Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.

Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.
Episode 38/ Simulasi Yang Menguji Nyali.


__ADS_3

Episode 38/ Simulasi Yang Menguji Nyali.


"Jangan gila, apa Anda ingin bunuh diri sekarang? Ini sungguh berbahaya, dan bisa-bisanya Anda mengajak saya untuk melakukan tindakan konyol ini!" Alice kesal dengan simulasi yang telah tersedia di depan matanya.


"Sudahlah, tenang saja. Simulasi ini hanya seperti gigitan nyamuk, dan tidak akan merasakan sakit kecuali hanya mendapatkan sedikit bekas," balas Pak Fardi dengan santai, dirinya seakan memang ingin bunuh diri dengan cara menyakitkan.


Alice tidak mengerti dengan jalan pikir seorang Pak Fardi, simulasi yang terasa nyata, banyak benda-benda tajam yang berkeliaran di bawah sana, dan bisa-bisanya pria ini mengatakan, rasa sakitnya hanya seperti gigitan nyamuk.


"Tenanglah, Alice. Ingat saja kuncinya, tetap tenang, maka semua masalah di simulasi ini akan berhasil kamu lewati," saran Pak Fardi yang masuk begitu saja ke rongga telinganya, seakan ujian di simulasi ini sangat berat, jika ia melakukan satu kesalahan saja, maka semuanya akan berakibat fatal, bisa-bisa tubuhnya yang dicincang hebat oleh semua benda-benda tajam itu.


Pak Fardi tahu jika Alice masih sangat gugup untuk memulai simulasi berat ini, namun hanya ini satu-satunya cara agar Alice bisa mengerti jika bahaya yang tengah ia lawan bukan masalah sederhana, simulasi ini hanya 1 persen dari 100 persen kekejaman yang akan dilihat oleh Alice dan mungkin yang akan dirasakan oleh gadis ini.


Dan Pak Fardi sangat menolak hal itu terjadi, baginya orang asing yang tidak terlibat dalam kasus ini di masa lalu, tidak seharusnya ikut untuk membasmi semua yang masih belum tuntas, apalagi seorang wanita.


Namun, Alice yang sudah ia peringati untuk tidak ikut campur, masih terus ngeyel dan akan ikut sampai kasus ini selesai, jelas kekhawatiran Pak Fardi semakin memuncak, dia yang tidak ingin ada korban baru selama pemecahan kasus ini, justru gadis malang yang tidak berdosa, gadis malang yang tidak tahu apa-apa, justru dia yang ditugaskan untuk menuntaskan kasus ini.


Tapi, ketika melihat kegigihan dan ketulusan seorang Alice, dirinya akhirnya membiarkan gadis ini untuk ikut campur dan akan membantu dalam penuntasan terhadap kasus yang masih abu-abu, entah sampai kapan ini semua akan berakhir, namun yang pasti Alice sudah masuk ke dalam lembah berbahaya, yang bahkan nyawanya saja sangat terancam, satu detik, semua ancaman seakan terus menyerang tanpa henti.


Dan hal itulah yang sebenarnya di takutkan oleh Pak Fardi, dirinya yang juga tengah melakukan penyamaran di tempat yang sama dengan Alice, membuat ancaman besar seakan mulai menyerang perlahan-lahan.


Sudah seminggu lebih, ia habiskan untuk memikirkan nasib Alice yang tengah dalam terancam, musuh-musuh itu tidak lagi mengincar nyawanya, mereka malah tertarik untuk menghabisi dengan kejam gadis malang yang terjebak di dalam dunia bahaya ini.


Sungguh tidak bisa ia bayangkan, seorang gadis yang masih berusia du puluh tahunan, justru akan terancam.


'Huh, tidak akan aku biarkan hal itu terjadi. Cukup hanya sebatas mimpi buruk!' batin Pak Fardi.


"Apa kamu sudah siap untuk menghadapi ujian simulasi ini?'' tanya Pak Fardi, dirinya melihat jika Alice masih belum sanggup.

__ADS_1


Jika ia bisa memutuskan sendiri, maka sudah pasti tidak akan mau mengajak Alice untuk ikut dan mencoba simulasi berbahaya ini.


Namun itulah ujian pertama sebelum mereka bersama-sama bertempur di medan perang, dan akan memutus semua rantai kejahatan.


"Ingat saja kunci yang telah saya katakan itu, kamu hanya perlu tenang dan melakukan hal yang saya suruh. Tetap fokus pada satu hal, jangan biarkan otak kamu bercabang!" titah Pak Fardi.


