
Episode 36/ Kesepakatan dan Sebuah Penawaran.
Dua orang ini masih berada di ruangan yang sama, sorot mata mereka menandakan begitu banyak pertanyaan, dimulai dari tatapan mata Pak Fardi, dosennya sendiri. Jangan sampai dirinya tahu tentang penyamaran yang dilakukan oleh Alice di kampus, tapi dibaca dari sorot mata itu, sudah menandakan jika dirinya mengetahui hal yang seharusnya tidak diketahui dalam waktu dekat.
Alice masih memikirkan tentang apa yang tengah dipikirkan oleh dosennya ini, jangan bilang jika dia datang ingin membuat sebuah kesepakatan yang jelas tidak di inginkan oleh Alice. Pak Fardi meraih pulpen yang terletak tidak jauh dari tempat duduknya saat ini, Alice terus memperhatikan hal apa yang akan dilakukan olehnya, dirinya terlihat tengah menulis sesuatu di lembaran kertas yang ia robek.
Pak Fardi melangkah kembali dan duduk berhadapan dengan Alice, dengan langkah pasti lembaran kertas itu diterima oleh Alice, dan sudah tercantum sebuah kesepakatan. Alice kembali menatap kepada dosennya yang terlihat santai dengan menyeduh kopi buatannya, raut wajah tenang yang begitu menyebalkan, bagaimana mungkin ada kesepakatan tanpa kejelasan.
‘’Tidak, saya tidak mau!’’ ujar Alice, dirinya langsung merobek kertas yang diberikan oleh dosennya dan melangkah ke jendela kamarnya.
‘’Hanya ada dua pilihan yang dapat Anda lakukan sekarang, tanda tangani atau semuanya akan terbongkar!’’ ucapnya dengan masih duduk disana.
Alice menatap dengan penuh kebencian kepada Pak Fandi, mata kemarahan itu berganti menjadi tangis yang tak berderai, dirinya menjadi sangat lemah dan tidak sanggup untuk menopang tubuhnya sendiri, tubuh yang lemah itu terjatuh ke lantai dengan isakan tangis yang semakin kencang.
Apakah Pak Fandi akan peduli dengan suara tangisan itu? Tentu tidak, sekalipun dirinya mengulurkan selembar tisu, itu tidak menyurutkan niat nya agar Alice menandatangani hal yang ia minta. Alice masih menangis sesegukan, air matanya sudah seakan kering, mau bagaimanapun ini sebuah realita kehidupan.
‘’Tidak ada gunanya air mata itu sekarang, tidak ada! Sekarang pikirkan tentang masa depan dibandingkan dengan memikirkan masa lalu yang sudah menjadi buku lama, lebih baik kamu pikirkan tentang bagaimana kehidupan kamu sendiri!’’ ujar Pak Fandi yang menatap jauh ke luaran sana.
‘’Berhenti memikirkan nasib orang lain, sementara nasib kamu sendiri sedang dalam bahaya. Jangan katakan jika hanya karena kejadian masa lalu, kamu berani mengambil keputusan berat ini? Sekarang pikirkan ada berapa nyawa orang lain yang tengah kamu usahakan untuk hidup, sementara nyawa kamu sendiri tidak pernah kamu pikirkan!’’ ucap Pak Fandi, dirinya menoleh kembali kepada Alice yang masih sangat rapuh, dirinya hanya menunduk seakan tidak mampu menampung beban berat ini.
Alice berusaha bangkit berdiri, semua yang sudah ia mulai harus segera ia selesaikan. Dirinya melangkah kepada Pak Fardi dan berkata, ‘’Jika Anda sudah tahu tentang semua ini, kenapa Anda masih ingin mempersulit semuanya? Kenapa!’’
‘’Apakah tidak ada satu kelembutan pun yang tersisa dalam hati Anda? Kenapa masih ingin menyulitkan kehidupan saya? Saya sendiri sudah sangat rapuh, dan sekarang semua itu sudah terlanjur terjadi, saya harus menyelesaikan semuanya sebelum terlambat!’’ ujar Alice menatap tajam wajah Pak Fandi.
