Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.

Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.
Episode 40/ Jangan Paksa Aku Untuk Memilih


__ADS_3

Episode 40/ Jangan Paksa Aku Untuk Memilih.


Malam ini mereka lewati dengan diam, yah hingga mereka sudah berada di dalam apartemen, tidak ada satu kata ucapan pun yang terucap. Terlebih Alice, dirinya merasa sangat bodoh, kenapa ia sangat gegabah dalam hal penting, bisa-bisanya ia tidak mengerti kode sesungguhnya.


Pak Fardi yang mengerti jika Alice tengah menyalahkan dirinya sendiri, ia tidak langsung tidur, melainkan duduk kembali, ketika ia melihat Alice sudah kembali dari kamar kecil, dirinya meminta Alice untuk mendekat dan duduk di sampingnya.


Entah kenapa hatinya merasa butuh hal penting yang akan ia katakan kepada Alice, bukan lagi masalah pekerjaan, namun perasaan seorang pria kepada seorang wanita, apa mungkin Pak Fardi jatuh cinta kepada musuhnya sendiri? Sangat sulit untuk dipercaya, namun bagaimana lagi, itulah kenyataannya.


Hati kecilnya tidak akan pernah bisa berbohong, sebanyak apapun ia katakan jika yang dirinya lakukan, melindungi Alice dari semua musuh yang mengintai, pasti ada alasan lain yang jauh lebih kuat yang malah membuatnya melakukan itu semua.


"Apa harus saya lakukan hal lain untuk Anda?" tanya Alice, raut wajah kesedihan yang justru dirinya berikan.


'Kenapa dengan Alice? Apa mungkin ia kesal dengan semua ini? Namun, tidak mungkin. Tidak mungkin hanya kesal karena masalah sederhana itu, dia bukan gadis lemah, apa Alice punya masalah lain?' pikir Pak Fardi yang merasa aneh semenjak Alice mengurung dirinya di kamar mandi hingga lebih dari tiga puluh menit telah berlalu.


Pak Fardi terus merasa cemas, semenjak itu ia melihat Alice menjadi sosok yang berbeda, tidak ada lagi kata-kata cerewet yang ia dengar dan jelas hal itu akan sangat menyakitkan baginya, akan ada setidaknya rasa penyesalan di dalam dada Pak Fardi.


Namun tidak mungkin jika hanya masalah yang terjadi di taman, sebagai detektif sudah seharusnya ia mengerti tentang bahaya ini, dan sebuah klu awal jika Alice ingin berhasil melewati simulasi pertamanya.


"Alice," panggil Pak Fardi dengan lirih, ia merasa khawatir ketika gadis yang ada di hadapannya ini mendadak menjadi dingin dan tidak banyak bicara.


"Hmm," sahut Alice, dirinya hanya menoleh sesaat kepada Pak Fardi, setelah itu ia kembali memalingkan wajahnya dari Pak Fardi dan menatap kosong ke arah lain.

__ADS_1


"Apa kamu ada masalah, Alice? Ceritakan lah, saya akan menjadi pendengar yang baik untuk mu," ujar Pak Fardi, sebuah senyuman yang sangat jarang akan ia berikan kepada seorang wanita, senyum tulus yang sudah sangat lama tidak terlihat di wajah pria tampan ini.


"Tidak perlu, saya tidak apa. Sebaiknya Anda tidur saja, Anda butuh istirahat yang cukup." saran Alice.


Ketika Alice berusaha meninggalkan Pak Fardi, ketika itulah tangannya ditahan. Alice menoleh kembali dan melihat jika Pak Fardi seakan enggan untuk membiarkan dia pergi.


"Kenapa? Masih ada yang ingin Anda inginkan?" tanya Alice.


"Hmm, sekarang saya kembali lapar. Tolong buatkan saya bubur ayam seperti tadi pagi," ujar Pak Fardi yang membuat dahi Alice berkerut heran.


Dirinya hanya tidak yakin jika hanya meminta bubur ayam, pasti Pak Fardi ingin mengetahui semua alasan dibalik diamnya.


"Untuk malam ini tidak ada, semua bahan sudah habis. Toh ini juga sudah terlalu larut untuk makan, saya pikir Anda orangnya sangat healthy, namun ternyata tidak. Sudahlah, saya sangat mengantuk. Lagian besok saya masih harus kuliah," ucap Alice melepaskan genggaman tangan Pak Fardi dan berlalu ke sofa panjang yang ada di ujung sana.