"Hmm, saya hanya tidak yakin bisa melewati ini semua. Jujur, ini kali pertama saya diharapkan dalam situasi seperti ini, apakah ini yang akan terjadi?" tanya Alice yang menatap dengan wajah pucat pasi ke arah Pak Fardi.


Pak Fardi melepas kembali semua hal-hal yang sudah terpasang di tubuhnya, sepertinya sore ini bukan hari baik untuk Alice dalam melewatinya uji coba pertamanya.


"Sepertinya kamu masih harus belajar lebih banyak lagi, Alice. Ketahuilah, jika kasus yang kamu hadapi ini tidak sama seperti kasus yang pernah berhasil kamu lewati. Kasus ini terlalu berat, simulasi ini saja sudah berhasil membuat kamu sepertinya ini, apalagi jika kamu dihadapkan ke situasi yang sesungguhnya, entah apa yang akan terjadi. Mungkin kamu akan menyerah sebelum berperang, dan sekarang katakan, apa kamu akan mengangkat bendera putih? Jika iya, maka kita bisa kembali, dan berhenti untuk melakukan penyamaran yang tengah kamu lakukan disana!"


"Simulasi ini saja tidak bisa kamu lewati, apalagi jika kamu berhadapan langsung nantinya. Sekarang putuskan semuanya sore ini, jika kamu masih mau lanjut, maka pastikan kamu harus lolos terhadap simulasi ini. Namun, jika kamu memilih untuk tidak lanjut, maka kita bisa kembali. Tentukan jawaban apa yang kamu pilih Sekarang!" ucap Pak Fardi menatap serius kepada Alice.


Alice sudah pasti tidak ingin menyerah begitu saja, dia yang sudah terlanjur penasaran dengan semua ini, malah harus berhenti sebelum rasa tuntasnya berakhir, benar-benar bukan ciri khas seorang Alice. Namun, untuk saat ini, ia memang belum memiliki nyali yang kuat untuk menghadapi simulasi yang tertera di hadapannya.


Alice terlihat menghela nafas panjang nya, dia harus bisa menentukan sebuah pilihan tepat, namun dia juga harus mau mengorbankan banyak hal nantinya, jika terus memilih lanjut, harus melewati simulasi ini untuk pertama kali, dan pasti akan banyak kejutan kejutan yang lebih berbahaya kedepannya.


"Saya akan tetap memilih lanjut, namun simulasi ini masih harus Anda jelaskan, tidak mungkin saya bertarung, namun taktik nya saja saya tidak ketahui. Bagaimana?" tawar Alice yang membuat kerut Pak Fardi terlihat jelas.


Pikirannya, Alice akan memilih berhenti sebelum berperang, toh simulasi ini saja sudah sangat mencekam, dan rasanya tidak mudah untuk Alice akan melewati hal-hal di depan sana, jika ia memakai lulus terhadap simulasi ini.


Namun, dengan kegigihan Alice yang pantang mundur sebelum menang, dan melihat gaya tawar menawar yang ia lakukan, Pak Fardi sedikit yakin, sekalipun masih belum sepuluh persen, rasa yakinnya bisa memuaskan Pak Fardi, apakah Alice layak atau tidak.


"Baiklah, jika kamu sendiri yang memilih untuk lanjut, saya terima jawaban kamu itu. Namun pastikan kamu memiliki mental yang jauh lebih kuat lagi, simulasi ini baru awal, jika kamu memang berhasil, maka simulasi berikutnya akan jauh lebih berbahaya, kamu harus sanggup untuk melewatinya nanti, jangan sampai kamu putus di tengah jalan. Apakah kamu akan mau terus melanjutkan ini semua? Pikirkan jawabannya sekarang, saya tidak ingin kamu mati sia-sia sebelum kamu berhasil merasakan sensasi bahaya yang sesungguhnya!" ucap Pak Fardi yang masih memberikan ruang berpikir untuk Alice.


"Jika kamu saja masih ragu akankah bisa melewati simulasi ini, bagaimana mungkin saya bisa percaya kamu akan mampu. Jika ragu, lebih baik berhenti!" ucap Pak Fardi kembali duduk di kursi roda, memang kesehatannya masih belum baik, namun setidaknya ia tidak mungkin akan terus duduk disana dan menghabiskan hari-harinya.

