Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.

Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.
Episode 32/ Pria Kunci Rahasia Alice.


__ADS_3

Episode 32/ Pria Kunci Rahasia Alice.


Kali ini ada kasus baru yang akan ditangani oleh Alice, dirinya tengah menuju ke ruangan pribadi Detektif Brian yang kebetulan berada satu lokasi dengan Ronald. Awalnya dia mengira jika ada hal aneh, ketika mendapatkan kasus baru di tengah malam seperti ini.


"Apakah mereka berdua sudah ketiduran?" gumam Alice ketika melihat tidak ada satupun penerangan yang hidup.


Dirinya berusaha melihat lebih dekat lagi, apakah ada orang di dalam sana atau tidak.


"Pada kemana mereka tengah malam ini? Tumben sekali tidak ada satupun tanda-tanda kehidupan di dalam sana," pikir Alice yang merasa heran.


Ketika fokus melihat ke bagian dalam ruangan, terdengar langkah kaki yang perlahan mendekat, dirinya merasa was-was dan tanpa menoleh sedikitpun, dengan keahliannya di bidang beladiri, Alice tanpa aba-aba langsung memberikan pukulan mautnya.


Brak.


Pukulan bertubi-tubi dilayangkan kepada dua orang yang berniat mengerjainya, karena kondisi penerangan yang kurang membuat kedua wajah itu tidak terlihat dengan jelas.


"Berhenti, Detektif!" pinta salah seorang dari mereka.


Suara yang sangat dikenal oleh Alice, dirinya langsung mencari penerangan dengan cahaya handphonenya. Betapa kagetnya melihat jika Ronald dan detektif Brian telah babak belur dibuatnya, bukan hanya itu, sekujur tubuhnya terkena oleh pukulan maut Alice.


"Maaf," ujar Alice penuh rasa bersalah.


"Gila pukulannya, hingga kami berdua ini babak belur!" ucap Ronald memegang pipi kanannya yang sudah memar.


"Heheh, salah sendiri. Siapa suruh ngagetin," ucap Alice membantu Ronald untuk berdiri.


Mereka bertiga menghentikan perdebatan singkat dan fokus pada masalah yang harus diselesaikan tengah malam ini, toh tidak ada yang salah juga kok. Mereka masuk ke satu ruangan yang sama.


Ruangan yang penuh dengan barang-barang elektronik kegemaran Ronald, bahkan dirinya lebih mencintai barang-barang itu dibandingkan seorang wanita yang akan menemani hari tuanya.


"Gila, gokil banget ruangan lo ini, Ron. Penuh dengan hal-hal yang sangat gue benci," ujar Alice penuh kagum dengan ruangan yang ia masuki.


"Itu nyindir apa gimana?" tanya Ronald yang mempersilahkan kedua tamu pentingnya untuk duduk, sembari dirinya meracik kopi yang biasa mereka minum.

__ADS_1


"Seperti biasa yah, Ron!" pinta Detektif Brian.


"Sip, Detektif. Oh yah, aneh sekali jika kita mendapatkan kasus tengah malam seperti ini," ujar Ronald sembari menyajikan kedua kopi untuk dua detektif seniornya.


"Hmm, kamu benar sekali. Sangat aneh bahkan terlalu aneh," timpal Alice yang menyeruput hidangan kopi buatan Ronald.


"Tidak ada yang aneh dalam kehidupan ini, toh kita mana tahu kasus akan terjadi kapan dan di tempat yang mana. Tugas kita hanya menyelesaikan kasus tersebut," ujar Detektif Brian yang fokus pada layar ponselnya.


Ronald dan Alice mengangguk setuju, mereka menghabiskan lima belas menit dengan saling bincang satu sama lain.


"Oh, yah. Saya dengar kamu mendapatkan kasus rumit di sebuah kampus," ujar Detektif Brian, dirinya penasaran dengan pria yang bersama Alice, bahkan hingga berhasil membuat gadis yang tidak pernah ia lihat menangis itu malah meneteskan air matanya.


"Hmm, sangat rumit dan merepotkan!" timpal Alice.


Dirinya tidak ingin berada di kampus itu terlalu lama, terlebih jika harus mengingat sepanjang waktu akan bertemu dengan pria yang menyebalkan, yang tidak lain adalah mantan kekasihnya sendiri, yaitu Prince.


Apalagi besok mereka ada acara kampus, padahal dirinya menolak sekali untuk ikut acara membosankan seperti itu, hanya saja Prince malah memaksa untuk ikut bergabung.


'Jika bukan karena penyamaran ini, aku tidak mau ikut!' batinnya.


