
Pagi yang seharusnya indah bersamaan dengan matahari yang bersinar cerah hanya menampakkan senyuman yang punah dari bibirnya Lauren. Pasalnya Mike lagi-lagi sudah menunggunya di depan gerbang
kosnya.
Mike selalu saja memaksa Lauren agar dirinya mengantarkan Lauren ke kampus. Karena tidak mau memperlambat waktu, Lauren mengiyakan paksaan Mike. Lagi pula dia juga sudah hampir terlambat.
Setibanya di ruang kelas, lagi-lagi Lauren merasakan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidupnya sudah hilang. Zura mengusik pagi Lauren dengan mengganggunya yang sedang membaca Kamus Kedokteran. Kemarin Lauren tidak sempat belajar ataupun membaca buku, karena akhir-akhir ini dia jadi keseringan marathon Drama Korea. Entah sejak kapan gadis itu menyukai Drama Korea.
“Tolonglah! Enyah sekarang dari hadapanku!” Lauren menutup bukunya. Dia menatap Zura yang ada di hadapannya dengan sinis.
Zura memang dari awal datang ke kampus sudah menggeser kursinya di depan Lauren. Dia ingin sekali mengganggu orang yang sedang asik membaca itu.
“Kalian ini masih pagi udah romantis banget, sih.” Tasya mendapatkan tatapan mematikan dari Lauren setelah berkata seperti itu. Suasana hati Lauren benar-benar tidak baik saat ini. Tidak seharusnya Tasya memberi candaan yang malah terasa seperti hinaan bagi Lauren.
“Lo masih belum tergila-gila juga sama gue?” Zura memasang wajah sok imutnya, namun kelihatan menjijikan bagi Lauren.
Lauren mendengus, “Yang ada kamu yang gila karena gak bisa buat aku tergila-gila padamu,” ketus Lauren.
Belum sempat Zura menjawab, dosen sudah datang lebih dulu. Mau tidak mau Zura mengembalikan kursi yang ia geser tadi pada tempatnya. Zura mengambil duduk di belakang. Dia tidak suka bila bertatapan dengan dosen dalam jarak yang dekat. Lagian posisi belakang sangat nyaman untuk tiduran. Sebenarnya Zura bukan tipe cowok yang rajin belajar seperti yang kebanyakan orang pikir kalau anak Kedokteran isinya manusia-manusia
yang memiliki semangat belajar yang tinggi dan pintar-pintar. Walaupun Zura tidak suka belajar, tapi otaknya masih bisa berguna, sedikit. Sedikit loh! Zura itu tidak pintar-pintar banget.
Zura masuk fakultas kedokteran karena ingin cari nama saja. Menurutnya, modal tampang yang tampan doang tak akan cukup untuk membuat wanita tergila-gila padanya. Itu sebabnya dia iseng mencoba mengambil jurusan Kedokteran di Universitas Indonesia. Ya, takdir keberuntungannya baik sekali. Hanya iseng tapi malah lulus. Orang yang serius malah berujung gagal. Memang kita tidak bisa menebak rencana Sang Pencipta.
---o0o---
Hari ini Lauren memilih balik ke kos saat jam istirahat. Tidak seperti biasanya memang, padahal dia sudah menyiapkan bekal. Alasannya simple, karena dia tidak ingin bekalnya direbut lagi oleh Zura. Sudah sering Zura melakukan hal itu sehingga kali ini Lauren terpikir untuk balik saja ke kos dan memakan bekalnya di sana.
Walaupun Zura mengganti bekalnya dengan mentraktirnya makan di kantin, tetap saja Lauren tidak terima jika berulang kali seperti itu. Entah micin apa yang dimasukkan Lauren hingga Zura sampai tergila-gila seperti itu dengan masakannya. Padahal, masakan ibu kantin lebih enak menurut Lauren daripada masakannya sendiri.
Entahlah, mungkin dia hanya iseng untuk membuat hati seorang wanita terguncang dengan kata baper. Lelaki memang suka seperti itu, suka membuat wanita baper dan ujung-ujungnya malah menghilangkan jejak.
“Lauren.” Seseorang memanggil nama Lauren. Dia menghentikan langkahnya tepat di belakang gerbang. Lauren memutar tubuhnya, melihat pemilik suara yang ia yakini berasal dari belakang tubuhnya.
__ADS_1
Pemanggil itu Anis, seniornya sekaligus Ketua BEM. Anis mempercepat langkahnya mendekati Lauren.
“Ada apa, Kak?” Lauren bertanya saat Anis sudah berdiri di hapadannya.
“Lo balik ke kos? Tasya sama Yola gak balik ke kos?”
