
Mike telah selesai mencarikan Lauren kos baru yang sesuai dengan permintaannya tadi. Dia juga telah membayar uang kos itu selama satu tahun. Betapa beruntungnya Lauren karena bertemu orang yang mau membantunya. Bahkan, kos yang akan ditempatinya sekarang adalah kos elit yang memliki fasilitas lengkap, mulai dari perabotan, ruang tamu, ac, dapur dan yang paling penting WiFi. Mungkin harga kos ini tak murah.
Tak hanya membayar biaya kos, Mike juga memberi Lauren uang. Mau tahu berapa jumlahnya? Tidak besar, 'kok. Hanya 1 juta. Awalnya Lauren menolaknya. Sangat menolak. Tapi, dengan upaya dan bujukan maut Mike, Lauren pun akhirnya menerima uang yang diberikan Mike padanya. Tapi ia berjanji akan mengganti uang itu.
"Makasih banyak, ya. Dan semoga ini pertemuan kita yang terakhir." Lauren berkata seperti itu karena dia sangat tidak enak hati telah merepotkan Mike.
"Kau gak mau bertemu denganku lagi?" tanya Mike kecewa.
"Bukan begitu... Aku gak enak aja udah merepotkanmu," ucap Lauren penuh penyesalan.
Mike tersenyum tipis, "Aku gak kerepotan 'kok."
"Makasih ya, aku janji akan membayar semua utangku padamu," ujar Lauren menampilkan bibirnya yang kini melengkung.
"Okeey, aku menunggunya." Mike berbisik pada Lauren, membuat gadis itu bergidik ngeri. Dia tahu, pasti ada maksud lain di balik ucapan pria yang menurutnya misterius itu.
Lauren mendorong tubuh Mike, hampir saja Mike terjungkal.
"Udah pulang sana." Dia pun mengusir Mike.
Pria itu tak marah sedikit pun karena telah diperlakukan seperti itu. Dia malah menyuruh Lauren naik ke kamar kosnya dan dia menunggu sampai Lauren benar-benar sudah masuk ke dalam kamarnya itu.
"Andai aja ini kos gabung, laki-laki boleh masuk ke kamar perempian, udah ikut masuk aku ke kamarnya," gumamnya menggoda lalu ia menyeringai tajam.
__ADS_1
Dia pun melanjutkan perjalanannya kembali ke Jakarta. Hampir saja dia lupa, kalau jam delapan nanti ada pekerjaan kantor yang harus diselesaikannya. Dia pun melajukan mobilnya di atas rata-rata agar cepat sampai ke kantor perusahaannya.
---o0o---
"Gila, gila, gila. Itu cowok siapa, 'sih?" oceh Lauren. Di dalam kamarnya, dia sibuk mondar-mandir memikirkan Mike. Dia memikirkan Mike bukan karena perasaan cinta. Lauren bukan tipe orang yang gampang jatuh cinta. Mungkin kebanyakan perempuan lainnya akan langsung jatuh hati pada pria semapan Mike.
"Ngeliat tadi siang dia mukuli preman itu aja udah buat aku merinding. Astaga! Mungkin dia bukan pria baik-baik." Dia duduk di tepi tempat tidurnya. "Yaa... Aku harus hati-hati." Jari telunjuk kanannya bergoyang-goyang di ambang udara.
Lauren pun berusaha menyingkirkan Mike dari pikirannya. Dia mengambil handphonenya dan aplikasi Mangatoon untuk membaca komik favoritnya. Mungkin dengan begitu pikirannya akan lebih relaks.
Tiba-tiba notifikasi pesan masuk, membuat Lauren menghentikan bacaannya dan membuka pesan yang masuk tadi.
Ternyata, itu pesan dari kampus Lauren diterima. Kampus hanya mengingatkan bahwa besok akan dilakukan pendaftaran ulang. Lauren benar-benar tak sabar, karena berkat kerja keras dan semangatnya selama ini dia bisa diterima di Universitas Indonesia dengan jurusan Kedokteran. Luar biasa, bukan? Ya iyalah, karena dia belajar dari pagi sampai ketemu pagi tanpa henti hanya untuk menggapai mimpi. Dia lulus dengan jalur SBMPTN. (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) Dari dulu ia memang bercita-cita sebagai dokter.
