Tuan Muda dan Gadis Kampung

Tuan Muda dan Gadis Kampung
5. Makan Malam


__ADS_3

Mike menyusuri jalanan komplek tempat Florence dan Elis tinggal dengan menggunakan mobil elitnya.


"Pasti dia belum jauh dari sini," gumamnya sambil melihat ke kiri dan kanan.


Semesta seolah menyatukan mereka kembali. Mike menemukan Lauren sedang duduk di bangku taman. Dia memegang satu tangkai bunga melati dan menatap bunga itu dengan tangisan.


Mike menepikan mobilnya dan menghampiri Lauren.


"Aku masih punya utang padamu." Dia mengeluarkan sapu tangan dari kantung jas hitamnya.


Lauren mendongak. Tatapannya begitu kosong. Dia juga sudah kehabisan tenaga untuk menyeka air matanya.


"Ambillah!" titah Mike.


Lauren masih diam dengan tatapan kosongnya. Tangannya sama sekali tidak bergerak untuk mengambil sapu tangan yang diserahkan Mike. Dan lagi, mulutnya masih diam tanpa kata sedikitpun.


Menyadari tatapan kosong Lauren, Mike menghapus air matanya. Dia tersentak karena pipinya telah disentuh Mike dan menarik mundur kepalanya.


"Kenapa kau kesini lagi?"


"Aku masih punya utang padamu," ujar mengulangi perkataan sebelumnya, karena tadi pikiran Lauren masih terseret dalam dunia lain.


"Apa?"


Mike duduk di sebelah Lauren, kini mata mereka bertemu. "Makan. Aku akan mentraktirmu."


Lauren membuang pandangannya dari Mike. Dia menatap lurus ke depan. "Pergilah! Aku sudah gak lapar lagi."


Gruuuk....


"Dasar cacing sialan ini perut kenapa gak mau diam sih?" batinnya mengumpat. Perutnya sudah berhasil membuatnya malu dan Mike menertawainya.


"Mulut emang bisa berbohong dengan manis, tapi cacing di perutmu gak bisa berbohong," katanya tergelak. "Ayok makan!" titahnya kemudian.


Alhasil, Lauren nurut tanpa melawan sedikit pun, karena emang perutnya yang membawanya untuk tidak menolak ajakan Mike.


---oOo---


"Kenapa kau membawaku ke sini?" Manik mata Lauren melihat ke segala sisi yang ada di restoran mewah ini. Sangat asing baginya makan di restoran mahal.


Mike menghiraukan ucapan Lauren, dia melongos mengambil tempat duduk. Lauren yang sedari tadi memandang takjub restoran itu pun mengikuti Mike, karena dia tidak mau sampai tersesat.


"Kenapa?" tanya Mike ketika mereka sudah duduk. Dia pun segera memanggil pelayan restoran dengan kelima jarinya yang melambai di udara.


"Kenapa gak makan di pinggir jalan aja? Ini pasti mahal," ujar Lauren yang merasa segan.


Mike tersenyum dan memilih untuk menghiraukan ucapan gadis itu. Tak lama, pelayan pun datang.

__ADS_1


"Selamat Malam. Mau pesan apa, Tuan dan Nyonya?" tanyanya bersikap ramah. Dia menyerahkan buku yang berisi menu makanan.


Lauren dan Mike mengambil buku itu masing-masing.


"Dimsum udang, ayam, salmonnya masing-masing 1 porsi. Soup sapi tomat spesial 1 porsi. Cumi-cumi goreng spesial 1 porsi," pesan Mike. "Kau mau makan apa? Pesanlah!" ucapnya pada Lauren.


"Apa saja. Aku bingung," ujar Lauren dengan polosnya.


"Ada alergi sama seafood?"


Lauren menggeleng menjawab pertanyaan Mike.


"Suka bihun?"


Lauren mengangguk.


"Bihun goreng seafoodnya 1 porsi. Nasi bebek panggangnya 1 porsi," ujar Mike pada pelayan untuk memesan makanan lagi.


"Nasi putihnya berapa porsi, Tuan?" tanya pelayan.


"Satu porsi aja."


"Untuk minumannya apa, Tuan, Nyonya?"


"Air putih aja," ucap Lauren yang membuat Mike mendengus. Bagaimana bisa pesan makanan mahal, tapi minumnya air putih?


