
Mike melajukan mobilnya sendiri menuju Depok. Dia sengaja tak menyuruh sekretaris dan pengawal mengikutinya. Hari ini, dia hanya ingin jalan sendiri. Toh, kalau ada musuh yang mencari masalah, bisa dibereskannya sendiri.
Sesekali matanya memandang ke kiri dan ke kanan, melihat kaca spion, serta pemandangan yang ia temui sepanjang jalan. Jalanan ini sudah tak asing lagi untuknya. Ekor matanya menangkap sosok gadis yang sedang berlari-lari karena dikejar dua orang pria yang ingin mencelakainya. Gadis itu sudah bercucuran keringat.
Mike menepikan mobilnya dan keluar. Bersandar di mobilnya dan matanya memperhatikan dengan saksama wajah oval gadis yang kini berlari menuju arahnya. "Cantik," gumamnya.
Gadis itu pun berdiri di depan Mike, meminta tolong padanya. Tak keberatan, dia menolongnya. Tapi tindakannya salah, ia terlalu gegabah. Karena terlanjur emosi, Mike tak mikir terlebih dahulu untuk menyingkirkan gadis itu agar ia tidak melihat tindakan mengerikan yang dilakukan. Alhasil, gadis yang bernama Lauren itu ketakutan setengah mati.
Dia berusaha menghilangkan rasa ketakutan Lauren. Sepertinya berhasil, karena gadis itu kini cukup tenang. Namun, tiba-tiba setelah dia berbicara, dia malah berlari. Mike sempat berpikir kalau usahanya menenangkan Lauren sia-sia, makanya dia berlari.
"Ck. Gadis yang cukup menarik," katanya tersenyum jahil.
Ekor matanya masih melihat punggung Lauren hingga menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangannya. Dia segera menaiki mobilnya, melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Tujuannya adalah rumah lamanya bersama orang tuanya dulu, sebelum orang tuanya menetap di Australia dan Mike menetap di Jakarta.
---oOo---
Mike memarkirkan mobilnya di carport rumah yang hanya memuat satu mobil. Mobil kedua orang tuanya berada di dalam bagasi. Setelah itu, dia melangkahkan kakinya memasuki rumah. Mikha dan Marcel sudah menunggunya di ruang tamu.
"Mommy kira kamu udah ga betah lagi di keluarga Carlo," ucap Mikha sambil memegang dagunya.
Mike menatap Mikha dengan tatapan mengintimidasi, kemudian ia berkacak pinggang. "Kenapa Mommy nyuruh aku ke sini?"
Ayahnya, Marcel berdehem, berusaha menenangkan suasana yang sempat menegang, ketika Mike berucap ketus pada Mikha. "Poppy sama Mommy udah jarang menghabiskan waktu sama kamu. Gak boleh kalau orang tuamu ini mau melihat putra satu-satunya?"
Mike berdecak, "Ck! Kalau gak ada hal penting yang mau diomongkan, aku pulang sekarang. Aku sibuk!" Dia membenarkan jas hitamnya.
"Mike! Kenapa kamu kasar begini!" Ada penekanan di intonasi yang Marcel lontarkan.
"Bukannya selama ini kalian yang terlalu sibuk? Sampai tak pernah memperhatikanku? Mommy, Poppy, ingat?"
Memori masa lalu terputar dibenaknya. Masa lalu yang dianggap sebagai musuh terbesar dalam hidupnya. Masa lalu yang sebenarnya tidak ingin diingat kembali, karena begitu menyimpan banyak luka.
__ADS_1
Sejak lahir, dia tak pernah menerima kasih sayang orang tuanya. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sampai lupa dengan anaknya. Mike diurus oleh Mpok Asih, seseorang yang mengasuhnya dari bayi hingga ia berusia enam belas tahun. Tapi setelah itu, Mpok Asih meninggal dunia akibat serangan jantung. Betapa terpuruknya Mike saat itu. Hatinya hancur menerima kenyataan bahwa orang yang telah dianggap sebagai ibunya sudah meninggal dunia. Setelah kepergian Mpok Asih, Mike seperti orang yang kehilangan rumah untuk pulang
Dia ingin bercerita pada orang tuanya, ketika ia memiliki masalah, tapi mereka selalu sibuk dan selalu menghiraukan putranya. Bahkan, Marcel dan Mikha jarang ada di rumah, karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu di Australia.
