
Elis tersenyum. "Gue sayang sama dia."
"Terus kenapa kak Elis gak pacaran sama dia?" tanya Lauren tanpa berpikir lebih dulu.
"Dianya cinta sama elo." Elis tersenyum paksa. Sebenarnya berat untuk mengatakan itu. Tapi apa boleh buat? Itu kenyataannya.
Elis yakin kalau Mike mengakui Lauren sebagai calon istrinya bukan semata ingin menghindari perjodohan mereka. Elis membaca tatapan serius pria itu. Lagian Elis dan Mike sudah lama kenal, bahkan dari mereka kecil. Wajar saja jika Elis satu-satunya orang yang memahami Mike, selain keluarga Mike sendiri.
"Cinta itu gak bisa dipaksa, Ren." Elis menarik napasnya, dan membuangnya secara perlahan. "Kalau memang lo cinta sama dia, gue ikhlas kok. Ucapan Bang Mike yang bilang bedakan cinta dan sayang itu udah gue cerna baik-baik. Gue gak mau kehilangan orang yang gue sayang dan yang sayang sama gue. Sekarang, lebih gue anggap dia sebagai Abang Angkat gue sendiri," ucap Elis.
Hening. Lauren tidak tahu harus menjawab seperti apa. Tak lama, Elis angkat bicara lagi, "Kalau Bang Mike bahagia, gue juga ikut bahagia, walaupun dia bahagianya bukan sama gue."
Elis mengatur napasnya. Setelah itu dia mulai bercerita tentang masa lalunya dan Mike yang masih menempel dengan jelas dalam ingatannya.
Saat itu sekitar 17 tahun yang lalu sedang musim hujan. Elis yang dititipkan pada Mike -orang tua Mike juga pergi keluar negeri- dari tadi tak berhenti menangis sampai hujan turun dengan derasnya. Elis menangis karena Florence pergi keluar kota. Hujan seolah-olah mewakili perasaannya.
Mike membujuk Elis agar gadis kecil itu berhenti menangis. "Jangan nangis, Lis. Tante gak akan lama di sana." Mike mengeluarkan lolipop dan cokelat batang dari kantungnya. "Kau mau?" Disodorkannya lolipop dan cokelat itu pada Elis.
Elis yang masih terisak hanya menganggukkan kepalanya. Mana mungkin seorang anak kecil tidak menyukai kedua makanan manis itu!
"Kalau kau mau, berhentilah menangis. Kau mau lolipop atau cokelat?" Pria berumur 9 tahun itu mengangkat cokelat batang di tangan kirinya dan lolipop di tangan kanannya.
"Semua," minta Elis manja.
"Kalau mau semua, jangan nangis lagi saat Tante Florence meninggalkanmu."
"Mama ...." Elis menangis lagi.
__ADS_1
Mike meletakkan makanan itu di meja. Dia memeluk Elis. Mike berusaha untuk menghiburnya, tapi anak kecil itu malah menangis lagi.
"Elis, kan masih ada aku di sini. Aku akan selalu ada bersamamu. Aku sayang sama Elis." Mike melepaskan pelukan itu dan menatap Elis sangat dalam.
"Belalti nanti Bang Mike jadi suami Elis kalau udah besal?" cedal Elis.
Mike tersenyum. Dia begitu gemas dengan gadis kecil di hadapannya. "Jodoh gak bisa dipaksa, Lis. Aku sayang samamu, itu ga menjamin untuk kita menikah nantinya." Perkataan Mike terdengar seperti orang dewasa.
"Tapi, Elis mauna sama Bang Mike," rajuk Elis.
Mike hanya tersenyum, setelah itu dia mengelus rambut halusnya Elis. Anak kecil berumur 4 tahun itu sudah tidak menangis lagi. Tak lama, Elis tertidur di pangkuan Mike.
Entah kenapa, Lauren tertawa mendengarkan cerita Elis tentang masa kecil mereka. Entah setan apa yang berhasil membuat pita suaranya itu mengeluarkan suara tawa.
Elis menatap Lauren serius, "Setelah gue ingat masa lalu itu, gue jadi sadar kalau dari awal itu Bang Mike emang gak mau nikah sama gue," ucap Elis lemah.
"Ga kok, Kak. Mungkin aja dia masih mau mikir-mikir masa depannya dulu sebelum masalah percintaan. Lagian kalian di situ kan masih kecil. Mana ngerti arti cinta sesungguhnya," ucap Lauren berusaha menghibur kakak seniornya itu.
Lauren menggeleng, "Ngga, Kak. Aku yakin dia yang nantinya akan jadi suami Kakak. Kita gak tahu juga jodoh gimana. Tapi, aku gak mau sama dia, Kak."
Elis mengerutkan dahinya, bingung, "Kenapa masih ga mau?"
"Kayak yang Kak Elis bilang; cinta itu gak bisa dipaksa," jawab Lauren sambil nyengir kuda.
---o0o---
Ternyata berhasil menghindari Mike di kampus, tidak berarti apa pun. Kini mobil Mike terparkir di depan gerbang kos Lauren. Awalnya Lauren tak begitu yakin kalau itu Mike, makanya dia memilih cuek saja. Tapi nyatanya pria itu keluar dari mobilnya dan mencegah langkah Lauren.
__ADS_1
"Pulangnya dari mana? Aku dari tadi nunggui kau depan gerbang kampusmu."
"Bukan urusanmu," jawab Lauren santai. "Mau apa ke sini?"
"Nagih utang." Sebuah senyuman licik ia sunggingkan.
"Aku belum ada uang. Nanti kubayar saat aku ada uang."
"Kau bisa nyicil, kan?"
"Tapi aku sama sekali belum ada penghasilan. Mau nyicil dari mana?" kesal Lauren. Dia memang belum mengambil pekerjaan paruh waktu karena Lauren merasa belum sanggup membagi waktunya.
"Ya udah cicil dengan cara jalan denganku," tawar Mike terdengar serius.
Lauren mengatur napasnya yang terasa sangat berat. "Maaf, aku banyak tugas," tolaknya.
"Ayolah ... jalan." Mike tidak menyerah membujuk gadis itu.
"Tugasku banyak." Lauren memutar bola matanya, masih berusaha menolak tawaran pria itu.
"Bohong! Masa baru hari pertama kuliah tugas udah banyak," ujar Mike yakin. Sebelum Lauren kuliah, Mike sudah merasakan masa kuliah lebih dulu.
Benar saja apa yang dikatakan Mike. Mana mungkin kuliah di hari pertama sudah banyak tugas yang diberikan. Biasanya dosen akan memulai awal perkuliahan dengan perkenalan. Kan ada pepatah yang bilang, tak kenal maka tak sayang. Eh jangan mikir yang macam-macam. Sayang itu bukan berarti harus memiliki. Cinta saja tak harus memiliki.
"Ya ... iya udah." Akhirnya Lauren memilih mengalah daripada terus-terusan terjebak pada rayuan yang sama.
Lagian, tadi Mike bilang bisa menyicil utangnya dengan menerima ajakannya. Ya sudah, itu dilakukan Lauren dengan sangat terpaksa. Mike benar-benar cowok yang licik.
__ADS_1
"Yes." Mike melompat dan berteriak girang.
Sungguh, begitu susah menghadapi sifat keras kepala seseorang. Tak hanya perlu kesabaran, tetapi juga harus rela mengalah di saat yang tepat.