Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.

Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.
Episode 24/ Negosiasi Kematian Bersama Tuhan.


__ADS_3

Episode 24/ Negosiasi Kematian Bersama Tuhan.


Keesokan paginya, Prince sudah siuman, dirinya mencium aroma tidak sedap di tempatnya sekarang. Dengan pandangan masih sangat kabur, dirinya berusaha memperhatikan dimana dirinya sekarang, apa mungkin ia sudah meninggal? Pikirnya yang kembali teringat dengan keadaan sebelum ia pingsan, yah di amuk tanpa habis-habisan oleh tiga pria bertubuh kekar.


Kepalanya masih kunang-kunang, semua yang ia lihat terlihat kabur, dirinya berusaha bangun, tapi sangat kesulitan terlebih di bagian perutnya yang memiliki perban.


‘’Awhg, sial!’’ gerutunya kesal.


Hingga terdengar suara langkah kaki menuju ke tempatnya, Prince ingin kabur, ia pikir yang akan datang merupakam komplotan penjahat yang memang berniat untuk membunuhnya. Belum sempat pria itu masuk, Prince sudah jatuh ke lantai karena kondisi tubuhnya yang belum pulih, bukannya sehat malah menjadi-jadi rasa sakitnya.


‘’Awhg!’’ teriaknya.


Terdengar pintu yang dimasuki oleh seseorang, seorang pria dengan tubuh atletis dan paras ke arab-araban nya, pria itu mendekat membuat Prince berkeringat dingin, Prince masih berpikir jika pria itu adalah suruhan komplotan penjahat yang akan kembali menghukumnya hingga titik darah kehidupan Prince.


‘’Aku pasrahkan semuanya padamu, Tuhan. Mau Engkau cabut sekarang pun tidak masalah, ini semua memang kesalahan ku dan aku pantas untuk mendapatkan semua penderitaan ini. Tapi … apa tidak bisa aku mati dalam keadaan cepat? Aku capek, oh Tuhan!’ batin Prince dengan menengadahkan tangannya seraya terus berdoa.


Pria yang melihat semua kejadian aneh ini, hanya mengerutkan keningnya dan mengulurkan tangan untuk membantu Prince. Hanya saja Prince terus berpikir jika hari ini merupakan hari terakhirnya hidup, mungkin aka nada penyiksaan yang terjadi.

__ADS_1


‘’Tidak, jika kamu memang mau menghabisi kehidupan saya di atas dunia ini, langsung saja tembakkan pistol yang ada di belakang celana kamu, atau tusukkan saja pisau ke perut aku ini. Daripada menyiksa aku terus-menerus, lebih baik cepat bunuh aku sekarang! Lebih baik aku bertemu dengan Tuhan dibandingkan selalu di siksa seperti ini!’’ ujar Prince.


Dirinya hanya memberikan ekspresi datar dan masih mengulurkan tangannya pada Prince. Tidak ada ucapan apapun ketika Prince berbicara dengan panjang lebar, hingga membuat Prince semakin curiga, mungkinkah ini trik untuk membuat dirinya menderita, mana ada di dunia ini gratis, pasti ada udang di balik batu ini mah, yah setidaknya ini rasa trauma yang di tinggalkan oleh komplotan kejahatan pada Prince.


Pria itu mulai kesal, bisa-bisanya dia mengatakan jika seorang penegak keadilan adalah seorang komplotan kejahatan, rasanya tidak mungkin jika seorang Detektif Alice memiliki hubungan khusus dengan pria cengeng seperti ini, sekali gertak saja oleh Detektif Alice, sudah pasti dirinya akan pingsan.


‘’Hei, stop dengan omong kosong yang tidak berguna itu!’’ujar Detektif Brian.


Yah, pria yang sangat irit bicara, dirinya tidak akan pernah berbicara lebih dari lima menit dengan lawan bicaranya, kecuali Detektif Alice, dirinya akan sangat cerewet jika berkaitan dengan wanita itu.


‘’Alah, jujurlah! Kamu memang mau membunuh saya dengan cara tragis kan? Dasar pria brengsek, berpura-pura baik agar saya ini tertipu dan ketika saya lengah kamu kembali melakukan penyerangan pada saya, sudahlah semuanya jelas terbaca. Dan sekarang saya sudah siap untuk bertemu dengan Tuhan, jika mau menembakkan peluru atau menusukkan pisau, silahkan, saya tidak akan dendam. Hanya saja Tuhan tidak tidur, dirinya melihat semua perbuatan umat manusia!’’ ujar Prince tanpa henti.


