
Okey, sebelum melanjutkan cerita ini, author minta maaf sebesar-besarnya karena lama update :(
Sebenarnya udah gak ada semangat untuk ngelanjutinnya karena aku pikir ceritaku ini gak ada yang baca. Tapi baru beberapa hari yang lalu aku buka comentar dan banyak yang minta up. Uwaa aku sangat terharu dan aku akan up lagi mulai sekarang.
**Oleh karena itu, Author minta dukungannya ya:) Dengan vote, komen bisa menambah semagat menulis author ^_^ Oh iyaa kalau teman-teman gak keberatan, bantu share cerita author juga author sangat berterima kasih sekali. **
---o0o---
Lauren kira pembahasannya dengan Anis yang menyangkut Mike itu sudah berakhir. Namun, Anis tiba-tiba datang ke ruang kelasnya dan dia terus saja menanyakan Mike padanya. Apa kakak tingkatnya itu sudah kecantol dengan Mike? Entahlah, Lauren tidak tahu dan tidak peduli. Yang Lauren pikirkan saat ini, bagaimana caranya menyudahi percakapan tidak penting ini dengan Anis. Dia ingin cepat-cepat pulang ke kosnya.
“Nama cowok itu siapa? Lo kenal cowok itu sejak kapan? Kenapa dia sering ngantar jemput lo?” Anis langsung menyerbu Lauren dengan banyak pertanyaan.
Ingin sekali rasanya Lauren menyumpal mulut Anis dengan botol minumnya, biar tidak bisa bicara sekalian. Tapi itu tidak mungkin Lauren lakukan. Apalagi dia ingat siapa perempuan yang ada di hadapannya ini. Cari masalah dengan Anis sama aja dengan cari mati secara perlahan. Kok perlahan sih? Ya kali Anis membunuh, karena itu dosa. Dia hanya akan membully orang yang mencari masalah dengannya, perlahan-lahan orang tersebut akan depresi dan akhirnya bunuh diri. Perlahan, bukan?
“Namanya Mike, Kak. Aku kenal dia belum lama-lama banget. Gak tahu entah kenapa dia sering ngantar jemput aku, Kak. Mungkin dia mau alih profesi jadi supir pribadiku kali, Kak.” Lauren menjawab semua pertanyaan Anis dengan sabar. Lauren berharap tidak akan ada lagi pertanyaan tentang Mike. Bukannya Lauren cemburu, hanya saja ia tidak suka mendengarkan nama laki-laki yang mengusik ketenangannya itu. Lelaki pemaksa.
“Terus lo udah kenal saling kenal sama keluarganya?”
Lauren mengangguk dengan ragu. Dia menduga Anis akan berpikir yang tidak-tidak dengannya.
“Seriusan? Berarti hubungan kalian bukan hubungan biasa aja!”
“Cuma kebetulan kok, Kak.” Lauren menyelipkan poninya di belakang telinganya.
“Kak, lo kenapa dari tadi nanyain bebep gue mulu sih? Lo naksir sama dia? Jangan, Kak. Dia milik gue,” saut Tasya sewot.
“Ya emang kenapa kalau gue suka sama dia? Dia belum milik lo, Sya. Kita masih bisa bersaing secara sehat, kan?”
balas Anis tak mau kalah.
__ADS_1
Ah, tingkah mereka benar-benar mengusik ketenangan Lauren.
“Kak, Sya, Yol, aku pulang deluan, ya. Soalnya masih ada kerjaan,” bohong Lauren untuk menghindari suasana ini.
“Bareng ke depannya, ya. Siapa tahu gue bisa ketemu sama bebep Mike di depan gerbang,” ucap Anis penuh semangat.
“Kita bareng pulang aja, Ren. Gue juga mau pulang,” timpal Tasya.
Tak ada pilihan lain, Lauren mengangguk saja.
---o0o---
Lauren melepaskan tas ranselnya, mengantungkannya di belakang pintu. Dia langsung membantingkan tubuhnya di atas kasur tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya yang ia hiasi dengan pernak-pernik bintang.
“Kenapa hari ini rasanya aku capek banget ya?”
Lauren melamun selama beberapa menit, setelah itu dia mengambil handphonenya yang ada di dalam tasnya tadi. Ia mengaktifkan data internetnya dan handphonenya langsung dibanjiri dengan notifikasi. Dari pagi tadi Lauren memang sengaja tidak mengaktifkan data internetnya. Ya apalagi alasannya kalau bukan menghindari panggilan telepon dari Mike.
Dreeg .... Dreeg...
Panggilan masuk whatsapp dari nomor yang tidak Lauren simpan dengan foto profil yang tidak ada.
“Siapa ini?” lirih Lauren menatap layar ponselnya.
Lauren tidak menjawab panggilan masuk itu, dia membuka aplikasi whatsapp dan melihat pesan masuk yang belum ia baca. Pesan pertama yang Lauren buka dari grup kelasnya, tidak ada informasi penting.
Notifikasi whatsapp baru mengambang di layar ponsel Lauren. Notifikasi itu dari nomor yang tadi meneleponnya. Lauren membuka isi pesan yang dikirimkan dari nomor yang tak dikenalnya itu.
LO ONLINE BISA, ANGKAT TELEPON GUE GAK BISA! MAKSUDNYA APA COBA?
__ADS_1
“What?Isi pesannya tulisan capslock semua. Emang ini orang siapa sih?” kesal Lauren membaca isi pesan itu. Lauren menekan profile pengirim pesan itu dan melihat nama kontaknya.
AZURA NUGRAHA
Oh! Ternyata manusia yang ia juluki ‘Monster Telor Rakus’ itu yang mengirimnya pesan, pantasan aja isinya capslock semua.
Jari Lauren menari-nari di papan keyboard ponselnya, ia mengetik pesan dan mengirimkannya sebagai balasan.
Kenapa sih?
Tak lama ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari nomor Zura yang belum Lauren save.
“Halo, lo keluar sekarang!” Baru saja Lauren menggeser tombol hijau, pemilik suara di balik teleponnya langsung memerintah.
“Ha?”
“Gue depan kos lo.”
“Ngapai?”
“Banyak tanya, udah keluar dulu.”
Lauren menolak, “Gak!”
Zura diam sesaat, ia mengatur napasnya, “Apa perlu gue yang ke kamar lo?” katanya
terlihat serius.
“Gila ya! Yaudah aku ke sana!”
__ADS_1
“Ya udah buruan, jangan lama-lama, gak usah pake acara dandan du-“
Belum selesai Zura berbicara, Lauren sudah menutup panggilan itu. Lauren meninggalkan ponselnya di atas tempat tidurnya dan ia segera keluar kamarnya untuk menemui Zura.