
Episode 37/ Dua Musuh yang Bekerja Sama.
Pak Fardi masih setia dirawat oleh Alice, luka yang dialaminya masih belum sembuh seutuhnya. Dan dia juga tidak dapat melakukan aktivitas berat apapun, hanya terbaring lemah di ranjang Alice. Dirinya sangat bosan seharian menghabiskan diri di atas kasur, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menunggu kedatangan Alice.
Yah dan Pak Fardi sudah terlanjur mengetahui hal yang belum waktunya ia ketahui, menjadi Tuti dan melakukan penyamaran, justru membuat permasalahan semakin berat dan runyam, apa boleh buat sekarang, semuanya sudah terlanjur diketahui oleh Pak Fardi.
Sepandainya orang menyembunyikan suatu hal, pasti bau nya akan diketahui juga, tidak ada yang namanya rahasia akan tersimpan rapi, apalagi rahasia dengan masa lalu yang belum selesai dengan tuntas.
Menunggu tanpa kepastian hal yang sungguh membosankan, dan terkadang kita tidak tahu sampai kapan hal itu akan terjadi, begitulah yang dirasakan oleh Pak Fardi, dirinya sangat bosan untuk terus berdiam diri dan menunggu kepulangan Alice. Dirinya masih ingin membahas tentang kasus bahaya itu, mau seberapapun mimpinya untuk membuat gadis yang tidak berdosa, terbebas dari permasalahan akar masa lalu, itu semua terlalu mustahil.
‘’Sudah lebih dari sepuluh menit, dan gadis itu masih belum ada disini!’’ pikir Pak Fardi yang tidak henti-hentinya terus menatap kepada jam yang terus berdetak.
Hingga langkah kaki masuk membuatnya menghela nafas lega, setidaknya orang yang ia tunggu sudah jelas masih hidup, tidak ada yang tahu kapan takdir kematian akan menghampiri. Terlebih Alice, dirinya selalu di intai oleh kematian dari semua musuh, dan hal itu akan membuat batin Pak Fardi tidak tenang ketika gadis malang itu terlambat untuk kembali.
‘’Kenapa kamu terlambat?’’ tanya Pak Fardi ketika Alice meletakkan ranselnya di atas meja.
‘’Huh, memangnya ada masalah jika saya terlambat datang? Apa ini semua karena Anda belum makan siang?’’ ucap Alice berlalu untuk mengambil semangkuk nasi dan lauk pauk.
Pak Fardi menghela nafas kasar, tidak kah mengerti Alice jika dirinya sangat khawatir tentang keselamatan yang terus akan mengalami bahaya besar. Alice sudah kembali dengan membawa semangkuk nasi beserta lauk pauk, dirinya terlebih dahulu mengganti kapas yang ada di kepala Pak Fardi, akibat benturan yang sangat keras ke lantai malah mengakibatkan kepalanya meninggalkan jejak kebiruan.
Alice mengganti perban yang lama dengan perban yang baru, dirinya memang bukan seorang dokter, untuk kasus seperti ini Alice masih bisa diandalkan, lagi pula tidak mungkin dia harus menghubungi dokter, bisa-bisa mereka akan meminta agar kasus ini diusut hingga tuntas.
‘’Nasib baik luka Anda ini masih bisa saya tangani, jika tidak maka masalah baru akan datang dan akan lebih runyam,’’ gumam Alice, dirinya sudah selesai memberikan perban dan akan menyuapi Pak Fardi.
‘’Terima kasih sudah mau merawat saya, Alice. Dan bagaimana keadaan di kampus?’’ tanya Pak Fardi.
Dirinya ingin mengenal Alice lebih baik, dan terkadang dia tahu jika mereka akan menjadi musuh akan ketidak cocokan pemikiran. Terlebih Alice tipe yang sangat sulit untuk didekati, butuh berbagai cara agar bisa membuat Alice nyaman dan dekat dengannya.
Sayangnya Alice bukan tipe yang mudah di dekati begitu saja, dia yang begitu jutek dengan semua pria, membuat Pak Fardi semakin penasaran. Terlebih karena kasus yang akan ia tangani berhubungan langsung dengan kasus yang pernah ia singgung di masa lalu.
