Tuan Muda dan Gadis Kampung

Tuan Muda dan Gadis Kampung
17. Budak Cinta


__ADS_3

Benar saja, pagi ini Mike sudah menunggu Lauren di depan gerbang kosnya. Entah sudah berapa jam dia menunggu di situ, Lauren tidak peduli. Gadis itu sama sekali tidak membalas pesannya dan menerima panggilan Mike. Ingin sekali Lauren menghindari Mike, ia tak tahu apa sebabnya.


“Kau mau berangkat kuliah?”


Lauren kagetnya bukan main saat hendak menutup pintu gerbang, pria gagah itu berdiri di sampingnya tiba-tiba, seperti hantu.


“Kenapa kau gak balas pesanku dan jawab panggilanku?” selidik Mike.


“Ngapai ke sini?” Tak memberi alasan, Lauren bertanya balik.


“Menurutmu kenapa?” goda Mike.


“Ini bukan ajang tebak-tebakan. Gak usah buang waktu,” ucap Lauren bersikap ketus.


“Kemarin aku bilang, kita akan bertemu lagi,” jawab Mike pada akhirnya.


“Oh iya, payung.” Lauren menepuk pelan jidatnya. Entah


kenapa dia melupakan alasan Mike datang ke sini.


“Bentar, aku ambil payungnya dulu.”


Baru mau melangkah masuk, Mike menahan lengan Lauren. “Kagak usah. Payung itu hanya jadi alasan. Aku ke sini karena aku rindu,” ucap Mike jujur.


Lauren memegang tekuknya dengan tangan yang dipegang Mike tadi, sehingga Mike menarik tangannya. “Sama siapa?”


“Sama kos-mu,” kata Mike meledek.


Lauren tersenyum kecut, “Ya udah, peluk sana kosnya. Kata orang-orang, pelukan bisa melepaskan rasa rindu.”


Mike langsung memeluk Lauren. Gadis itu dibuat terpelongo, biji matanya seakan mau keluar.


“Ya, kau benar. Pelukan bisa melepaskan rasa rindu,” kata Mike semakin mengeratkan pelukannya sampai Lauren susah bernapas.


Plaak ….


Satu toyoran melayang dengan sempurna di kepala Mike. Mike melepas pelukannya dengan Lauren, menatap tajam anak Dajjal yang berani menoyor kepalanya dan menganggu aksinya. Anak Dajjal itu tak lain Kevin, sahabat sekaligus sekretarisnya.


“Itu anak kagak bernapas, geble,” ucap Kevin tak berdosa.


Mike balas menoyor Kevin, “Ganggu kau,” cibirnya mencela.


“Aku Kevin.” Kevin mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Baru saja Lauren mau membalas uluran tangan Kevin, tapi Mike menahannya. “Ga usah pake salaman,” kata Mike ke Kevin tajam.


Kevin tertawa kecil.


“Aku Lauren,” kata Lauren memperkenalkan dirinya. “Omong-omong dia siapa kau?” tanyanya pada Mike.


“Dia babuku,” jawab Mike santai. Namun, dengan ekspresi yang tak tertebak.


Kevin menoyor kepala Mike sekali lagi, “Babu endasmu!” ucapnya mengecam. “Aku sekretaris sekaligus sahabatnya Mike.”


Lauren manggut-manggut. “Pantes dia gak segan-segan nokok kepala bosnya itu.”


“Kau kagak berangkat ke kampus?” ucap Mike menyadarkan Lauren.


Gadis itu menepuk keningnya, pelan. “Astaga, aku hampir telat.” Dilihatnya jam yang menempel di pergelangan tangannya.


Mike menarik lengan Lauren, “Ayo.”


“Kemana?” tanya Lauren bingung.


“Aku antar ke kampus.”


“Ga usah. Aku bisa lari atau gak naik gojek, biar gak telat,” tolak Lauren.


pemaksa dan egois menurut Lauren.


---o0o---


Mike memutari mobilnya begitu berhenti. Dia membukakan pintu untuk Lauren. Kebiasaan yang biasa di dapatkannya, kini diberikannya pada wanita yang ia cintai.


“Kau pulang kampus jam berapa?”


“Gak tahu,” jawab Lauren cuek.


Mike merasa geram sendiri, “Masa jadwal pulang kuliahnya sendiri gak tau,” gumamnya lirih namun dengan nada yang sedikit tertekan, kesal.


“Tergantung dosennya. Hari ini udah aktif perkuliahan. Jadi, kemungkinan pulangnya sore, sekitar jam lima gitu. Itu pun kalau dosen yang ngajar sore datang. Kalau dia gak datang ya pulang siang,” jelas Lauren sejelas-jelasnya.


