Tuan Muda dan Gadis Kampung

Tuan Muda dan Gadis Kampung
7. Pendaftaran Kampus


__ADS_3

Seusai makan, dia langsung melanjutkan perjalanannya menuju kampus. Sama halnya dengan tadi, dia bersikeras jalan kaki dan lebih tidak memilih untuk naik kendaraan umum. Karena emang jarak dari kos ke kampusnya tidak jauh. Paling kalau berjalan kaki hanya 30 menit. Jangan kuatir, kaki Lauren cukup kuat jika hanya berjalan secepat 30 menit. Cepat? Iya cepat baginya.


Tak terasa, dia pun sudah sampai di depan gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dia berulang kali menampar pipinya, masih tak percaya kalau kampus ini hasil dari perjuangannya. Suasana menyenangkan tadi tiba-tiba berubah menjadi sendu. Dia sangat ingin menangis karena bahagia.


"Akhirnya, aku sudah hampir dekat dengan mimpi," gumamnya. Setelah itu kakinya melangkah memasuki area fakultas.


Saat sudah memasuki area fakultas, banyak sorot mata yang menatapnya karena kecantikannya. Tapi, Lauren tak menyadarinya. Dia malah mengira orang yang menatapnya itu adalah seniornya, makanya dia menunduk hormat dan menyapa mereka yang dilihat Lauren menatapnya. Orang-orang semakin mengagumi Lauren, karena selain cantik dia juga ramah.


Lauren mencari kantor dosen dan melakukan pendaftaran ulang di sana. Tak butuh waktu yang lama untuk mencarinya, karena sudah ada petunjuk yang diberikan, Lauren langsung masuk dan melakukan pendaftaran ulang.


Setelah selesai, dia keluar ruangan itu dengan helaan napas lega. Akhirnya pendaftaran ulangnya berjalan dengan lancar. Dan lagi, lima hari ke depan, dia sudah akan memulai masa OSPEK.


Lauren harap, dia tak bertemu dengan senior yang mencari masalah dengannya. Jangan sampai masa OSPEK dan kuliahnya terusik nantinya. Jangan sampai.


Lauren pun pergi meninggalkan area kampus. Dia hendak mencari udara segar di Kota Depok ini. Sebenarnya sih dia pengen ke Jakarta, tapi harus belajar menghemat uang.


---oOo---


"Mike, hari ini kita ada rapat jam satu siang nanti. Jangan sampai kau melewatkan atau menundanya, karena ini rapat penting!" Kevin berkata tegas. Tapi, ucapannya tak ditanggapi oleh Mike.


Tuan Muda itu menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Kevin pun berinisiatif mengerjai Mike. Dia mengambil handphonenya dan mulai melakukan perekaman. "Tuan Muda, oh, Tuan Muda," panggilnya merayu.


Mike masih diam tak menjawab serta matanya tak berkedip sedari tadi. Benar-benar hebat, karena dia berhasil tidak mengedipkan mata selama dua menit.


"Woy ... Mike! Bangun ini masih pagi. Jangan melamuni jodohmu yang bahkan tak memikirkanmu!" Kevin memukul meja kerja Mike, membuat Mike terkejut dan ia melompat dari kursinya.


"Ah, bangke kau, Kevin!" maki Mike membuat Kevin ciut. Mata Mike beralih melirik Kevin yang memegang handphonenya dengan posisi lurus. Mike yang jenius sudah pasti tahu kalau sekertaris sekaligus sahabatnya itu pasti sedang merekamnya. Dia pun menarik handphone Kevin, dihentikannya rekaman yang sedang berjalan itu dan segera ia hapus.


"Ngapai kau rekam aku?" Dia melontarkan tatapan tajam mata elangnya pada Kevin.


"Kau 'sih. Melamun terus." Tanpa merasa bersalah, Kevin malah menyalahkan Mike lagi. Dia bahkan tak menganggap kalau dirinya sekretaris Mike.

__ADS_1


"Terus ngapai kau rekam?" tanyanya lagi.


"Ini momen langkah. Jarang-jarang aku liat kau melamun, Mike," katanya nyengir kuda. "Mikiri apa sih, Mike?" godanya kemudian.


Mike meletakkan handphone sahabatnya itu di atas meja. Setelah itu dia berpaling, melongos pergi dari hadapan sahabatnya yang menjengkelkan. "Bukan urusanmu. Urusi aja kantor," katanya mengangkat tangan kanannya di udara.


