
Episode 25/ Ronald Kesal, Kasus Tak Akan Usai.
Prince sudah membaik, dirinya di perbolehkan untuk kembali pulang, dan hanya saja setiap kali ada perawat yang masuk ke ruangannya, setiap gerakan yang perawat itu lakukan, Prince seakan mengenalinya. Dan benar saja perawat yang sudah lima hari ini merawat adalah Alice yang tengah menyamar, entah sudah berapa profesi yang ia lakukan, dan kenapa juga Prince bisa seakan tahu siapa perawat itu.
‘’Buk, Anda tahu, setiap kali Anda ke ruangan ini, setiap kali Anda merawat saya, maka setiap itu juga saya merasa kita pernah bertemu sebelumnya,’’ ucap Prince ketika perawat itu sedang membersihkan ruangan.
‘’Mungkin itu hanya firasat anda, Pak. Kita jelas baru bertemu beberapa hari yang lalu,’’ balas perawat itu yang sibuk membersihkan bagian jendela.
‘’Hmm, mungkin benar. Mungkin ini hanya sebuah firasat, mungkin ini karena DIA!’’ ujar Prince menatap kosong.
Perawat yang melihatnya pun heran, dari pantulan kaca jendela, dirinya menyaksikan semua hal yang berbeda dari semua yang ia pikirkan, semuanya seakan bertanya dalam benak dan pikiran, apa yang telah terjadi?
‘’Anda mengingatkan saya pada seseorang, tapi … entahlah, entah dimana dia sekarang. Belum juga dia tahu sebenarnya,’’ ucap Prince menyeka air matanya.
Perawat itu yang tidak lain Alice mulai bimbang hatinya, antara menyesal karena telah meninggalkan Prince di masa lalu, atau mungkin ada hal yang telah terjadi di masa lalu mereka. Perawat itu pada akhirnya memilih untuk meninggalkan ruangan, di tengah kebimbangan hati. Sebelum meninggalkan ruangan, dirinya mengatakan jika Prince sudah boleh pulang hari ini, tanpa banyak bicara lagi dirinya keluar, dengan deraian air mata yang mulai membasahi pipi.
Detektif Brian yang kebetulan tengah lewat, tidak sengaja menyaksikan hal itu, dia tahu jika perawat yang sudah lima hari ini mondar-mandir ke ruangan tempat Prince berada adalah Alice, dia heran kenapa malah meneteskan air mata setelah keluar dari ruangan itu.
Sebelum menyusul Alice yang kembali ke ruangan pribadinya, Detektif Brian memeriksa keadaan Prince, ketika sudah berada di depan ruangan itu, terlihat jika Prince tengah beristirahat, lantas kenapa Alice meneteskan air matanya? Apa mungkin itu semua air mata cinta seorang Alice pada Prince? Semua pikiran negative mulai bermunculan, padahal sudah lebih dari dua tahun memendam rasa dan sekarang kenyataan pahit malah terjadi.
__ADS_1
Air mata yang tidak pernah jatuh, sekarang malah jatuh pada seseorang. Siapa yang tidak akan cemburu? Seorang gadis yang paling kuat batinnya menangisi seorang pria.
Detektif Brian yang masih di landa penasaran, membuntuti ruangan pribadi Alice, untuk mencari tahu apa yang telah terjadi. Ketika sudah berada di depan ruangan pribadi Alice, dirinya memasangkan alat pengedap suara, dan memastikan dengan seksama apa yang di tangisi oleh Alice.
[Dasar bodoh kamu, Alice! Sudah jelas dia hanya masa lalu, kenapa malah kamu tangisi seperti ini? Kamu dan dia sudah terlalu jauh melangkah dalam kehidupan baru, jangan pernah mengulang kisah lama, sebelum kamu tahu apa yang telah terjadi. Kamu tidak boleh cengeng seperti ini!]
Detektif Brian semakin penasaran, apa yang terjadi di masa lalu Alice dan Prince. Dirinya berniat untuk mencari tahu semua informasi penting, hanya saja panggilan mendesak menganggu semuanya.
