Tuan Muda dan Gadis Kampung

Tuan Muda dan Gadis Kampung
20. Lauren dan Elis


__ADS_3

Lauren terkejut melihat orang yang sedang berdiri di depan gerbang utama kampusnya. Dia Mike. Tapi, apa lagi yang membuat Mike datang ke kampusnya? Mungkinkah Mike mau mengantarnya pulang ataukah mengajaknya jalan-jalan?


Sebelum pria itu melihatnya, Lauren membalikkan badannya. Namun, Lauren hampir terjungkal saat ia hampir saja menabrak kakak kelasnya itu.


"Kak Elis, maaf," ucap Lauren buru-buru.


"Lo kenapa?" Elis menggeser kepalanya supaya bisa melihat apa yang ada di balik punggung Lauren. "Loh itu kan Bang Mike," ucapnya yakin.


"Ee-eh?"


"Jadi lo balik lagi karena mau ngehindari Bang Mike?" tanya Elis memastikan bahwa ucapnnya benar.


"Ng-nggak, kok, Kak," jawab Lauren kikuk. Lauren seperti baru saja keciduk mengintip orang.


Elis tersenyum, menampilkan deretan giginya yang tersusun apik. "Mulut lo emang bisa bohong, tapi kelakuan lo ga pandai nutupi kebohongan lo. Orang yang bohong itu cenderung mengalihkan pandangannya, tidak berani menatap lawan bicara yang dibohonginya."


Sebegitu mudahnya kah menilai orang berbohong atau tidak? Lantas mengapa masih banyak penipu di mana-mana? Ah, bukan. Emang Lauren aja yang tak bisa berbohong sedari dulu.


"Kak Elis bisa bantu aku? Kumohon!" mohon Lauren. Dia rela jika perempuan yang di hadapannya ini menyuruhnya untuk bersimpuh, asal ia berhasil membawa Lauren menjauh dari Mike.


"Kenapa lo ngehindari dia? Kayanya sih dia ke sini karena lo."


Eh. Lauren teringat sesuatu. Bisa jadi juga Mike ke sini bukan karena dirinya, tapi karena wanita yang ada di hadapannya. Tapi, kalau Lauren pikir-pikir lagi kayaknya tidak mungkin. Dasar jiwa-jiwa labil.


"Kak, aku ga peduli dia ke sini atas dasar apa. Tapi, tolong bantu aku ngehindari dia, Kak," mohon Lauren sekali lagi.


Elis tersenyum, "Ya udah gue tolong. Ikut gue." Elis berjalan lebih dulu dan Lauren mengekorinya dari belakang.


Lauren harap, Mike tidak melihatnya hari ini.


Elis membawa Lauren keluar dari jalan yang lain.


"Gue mau ngobrol bentar sama lo." Elis menghentikan langkahnya. Dia berucap sangat serius.


Lauren juga menghentikan langkahnya. Perjalanan mereka tertunda. "Kenapa, Kak?"


"Ke warung itu aja, yuk." Elis menunjuk sebuah bangunan minimalis. Dia berjalan lebih dulu masuk ke dalam warung yang tak jauh dari mereka tadi.

__ADS_1


"Gue belum minta maaf atas kejadian waktu itu yang gue bilang lo p3l*cur," kata Elis membuka pembicaraan secara to the point saat mereka sudah memesan dua piring batagor dan mengambil duduk.


Lauren memutar memori waktu itu. Dia masih ingat kejadian Elis yang berkata kasar padanya. Tapi, Lauren sudah memaafkannya. Dia memaklumi karena mungkin Elis dalam posisi marah.


"Ga apa-pa, Kak." Lauren tersenyum.


"Gue boleh nanya gak sama lo?"


Banyak pertanyaan yang ada di kepala Elis saat ini. Dia tidak mau menyimpan pertanyaannya itu menumpuk hingga mencapai gunung. Lebih baik menumpuk uang daripada menumpuk pertanyaan.


"Apa, Kak?"


"Lo ketemu Bang Mike dari kapan? Setau gue dulu dia gak pernah kenalkan perempuan lain ke orang tuanya. Memang sih, Bang Mike udah jarang pulang ke Depok. Tapi sekalinya pulang, dia malah bersama calon istrinya."


Selain Elis, hanya Lauren yang diketahui orang tua Mike. Elis tahu itu, karena Mikha selalu saja merasa khawatir dan bercerita pada Florence tentang Mike yang belum juga memperkenalkan perempuan yang menjadi pacarnya. Memang Mike sering dekat banyak perempuan, tapi dia tidak serius dan hanya ingin bermain-main saja.