---oOo---
Ayam jantan di dekat kos Lauren mulai berkokok, tapi sang surya belum menampakkan sinarnya. Lauren yang sudah bangun di jam 5.00 WIB pun langsung beranjak dari tempat tidurnya. Dia tak terbiasa berbaring di tempat tidur saat bangun tidur. Bagi kebanyakan orang, tempat tidur memiliki gravitasi yang paling kuat sehingga terus menarik dan susah untuk bangkit. Tapi hal itu tak berlaku untuk Lauren.
Dia langsung merapikan tempat tidurnya. Setelah itu membuka jendela kamar, menampakkan pemandangan yang masih gelap dari lantai 3 itu.
Sejenak ia melihat sebagian kota Depok dengan lampu-lampu yang menghiasinya. Setelah selesai memandang, dia mengambil sapu dan menyapu kosnya.
Saat jarum jam sudah mengarah pada pukul 06.00 WIB, dia mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Sebenarnya jarak dari kos ke kampusnya tidaklah jauh. Hanya memakan waktu 10 menit saja. Dan pendaftaran akan dibuka pukul 08.00 WIB. Tapi, Lauren lebih memilih bersiap dahulu dan sisa waktunya nanti bisa dipakai untuk bersantai. Lebih baik begitu daripada nanti malah kejar-kejaran dengan waktu. Benar, bukan?
__ADS_1
Selesai mandi, dia memakai baju lengan panjang berwarna merah yang dipadukan dengan bercak hitam. Celana Jeans berwarna navy yang menutupi bajunya. Serta dia memakai sepatu berwarna putih.
Setelah memakai baju, dia mengaplikasikan primer dan BB cream diwajahnya. Selanjutnya, mengaplikasikan sedikit blush on berwarna orange. Dia tidak memakai lipstik, tetapi liptint merah diaplikasikan tipis di bibirnya. Rambutnya disisir dan dirapikannya. Ia membiarkan rambutnya tergerai.
Sempurna. Dia benar-benar cantik sekarang.
Dan sekarang, sudah jam 07.30 WIB, artinya dia masih memiliki waktu untuk beristirahat sebentar sebelum berangkat ke kampus. Lagian pendaftaran ditutup pukul 12.00 WIB.
Lauren pun duduk di kursi meja belajarnya, dia memainkan handphonenya. Dibukanya aplikasi Mangatoon untuk membaca komik yang tadi malam belum selesai ia baca.
Tanpa sadar, seakan handphone telah mencuri waktunya. Sekarang sudah jam 09.00 WIB berarti dia sudah menghabiskan waktu selama satu setengah jam. Untung saja perutnya yang belum diisi mengingatkan agar dia tidak candu membaca komik yang terus membuatnya penasaran itu. Kalau bukan karena lapar, bisa saja Lauren kehilangan waktunya untuk mendaftar ulang. Huh. Dasar handphone titisan Lucifer yang sukanya menggoda.
"Cari makanan murah di mana, ya?" ucapnya memikirkan tempat makan yang murah. Walaupun dia mendapatkan bantuan uang dan tempat tinggal dari Mike, dia juga harus hidup hemat karena cari uang itu tak gampang, dan minta uang ke orang tua terus-terusan itu pantang.
Dia pun mengambil tas putih miliknya yang diletakkan di atas meja belajar. Lalu, ia pergi keluar meninggalkan kosnya.
Untung saja teknologi sudah canggih sekarang. Lauren bisa melihat daftar menu rumah makan yang dekat dari kosnya beserta harga makanan dari aplikasi Gojek untuk memastikan harganya murah. Saat dirasanya murah, dia pergi ke rumah makan itu. Tidak usah memesan dari aplikasi, karena akan dikenakan biaya ongkos kirim dan tambahan biaya makanan. Mending dia jalan kaki saja. Apalagi berjalan kaki itu sangat bagus untuk jantung. Jadi, memiliki banyak manfaat, bukan? Itulah Lauren dan pemikirannya.
.
.
Ini setelan pakaian Lauren. Semoga imajinasi kalian tadi sesuai.
__ADS_1