‘’Kenapa Anda sangat aneh hari ini? Apakah ada trik yang akan terjadi?’’ tanya Alice yang masih focus untuk menyuapi Pak Fardi.
‘’Hahah, kamu berbicara apa. Saya hanya bosan jika harus menghabiskan sisa waktu berharga saya disini tanpa melakukan aktivitas apapun,’’ jawab Pak Fardi.
‘’Mencurigakan!’’ gumam Alice.
Dirinya segera mencuci bekas mangkuk makan Pak Fardi dan berniat akan menyelesaikan sedikit tugas kuliahnya. Pak Fardi yang melihat Alice fokus dalam mengerjakan tugas kampus merasa aneh, karena dirinya hanya melakukan penyamaran disana, tapi malah bertindak layaknya seperti seorang mahasiswa sungguhan.
__ADS_1
‘’Apakah kamu akan betah berada disana?’’ tanya Pak Fardi yang kebetulan sudah duduk di kursi roda.
Nasib baik Alice meminta bantuan Ronald siang ini, dirinya hanya melirik tanpa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Pak Fardi dan kembali fokus kepada tulisannya. Pak Fardi kesal dengan sikap Alice, tapi dirinya harus bisa menahan amarah dan kekesalannya, toh memang sulit menjinakkan Alice yang seperti singa betina.
‘’Apakah kamu perlu bertindak seperti mahasiswa sungguhan? Sementara lebih baik focus kepada penyelidikan!’’ ujar Pak Fardi yang mendekat ke meja belajar, tempat Alice berada.
‘’Daripada Anda hanya berbicara panjang lebar, lebih baik Anda bantu tugas saya ini! Sudah jelas tugas dia yang kasih, malah dengan enak meminta untuk tidak mengerjakannya sekarang, eh nanti malah di kasih hukuman di kampus!’’ geram Alice yang sudah 10 kali diberi hukuman berat oleh Pak Fardi.
Sementara dosennya ini baru teringat tentang tugas yang ia berikan hari ini kepada kelas Alice, dan memang Pak Fardi sengaja memberikan hukuman kepada gadis yang bersamanya, dia sudah curiga semenjak kehadiran sosok Tuti di kampus elite, yang mana hanya gadis cantik dan bertubuh modis yang bisa masuk kesana.
Tapi ketika melihat Tuti yang sangat gendut, dan pakaian longgarnya itu membuat rasa penasaran Pak Fardi tidak bisa tertahan. Ketika itulah Pak Fardi mulai menyelidiki Tuti, dirinya terus membuntuti semua kegiatan yang dilakukannya, hingga mencari tahu tentang kebenaran siapa gadis yang bernama Tuti.
Tidak butuh waktu lama, Pak Fardi hanya membutuhkan dua hari untuk melakukan penyelidikan terhadap gadis yang bernama Tuti, dan telah berhasil mengetahui jika orang dibalik Tuti adalah Alice, seorang detektif muda yang tengah naik daun, ditambah ia juga yang akan memecahkan kasus yang sempat tertunda.
Menunggu waktu yang tepat, Pak Fardi akan membuat penawaran dengan Alice, sayangnya penawaran yang ia berikan ditolak mentah-mentah begitu saja, dan lebih menyayangkan nyawa orang lain dibandingkan nyawanya sendiri.
‘’Sudahlah, tidak perlu diteruskan. Saya tidak akan menghukum kamu untuk tugas ini, lebih baik kamu ikut saya ke suatu tempat sekarang!’’ ucap Pak Fardi yang membuat Alice curiga.
‘’Tenanglah, saya tidak mungkin akan menyelakan orang yang telah berhasil membuat saya masih bernyawa. Tempat ini harus kamu ketahui untuk memudahkan penyelidikan yang tengah kamu hadapi,’’ Pak Fardi yang masih berusaha untuk meyakini Alice, jika dirinya akan membantu hingga penyelidikan berjalan dengan lancar.
