
Saat ini Lauren sudah berada di kelasnya. Dia duduk di
samping jendela barisan terdepan. Pelajaran belum di mulai, namun hampir semua
mahasiswa-mahasiswi sudah berkumpul.
Lauren mengambil buku ‘Anatomi dan Fisiologi’ dari dalam
tasnya. Buku itu sudah lama ia miliki. Bahkan, saat jam kosong waktu SMA dulu,
Lauren selalu membaca buku itu, sampai temannya sebagian meledeknya, “Kau tuh
gak pantas masuk dunia medis, apalagi jadi dokter.” Ya, begitulah kata salah
satu temannya yang paling sering diucap dan sampai sekarang masih membekas
diingatan.
Lauren mengambil napasnya dan membuangkannya secara dalam
sebelum ia membuka lembaran buku itu. “Buktinya aku sekarang udah masuk
Kedokteran,” gumamnya setelah mengingat kejadian SMA dulu.
“Lo udah lama datang?”
Ternyata semesta mempersatukan Tasya dan Yola untuk satu
kelas. Mereka baru saja tiba di kelas dan yang bertanya tadi adalah Tasya.
“Engga, barusan aja, kok, Sya.”
Tasya menggut-manggut, kemudian mengambil duduk di samping
kiri Lauren. Yola pun duduk di samping kirinya Tasya.
“Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis,” gumam Tasya membaca
judul buku yang dipegang Lauren. “Rajin banget.”
Lauren ngenyir kuda, setelah itu dibukanya lembaran buku.
“Bosan,” alasannya.
“Eh, lihatlah siapa yang datang di kelas kita.”
Perempuan yang baru masuk ke dalam kelas sudah membuat
keributan. Di belakangnya disusul kedatangan pria yang sangat tampan dan
diikuti perempuan-perempuan yang takjub akan ketampanannya.
“Gila, ganteng banget. Gue gak nyangka bisa sekelas sama dia.” Tasya berdecak kagum saat pria itu
__ADS_1
melewatinya.
“Biasa aja,” saut Lauren santai.
Azura Nugraha, nama pria itu. Dia menghentikan langkahnya dan menoleh pada sumber suara yang mengatakan ‘biasa aja’. Zura mengambil beberapa langkah mendekati meja Lauren.
“Siapa nama lo?” tanya Zura sembari menyeringai.
Lauren merasakan tiba-tiba hawa di sekitarnya berubah ngeri
seperti hawa saat ia menonton film horror atau saat ia melewati kuburan tengah
malam. Lauren bergidik ngeri, kemudian dia menjawab pertanyaan pria yang kini
berdiri di hadapannya. “Laurensia,” jawab Lauren singkat tanpa memandang
pemilik paras tampan itu.
“Lihat, beberapa hari ke depan, lo akan tergila-gila sama
gue,” lirih Zura terlihat angkuh. Dia langsung pergi dari hadapan Lauren begitu
selesai berkata.
Lauren mendengus. “Dia pikir dia pangeran apa? Apa tadi katanya, tergila-gila? Ck! Yang benar saja,” batin Lauren kesal. Dia menatap pundak pria itu dengan tatapan tak suka.
Tasya mangap aja melihat kejadian tadi. Dan dia juga bingung dengan teman barunya itu, Lauren. Masa iya begitu tampannya Zura, tapi Lauren malah bilang biasa aja? Bahkan seluruh perempuan yang ada di kampusnya memuji ketampanan Zura dan mungkin seorang dewi juga akan jatuh cinta padanya.
“Lo gila, ya. Itukan pangeran tampan sewaktu ospek. Masa lo bilang dia biasa aja,” cibir Tasya.
“Ck.” Tasya hanya mendenguskan napasnya.
"Menurut lo ganteng, kan, Yol?" tanya Tasya ke Yola.
Yola menganggukkan kepalanya.
---o0o---
Waktu istirahat telah tiba. Dosen mata kuliah Anatomi sudah keluar dari ruang kelas. Berhubung karena hari ini kelas padat, waktu istirahat tidaklah lama. Dosen siang masuk dan malah minta untuk mempercepat waktunya.
Alhasil, hanya aka nada 30 menit untuk istirahat.
“Kantin, yuk,” ajak Tasya.
Lauren yang baru selesai memasukkan bukunya ke dalam tas, melirik ke Tasya, “Aku ngga ke kantin, Sya. Aku bawa bekal.”
Ya, itulah alasan Lauren kenapa tidak menjawab pesan ataupun panggilan Mike. Selain dia malas meladeni Mike, dia juga sibuk masak pagi-pagi tadi.