Alice yang sudah menutup wajahnya dengan selimut tipis, tidak memberikan jawaban apapun, namun ketika itu Pak Fardi bangkit berdiri dan mendekat ke sofa panjang tempat Alice membaringkan tubuhnya yang sangat lelah.


Tanpa berkata panjang, ia langsung mengangkat tubuh ringan itu, dan menggendongnya ke ranjang. Alice seakan beku dengan tatapan yang diberikan oleh Pak Fardi, entah kenapa ia seakan tidak ada tenaga untuk mendorong tubuh kekar itu, karena dengan beraninya ia malah menggendong tanpa meminta izin terlebih dahulu.


Pak Fardi meletakkan tubuh Alice di atas ranjang empuk, dan berlalu meninggalkannya. Ia memang tidak melakukan hal apapun, namun getaran aneh yang ia rasakan tidak bisa di bohongi. Dan dirinya juga tidak ingin berbuat yang di luar batas ketika bersama dengan Alice, bohong sekali jika ia tidak merasakan ada getaran aneh di dalam tubuhnya, ia sudah menjadi pria dewasa dan pasti akan sangat menginginkan itu semua, namun tidak dengan melecehkan Alice.


Terlalu bersalah rasanya jika Pak Fardi melakukan semua hal yang diperintahkan oleh nafsunya, dan malah membuat kesalahan fatal.

__ADS_1


'Kenapa aku malah tidak bisa menahan semua gejolak ini? Padahal selama ini, aku bisa. Apa mungkin rasa khawatir ku pada gadis malang itu bukan hanya sekedar rasa balas Budi, melainkan ada perasaan hati yang ikut terbawa?' batin Pak Fardi, dirinya berusaha memejamkan mata untuk menghalau pergi semua gejolak nafsu yang merambat di sekujur tubuhnya.


Namun siapa sangka gadis yang berusaha melupakan, malah mendekat padanya dan duduk di hadapannya. Pak Fardi hanya berpura-pura untuk memejamkan matanya, ia tidak ingin melakukan hal yang tengah bergejolak bebas di dalam hatinya.


"Alice!" ujarnya ketika gadis itu malah mendekati wajahnya.


Padahal ia sudah dengan sangat capek untuk menahan semua gejolak yang berada di dalam tubuhnya, namun ketika gadis yang berusaha ia hindari malah semakin lancang mendekat, membuat seakan nafsunya butuh tersalurkan.


"Kenapa?" tanya Alice. Ia menatap lekat kepada pria yang tengah bersembunyi di balik tidurnya.


Pak Fardi masih berpura-pura untuk tetap tertidur, toh dirinya tidak ingin melakukan hal yang terlarang. Dan mungkin saja Alice akan dengan suka rela untuk mengatakan semua hal yang bergejolak dalam batinnya.


"Apa iya, ini yang harus terjadi?" ujarnya, tatapan sendu ketika melihat wajah pria tampan yang tengah berada di hadapannya.


'Apa yang sebenarnya telah terjadi, Alice? Kenapa kamu malah membuatku semakin cemas, jangan buat hatiku menjadi seperti ini. Katakan apa yang telah terjadi,' batin Pak Fardi seakan berharap jika Alice akan mengatakan ucapan yang ambigu itu.


"Tidak mungkin aku diminta untuk memilih, sementara itu pilihan yang sangat sulit. Bagaimana mungkin aku akan hidup tenang dengan melenyapkan Anda? Aku tidak bisa …." lirih Alice.


Pak Fardi kaget dengan ucapan yang ia dengar, apa mungkin itu sebabnya Alice terus mengunci diri di dalam kamar mandi dan menjadi diam. Apa ia sudah mengetahui rahasia penting itu?


"Lakukan jika itu memang harus!" sahut Pak Fardi membuka matanya dan menatap dengan sendu kepala Alice.

__ADS_1


"Aku tidak bisa, tidak akan pernah bisa. Memilih di antara dua pilihan yang sangat sulit," lirih Alice dengan deraian air mata.


Pak Fardi yang tidak bisa melihat wajah cantik itu menangis, ia bangkit duduk dan memeluk erat tubuh Alice dengan segenap jiwa.


__ADS_2