
Episode 21/ Virus Selesai Prince Terbengkalai
Alice dan Pak Fardi sudah berada di tahanan penjara dengan massa yang mulai menggila, untungnya mereka semua di pasung dan di letakkan di sel tahanan paling canggih. Mereka berdua berusaha mendengar dengan seksama apa yang telah terjadi dari awal hingga akhir, mulai gejalanya hingga kejadian detik ini.
Detektif yang menelepon dengan Pak Fardi mengatakan semuanya dengan detail, tanpa ada yang ditutupi, kedua orang ini berusaha mencerna dengan baik akan ucapan detektif yang bertugas.
‘’Sekarang coba bius salah satu dari mereka!’’ titah Alice.
Detektif itu mengangguk dan melaksanakan perintah yang diberikan oleh Alice, nasib baik tahanan itu memiliki teknologi super canggih, mereka tidak perlu repot-repot untuk membius dengan tangan mereka, pekerjaan itu akan jauh lebih mudah dan lebih aman ketika menggunakan alat teknologi yang telah menjelma layaknya tangan manusia dengan ukuran sangat besar.
‘’Pilih yang paling tua dari segi usia!’’ ujar Alice ketika detektif itu memilih seorang anak muda, dengan kisaran usia dua puluh tahun.
‘’Kenapa, Detektif? Akan lebih baik jika kita menggunakan bocah ini dibandingkan dengan seorang yang berusia tua?’’ tanyanya masih belum mengerti.
‘’Sudahlah, kamu lakukan saja semua arahan saya. Yang muda masih memiliki kehidupan yang panjang sementara yang tua sudah merasakan semuanya, jika eksperimen ini gagal, setidaknya kita tidak melakukan korupsi terhadap bocah itu, jalan kisah kehidupannya masih panjang,’’ ujar Alice.
Pak Fardi setuju, dirinya juga sependapat dengan Alice, memang benar dalam kasus penyelidikan pasti aka nada yang dikorbankan, dibandingkan harus kehilangan satu anak muda, maka dalam kondisi terdesak seperti ini, yang memiliki usia lanjut satu-satunya solusi.
__ADS_1
‘’Baik Detektif,’’ balasnya.
Akhirnya di temukan di antara puluhan yang telah terkena virus mematikan itu ada satu orang pria dengan usia lanjut, pria dengan usia tujuh puluh tahun, mereka semua setuju untuk melakukan eksperimen pada tubuh pria tua ini.
Alice memasukkan cairan yang telah dibuat oleh Profesor, sekalipun hatinya masih ragu untuk menggunakannya, tapi karena desakan oleh Pak Fardi dan tidak ada pilihan lain, akhirnya cairan itu akan segera masuk pada tubuh pria di dalam sel.
‘’Maafkan saya,’’
Kata-kata yang keluar dari mulut Alice, dengan deraian air mata dirinya berusaha tegar, karena tidak mungkin dirinya terlihat cengeng ketika menjadi detektif pria tua bangka kan? Ini adalah resiko dari dunia yang penuh oleh ancaman, tidak ada kata yang tidak di korbankan jika dalam keadaan terdesak.
Cairan itu mulai masuk dan perlahan menunjukkan reaksinya pada tubuh pria tua itu, Alice, Pak Fardi dan semua detektif memperhatikan dengan detail semua yang terjadi. Jika eksperimen ini berhasil, maka semua kegundahan dan rasa lelah Alice dan Pak Fardi akan terbayar lunas, melihat semua yang terinfeksi selamat, itu bayaran yang pas untuk pengorbanan mereka.
Tidak selang beberapa menit, tubuh pria tua di dalam sel sana mulai tenang, ketika itu Alice langsung memerintahkan agar tubuh pria tua itu diperiksa menggunakan alat canggih, mereka semua sangat berharap jika reaksi dari cairan ini akan membuahkan hasil.
Butuh waktu dua menit hingga hasil yang memang mereka dambakan keluar, dan ketika hasilnya SEHAT, mereka sangat gembira, saling berpelukan satu sama lain, karena virus yang berbahaya ini sudah berhasil di kalahkan, dan tanpa membuang waktu cairan tersebut disuntikkan ke semua massa yang terinfeksi.