"Huff,"


Detektif Brian semakin penasaran dan curiga dengan kehidupan baru Alice, dirinya berniat akan mengikuti semua gerak-gerik yang dilakukan oleh Alice. Toh ia juga sudah tahu, jika besok Alice memiliki acara di kampusnya, dia bisa menyamar besoknya.


Nasib baik seminggu yang lalu, Ronald telah selesai merakit pakaian penyamarannya.


"Apakah masih belum ada tanda-tanda jika kita akan memulai penyelidikan ini?" tanya Alice yang mulai bosan, sudah lebih dari satu jam mereka bertiga menunggu tanpa kepastian.


"Sabarlah, kita hanya tinggal menunggu instruksi berikutnya. Kamu selalu tidak sabaran dalam semua hal," ujar detektif Brian yang tengah fokus membaca satu majalah.


Ronald yang tidak ingin menjadi penonton gratis antara perdebatan yang terjadi, dirinya berniat mengajak Alice untuk melihat koleksi barunya, beberapa hal-hal luar biasa yang sudah ia temukan, pasti akan membuat jiwa penasaran seorang Alice meronta-ronta.


"Mau ikut dengan saya,. Detektif?" tanya Ronald.

__ADS_1


Dengan memasang wajah penasaran, dirinya bangkit dan mengikuti langkah Ronald. Mereka menuju ke satu ruangan yang ternyata tersimpan dengan sangat baik.


"Hebat juga, di ruangan ada ruangan lainnya," puji Alice.


Memang tidak perlu diragukan lagi, jika Ronald titisan seorang profesor luar biasa, baru di usia dua puluh tahunan, tapi sudah banyak penemuan yang berguna dan membuat namanya melambung tinggi sebagai profesor muda.


"Keren sekali, Ron. Ini semua benar-benar luar biasa," puji Alice.


"Heheh, terima kasih. Oh yah, saya juga penasaran bagaimana penyelidikan Anda di sana, apakah semuanya berjalan dengan baik?" tanya Ronald, mereka berbincang-bincang hangat sembari terus menelusuri satu ruangan penuh hasil mahakarya Ronald.


"Yah, begitulah Ron. Dalam kasus dan penyelidikan, pasti banyak hal yang sangat membosankan!" jawab Alice.


"Apa ini ada sangkut pautnya dengan pria itu?" tanya Ronald.


"Pria? Pria yang mana?" tanya Alice.


"Pria yang kita tolong di gubuk tua itu, dan pria yang telah berhasil membuat seorang Detektif Alice meneteskan air mata," Ronald mempertegas kembali ucapannya.


"Oh, maksud kamu dia. Hahaha, bagaimana tidak menangis coba, dia itu bagian dari masa laluku, Ron. Oh yah, hanya kamu yang aku beritahu tentang dia, jadi tolong jaga rahasia ini dengan baik," ucap Alice.


Ronald memang sering menjadi tempat rahasia terbaik Alice, semua masalah yang terjadi dalam hidupnya, pasti Ronald akan mengetahui juga.


"Baiklah, Detektif. Anda bisa mempercayai saya untuk kasus ini, saya sangat penasaran dengan pria itu. Siapa dia? Dan apa hubungannya dengan Anda dan masa lalu Anda?" tanya Ronald yang diam-diam suka pada Alice, hanya saja Alice telah lebih dulu menganggap nya sebatas adik, mungkin posisi itu tidak pernah berubah,. tapi Ronald masih sangat berharap posisi itu berubah seiring waktu nantinya, dari seorang yang dianggap adik menjadi seorang yang dianggap kekasih.


"Nama pria itu adalah Prince, dia mantan kekasih saya!" ujar Alice dengan senyuman kecut di wajahnya.


Ronald yang mendengar kaget, tapi dirinya berusaha untuk santai, toh akhirnya ia tahu siapa pria itu dan apa hubungannya dengan Alice.


Sekalipun hatinya begitu pilu mendengar ternyata seorang Detektif Alice telah memiliki dambaan hatinya, dan mereka akan sering bertemu dan berinteraksi, tidak menutupi kemungkinan benih cinta itu akan tumbuh kembali.


"Kamu kenapa, Ron?" tanya Alice yang heran ketika Ronald hanya diam saja.


"Oh, tidak. Saya hanya tengah memikirkan, apakah kita belum mendapatkan perintah akan kasus malam ini," jawab Ronald.

__ADS_1


"Hmm, kamu benar. Sudah sangat lama tapi kita masih belum mendapatkan surat perintah," timpal Alice setuju.


'Seandainya Anda tahu, Detektif. Jika saya tengah cemburu pada pria yang bernama Prince itu,' batin Ronald berusaha tegar di hadapan gadis pujaannya.


__ADS_2