Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.

Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.
Episode 42/ Alice, Gadis Tangguh Serba Bisa.


__ADS_3

Episode 42/ Alice, Gadis Tangguh Serba Bisa.


‘’Kenapa kamu sangat mempercayaiku, Alice? Atas dasar apa?’’ lirih Pak Fardi dengan tatapan mata sendu.


‘’Apa perlu aku jelaskan alasannya?’’ tanya Alice, ia semakin yakin jika Pak Fardi tidak sekejam yang dikatakan oleh orang-orang markas, hanya ada kesalahpahaman yang terjadi.


Alice hanya tersenyum seakan itulah jawabannya, ia kembali focus untuk menyuapi Pak Fardi bubur ayam yang sudah bisa dimakan karena tidak terlalu panas, Alice menyuapi Pak Fardi dengan lembut, Pak Fardi merasakan jika tindakan Alice sudah layaknya seperti seorang kekasih.


Namun apa boleh, tidak mungkin bagi dirinya untuk jatuh cinta, rasanya terlalu berat, penyesalan masa lalu pasti akan menghantui Pak Fardi jika hatinya malah tertarik kepada Alice. Tidak, itu tidak boleh terjadi, sangat tidak boleh.


‘’Kenapa?’’ tanya Pak Fardi heran.


‘’Tidak apa, hanya terima kasih karena telah mau merawatku dengan baik. Hanya itu yang bisa aku ucapkan sekarang,’’ ucap Pak Fardi dengan lirih.


Alice hanya tersenyum, ia seharusnya mengatakan hal yang sama, karena jika tidak ada Pak Fardi waktu itu, mungkin penyamaran Alice sudah terbongkar, namun ia masih belum mengerti kenapa Pak Fardi bisa tahu tentang identas aslinya? Apa mungkin Pak Fardi memang mengawasinya sejak awal, namun atas alasan apa? Rasanya ia bertingkah normal dan sangat meyakinkan.


‘’Kenapa? Apa kamu tengah memikirkan sesuatu?’’ tanya Pak Fardi yang heran dengan tatapan Alice seakan tengah memikirkan sesuatu.


‘’Hmm,’’ balas Alice, ia kembali focus menyuapi Pak Fardi, suapan demi suapan diterima oleh Pak Fardi, rasanya sangat nyaman, bahkan pukul pun sudah mulai dini hari, namun mereka saling tidak mengantuk.


Semangkuk bubur ayam sudah habis, dan saatnya Alice membersihkan sisa makanan Pak Fardi, ia kembali melangkah ke dapur untuk mencuci sisa piring dan berapa perabotan yang masih kotor, mumpung dia masih belum mengantuk, dan pagi ini mungkin dia memang tidak akan tidur.


Tapi siapa sangka Pak Fardi malah ikut ke dapur, dia menatap Alice dengan lekat, hingga mampu membuat Alice kaget, kondisi lampu yang remang membuat wajah tampan Pak Fardi seakan menggoda.

__ADS_1


‘’Sejak kapan Anda berada disana?’’ tanya Alice, yang jantungnya masih belum bisa di kondisikan.


‘’Sejak kamu focus mencuci piring dan mulai memasak lagi, ngomong-ngomong kamu akan memasak sarapan apa?’’ tanya Pak Fardi, dirinya memang sudah tidak duduk di kursi roda lagi, sudah mampu berdiri sekalipun masih dalam kondisi lemah, padahal Alice sudah mengatakan jika sebaiknya Pak Fardi jangan terlalu banyak bergerak.


Namun, yah mau bagaimana lagi. Jiwa penasaran Pak Fardi dan kebiasaan yang tidak bisa tinggal diam, lantas membawanya untuk keras kepala, terkadang Alice dan Pak Fardi sering berdebat kecil tentang itu.


‘’Sudah berkali-kali saya katakan, jika sebaiknya Anda jangan banyak bergerak, kenapa ngeyel banget sih!’’ kesal Alice ketika Pak Fardi mendekat dan berniat ikut membantu Alice untuk menyediakan menu sarapan pagi ini.


‘’Sudahlah, biarkan saya membantu kamu. Lagian saya juga capek jika seharian menghabiskan waktu di kursi roda terus menerus! Apa ada yang bisa saya bantu?’’ Pak Fardi menawarkan diri.


‘’Apa pernah memasak sebelum ini?’’ tanya Alice, dirinya masih sibuk memotong wortel.


