
Lauren memutar tubuhnya, memandang ke belakang. Kosong, tak ada kursi lagi. "Mobil ini mahal, 'kan? Mending kau beli sepeda motor dari pada beli mobil yang bisanya cuma muat 2 orang aja." Dia menatap ke arah Mike. Lagi-lagi ucapannya tak dipikirkan lebih dulu.
"Ya beda lah. Kecepatannya 'kan beda," jawab Mike menanggapi pertanyaan Lauren. "Kalau sekretaris aku, dia lagi di kantor ngurus kerjaan kantor karena aku hari ini cuti," lanjutnya menjawab pertanyaan Lauren yang tadi.
"Kenapa kau cuti?"
"'Kan mau ketemu samamu," ucapnya ngerayu.
Lauren tak menganggap serius dan dia juga tidak baper dengan ucapan Mike, "Ah bisa aja kau kutil semut," jawabnya melawan ucapan Mike dengan nada humor kentara miliknya.
Mike tertawa. Gadis ini selalu berhasil membuatnya tertawa lepas. Semakin Lauren seperti ini, semakin besar rasa cinta Mike pada Lauren.
"Terus bodyguard-mu mana? Kau punya?" tanya Lauren. Dia memang memiliki sifat penasaran, makanya tak heran kalau dia selalu bertanya. Dia tak akan puas kalau setiap pertanyaan-pertanyaannya tidak menemukan jawaban yang pasti dan tepat.
"Ya punya lah. Cuma mereka gak terus-terusan ngikutin aku. Ntar kalau aku panggil baru mereka nonggol," jawab Mike. "Udah ada yang mau ditanya lagi?" lanjutnya bertanya. Sebenarnya Mike merasa senang kalau Lauren terus bertanya padanya.
Lauren menggelengkan kepalanya. "Enggak."
Setelah percakapan singkat itu, Mike menghidupkannya mesin mobilnya, melaju menembus jalanan dengan kecepatan kencang.
"PELAN OI, AKU MASIH BELUM MATI." Lauren berteriak. Mukanya sudah pucat pasi.
"Kalau mati 'kan sama-sama. Biar dibilang sehidup semati gitu," kata Mike ngasal. Dia masih mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Untung jalanan Kota Depok saat ini masih sepi.
"Matamu," balas Lauren tak mengindahkan kata Mike. "Pelan gak, kalau gak aku lompat ini."
"Astaga, Lauren. Kalau ngomong gak pernah mikir dulu! Ya kali aku lompat dari mobil ini," batinnya menyadari ucapan konyolnya tadi.
"Emang berani?" kata Mike mulai menurunkan kecepatan mobil, tapi masih terasa kencang bagi Lauren.
"Ya enggalah," jawab Lauren. "Turuni kecepatannya." Dia mulai menangis.
Mike melirik ke arah Lauren, dia mulai panik saat melihat mata Lauren yang sudah berkaca-kaca. "Kau nangis?" tanyanya. Dia menurunkan kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Lauren mengedipkan matanya, kemudian di hapusnya air yang keluar. "Aku belum mau mati, loh."
"Maaf," ucap Mike penuh penyesalan.
Mobilnya kini melaju dengan kecepatan normal. Walau pun Mike sudah menurunkan kecepatan mobil, Lauren tetap saja protes.
"Kok goyang-goyang sih mobilmu?" Lauren merasa tubuhnya berguncang-guncang.
Mike mendengus, "Ya namanya mobil sport. Ini mobil tuh ga bisa dibawa jalan lambat. Apalagi jalanan ini mulai jelek."
"Besok mobilmu jual aja, ganti sama angkot. Lebih enak pula kurasa naik angkot dari pada mobil mahalmu ini."
Mike tertawa kecil, kemudian dia membalas ucapan Lauren, "Nanti kalau aku beli angkot. Kau kerja samaku aja, jadi tukang angkot," katanya meledek.
Lauren menatapnya tajam, "Calon dokter disuruh narik angkot? Aku gak bisa bawa mobil, Bambang."
"Kau calon dokter?" tanya Mike terkejut. Dia tak percaya kalau gadis di sampingnya ini adalah calon dokter. Yang Mike tahu, Lauren berasal dari kampung. Jadi tak mungkin gadis kampung itu calon dokter pikirnya.