Detektif Brian yang benci dengan ini semua, dirinya melangkah keluar dan menutup pintu dengan sangat kasar. Prince yang berada di dalam sana, kegirangan tiada henti, dirinya terbebas dari kematian yang sudah di depan mata,hanya saja sekarang dirinya bingung bagaimana caranya agar bisa kembali berbaring dengan enak diatas kasur.


‘’Awhg, sial!’’


‘’Masa iya, harus tidur di lantai sih?’’ gumam Prince yang telah berusaha untuk bangkit, sayangnya tidak bisa.

__ADS_1


Sementara di ruangan Profesor, Alice sedang menunggu Profesor dalam meracik obat herbal untuk memulihkan Kesehatan Prince, tidak mungkin sang mantan akan berada lama disana, bisa-bisa dirinya akan mengetahui keberadaan Alice dan akan menjadi masalah dalam penyelidikannya di kampus.


‘’Ini, obat herbalnya sudah siap. Oh, yah. Bagaimana dengan kabarnya? Apakah dia sudah siuman?’’ tanya Profesor khawatir.


Yah, Professor merupakan saksi bisu cinta Alice dan Prince. Mereka berdua memang sering menghabiskan waktu bersama ke rumah Profesor. Dan ketika Alice dan Prince sudah resmi tidak menjalin hubungan apapun, Profesor yakin suatu saat, cinta mereka akan kembali bersemi indah, ini hanya bagian dari skenario kehidupan.


Yah, walaupun begitu. Alice juga sangat menginginkan hal itu, dirinya ingin perpisahan ini akan menjadi ujian sementara dan ketika akhir kehidupan mereka mulai berakhir, maka biarkan semua ketenangan dan keindahan yang mewarnainya. Hanya saja itu akan terus menjadi angan-angan, Alice dan Prince tidak akan pernah bersama, ada satu masalah yang tidak akan pernah terselesaikan.


‘’Sudahlah, jangan memasang wajah sedih itu pagi ini. Perkiraan cuaca saja sangat cerah, masa kamu malah menjadi mendung sih. Jika memang berjodoh, mau seberat apapun masalahnya, seberat apapun ujian yang diberikan oleh Tuhan, yakinlah jodoh tidak akan kemana, sekalipun kamu berlari ke ujung dunia, jika sudah memang kamu ditakdirkan untuk bersama Prince, maka kalian berdua akan hidup dengan bahagia di ujung cerita nantinya!’’ ucap Profesor dengan bijak.


‘’Hmm, jika begitu saya akan pamit kembali ke ruangan Prince, dan memastikan apakan dirinya sudah sadar,’’ujar Alice, dirinya pamit pada Profesor dan melangkah keluar.


‘Jika memang takdir itu suatu ketetapan Tuhan, lantas kenapa kehidupan ku menderita seperti ini? Kenapa tidak ada senyum dan tawa bahagia asli yang aku tunjukkan pada semua orang. Yang selalu aku tunjukkan hanya sebuah senyum dengan unsur keterpaksaan, apakah ini yang dinamakan keadilan?’


Profesor yang masih berdiri mematung disana, hanya bisa menyeka air matanya, jika melihat kisah cinta Alice dan Prince, maka bayangan istri tercinta kembali muncul, cinta pertama dan cinta terakhir hingga akhir hayat. Yah Istri Profesor sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu, tidak ada yang bisa menggantikan posisi almarhumah istrinya yang sudah meninggal, kharismatiknya tidak akan bisa ditandingi oleh wanita manapun.


‘Dewi, Mas rindu sama kamu. Sudah sepuluh tahun kita tidak bertemu, bagaimana kabar kamu di atas sana? Apakah kamu juga merindukan Mass disini? Mas rindu dengan kamu, Dewi. Semuanya, kenapa kamu harus pergi dengan cara tragis? Seharusnya bukan kamu tapi Mas!’ ucap Profesor dengan air mata yang tidak berhenti untuk mengalir, sekalipun sudah berusaha untuk berhenti meratapi sang istri tercinta.

__ADS_1


‘’SEHARUSNYA WAKTU ITU AKU YANG PERGI, BUKAN KAMU SAYANG!’’


__ADS_2