‘’Jika begitu, kenapa kamu ingin memulai semua hal yang sudah jelas ancamannya? Kamu sendiri yang membuat semua alur ini semakin rumit, dengan cara kamu ikut campur maka semuanya akan berbahaya untuk keselamatan kamu sendiri. Lebih baik sudahi semua ini sebelum terlambat, jangan pikirkan nasib orang lain sebelum kamu memikirkan nasib kamu sendiri!’’ kata Pak Fardi.
‘’Tidak, saya tidak bisa! Semua ini sudah berlangsung, dan tidak mungkin harus dihentikan begitu saja! Jika tidak ada urusan lagi, cepat keluar dari sini dan jangan pernah kembali jika hanya ingin membuat saya menandatangani kesepakatan itu. Berkali Pun Anda datang, saya tidak peduli! Yang pasti hanya jawaban sama yang akan saya berikan, tidak ada tawar menawar dalam urusan nyawa!’’
Karena Pak Fardi tidak ingin meninggalkan ruangan itu, dengan terpaksa Alice mengusirnya secara kasar, dosennya itu masih berusaha untuk membuat Alice berhenti ikut campur dalam urusan yang berbahaya dan akan mengancam keselamatannya sendiri.
__ADS_1
Namun apa boleh buat, semuanya sudah terlanjur. Tidak mungkin Alice berhenti di tengah jalan, dirinya akan terus berjuang sekalipun dirinya tahu jika harga mahal untuk semua hal yang telah terjadi adalah kehilangan nyawanya dan pergi untuk selamanya dari dunia yang begitu kejam.
Sementara itu, Pak Fardi sudah berada di motornya, dia hanya tidak habis pikir dengan gadis itu, kenapa malah lebih sayang nyawa orang lain dibandingkan nyawanya sendiri. Padahal ini semua masih belum terlambat, Alice bisa saja keluar dari masalah besar ini saat dirinya mau berhenti dan menutup kasus yang tengah ia tangani.
Tapi apa boleh buat, gadis itu terlalu keras kepala, hingga membuat semua yang ada di depan matanya itu seperti permainan, sementara dirinya tahu jika tengah berada dalam dunia nyata. Satu nyawa itu sangat berharga dan tidak aka nada yang bisa membelinya, dan gadis itu juga tidak punya nyawa tambahan lain, jika dia terus menerus ikut campur, maka semuanya akan lenyap dalam seketika.
Pak Fardi begitu khawatir kepada Alice, dia hanya tidak ingin gadis malang itu menjadi korban berikutnya. Dengan sikap keras kepalanya ini, akan menuntun hal-hal baru akan bermunculan, dan Pak Fardi berusaha mencegah agar hal itu tidak terjadi. Kecemasannya akan kisah suram membuat dirinya ketakutan, hingga detik ini ia melihat ada nyawa yang berharga tengah berada dalam ancaman besar.
Dirinya kembali ke apartemennya sendiri dan akan memikirkan cara agar Alice tidak melanjutkan misi berbahaya ini, dia tahu jika semua yang telah terjadi dan akan terus mengulang cerita sama, cerita yang tidak akan ada habisnya. Dirinya kembali melangkah ke dapur dan membuat kopi, sudah tiga cangkir kopi yang ia minum malam ini, dan itu belum membuatnya tenang.
Tidak mungkin matanya akan bisa terpejam, ketika bahaya besar akan siap mengintai. Dirinya meneguk hingga tak bersisa kopi dan ampasnya, setelah itu ia meminum kopi untuk yang keempat kali dalam malam ini. Rasanya ia ingin muntah darah ketika menyaksikan ancaman itu terjadi, tidak ini semua tidak boleh terjadi, dia yakin masih ada cara lain yang bisa ia lakukan.
‘’Gadis itu sungguh keras kepala, tidakkah ia berpikir jika hal yang dirinya lakukan ini sudah kelewatan batas? Apa gadis itu tidak sayang dengan nyawanya? Kenapa dalam situasi mendesak dan terancam ini, gadis itu malah memikirkan orang lain dibandingkan dirinya sendiri!’’ geram Pak Fardi yang melangkah ke meja kerja dan akan berusaha untuk menyelamatkan Alice dari bahaya yang akan datang.
Dirinya lembur hingga tengah malam dan masih belum menemukan titik terang, tidak mungkin membiarkan Alice untuk bertindak seorang diri, akhirnya Pak Fardi memutuskan untuk kembali ke apartemen Alice dan akan berusaha membujuknya untuk menandatangani surat yang ia berikan dan berhenti bertindak layaknya seorang pahlawan di siang bolong.