Kevin mendengus melihat punggung Mike yang sudah hilang di balik pintu. "Pasti lagi kesemsem tuh anak," gumamnya.


Setelah itu dia mengambil handphonenya dan pergi menyusul Mike yang tak tahu mau ke mana. Kevin baru ingat, kalau tadi Mike tidak mendengarkan ia berbicara soal rapat nanti siang. Jangan sampai Mike melupakan janji rapat itu lagi. Tuan Muda itu memiliki kekurangan; salah satunya, dia selalu lupa dengan jadwal rapatnya. Dia yang membuat janji dan jadwal, tapi dia juga yang melupakannya. Aneh memang.


"Mike, woy. Tunggu!" teriaknya di lobby perusahaan, membuat semua orang melihat pada Kevin. Dia hanya nyengir, sementara orang lain yang belum mengenal mereka berdua seakan berpikir, "Berani banget itu orang perlakuan Tuan Muda kayak begitu."


Mike menghentikan langkahnya, berbalik badan dan menatap Kevin, "Apa sih, Vin?!" katanya ketus.


Kevin menarik napasnya, "Tuan Muda yang terhormat anda mau kemana?" katanya berusaha menahan amarahnya. Mike tak menjawab pertanyaan Kevin, karena dia tahu kemana pembicaraan ini akan berakhir.


"Kita ada rapat jam berapa?" katanya seolah-olah mampu membaca pikiran Kevin.


balas Kevin kesal.


"Sst." Mike menempelkan telunjuknya pada bingkai bibirnya, mengisyaratkan agar Kevin menutup mulutnya. Bisa hancur reputasinya kalau orang sampai tahu dia melamun. Secara, seorang Mike yang dikenal mati rasa itu; jarang tersenyum, jarang tertawa, jarang melamun. Mike hanya melakukan ekspresi jarangnya itu menjadi sering pada orang-orang yang dekat dengannya. Tapi, gadis yang bernama Lauren itu?


"Sekertarisku yang paling handal, tolong jangan marah-marah dan membuat keributan, ya. Ini masih di daerah kantor." Mike mengedipkan matanya, membuat Kevin semakin geram. Tapi, akhirnya ia memilih untuk memendam.


"Jam berapa rapat?" tanya Mike ulang.


"Jam 1," balas Kevin sengit. Dia langsung meninggalkan Mike tanpa pamitan lebih dahulu. Mike sudah terbiasa menghadapi Kevin dan Kevin juga sudah biasa menghadapi Mike. Mereka memang sering adu mulut seperti ini, tapi jarang sekali mereka adu otot. Karena Kevin tahu jika adu otot dengan Mike sama saja dengan menggali kuburan sendiri.


Drrt.... Drrt....


Baru saja Mike sampai di basemen parkiran mobilnya, handphone sudah berbunyi. Dia melirik nama pemanggil di situ.

__ADS_1


"Kevin?" gumamnya.


"Ah, dia memang tak bisa marah lama-lama padaku," katanya tertawa.


Ditolaknya panggilan Kevin, karena Mike paling senang membuat pria itu kesal. Lagi-lagi Kevin meneleponnya dan Mike terus menolaknya. Sampai dia mendapatkan pesan.


'Eh, Telor Cicak! Angkat teleponku sebelum ku santet kau.'


Mike tertawa membaca pesan dari Kevin. Santet? Bahkan untuk bertemu dukun saja dia sudah ogah, karena dosa katanya.


Mike menekan tombol panggilan dan menelepon Kevin. Tak butuh banyak waktu menunggu, sekretarisnya itu langsung menjawab panggilan Tuan Mudanya.


"Ada apa, Sayang," goda Mike sebelum Kevin berbicara.


"Sayang, Sayang. ***** kau peyang," cibir Kevin memaki dari balik telepon.


Mike lagi-lagi tertawa. Untungnya basemen sedang sepi, jadi tak ada yang melihatnya seperti ini.


"Kau mau kemana, ******? Apa kau mau melarikan diri dan tidak ikut rapat? Kau tau ini rapat penting, 'kan?" cecar Kevin.


"Iya, iya. Aku gak kabur kok. Kau tenang aja. Aku hanya butuh mencari udara segar. Kau mau ikut?" jelas Mike.


"Ikut." Telepon itu langsung dimatikan Kevin secara sepihak. Dia sudah tahu, posisi Mike sekarang. Dan Mike menunggu sekretarisnya itu di dalam mobilnya.


.


.


Ini Mike sama Kevin. Gantengan siapa? Mike atau Kevin?


__ADS_1


__ADS_2