Alice yang awalnya penuh dengan kecurigaan akhirnya menurut, toh tidak masalah jika dicoba, siapa tahu dengan berdamainya dua orang yang sebenarnya bermusuhan untuk mendapatkan gelar sebagai pencetus teori lama, dengan perdamaian yang terjadi di harapkan agar kasus masa lalu ini bisa cepat tuntas.
Dan alasan kenapa Pak Fardi dan Detektif Brian bersama dan terlihat akur, hanyalah sebuah kamuflase untuk memperebutkan gelar terbaik, tapi ternyata bukan Detektif Brian orang yang akan melakukan penyelidikan untuk kedua kalinya, justru orang baru dan gadis itu adalah Alice.
Mereka berdua tengah menuju ke lokasi yang dikatakan oleh Pak Fardi, Alice terpaksa mendorong kursi roda itu, awalnya ia sangat malas, namun mau bagaimanapun mereka memang harus bekerja sama, bantuan dari Pak Fardi memang dibutuhkan untuk pemecahan kasus, dengan mereka bekerja sama, maka informasi akan dengan mudah di dapatkan.
‘’Apakah masih jauh? Saya sudah sangat lelah untuk mendorong tubuh besar Anda!’’ ujar Alice, dirinya seakan olahraga saja, terlebih ketika melihat jika jalanan yang akan mereka lalui adalah pendakian.
Alice menjatuhkan tubuhnya ke lantai, mana mungkin ia akan sanggup mendorong kursi roda itu hingga ke atas, bisa-bisa ia kehabisan tenaga di pertengahan jalan nantinya. Pak Fardi hanya tersenyum ketika melihat Alice sudah menyerah, dirinya mengayuh kursi roda itu seorang diri ke arah kanan dan terlihat tengah mencari sesuatu di balik semak-semak.
Alice pun akhirnya mengikuti langkah Pak Fardi yang masih berusaha mencari sesuatu yang tidak penting di semak-semak, dirinya berusaha bertanya tentang hal apa yang tengah dilakukan, tidak ada jawaban kecuali memerintahkan Alice untuk tetap diam, dan jangan mengeluarkan suara apapun dan menutup telinganya.
Alice yang merasa heran hanya bisa mengikuti semua arahan yang dikatakan oleh Pak Fardi, dirinya tidak mengerti namun harus mengikuti semua arahan yang diberikan oleh Pak Fardi. Tidak lama, terdengar dentuman keras, selang beberapa detik kemudian jalanan mendaki itu seketika berubah dan menjelma bagaikan keajaiban.
Terdapat tangga setapak di sebelah ujung kiri dan tangga berjalan di sebelah ujung kanan, apakah Alice yang ketinggalan zaman sehingga tidak menyadari jika teknologi sudah terlalu canggih. Pak Fardi terlebih dahulu naik ke tangga berjalan, sementara ketika Alice hendak naik ke tempat yang sama, Pak Fardi melarangnya dan memerintahkan Alice untuk menaiki tangga biasa di ujung sana.
‘’What?! Apa-apaan ini, saya juga sudah capek harus mendorong tubuh Anda hingga kesini. Dan kenapa sekarang malah memerintahkan saya untuk kesana, apakah Anda ingin menghukum saya lagi?!’’ kesal Alice yang tidak terima dengan arahan dari Pak Fardi.
__ADS_1
‘’Ikuti saja semua arahan yang saya berikan, kamu akan menemukan hal penting disana!’’ ucap Pak Fardi yang sudah menaiki tangga berjalan itu.
‘’Ayo, cepat! Jangan sampai kamu terlambat lebih dari dua menit!’’ ancam Pak Fardi.
Jelas ancaman itu membuat Alice kesal, namun ia juga takut bahaya yang mungkin akan terjadi jika dirinya terlambat seperti yang dikatakan oleh Pak Fardi. Dengan tergesa-gesa dirinya berlari ke ujung sana, dan melihat sekilas kepada Pak Fardi yang sudah separuh perjalanan, sementara dirinya masih di bawah.
Dengan mengumpulkan semua kekuatan yang masih tersisa, dirinya berlari menaiki tangga untuk mengejar Pak Fardi yang sudah mendekati puncak. Lelah, tentu saja. Namun ia tidak boleh terlambat lebih dari dua menit, dan itu malah membuat larian Alice sangat kencang sekali, hingga membuat sisa waktu masih tersisa satu menit lagi.