‘’Tidak bisa dibiarkan, semua usaha sudah aku lakukan, namun hasilnya tidak ada yang memuaskan. Keselamatan gadis itu sudah berada di ujung tanduk, dan dirinya masih terus memikirkan orang lain. Benar-benar menyebalkan, aku harus bisa terus membujuknya untuk berhenti sebelum terlambat!’’ gumam Pak Fardi yang tengah mengendarai motornya.
‘’Kenapa aku malah gegabah hari ini? Kenapa aku sampai tidak menyadari ada komplotan musuh yang berdatangan? Akh, sial! Mereka semua tidak boleh tahu tentang alamat gadis itu. Aku harus bisa mengalihkan semuanya sekarang,’’ gumam Pak Fardi yang dapat melihat dari kaca spion motornya, jika ada banyak komplotan musuh yang terus mengikutinya.
Tidak ada cara lain kecuali melakukan perlawanan, Pak Fardi memilih untuk mencari tempat yang jauh dari apartemen tempat tinggal Alice, dan dirinya juga mencari tempat yang jauh dari keramaian. Dirinya tidak menginginkan ada nyawa lain yang melayang hari ini, dan sekarang dia sudah harus berhadapan dengan komplotan musuhnya, 1 banding 10, kekuatan yang tidak sama. Jika kondisi tubuh Pak Fardi fit, mungkin 10 musuh itu tidak akan menjadi masalah baginya. Tapi dia yang tidak tidur dalam seharian, mana mungkin memiliki kesempurnaan untuk bertarung.
Seberapapun Pak Fardi melayangkan pukulan, dirinya akan kalah telak dengan kekuatan musuh. Pak Fardi sudah babak belur dan dirinya juga sudah tergeletak begitu saja di jalanan aspal yang sudah rusak, tubuh yang penuh luka, seakan siap untuk menyambut kematian.
Namun Tuhan berkata lain, Tuhan masih sayang dengan nyawa Pak Fardi, muncul bantuan yang tidak terduga yang tengah berusaha melawan semua musuh. Seorang gadis yang ia kenal, dan berusaha untuk berhenti melakukan kasus itu, dia yang tengah mati-matian menyelamatkan nyawa Pak Fardi.
Entahlah, bagaimana kelanjutan kisah dan perjuangan Alice dalam menghadapi musuh, Pak Fardi tidak mengetahui kelanjutan kisahnya, dia sudah tidak sadarkan diri dan ketika terbangun, dirinya sudah berada di ruangan lain.
Pak Fardi mulai sadarkan diri, kesehatannya pun mulai pulih, dirinya berusaha memastikan ada dimana dia sekarang, karena hal terakhir yang ia ingat hanya tentang perkelahian itu dan Alice tengah berusaha menyelamatkan seorang diri, tanpa bantuan dari pihak markas.
__ADS_1
‘’Awhg!’’ teriak rintihan Pak Fardi, tubuhnya sangat sakit sekali, rasanya semua tulangnya mau runtuh dalam detik ini juga.
‘’Jangan terlalu banyak bergerak! Luka dalam Anda sangat berat dan akan menghabiskan waktu yang sangat lama untuk kembali sembuh dan bisa kembali bertarung, istirahatlah!’’ titah Alice yang mendekat.
Pak Fardi bisa melihat sendiri luka yang dialami oleh Alice, sekalipun tidak seberat dirinya tapi luka itu akan sangat menyakitkan bagi seorang wanita, yang kodrat kehidupannya lemah. Alice mendekat dengan membawa semangkuk air hangat yang akan ia gunakan untuk melakukan pengobatan gratis terhadap luka yang dimiliki oleh Pak Fardi.
Alice menuntun Pak Fardi untuk bisa duduk, dirinya mengobati luka yang dimiliki Pak Fardi dengan sangat telaten, sekalipun Pak Fardi merasakan sakit ketika Alice terus mengobatinya.