‘’Tidak, namun saya ingin belajar. Apa yang bisa saya bantu?’’ tanya Pak Fardi, terselip rasa kagum kepada Alice, dia tidak menyangka jika Alice juga bisa memasak, sungguh multi, bisa dalam semua hal.


‘’Huh, sekarang cuci bersih sayuran ini. Bisa kan?’’ tanya Alice seakan meragukan Pak Fardi, namun Pak Fardi mengambil nampan yang berisikan potongan wortel, sedikit brokoli.


Mereka berdua sudah layaknya pasangan kekasih, yah dan Pak Fardi begitu bahagia ketika berada dalam situasi seperti ini, ia yang sudah sangat lama tidak bersentuhan langsung dengan dapur, sekarang ia malah berada di tempat itu, karena biasanya Pak Fardi hanya terus memesan makanan secara online, jadi ia tidak pernah tahu bagaimana prosesnya.


Tidak terlalu lama, masakan Alice juga sudah siap, yah untuk proses memasaknya Pak Faardi hanya menjadi penonton saja, memperhatikan bagaimana Alice memasak dengan sangat lihai, ia malah berpikir jika Alice ini gadis multifungsi, limited edition, selain menjadi seorang detektif, dimana pekerjaan yang digandrungi oleh pria, namun ternyata Alice juga bisa melakukan pekerjaan wanita benar-benar sempurna.


‘’Sudah siap, sekarang mari kita sarapan!’’ sorak bahagia Alice, akhirnya perutnya yang keroncongan bisa segera diisi.


Mereka duduk di meja makan kecil, saling berhadapan satu sama lain, seberapapun Pak Fardi berusaha untuk menolak perasaannya, maka rasa kagum kepada Alice semakin dalam. Rasanya ingin sekali mengatakan jika ia begitu beruntung bertemu dengan Alice dan dirawat dengan baik.

__ADS_1


‘’Kenapa?’’ tanya Alice yang heran karena sedari tadi ia menikmati makanannya sendiri, Pak Fardi terus menatapnya tanpa berkedip.


‘’Tidak ada,’’ balas Pak Fardi, dia juga focus kepada makanannya, rasa yang begitu nikmat masuk ke rongga tenggorakannya dan begitu enak sekali rasanya.


Kali ini mereka berdua habisi pagi dengan baik, tidak ada lagi terdengar perdebatan kecil. Alice dan Pak Fardi sudah siap untuk berangkat ke kampus, mereka pergi lebih awal karena takut jika musuh-musuh itu masih berkeliaran.


‘’Apakah Anda benar-benar sudah kuat untuk ke kampus? Jika belum terlalu kuat, lebih baik istirahat saja disini, jangan dipaksakan jika nantinya malah berakibat fatal dan membahayakan,’’ ucap Alice yang tengah memegang tubuh itu kembali ke kursi roda.


‘’Apakah kamu khawatir Alice?’’ tanya Pak Fardi.


‘’Tidak, hanya saya tidak ingin kembali direpotkan!’’ sahut Alice dengan jutek, dirinya meraih tongkat bantu yang akan digunakan oleh Pak Fardi nantinya.


Pak Fardi hanya tersenyum dengan ucapan Alice, dia sangat senang karena berhasil merepotkan gadis ini. Mereka keluar dari apartemen, yah kali ini Alice kembali disusahkan karena Pak Fardi meminta kursi roda itu didorong saja, hingga bengkel tempat mobilnya diservis.


‘’Hah! Sudah menyusahkan diri dengan menginap di apartemen saya, malah masih menyusahkan untuk hal lainnya!’’ kesal Alice, dia tidak ada pilihan lain untuk tidak mendorong kursi roda Pak Fardi.


Terlebih Pak Fardi akan mengatakan rencana mereka berikutnya sambil mengatakan bagaimana cara untuk melewati simulasi itu, dan dengan polosnya Alice menurut saja, setelah terjadi perdebatan kecil lagi, dan tentu pemenangnya Pak Fardi.


‘’Ugh, akhirnya!’’ ujar lega Alice ketika mereka sudah tiba di bengkel yang mereka tuju.


‘’Terima kasih,’’ ucap Pak Fardi.


Alice memberikan senyum terpaksa, bisa-bisanya yang ia dapatkan hanya sebuah ucapan terima kasih, dan Pak Fardi tahu jika Alice sangat kesal dengan dirinya yang terus-menerus merepotkan dirinya, udah numpang menginap di apartemen, makan gratis, dirawat dengan baik, dan sekarang malah merepotkan gadis itu lagi.

__ADS_1


‘Sungguh menyenangkan jika terus mengerjai kamu, Alice.’


__ADS_2