Lauren mengangguk menjawab pertanyaan Mike yang kebetulan dilihat olehnya. Walau pun Mike sedang mengemudi, tapi matanya tak pernah lepas memandang Lauren.
"Udah diam aja di boncengan. Aku bukan cowok yang suka macam-macam sama cewek." Bukannya merasa takut dengan ancaman Lauren, Mike malah mengucapkan kata yang penuh kebohongan. Mike yang terbiasa tidur penuh gairah bersama wanita, tak mungkin bukan orang yang suka macam-macam sama wanita.
---oOo---
"Loh, Mike tumben main ke Depok lagi." Mikha yang tadinya sedang menyiram bunga di taman depan rumah menghentikan pekerjaannya begitu melihat mobil Mike masuk dalam carpot serta melihat Mike dan Lauren yang baru keluar dari mobil.
Lauren menyalim tangan Mikha, "Selamat siang, Tante," ucapnya sopan.
"Selamat siang," balas Mikha lembut. "Kenapa bisa bareng sama dia, Mike? Siapa namanya? Mommy lupa," kata Mikha mencoba mengingat-ingat nama gadis yang ada di hadapannya itu.
"Lauren, My," jawab Mike sebelum Lauren menjawabnya. "Mommy sama Poppy hari ini lagi sibuk ngga?" tanya Mike kemudian.
"Engga ... engga sibuk sama sekali. Mommy nyiram bunga hanya untuk melepaskan rasa suntuk, sedangkan Poppymu mungkin lagi tidur. Dia udah cukup capek semalam ngurus perusahaan yang ada di Australia," jelas Mikha.
__ADS_1
"Loh, 'kok Poppy kerja, My? Kan Mike udah bilang, biar Mike aja yang kerja," ucap Mike tampak kecewa.
"Ga tau itu Poppy kamu keras kepala, ya sama kaya kamu," ledek Mikha kemudian. "Tapi kok kamu tumben nanya Mommy sama Poppy lagi sibuk atau ngga? Ada apa emangnya?" tanyanya penasaran. Ini momen langkah untuknya, karena tak biasanya Mike menanyakan kegiatan kedua orang tuanya. Mike dari dulu selalu acuh tak acuh pada kegiatan orang tuanya.
"Mike mau ngajak jjs."
Jawaban Mike membuat Mikha mengernyit karena bingung, "Jjs apa?" tanya.
"Jalan-jalan santai," jawab Mike singkat.
Betapa terkejutnya Mikha saat ini. Dia tak menyangka putra sekaligus anak satu-satunya itu mengajak orang tuanya untuk jalan-jalan. Sebenarnya dari dulu Mike ingin sekali jalan-jalan bersama orang tuanya, tapi Mike selalu melihat kesibukan Mikha dan Marcel yang membuat Mike mengurungkan niatnya.
"Seriusan ini?" tanya Mikha masih tak percaya.
"Iya, Mommy. Ajak Poppy juga, ya."
"Bentar, bentar, ya. Mommy panggil Poppymu dulu. Kalian masuklah ke rumah," tawar Mikha. Dia pun langsung meninggalkan Mike dan Lauren.
Mike dan Lauren pun masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
"Waah, empuk banget," kata Lauren sambil menggenjot-enjot tubuhnya ke atas dan ke bawah.
Mike hanya tersenyum melihat tingkah Lauren. Dia hanya berkata dalam hati, "Mungkin di kampungnya ga ada orang yang punya sofa kaya gini."
Tak lama, Mikha dan Marcel berdiri di depan mereka. Lauren langsung menghentikan aksinya menggenjot-enjot.
"Tadi kata Mommy, kamu mau ngajak kita jalan-jalan, ya," ucap Marcel memastikan perkataan istrinya itu benar.
"Iya, Poppy gak sibuk, 'kan?"
Marcel menggeleng, "Ya engga lah. Poppy justru senang. Ya udah tunggu ya. Poppy sama Mommy prepare dulu." Marcel merangkul pundak Mikha, memberi isyarat untuk pergi meninggalkan Mike dan Lauren.
Baru saja Marcel dan Mikha meninggalkan ruang tamu, tiba-tiba sosok Elis berdiri di ambang pintu masuk.
__ADS_1
---oOo---
Jangan lupa vote dan likenya yaa. Terima kasih🤗