“Tasya bilang tadi dia mager buat gerak, Kak. Yola juga ngikut aja sama Tasya,” jawab Lauren, “Kak, aku boleh
nanya?”
“Apa?” Anis menjawab singkat.
“Kak Anis sama Tasya bukannya Kakak Adik, ya? Tapi kenapa kalian tidak ngekos sama?”
Pertanyaan ini sudah lama muncul di otaknya Lauren. Dia tidak pernah melihat Anis dilingkungan kosnya. Tapi,
bukannya Anis dan Tasya kakak beradik. Kenapa harus pisah tempat? Malah Tasya
dan Yola yang terlihat seperti saudara karena selalu bersama.
“Ha?” Lauren mengangga.
“Gue sama Tasya emang kakak beradik. Tapi gak kandung,” jelas Anis yang tidak jelas. Penjelasannya tanggung dan tidak bisa dimengerti dengan jelas.
“Gak kandung maksudnya gimana, Kak? Kakak Adik tiri gitu maksudnya, Kak?” Memang Lauren namanya kalau ngomong tidak pernah mikir lebih dulu. Akan seperti apa omongannya, ditanggapi menyakitkan atau malah biasa saja oleh lawan bicaranya. Tapi sebenarnya, Lauren tidak bermaksud menyakitkan orang dari perkataannya. Tapi memang dia saja yang sudah terbiasa seperti itu. Kebiasaan itu sulit untuk diubah.
Omongan Lauren yang tadi sebenarnya sedikit sensitive bagi sedikit orang. Iya, sedikit saja tidak usah banyak-banyak, nanti mubazir, kan sayang.
Anis menggelengkan kepalanya, “Bukan … Tasya itu adik sepupu gue. Cuma dari kecil kita itu udah akrab banget. Orang tuanya juga banyak banget bantuin hidup gue.”
“Oh … gitu.” Sebenarnya Lauren ingin bertanya lebih lanjut lagi. Tapi dia pungkiri karena sudah mendapat kode dari perutnya. Lagian dia juga tidak mau kalau sampai dapat cap ‘Ratu Kepo’. Kalau kepo masalah pelajaran sih tidak
masalah, ini kepo masalah orang lain yang sama sekali tidak akan berguna karena ujung-ujungnya akan berakhir gibah.
__ADS_1
“Gue gentian nanya, boleh?”
Apa Anis tidak mendengar suara perut Lauren?
“Iya, apa, Kak?”
Apa Lauren tidak peduli dengan nasib cacing di perutnya?
“Gue sering ngelihat cowok yang ngantar jemput lo. Itu siapa lo?”
“Temen, Kak,” jujur Lauren.
“Yakin?” Anis tampak tidak yakin dengan ucapan Lauren.
“Iya, Kak.”
“Kok kayak akrab banget gitu. Kayak punya hubungan special.” Anis mengelus-elus dagunya. Tingkahnya sudah hampir mirip dengan detektif yang sedang menyelidiki tagetnya.
“Duh, ini Kak Anis gak ngerti sama perut aku apa? Sampe kapan dia nahan aku di sini.”Lauren bergumam. “Iya, Kak, suer!” Lauren menunjukkan dua jari telunjuk dan jari tengahnya di hadapan Anis.
“Kak, aku balik dulu, ya. Belum makan soalnya, lapar.” Akhirnya Lauren memilih untuk segera mengakhiri obrolannya dengan Anis yang sama sekali tidak penting baginya, apalagi menyangkut Mike.
Jujur lebih bagus daripada menahan lapar. Itu prinsip yang sekarang menempel di benak Lauren.
---o0o---
Casia minta maaf udah mengangguri cerita ini selama sebulan. Kemarin-kemarin itu Casia lagi kesal. Ceritanya gini, kan Casia udah nulis beberapa kata di draft dan rencananya akan di up. Tapi tiba-tiba ada kerjaan lain, hingga lupa untuk melanjutkan ceritanya. Setelah itu Casia lupa kalau nulis di draft dan malah log out, alhasil tulisannya itu hilang:( emang sih itu kebodohan tersendiri:(
Selama sebulan ini Casia sudah terlalu nyaman dengan anime dan drakor, aaa maafkan :(
Terima kasih buat yang sudah menunggu cerita ini dari awal sampai sekarang. Tanpa komen kalian yang menarik tak akan bisa membuat Casia semangat menulis lagi.
Rajin-rajin komentar yaa, sebagai bentuk dukungan kalian pada Lauren dan Mike hehehe
__ADS_1
Casia akan usahakan untuk sering up sekarang. Ditunggu, ya. Terima kasih