Sebuah pesan jika akan ada kasus baru yang perlu di pecahkan bersama Alice, Detektif Brian yang merasa ini adalah kesempatan yang pas, dirinya akan mengorek langsung dari Alice. Dirinya mengetuk pintu Alice, seakan tidak ada hal apapun yang ia ketahui, berlagak layaknya seorang dengan wajah banyak.
Alice membuka pintu ruangannya dan melihat Detektif Brian, dirinya juga mendapatkan pesan yang sama, yah mereka memiliki kasus yang harus di selesaikan bersama.
Hap.
Tangan Alice di genggam oleh Detektif Brian, dirinya hanya mematung tanpa menoleh. Detektif Brian maju ke depan, sekarang posisi mereka sangat dekat dan saling berhadapan satu sama lain, Detektif Brian menatap Alice dengan sangat lekat, hingga wajah mereka seakan mulai beradu.
Alice yang mendapatkannya perlakuan aneh ini, ingin melayangkan satu pukulan di perut Detektif Brian, hanya saja dirinya bisa menangkis tangkapan yang akan di lakukan oleh Alice.
‘’Jangan berlagak sok keren, sementara hati Anda sangat rapuh!’’ ujar Detektif Brian memasangkan kacamata pada Alice, dan melangkah lebih dahulu dibandingkan dengan Alice yang masih mematung.
__ADS_1
Hingga sebuah panggilan mengacaukan semuanya, yah Detektif Brian yang meneriakinya dengan celoteh panjang, hingga Alice sendiri sangat bosan dengan celotehan panjang Detektif Brian. Mereka menuju ke parkiran mobil, disana telah berada Ronald yang menunggu mereka,
‘’Oh, Anda terlihat sangat coll Tuan. Bagaimana ini bisa terjadi?’’ puji Ronald ketika Detektif Brian yang datang.
‘’Hmm,’’ balas singkat Detektif Brian, dirirnya segera masuk dan disusul oleh Alice.
Ronald yang sudah terbiasa melihat pemandangan ini hanya menghela nafas dan mengemudikan mobil ke tempat yang akan mereka tuju. Di sepanjang perjalanan, baik Alice maupun Detektif Brian tidak ada yang saling berbicara satu sama lain, mereka saling diam dengan perasaan kesal.
‘’Ehem,’’ ujar Ronald berusaha memecahkan keheningan yang telah terjadi.
‘’Ehem,’’ ujarnya untuk yang kedua kali.
Alice maupun Detektif Brian saling focus pada handphonenya, tidak ada percakapan yang terjadi, hingga tiba di lokasi pun, mereka masih saling diam, hingga membuat Ronald kewalahan memerintah kepada semua anggota detektif yang tengah bekerja untuk menelusuri kasus.
Hingga suatu ketika, Ronald sudah tidak tahan dengan kedua sikap yang ditunjukan oleh kedau seniornya ini, padahal bukan tugas dia, toh jika tidak ikut dengan kedua detektif menyebalkan ini, ia bisa tidur seharian, karena kebetulan memang tengah mendapatkan libur.
Eh, ketika di telusuri lebih lanjut, malah kedua detektif ini saling bersitegang kembali. Dan sudah menjadi pemandangan yang sangat biasa, ketika kedua detektif yang saling keras kepala ini bertemu, maka pasti aka nada saja insiden seperti saat ini, dan lagi-lagi yang akan menjadi korban pasti Ronald selaku bawahannya.
‘’Bisakah dalam situasi seperti ini, ego Anda berdua di turuni 0,01 persen? Hah! Saya capek yang selalu menjadi tumbal di setiap kali ada perkelahian seperti ini!’’ unek-unek Ronald pun tidak bisa di elakkan, sudah hampir tiga puluh menit ia berbicara tanpa jeda, membuat Alice dan Detektif Brian saling pandang satu sama lain dengan terheran.
__ADS_1
‘SUDAH KEHABISAN AKAL SI RONALD,’ batin mereka ketika Ronald masih belum menghentikan ocehannya yang panjang bak rel kereta api.