Saat itu Mike masih belum menemukan wanita yang berhasil meluluhkan hatinya. Hanya Lauren yang Mike rasa sudah berhasil. Lauren berhasil mengambil hati Mike saat pertemuan pertama mereka. Mike sangat yakin kalau Lauren adalah jodohnya. Orang yang harus diperjuangkan walau belum tentu juga menjadi jodohnya, karena keinginan kita bukan keinginan Pencipta.


"Kenalnya baru kok, Kak. Waktu dia bawa aku ke situ. Di hari itu juga kami ketemu."


Elis malah mengingatkan Lauren dengan kejadian yang tidak ingin ia ingat lagi. Bagaimana mungkin ada orang yang baru pertama bertemu, tetapi sudah memperkenalkan pada keluarganya bahwa mereka adalah calon suami-istri?


Sinting!


Pernikahan itu bukan main-main. Kita benar-benar harus mengetahui segala hal tentang pasangan kita supaya tidak terjadi penyesalan di kemudian hari setelah pernikahan. Tentu saja Lauren tidak ingin merasakan rumah tangga yang gagal.


"Ga tahu, Kak. Dia itu sinting." Lauren mengangkat bahunya. Setelah itu dia menyantap batagor yang terhidang di depannya. Begitu menggiurkan.


Elis tertawa. "Tapi dia kayanya serius saat ngomong kaya gitu."


Hah?


Lauren tersedak batagor yang di makannya. Buru-buru dia mengambil minum dan meminum satu gelas air hingga habis. "Mana mungkin, Kak," ucap Lauren ketika sudah merasa baikkan.


Elis mengangguk, "Gue kenal Bang Mike itu udah dari kecil. Gue paham betul dia itu gimana. Satu hal yang gue suka darinya. Sifat keras kepalanya yang pake banget. Kalau ingin apa-apa, pasti dengan segala usaha dilakukannya untuk mendapatkan keinginannya itu tanpa mendengarkan perkataan atau pun nasihat orang lain. Karena keras kepalanya, dia tidak mudah menyerah. Walau kadang sih gue kesal juga dengan dia yang seperti itu," cerita Elis.


"Untuk apa aku tau itu?" kata Lauren dalan hati. Dia tidak merasa tertarik dengan cerita Elis.

__ADS_1


"Lo suka sama Bang Mike?"


Buru-buru Lauren menggelengkan kepalanya. "Enggaklah, Kak."


"Kenapa? Dia itu mapan. Udah kaya, ganteng pula. Biasanya perempuan lain pada pandangan pertama langsung jatuh hati sama Bang Mike."


Elis salah besar.


"Tidak semua perempuan seperti itu, Kak. Banyak juga perempuan yang memilih pasangan yang tidak kaya dan tidak ganteng, asal pasangannya berhasil membuatnya bahagia. Kita tidak akan tahu kemana hati kita akan berlabuh. Buat apa itu semua, kalau ternyata sifatnya sangat buruk dan malah membuat kita tertekan?"


"Tapi, Bang Mike itu baik."


Lauren tersenyum, "Emang dia baik kak. Tapi sayang, hatiku masih belum miliknya."


Suasana di antara mereka mendadak hening. Hanya suara beberapa pelanggan yang terdengar. Elis tidak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Elis menyantap batagor di hadapannya setelah dari tadi dianggurinya. Perutnya juga sudah meminta asupan.


"Kak Elis, aku boleh nanya?"


Elis mengangkat kedua alisnya, membuat kerutan di keningnya, "Nanya apa?" ujarnya setelah batagor yang di dalam mulutnya sudah ia telah.


"Dia itu umurnya berapa?"


"26 tahun."


Lauren membulatkan matanya. Dia baru tahu usia pria itu yang sesungguhnya. Lauren kira umur Mike masih sekitar 22 tahun gitu, karena mukanya yang tidak menunjukkan ketuaan. Ternyata mereka terpaut 8 tahun. "Serius, Kak?"


"Iya."


"Aku kira umurnya sekitar 22 tahun gitu, Kak."


Elis tertawa. "Gak hanya lo yang ngira gitu. Mukanya memang keliatan banget mudanya, karena dia dari kecil rajin merawat tubuh dan mukanya."


"Kalau Kak Elis umur berapa?"


"21 tahun."


Lauren manggut-manggut. "Kak Elis suka sama dia?"

__ADS_1


__ADS_2