"Baik silahkan ditunggu. Saya permisi dulu." Pelayan itu pergi dan Mike tak menyadarinya karena otaknya disibukkan dengan cara menyembunyikan malunya.


Dia pun menatap Lauren yang sekarang sedang nyenyir kuda tanpa merasa malu sedikit pun.


"Permisi. Apakah Tuan dan Nyonya mau mengambil salad buah ini?" tawar pelayan restoran yang berkeliling menawarkan makanan yang dibawanya.


"Ini di jual?" bisik Lauren pada Mike.


"Kalau kau mau ambil aja. Nanti akan ada banyak pelayan yang menawarkan makanan," balas Mike.


"Iya, salad buahnya yang ini satu ya, Mbak," ujar Lauren menunjuk salad buah yang diinginkannya. Pelayan itu pun meletakkan salad buah itu di atas meja. "Kau engga?" tanyanya pada Mike.


"Engga."


"Ini aja, Tuan, Nyonya?" tanya pelayan itu lagi.


"Iya, Mbak. Terima kasih," ucap Lauren lembut dan sopan. Pelayan itu pun pergi meninggalkan mereka.


Lauren mengambil sendok dan memakan salad buah yang dipilihnya tadi. Dia begitu suka dengan salad buah.


"Enak banget," ujarnya saat satu sendok salad sudah melewati tenggorokannya.

__ADS_1


Dia makan dengan lahap dan Mike menegurnya. "Makannya pelan-pelan aja."


Lauren nyenyir tapi dia tak mendengarkan ucapan Mike. Alhasil, dia keselak.


Nasib berpihak pada Lauren. Untung saja ada pelayan yang baru mengantarkan air putih dan meletakkannya di atas meja. Kalau pelayan itu tak datang, bisa mati tersedak dia.


Mike dan Lauren mengambil segelas air putih itu bersamaan. Tangan Lauren menyentuh tangan Mike yang ada di bawah tangannya.


Mereka pun bertatap-tatapan dan buru-buru Lauren menjauhkan tangannya.


Mike tersenyum dan memberi gelas itu pada Lauren. "Lain kali kalau dibilangi jangan nyeyel," cibirnya.


Lauren mengambil gelas yang diberikan Mike dan langsung meminumnya. Setelah habis meminum satu gelas tanpa henti, dia berkata, "Lapar," ujar Lauren memanyunkan bibir.


Ulah Lauren membuat Mike berbicara dalam hatinya,"Ini anak minta dicium kali, ya. Gemes banget lihatnya. Tapi mana mungkin kucium dia di sini. Aah...." Dia begitu gemes melihat tingkah Lauren.


Tak lama, pelayan datang membawa semua makanan yang sudah dipesan. Lauren menikmati makanannya dengan lahap, tanpa merasa takut kalau dia akan keselak lagi nantinya.


Mike sangat menikmati wajah Lauren yang sedang makan. Yang baru diketahui Mike bahwa gadis itu ternyata banyak makan juga, tapi badannya tak gemuk-gemuk. Buktinya, semua makanan yang dipesan sudah habis dimakannya dan lagi, dia ada nambah makanan.


Setelah selesai makan, Mike langsung membayar seluruh makanan yang telah dipesan. Setelah selesai, mereka pergi meninggalkan restoran itu.


Sesampainya di dalam mobil, Mike bertanya pada Lauren, "Di mana rumahmu? Akan 'ku antar kau pulang."


Lauren terdiam sejenak. Dan Mike pun bertanya kembali karena ia tak segera mendapatkan jawaban.


"Rumahmu di mana?"


"Aku gak punya rumah di sini."


"Terus?"


"Aku datang dari luar kota, dan baru pindah ke Depok. Tadi niatnya mau cari tempat kos. Rupanya dapat masalah bertubi-tubi," curhat Lauren.


"Kau mau cari tempat kos di mana?"


"Di jalan Margonda Raya. Kau tau tempatnya, 'kan?"


Mike mengangguk, "Tau. Itu gak jauh kok dari sini. Kira-kira 10 menit sampai." Setelah itu dia melajukan mobilnya menuju jalan yang di sebutkan gadis itu tadi. Dia tahu semua jalan yang ada di Depok, karena emang dulu dia tinggal di sini dan dia sering mampir ke kota ini untuk sekadar melepaskan beban kerjanya.


.


.


Ini hungry face-nya Lauren.


__ADS_1


__ADS_2