
"Tolong! Aku minta tolong, jangan bunuh aku. Aku masih ingin hidup. Aku akan beri apa pun padamu, asal kau melepaskanku." Pria itu bersimpuh di depan orang yang hendak membunuhnya.
Dia memegang belati di tangannya, dan mungkin akan melayang di leher atau pun menusuk bagian lainnya pada tubuh pria yang sedang bersimpuh itu.
Dia menyeringai menatap pria itu. Tak lama, diayunkannya belati itu, hendak melakukan apa yang ia mau.
"Tolooooong ...."
"Aaaaakh ...."
"Hah." Mike tersentak dari tidurnya. Mimpi itu, mimpi yang seharusnya tidak diingatnya lagi. Tapi, kenapa semesta mengirimkan ingatan luka masa lalu yang tak seharusnya diingatnya kembali?
Dia bergetar dan badannya basah dengan keringat dingin. Sudah lama dia tidak mendapatkan mimpi seperti itu. Seakan, semesta akan menunjukkan jalannya.
Mike mengambil ponselnya, mencari nama seseorang pada aplikasi whatsapp, dan mengetikkan beberapa kata untuk dikirimnya.
*Kau sudah tidur? Kalau belum, segera balas pesanku. *
Tak ada balasan dari orang yang dikirim Mike pesan itu. Dia Lauren. Mike dan Lauren sudah bertukar nomor handpone. Mike yang meminta nomor gadis itu sewaktu mereka di mall dengan alasan agar Lauren tidak tersesat saat belanja. Gadis itu pun langsung percaya dan memberikan nomornya tanpa mikir lagi karena alasan Mike dianggapnya benar.
Jelas saja Lauren tak membalasnya, karena ini sudah jam tiga pagi. Jam kebanyakan orang tidur, apalagi Lauren yang sangat mengatur kesehatannya sebagai calon dokter. Dia sangat menjaga pola tidurnya.
Mike yang sudah menunggu pesan balasan Lauren selama satu jam itu, akhirnya menyerah menunggu. Dia mencoba menutup matanya, berusaha untuk tidur kembali.
---o0o---
Hari ini, hari yang telah ditunggu-tunggu Lauren. Dia sangat senang sekali, akhirnya ia semakin di dekatkan dengan mimpinya.
Ospek mahasiswa-mahasiswi kedokteran akan dilaksanakan sebentar lagi. Lauren sudah menyediakan segala keperluan ospek. Untung kampusnya tidak minta hal yang aneh-aneh, seperti kucir rambut sesuai tanggal lahir. Kalau itu terjadi, bisa pegal tangan Lauren karena dia lahir di tanggal tiga puluh satu. Bayangkan saja gimana bentuk rambutnya nanti. Selain itu, kampusnya juga tak menyuruhnya memakai kaos kaki belang-belang. Bisa dikira zebra dia di sepanjang jalan nanti. Intinya, kampusnya atau senior-seniornya itu hanya menyuruh mahasiswa-mahasiswi baru membawa topi kerucut dan nametag yang dibuat dengan kertas karton. Tidak begitu ribet membuatnya.
Beberapa kating, alias kakak tingkat alias seniornya itu berdiri di depan mahasiswa-mahasiswi baru yang sedang baris. Mata Lauren membulat secara sempurna ketika ditemukannya sosok wanita yang ia kenal sedang baris di depan bersama seniornya yang lain. Itu Elis yang ternyata berkuliah di tempat yang sama dengan Lauren. Bahkan mereka satu jurusan.
"Kak Elis?" ucap Lauren lirih yang tak dapat di dengar oleh Elis.
"Lo kenal Kak Elis?" tanya gadis yang ada di samping Lauren. "Eh, lo Lauren, 'kan?"
__ADS_1
Lauren mengalihkan pandangannya dari Elis, dia menatap wanita yang ada di sebelahnya, wajahnya begitu familier. Itu Tasya, teman satu kosnya.
"Kita satu kos itu, 'kan?"
Jujur saja, sebenarnya Lauren tak tahu siapa nama gadis itu, karena selama ini dia jarang keluar kos. Lauren lebih senang membusuk di kamarnya.
"Iya, gue Tasya Andini, panggil aja Tasya." Tasya dan Lauren bersalaman. "Ga nyangka ya, kita bisa satu kampus gini. Mudah-mudahan aja nanti kita bisa satu kelas, biar jadi teman akrab," ucap Tasya begitu ramah.
"Mudah-mudahan iya." Lauren menyunggingkan senyum manisnya, menampilkan deretan gigi yang tersusun apik.