‘’Huff,’’ Alice menghirup udara sebanyak-banyaknya, rasanya ia akan mati karena kehabisan oksigen.
‘’Akhirnya,’’ ujar Alice.
‘’Siapa suruh kamu bisa bersantai seperti ini!’’ suara Pak Fardi memecah ketenangan yang tengah berusaha dicuri oleh Alice yang sudah begitu kelelahan untuk berlarian mendaki tangga yang sangat banyak jumlah anak tangganya.
‘’Apa lagi sih! Kan kita sudah sampai di ujung!’’ kesal Alice yang bangkit berdiri.
Betapa sakitnya, ternyata kali ini masih ada tantangan baru yang harus ia lewati, memang bukan pendakian, namun penurunan suram, ditambah ada banyak benda-benda berbahaya di bawah sana, apa dia sudah gila mengajak Alice seakan berperang dengan kematiannya sendiri.
Seakan ada di tempat permainan saja, yang seakan nyawa tidak bernilai. Dirinya melirik kepada Pak Fardi yang berusaha berdiri, namun Alice melarang, luka yang dialaminya belum sembuh total dan jangan katakan jika dirinya akan ikut melompat ke bawah sana.
‘’Kenapa? Apakah kamu khawatir dengan saya, Alice?’’ tanya Pak Fardi, ketika tangan mereka bersentuhan.
‘’Jangan geer, saya hanya tidak ingin tulang-tulang kamu itu patah dan malah semakin merepotkan saya nantinya. Sekarang katakan, hal bodoh apalagi yang akan terjadi?’’ ujar Alice.
‘’Seperti yang kamu lihat sendiri, tidak perlu saya jawab dan jelaskan seharusnya kamu sendiri sudah paham!’’ Pak Fardi hanya tersenyum simpul.
‘’Apa kamu ingin membuat saya mati konyol disini, hah!’’ kesal Alice, dirinya sudah tahu maksud dari jawaban Pak Fardi.
‘’Hahah, membiarkanmu mati konyol seorang diri? Tentu tidak, Alice. Sekalipun kita bermusuhan dalam memperebutkan siapa yang terbaik dalam pemecahan kasus berbahaya itu, saya tidak akan berbuat curang dan tenang saja saya juga tidak sekejam itu!’’ jawab Pak Fardi dengan santai.
Justru tingkah Pak Fardi malah membuatnya semakin heran, jangan bilang jika mereka berdua akan melompat ke bawah sana, dan malah mati konyol secara bersama. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Dirinya tidak pernah mau mati konyol sebelum kasus yang ia tangani tuntas.
‘’Jangan gila yah! Ini semua terlalu berbahaya untuk dilakukan, dan saya telah berjanji kepada diri saya sendiri, untuk tidak mati konyol sebelum kasus itu selesai. Jika Anda bosan hidup, maka coba saja sendiri dan jangan pernah mengajak saya!’’ ujar Alice.
‘’Kamu mau kemana? Apa kamu berpikir saya selemah itu? Tenanglah, ini hanya sebuah simulasi. Kamu pasti penasaran dengan peristiwa yang akan terjadi, kan? Dan inilah gambaran yang akan kamu rasakan nantinya,’’
‘’Sekarang jangan banyak tanya, dan lebih baik pasang pengaman ini. Karena di situasi yang sebenarnya, mungkin rasa sakit yang akan kamu derita jauh lebih parah dari simulasi ini,’’ titah Pak Fardi memberikan semua perlengkapan khusus kepada Alice.
__ADS_1
‘’HANYA SIMULASI? NAMUN SEAKAN NYAWA SAYA AKAN MATI DI BAWAH SANA,’’ gumam Alice.
‘’Tenanglah, kita tidak akan mati di bawah sana, asalkan kamu mengikuti semua peraturan, maka kita akan selamat. Dan yang paling terpenting ketenangan dan kefokusan akan menjadi point utama dalam simulasi ini,’’