
Tak menyerah, Mike terus menghubungi Lauren, sampai mahasiswi kedokteran itu pun memilih menyerah. Lauren mengangkat panggilan Mike dengan sangat terpaksah. (Sengaja pakai huruf h di belakangnya biar kelihatan lebih menggoda)
“Kampusmu di mana?”
“Kenapa emang?” Tak langsung menjawab pertanyaan si Pemanggil, Lauren malah bertanya balik.
“Aku mau menyusulmu.”
“Gak usah!”
Hening beberapa detik. Mike sibuk memikirkan bagaimana caranya agar gadis itu memberi tahu kampusnya di mana. Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Ide berliannya muncul.
“Cara ini mungkin berhasil,” batin Mike.
Kali ini berbeda, Mike yang memutuskan panggilan secara sepihak, sampai membuat Lauren bertanya-tanya.
“Apa aku terlalu kasar? Apa dia marah? Aaah … sudahlah! Lebih bagus malah jika begini.”
Omong-omong, sekarang Lauren hanya sendirian di dalam ruangan kampusnya. Tasya dan Yola sudah pulang deluan karena ada urusan, kata mereka sebelumnya. Dan karena dari tadi Mike sibuk meneleponi Lauren, gadis itu sampai lupa untuk pulang dan bahkan dia tak sadar kalau langit Kota Depok sudah mendung dan percikkan air hujan turun dengan sangat derasnya.
“Ah, sial. Hujan!” umpat Lauren saat mendengar suara ribuan tetes air hujan yang jatuh ke tanah. Begitu berisik.
Di sisi lain, Mike menghubungi Tasya.
"Halo," sapa Mike terlebih dahulu.
"Eh, seriusan ini Kak Mike? Kak Mike nelepon? Ada apa, Kak?" ucap Tasya begitu girangnya. Tasya hampir saja tak percaya dan memeriksa nomor pemanggil tanpa nama.
Tadi gara-gara Mike menelepon Lauren sewaktu ia lagi menyalin nomor Mike, Tasya belum selesai menyimpan nomor Mike. Melihat raut kesalnya Lauren, Tasya memilih untuk memintanya kapan-kapan saja.
“Hmm.”
“Kenapa, Kak?”
“Di mana?”
Tasya terbelalak, “Waah, akhirnya dia mulai naksir sama gue. Gue gak salah, ‘kan, dia nanya gue lagi di mana?” batin Tasya kesengsem.
“Di kos, Kak. Ada apa? Kakak mau ngajak jalan?” kata Tasya penuh percaya diri.
“Bukaan … maksud saya, anda kuliah di mana?” ralat Mike.
Tasya menurunkan bahunya. Raut senangnya tadi seketika berubah menjadi sendu karena sebersit rasa malu mencekamnya. “Di Universitas Indonesia, Kak.”
“Oke, Thanks.”
__ADS_1
Mike menutup teleponnya secara sepihak.
“Kak Mike ngapain nanya gue kuliah di mana, ya? Apa jangan-jangan besok-besok dia bakal jemput gue secara diam-diam? Wah, kagak sabar gue. Moga-moga aja benar,” gumam Tasya menerka-nerka.
---o0o---
Lauren keluar dari ruangan yang ditempatinya tadi. Sekarang dia sudah berada di koridor kampus yang sudah sepi.
"Bagaimana aku bisa pulang?" gumamnya.
Udara dingin menusuk kulitnya, membuat gadis yang tidak memiliki banyak lemak itu kedinginan. Dia lupa membawa jaket. Walaupun Lauren memakai baju lengan panjang, tetap saja udara dingin hujan itu mampu menembus.
Gadis itu menggosok-gosok telapak tangannya hingga terasa hangat dan mengoleskannya ke pipi dan lehernya. Dia memandangi hujan yang juga belum berhenti, malah semakin deras.
Sangat merasa kedingin, Lauren berjongkok memeluk lututnya. “Kenapa harus hujan? Aku benci hujan!” gumamnya menatap percikan hujan yang jatuh di lapangan tempatnya berkumpul tadi. Tatapannya sendu. “Hujan selalu buat orang kesulitan. Membuat orang menunggu dan menyita waktu, bahkan kehilangan sesuatu. Suaranya yang berisik, seakan aku mampu mendengar jeritan orang-orang.” Dia menunduk, memandang sepatu miliknya yang mulai lapuk.
“Tolong …. Tolong ayahku. Ayah jangan tinggalin aku sendiri di sini,” teriak anak kecil yang masih berusia lima tahun.
Saat itu hujan sedang turun dengan derasnya. Lauren yang berada dalam perjalan panjang dan sangat terburu-buru itu harus menghentikan perjalanannya.