Tiga puluh menit telah berlalu, dan Alice sudah selesai untuk membersihkan sisa darah yang mengeras di tubuh Pak Fardi. Dirinya melangkah keluar dan akan membuang sisa air hangat yang ia gunakan, tanpa menoleh sedikitpun Alice melangkah ke dapur. Selang beberapa menit Alice terlihat kembali menghampiri Pak Fardi dengan membawa semangkuk bubur ayam yang baru saja matang.
‘’Sudah berapa lama saya tidak sadarkan diri?’’ tanya Pak Fardi ketika Alice menutup kembali gorden ruangannya.
‘’Sudah lebih dari enam jam, dan itupun belum ditambah dengan dua jam ketika Anda masih di lokasi kejadian!’’ balas Alice yang mendekat ke ranjangnya, tempat dimana Pak Fardi berada dengan kondisi lemah.
Alice mengambil sebuah kotak p3k dan akan membaluti luka di sekujur tubuh Pak Fardi, dengan sangat hati-hati dan telaten, dirinya mengobati luka itu, waktu terus berjalan dan sudah menghabiskan dua puluh menit, barulah semua luka yang dimiliki oleh Pak Fardi telah berhasil di baluti dan di obati oleh Alice.
Bubur ayamnya juga sudah mulai dingin, karena kondisi tangan yang tidak memungkinkan untuk menyuapi sendiri, dengan hati yang terpaksa Alice menyuapi bubur ayam ke mulut Pak Fardi. Sudah berjalan sepuluh menit dan semangkok bubur ayam sudah habis, dirinya kembali ke dapur untuk mengantarkan mangkok yang telah kotor, dan akan memberikan beberapa buah-buahan yang kebetulan ada di kulkasnya.
‘’Saya sudah terlalu merepotkan kamu,’’ ucap Pak Fardi ketika Alice mulai mengupas manga.
‘’Tenanglah, ini hanya stok bulanan yang masih tersedia. Lebih baik pikirkan bagaimana agar Kesehatan Anda bisa kembali pulih dengan cepat,’’ saran Alice yang mulai menyuapi Pak Fardi potongan manga.
Pak Fardi akhirnya mengerti arti kelembutan yang telah diberikan oleh Alice, dirinya juga mengerti alasan kenapa Alice lebih mementingkan nyawa orang lain dibandingkan dengan nyawanya sendiri, setelah kejadian buruk yang menimpanya, ia sadar jika semua ini ia lakukan tulus dan tanpa terikat dengan hal yang pernah terjadi di masa lalu.
‘’Kenapa kamu malah memilih menyelamatkan nyawa saya, sementara kamu sendiri mendapatkan luka ini? Kamu bisa lari dan membiarkan saya yang mati di tempat,’’ ujar Pak Fardi ketika Alice masih setia menyuapinya dengan aneka potong buah-buahan.
‘’Entahlah, entah kenapa saya harus khawatir pada Anda. Tapi yang pasti saya tidak bisa melihat orang lain mati terbunuh secara tragis di hadapan saya sendiri, itu akan menjadi luka yang tidak ada obatnya dan penyesalan yang akan membuat hidup saya menderita nantinya!’’ ujar Alice dengan menyulingkan sedikit senyum di wajah yang memiliki luka, sebuah bukti jika dirinya tidak khawatir akan nyawanya, benar-benar pahlawan sejati.
‘’Setelah melihat ini semua, saya jadi memikirkan kesepakatan yang saya tawarkan waktu itu. Saya telah berpikir dan memutuskan jika tidak semua kisah lama akan berakhir sama. Melihat semua yang terjadi hari ini, telah berhasil membuka mata saya dan telah berhasil membuktikan diri kamu memang seorang pahlawan, seorang yang tidak gentar untuk menyelamatkan nyawa orang lain, yang mana ketika situasi itu kamu bisa pergi dan membiarkan saya yang mati terbunuh,’’ ucap Pak Fardi dengan penuh rasa kagum kepada Alice.
__ADS_1
‘’Hmm, terima kasih atas pujiannya. Tapi pahlawan itu harus diakui bukan mengakui dirinya sebagai seorang pahlawan, hanya terus berusaha menciptakan perdamaian yang selalu diimpikan oleh semua orang, dengan cara itu kebahagian batin saya akan bisa terpenuhi!’’ Alice yang menatap luas kepada masa depan orang lain, tidak akan ada kata tangis yang terjadi selama dirinya masih hidup.