebelum akhirnya kakinya berlari ke luar rumah dan akan mengejar Lauren.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa votenya yaa gaes