__ADS_1


"Saya memang masih ragu sekarang, namun bukan berarti keraguan saya bisa melemahkan jiwa semangat saya. Tenanglah, saya tidak peduli dengan nyawa saya yang akan melayang ketika melewati simulasi ini, namun pastikan saja, semuanya bisa Anda jelaskan dengan baik. Itu sudah cukup membantu daripada hanya mengasihani saya seperti ini, saya tahu jika Anda tengah mencemaskan saya, namun bukan hal itu yang saya inginkan. Jelaskan semuanya dengan baik, maka saya akan mengerti, dan saya pastikan saya bisa melewati simulasi ini!" kata Alice tanpa ragu, dia menatap kepada Pak Fardi dengan penuh keseriusan, ucapan yang ia keluarkan benar-benar menunjukkan petarung sejati.


Lagipula tidak ada batasan antara seorang pria dan wanita, mereka semua sama. Jika memang berhasil kenapa tidak ingin mencoba, kasus ini bukan hal yang perlu ditakuti oleh Alice, namun janjinya kepada semua oranglah yang membuat ketakutan Alice akan memuncak.


"Baiklah, jika begitu kita akan kembali ke tempat ini besok. Sekarang kita kembali ke apartemen kamu, dan akan saya jelaskan tentang semua hal yang perlu kamu ketahui, baik itu dari Simulasi awal hingga taktik yang perlu kamu lakukan. Saya bisa melihat jika kamu pasti akan mampu melewati ini semua, kamu hanya butuh sedikit bantuan di awal. Namun, yang paling terpenting tetap fokus pada satu tujuan, jangan biarkan otak kamu bercabang memikirkan hal lain! Jika kamu telah membiarkan otak kamu bercabang, maka sudah pasti kamu akan gugur dengan sia-sia nantinya!" ucap Pak Fardi.


Alice mengerti maksud dari perkataan jangan biarkan pikirannya bercabang, namun ia masih ragu, apakah ia bisa memastikan pikirannya akan tetap tertuju kepada satu tujuan? Sementara ia tidak bisa membiarkan orang lain menderita.


"Baiklah, saya akan mencobanya. Tapi saya tidak bisa menjanjikan apa itu semua akan berhasil untuk saya lakukan," ujar Alice.


"Jika begitu, kamu tidak layak untuk menuntaskan kasus ini!" ucap Pak Fardi yang menatap serius kepada Alice yang memberikan respon heran, kenapa ia malah dikatakan tidak pantas untuk melewati kasus ini, hanya dari ucapan yang mengatakan jika dirinya belum bisa memastikan akan bisa memikirkan satu hal saja.


"Kenapa?" tanya Alice yang masih penasaran.


"Kamu bertanya kenapa? Sekarang coba pikirkan, apakah kamu akan layak untuk melewati kasus ini, namun kamu sendiri masih memikirkan orang lain. Dalam sebuah kasus berbahaya tingkat akut, kamu tidak boleh memikirkan keselamatan orang lain, mereka bisa saja kamu lihat mati secara tragis dan kamu tidak ada kesempatan untuk memikirkan mereka!"


"Jika kamu memang ingin menuntaskan kasus ini, maka hal yang pertama kali harus kamu ingat adalah, nyawa itu hanya ibarat seorang nyamuk, sekali ditangkap, maka kamu tidak akan melihatnya lagi. Jika kamu tidak ingin korban yang jauh lebih banyak, maka kamu harus biarkan satu bahkan sepuluh nyawa melayang nantinya!" ucap Pak Fardi yang membuat Alice tercengang.


Dirinya tidak mungkin membiarkan orang lain mati di hadapannya, dia pasti akan lebih memikirkan nyawa mereka dibandingkan nyawanya sendiri.


"Kamu harus ingat, Alice. Dunia ini terlalu kejam bagi mereka yang bertindak layaknya pahlawan sejati, mempertaruhkan nyawa sendiri untuk memastikan orang lain aman, itu tidak akan bisa kamu gunakan dalam kasus kali ini!" ucap Pak Fardi yang berhasil membuat Alice diam tak bergeming.


'Apa aku akan sanggup melakukan itu semua nantinya?' batin Alice yang mulai ragu, akankah ia melanjutkan diri untuk menuntaskan kasus yang tengah dihadapi, atau memilih mengibarkan bendera putih, sebagai pertanda berhenti sebelum berperang.


Selamat Kamis dan selamat menjalankan aktivitas semuanya, semoga membawa berkah yang baik.


Tetap semangat…

__ADS_1


Dan terima kasih bagi yang telah mampir.


__ADS_2