Kecelakaan antara sepeda motor dan truk besar baru saja terjadi di depan mata kepalanya. Dia melihat anak kecil memeluk ayahnya sambil berteriak, seakan tidak terima pada kenyataan.
Anak itu selamat dan ayahnya meninggal di tempat. Sungguh, Lauren ikut merasa simpati pada anak itu. Dia tahu persis, bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat disayanginya.
Saat hujan datang menyapa, akan ada dua pilihan untuknya: sendu karena mengingat luka dan rindu.karena tak dapat bertemu orang yang dicinta.
"Ayuk pulang," ajak Mike.
Lauren berdiri. Dia mengamati Mike dengan saksama, barangkali ada yang salah dengan pengelihatannya. "Dari mana dia bisa tahu aku kuliah di sini?" tanya Lauren dalam hatinya.
"Kau gak perlu tahu, aku tahu kampusmu dari mana,"
"Hah?"
Lauren terpelongo. Bagaimana tidak? Perkataan Mike tadi seolah menjawab isi hatinya. Apa jangan-jangan Mike bisa membaca isi hati seseorang?
"Kau pegang ini!" Mike menyerahkan payung yang dipegangnya pada Lauren. Gadis itu pun mengambilnya.
Mike melepaskan jaket tebal yang ia gunakan dan memakaikannya di tubuh Lauren. Gadis itu tak menolak karena memang tubuhnya butuh kehangatan.
Mike merangkul Lauren dan membawanya pergi meninggalkan gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Merasa risih karena jarak Lauren dan Mike yang sangat dekat, gadis itu berusaha keras melonggarkan rangkulan Mike agar dirinya bisa menjaga jarak dengan pria itu.
"Jangan jauh-jauh, nanti kau kena hujan." Mike makin mengeratkan rangkulannya.
__ADS_1
"Jangan dirangkul juga." Tangan Lauren menarik tangan Mike yang bertengger di bahunya.
"Berisik," kata Mike tanpa melepaskan rangkulannya.
Lauren berdesis kesal, dia memilih untuk pasrah.
“Kau suka hujan?” Mata Lauren memandang lurus ke depan, melihat butiran air hujan yang mulai mereda.
“Kenapa?” tanya Mike tanpa ekspresi.
“Aku gak suka hujan.”
“Kenapa?” Mike menatap wajah Lauren dari samping, dalam.
Lauren menghentikkan langkahnya, “Hujan itu ribet.”
“Kenapa?” Mike ikut menghentikkan langkahnya. Dia menatap Lauren yang ikut menatapnya juga.
Lauren menarik napas dan menghembuskannya secara kasar, “Dari tadi jawabnya kenapa mulu! Gak ada jawaban lain gitu?” decak sebal Lauren.
Kedua sudut bibir Mike terangkat sedikit. Dia mengacak puncak kepala Lauren. “Hujan itu tidak seribet yang kau bayangkan. Lebih ribet lagi memahami isi hati perempuan, apalagi isi hatimu.”
Lauren membuang pandangan dari Mike. Dia menatap lurus, tanpa menjawab apa-apa lagi.
---o0o---
“Makasih, ya, udah antar aku pulang.” Lauren tersenyum manis.
Mereka kini telah sampai di kos Lauren pukul tiga sore dan hujan juga masih belum berhenti.
“Kalau tadi aku gak datang, mungkin kau bakal be-lumut nunggu hujan sampai reda,” kata Mike seolah minta dipuji.
“Kalau kata temen SMA-ku dulu, nunggu hujan berhenti itu gak selama nunggu doi peka,” jawab Lauren dengan polosnya.
Mike tertawa, dia mengacak lagi puncak kepala Lauren. “Kau benar,” tambahnya.
“Ya udah aku masuk dulu.” Lauren memegang handle pintu mobil BMW Mike. Ya, lagi-lagi Tuan Muda kaya itu mengganti mobilnya.
“Aku antar, masih hujan.”
“Ngga usah. Ini kos cewek. Ingat!” peringat Lauren.
“Ya sudah … kalau gitu kau bawa payungku ini.” Mike mengambil payung yang tadi diletakkan di bangku belakang. “Besok balikin.”
Lauren terpelongo, “Gimana balikinnya?”
__ADS_1
“Besok kita ketemu lagi.” Dia menyodorkan payung, tapi Lauren masih diam, tak menyentuh apalagi mengambil payung itu. “Ini lebih baik dari pada kau kehujanan dan ujung-ujungnya sakit. Kau masih maba, mahasiswi baru. Masa maba udah absen,” jelas Mike logis.
Lauren mengambilnya, dan langsung pergi meninggalkan Mike tanpa ucapan ‘Terima kasih’