Mike iri melihat teman-temannya. Orang tua mereka masih mau menyempatkan waktu untuk datang ke pentas seni sekolah, melihat kemampuan anak-anaknya. Saat itu, Mike telah mempersiapkan diri dengan matang, ia ingin menunjukkan penampilan terbaiknya pada ayah dan ibunya. Ia ingin orang tuanya mendengarkannya bernyanyi dan menikmati suaranya yang merdu itu. Tapi, sosok yang ditunggunya tak kunjung datang hingga acara pentas seni itu berakhir. Betapa sedih dan kecewanya Mike saat itu.
"Orang tuamu tadinya mau datang. Tapi karena jalanan macet, mereka pikir akan terlambat untuk melihat penampilanmu, Mike."
Mike tahu persis, ucapan gadis yang bernama Ellicia itu hanyalah penyemangat agar dia tidak meluapkan kekesalan dan kekecewaannya pada ayah dan ibunya.
"Kami bekerja untuk kebaikanmu, Mike!" bentak Marcel setelah beberapa menit suasana tadi hening.
"Kebaikan macam apa yang membiarkan anaknya telantar?"
Tangan Marcel sudah melayang di udara, ia akan melemparkan tamparan keras untuk putranya itu. Tapi, sang ibu, Mikha, menahannya sebelum tangan Marcel mendarat di pipi Mike.
"Tenanglah, Py." Mikha berusaha menenangkan suaminya itu.
Marcel memeluknya, membuat Mike terkejut dan dia terbelahak.
"Maafin Poppy." Marcel berbisik lembut di balik punggung Mike. Dia pun melepaskan pelukan itu.
Mike terharu. Sudah lama ia tidak mendapatkan pelukan dari orang tuanya itu. Kini, ia balas memeluk Marcel. Ada perasaan bahagia terselip di sana.
"Biarkan aku memelukmu, Py." Seketika ia melupakan perasaan kesalnya tadi.
Tak mau diam, Mikha ikut memeluk Mike dari belakang punggung pria itu.
"Mommy juga ikutan mau meluk putra kecil kami yang udah berumur 26 tahun."
Mike, Marcel dan Mikha terkekeh, dan melepaskan pelukan yang cukup lama tadi.
__ADS_1
"Mulai sekarang, Mommy sama Poppy akan berusaha jadi orang tua terbaik untukmu. Maaf jika terlambat," ucap Mikha dengan nada penuh penyesalan.
Mike mengulas senyumnya, "Ga papa, Mommy, Poppy. Berusahalah!"
"Kamu balik lagi ke kantor?"
Mike menggeleng menjawab pertanyaan Marcel, "Seharusnya iya. Tapi Mike mau menghabiskan waktu bersama kalian. Urusan kantor nanti di urus Kevin," goda Mike.
Kevin adalah sekretarisnya. Beliau sudah bekerja selama enam tahun di perusahaan Carlo yang sekarang dikelola Mike.
"Kalau gitu, kita keluar. Mommy dan Poppy akan memberikan kejutan untukmu."
"Kejutan apa?"
Mikha dan Marcel bertatap-tatapan dan menunjukkan jari telunjuk mereka yang menempel di bibir, mengisyaratkan untuk tidak memberitahu.
Mike mendengus melihat kelakuan orang tuanya. Tapi dia tetap akan nurut.
"Mike naik mobil sendiri ya, Py, My. Biar nanti pulangnya langsung pulang. Ga usah singgah lagi ambil mobil."
"Kenapa gak singgah, Mike?"
"Ada kerjaan kantor yang penting, My. Menyangkut masa depan perusahaan. Haha...." Mike tertawa ketika meyelesaikan ucapannya itu.
Mikha dan Marcel ikut tertawa.
"Ternyata anak sama bapaknya ga jauh beda." Suara Mikha terdengar menggoda.
Marcel adalah pekerja keras yang sanggup menghabiskan setengah waktunya untuk bekerja. Itulah sebabnya, kebiasaan dan jiwa pekerja kerasnya nurun pada anaknya itu.
"Ya sudah, ga apa-apa. Ya udah ayok berangkat," ucap Mikha menutup pembicaraan.
__ADS_1
Mereka keluar rumah bersamaan. Mike mengeluarkan mobilnya dan menepikannya di pinggir jalan, agar mobil orang tuanya itu bisa keluar. Setelah itu, kedua mobil itu pun bergerak meninggalkan rumahnya.