Tiga puluh menit telah berlalu, Alice dan Pak Fardi melaksanakan tugas mereka dengan sangat baik, untuk terus berwaspada jika tubuh massa itu kembali bergejolak, Alice memerintahkan agar mereka masih di pasung dan di jaga dengan penjagaan ketat, jika semua gejala tidak terlihat dalam tiga hari, maka mereka sudah boleh di bebaskan dan menghirup udara lepass di luar sana.
__ADS_1
Alice menyarankan sekitar sepuluh detektif berjaga, dirinya akan meminta penambahan detektif dari pusat, yah lima orang akan menjaga di area dalam sel tahanan canggih itu dan lima orang lagi akan menjaga di pusat keamanan yang berada di bagian luar.
[Tolong kirimkan lima detektif tambahan ke pusat sel uji banding sekarang.] pesan singkat Alice pada pria yang telah membantunya menyamar dengan pakaian ini, berkamuflase sempurna, ditambah alat pengubah suara membuat semua rasa khawatir Alice berkurang, dirinya bisa melakukan penyamaran di kampus menjadi Tuti dan bisa melakukan penyamaran menjadi detektif tua bangka di luar jam kampusnya.
Mereka berdua keluar dari tempat itu, dengan wajah sumringah sekalipun capek dan penat mereka rasakan, Alice dan Pak Fardi terpisah di perempatan jalan, yah Alice sudah sangat pengap menggunakan pakaian canggih ini lebih dari lima jam, dirinya akan mampir ke toilet umum sebentar untuk menjadi Alice.
‘Bisa habis tubuhku jika setiap saat menggunakan pakaian ini,’ batin Alice di sela-sela menjadi Alice kembali.
Dirinya menatap Alice yang terpampang jelas di cermin, wajah naturalnya begitu cantik, ditambah tubuh ramping, siapa yang tidak akan melirik coba, dirinya terbayang dengan dirinya ketika menjadi Tuti, benar-benar serratus persen seakan bukan dirinya, yah bayangan bully dari teman kampusnya itu masih saja terus terbayang-bayang, dirinya hanya tidak bisa membayangkan apa reaksi dari mereka jika melihat Alice yang sebenarnya.
‘Huh, gadis-gadis sial itu sungguh mengganggu pikiranku setiap kali bercermin. Jika mereka melihat aku yang sekarang, pasti mereka semua sudah jatuh pingsan!’ batin Alice merapikan rambutnya dan menggunakan masker disertai topi.
Alice hanya takut jika dirinya kembali bertemu dengan Prince, mantan kekasihnya. Yah di lain sisi dirinya khawatir kepada Prince yang ditarik paksa masuk ke dalam sebuah mobil, yah jiwa detektifnya kembali muncul, dirinya berniat untuk mencari keberadaan Prince, nasib baik nomor plat mobil ini masih disimpan, dirinya berusaha mencari tahu keberadaan mobil itu.
Tidak menunggu lama, lokasinya sudah ditemukan, hasil yang lebih mengejutkan terjadi, ternyata posisi mobil itu tidak terlalu jauh dari lokasi Alice sekarang, sebuah hal baik, dirinya segera keluar dari dalam toilet sana dan menuju ke lokasi mobil yang telah membawa Prince pergi.
Hanya membutuhkan waktu lima menit, Alice berusaha mencari keberadaan Prince, cukup sulit untuk menemukannya, dikarenakan hari sudah mulai gelap dan penglihatan Alice juga sudah berkurang, tapi dirinya tidak boleh menggunakan alat penerang apapun jika berada dalam kondisi seperti ini, merupakan tindakan gegabah dan bodoh.
__ADS_1
Dirinya tidak kehabisan akal, Alice menggunakan alat pelacak yang bisa melihat di mana titik paling akurat keberadaan Prince, cukup sulit untuk menggunakan alat ini, jaringan internet di tempat itu hilang-hilang timbul, tapi Alice tidak akan menyerah begitu saja, dirinya berusaha untuk menunggu hasil, yah dan itu semua menghabiskan waktu dua puluh menit, Ketika hasilnya keluar betapa kagetnya dirinya.
‘’PRINCE DALAM BAHAYA!’’