“Emang dosennya gak ngabari bisa ngajar atau nggak?”


“Dosennya masih bilang diusahakan. Mungkin aja ada urusan mendadak tiba-tiba, kan kita tak tahu,” kata Lauren lirih. Dia melihat jam tangannya lagi. Lima menit lagi dia masuk. “Ya udah aku pergi dulu, ya, udah mau telat,” pamitnya memulai derap kakinya menjauhi Mike.


Tapi, langkahnya di hentikannya, dia membalikkan badan dan berucap pada Mike, “Makasih, ya,” katanya lalu langsung pergi tanpa sempat mendengar balasan Mike.

__ADS_1


Tuan Muda itu tersenyum. Dia masuk ke dalam mobilnya dan duduk di samping Kevin yang duduk di depan kemudi.


“Udah bisa balik ke Jakarta sekarang? Kau gak kerja emangnya, Mike? Sudah bosan dengan uang?” gerutu Kevin.


Mike masih belum menghilangkan senyuman di wajahnya. Dia sama sekali tidak mendengarkan perkataan Kevin. Otaknya masih dipenuhi bayang-bayang Lauren.


Kevin yang sadar karena diacuhkan sahabatnya itu pun menoyor kepala Mike, untuk yang ketiga kalinya. Sumpah! Lama-kelamaan ini anak Dajjal tidak punya sopan santun dan rasa segan lagi.


“Sakit, Otak Udang!” sinis Mike. Dia mengelus-elus kepalanya, berharap tidak terjadi geger otak ataupun mengurangi kepintarannya. Jangan sepele, Mike itu pintar, pintar nipu pastinya. Mike kembali tersenyum dan tertawa. Tampang cantiknya Lauren menari-nari di otak Mike.


“Kau benar-benar udah gak waras lagi, Mike.” Kevin bergidik ngeri melihat kelakuan Mike.


Mike mulai serius. Dia menghilangkan bayangan Lauren dan menatap Kevin, serius. “Kita tunggu di sini sampai dia pulang,” ujar Mike.


Kevin kagetnya bukan main, “Kau gila! Kau benar-benar kehilangan akal sehat! Udah gak cinta lagi sama duit? Huuuuh …. Gadis itu benar-benar membuat akal sehatmu hilang,” gerutu Kevin kesal. Kevin benar-benar tak habis


pikir dengan sahabatnya ini. Apalagi saat mengingat kejadian subuh dini hari.


Drrt… Drrrt…


Ponsel Kevin berdering, menganggu tidurnya. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, ia meraih ponselnya dan mengamati nama pemanggil, Mike Orang Tampan. Sumpah! Itu Mike sendiri yang mengganti nama kontaknya di handphone milik Kevin. Dia mengancam Kevin jika dia mengganti nama kontaknya. Entah ancaman apa yang diberikan Mike, Kevin lupa saat ini.


“Vin, Kevin. Jemput aku di appartemen sekarang juga.”


Kevin melihat jam bergambar spiderman yang digantung di dinding kamarnya. Jarum pendeknya mengarah hampir ke angka 5. Yang benar saja, masih jam 04.45 WIB, Mike menghubunginya, tidak seperti biasanya.


“Ada apa?” jawab Kevin serak-serak.


“Jemput sekarang pokoknya!” Mike membentak dari balik panggilan.


“Kau gila, ya! Ini masih jam berapa! Ke kantor ngapai pagi-pagi kayak gini,” bingung Kevin. Kini kesadarannya kembali penuh.


“Jemput pokoknya!” Panggilan diputuskan Mike.


Kevin mendengus keras. Dia juga tak ada pilihan lain selain menuruti permintaan Mike.


Hingga saat mereka bertemu, Mike baru menjelaskan bahwa dirinya ingin ke Depok dan mengantar Lauren ke kampus. Kevin garuk-garuk kepala melihat ulah sahabatnya itu, apalagi saat Mike gelisah karena Lauren tak membalas pesannya dan tak menjawab panggilannya. Benar-benar kemasukan setan bucin (Budak Cinta)


“Ya cinta duitlah. Tapi, sekarang aku lebih cinta Lauren daripada duit.” Ucapan Mike menyadarkan Kevin dari ingatannya tadi.


Kevin tertawa pelan, “Ternyata udah benar-benar bucin ini anak. Udah tua pun, masih aja bucin,” gumamnya lirih.


---o0o---

__ADS_1


Banyak yang ngevote, aku usahakan crazy up :p


__ADS_2