“Lo ke kantin, kan, Yol?” tanyanya lagi ke Yola.
Yola menganggukkan kepalanya. Dia berdiri dan berjalan lebih dulu ke luar kelas. Tak lama Tasya menyusulnya setelah mengucapkan kata bye ke Lauren.
Selepas kepergian Tasya dan Yola, seseorang menghampiri Lauren dan duduk di sampingnya. Lauren yang baru mengeluarkan bekal dari dalam tasnya, melihat ke samping karena merasakan kehadiran seseorang. Dia sempat
__ADS_1
berpikir kalau itu Tasya, tapi nyatanya tidak. Dia terkejut saat melihat seseorang di sampingnya ternyata Zura.
“Ada apa?” tanya Lauren dingin.
Zura mengambil bekal Lauren dan membukanya. “Keliatannya enak ini.”
Lauren berusaha mengambil kembali bekalnya, tapi Zura sangat lihai menggerak-gerakkan tangannya ke atas, bawah, ah … pokoknya ke segala arah.
“Balikin gak bekal aku,” kesal Lauren. Dia berdiri dan berkacak pinggang, menatap Zura dengan tatapan seribu persen permusuhan.
Zura berdiri dari duduknya. “Buat gue.” Dia pergi meninggalkan Lauren dan membawa bekalnya.
“Astaga, Anak Telor. Aku udah cape-cape masak, tapi malah direbut gitu aja. Gak punya uang apa untuk beli makanan, sampai malak orang kaya gini? Ini namanya kekerasan,” gumam Lauren. Dia mencak-mencak karena perbuatan Zura.
Bohong kalau Zura tidak mendengar umpatan Lauren. Dia mendengarnya dengan sangat jelas, tapi memilih untuk mengabaikannya dan menyantap makanan itu dengan lahap. Bukan karena dia tidak uang untuk beli makanan, tapi karena dia ingin merasakan masakan Lauren. ‘Kan lumayan berguna nanti, jika Lauren menyukai Zura. Bisa ia manfaatkan untuk membuatkan makanan setiap hari untuknya.
Lauren hanya bisa pasrah, ketika melihat Zura sudah memakan
bekalnya. Dia kembali duduk dan menggigit kukunya, barangkali kuku bisa
mengenyangkan cacing-cacing di perutnya. Dia tak ingin membeli makanan di
kantin, karena emang uang yang diberi Mike waktu itu harus dihemat-hematkannya.
Lauren belum mendapatkan pekerjaan untuk mengganti uang-uang yang diberikan
Mike. Dan lagi jika balik ke kos, takutnya tidak akan terkejar karena siang
nanti ada dosen yang masuk.
“Ini bekal lo, enak juga ternyata.” Zura menyodorkan tempat bekal
bewarna merah berbentuk bulat oval itu pada Lauren.
Lauren menatapnya tajam dan merampas tempat bekalnya itu
dengan sangat kasar. “Dasar Telor Ikan,” umpatnya lirih.
Gruuuk ….
Sial! Cacing yang ada di perut Lauren memang tidak pernah
bisa diajak kompromi.
Zura menarik lengan Lauren dan membawanya keluar kelas. Lauren tak tahu kemana ia akan dibawa ‘Monster Telor Rakus’ itu. Ya, itu julukan baru untuk Zura yang dibuat Lauren. Monster, karena emang Lauren memandangnya seperti monster, menyeramkan. Telor, karena dari tadi Lauren sibuk mengumpat telor pada Zura dan Rakus, karena dia merebut bekal Lauren dan menghabiskannya dalam sekejab saja.
“Lepasin …” Lauren berusaha keras melepaskan cengkeram tangan Zura di tangannya. Tapi, nihil. Tenaga Lauren tidak sekuat tenaga Zura. Pria itu benar-benar memperlakukan Lauren seperti budak yang akan dihukum dan tak akan dilepaskan begitu saja.
“Apa salahku, ya, Tuhan, sampai aku bertemu Monster Telor Rakus ini,” kata Lauren lirih, namun Zura masih mendengarnya.
Zura menghentikan langkahnya secara mendadak ketika mendengar julukan ‘Monster Telor Rakus’, sampai tubuh Lauren menabrak tubuhnya yang kelihatan kekar. Zura menatap Lauren yang terlihat bingung. Tatapan Zura
sangat dalam. “Apa itu Monster Telor Rakus?” tanyanya.
__ADS_1
“Ya, kamu lah,” kata Lauren meninggihkan suaranya.
Zura tersenyum tipis, dan kembali membawa Lauren melangkah secara paksa.