"By the way, lo kenal sama Kak Elis?" Karena pertanyaan sebelumnya belum dijawab Lauren, gadis bernama Tasya itu bertanya ulang.
Lauren menjawab dengan anggukan dua kali. "Dia temennya temanku gitu. Aku gak terlalu kenal dia, sih. Baru-baru kenal juga."
"Oo ...," jawab Tasya ber-oh ria. "Kata kakakku sih kalau Kak Elis itu diasingkan," jelasnya.
"Diasinkan?" Karena kondisi lapangan yang masih riuh karena kegiatan ospek belum dimulai, samar-samar Lauren mendengarkan ucapan Tasya tadi. Apalagi kata diasingkan dengan diasinkan itu tidak jauh berbeda.
"Emang ikan asin apa pake diasinkan segala," kata Lauren dalam hati.
"DIASINGKAN!" teriak Tasya membuat seluruh sorot mata tertuju padanya, bahkan senior sekali pun. "Eh, maaf, Kak." Dia salah tingkah dan menggaruk tekuknya yang tak gatal.
"Ng-ngga pa-pa, Kak," ucapnya sedikit gagap.
"Jangan buat keributan lo. Jangan malu-maluin gue!" kata senior itu tegas.
Tasya mengangguk dengan cepat.
"Ah lo sih pake acara budek segala. Gue jadi dimarahi sama Kakak gue," ucap Tasya kesal.
"Maaf, Sya." Lauren pun segera minta maaf pada Tasya, walau dia tahu tak sepenuhnya kesalahannya. Gadis itu yang berteriak, kenapa dia yang harus minta maaf? Tapi sudahlah. Lauren tak mau memperpanjang masalah yang tak terlalu penting. Ini hari pertamanya kuliah. Dia harus buat kesan yang baik pada orang-orang.
"Ya udah ga pa-pa."
"Kakak itu kakakmu?" Lauren nunjuk pada senior yang tadi memarahi Tasya.
__ADS_1
"Iya, namanya Kak Anis. Dia ketua BEM di sini." BEM itu kependekan dari Badan Eksekutif Mahasiswa.
Lauren mangugut-manggut menjawab penjelasan Tasya yang cukup dimengertinya.
"Ma-maaf, Kak, saya terlambat," ucap salah satu mahasiswi baru yang baru saja datang.
"Ya udah, masuk barisan sana. Lain kali jangan telat!" ucap sang ketua BEM, Anis memerintah.
"Jangan galak-galak kale, Nis. 'Kan kegiatannya juga belum dimulai," timpal senior yang lainnya.
Anis tak menanggapi ucapan rekannya itu.
"Kenapa lo baru datang, Yol?" tanya Tasya saat Yola mengambil barisan di samping kirinya.
"Aku kemarin insomnia gara-gara nervous mau ospek. Rupanya jam empat tadi malah tidur dan bangunnya kesiangan, deh," jelas wanita bernama Yola itu. "Eh, kamu Lauren, 'kan?" tanyanya saat melihat wajah Lauren yang ada di samping kanannya Tasya.
"Iya," jawab Lauren ramah.
"Aku Yolanda." Dia mengulurkan tangannya dan diraih oleh Lauren. Mereka bersalaman, setelah itu melepaskan salamannya. "Salam kenal, ya." Yola melemparkan senyuman pada Lauren. Dan Lauren pun membalas lemparan senyuman Yola dengan senyumannya.
Tiba-tiba Lauren teringat sesuatu, tentang ucapan Tasya yang belum selesai tadi. Entah mengapa, dia jadi penasaran.
"Sya, tadi kamu bilang Kak Elis diasingkan. Diasingkan gimana, ya?"
"Hmm ...." Tasya berdehem sesaat.
"Baik, adik-adik. Kita mulai ospeknya sekarang, ya. Sebelumnya kami akan memperkenalkan diri masing-masing. Setelah itu kalian yang memperkenalkan diri." Belum Tasya bercerita, tapi kalimat pembuka dari sang Ketua BEM yang bernama Anis itu berhasil memotong pembicaraan mereka.
"Nanti aja gue ceritanya, ya," ucap Tasya pada akhirnya.
Kegiatan ospek pun segera dimulai dengan berbagai acara menarik lainnya. Ya, yang pastinya menarik untuk dinikmati senior-senior resek.
---o0o---
**Maaf gaes, Casia kemarin tidak update, karena ada ujian dari dosen, dan juga ada beberapa masalah yang buat casia gak sanggup menulis. **
__ADS_1
**Mohon pengertiannya ya, dan selamat menikmati. **
Jangan lupa votenya, hehe