
Episode 33/ Kasus Rumit, Cinta Semakin Sulit.
Detektif Brian yang kebetulan tidak sengaja menguping pembicaraan antara Alice dengan Ronald, dirinya semakin patah hati, terlebih setelah mengetahui jika Alice pernah memiliki pria idaman, dan pria itu bukanlah dirinya seperti yang dibicarakan oleh banyak orang.
‘’Ternyata memang benar, wajah tampan tidak menjamin semuanya. Justru kenyamanan yang dapat meluluhkan hati seorang Alice,’’ gumamnya memalingkan wajah ke arah lain.
Dirinya berusaha untuk tenang dan kembali ke duduknya semula, dan bukannya berusaha untuk melupakan Alice, rasa cintanya justru semakin kuat dan tentu saja dirinya sangat yakin jika Prince bukan tandingannya untuk menaklukan hati Alice.
‘Aku harus melakukan penyamaran untuk tahu semua seluk-beluk pria itu, aku sangat yakin, jika dia bukanlah saingan berat. Kasus saja dengan mudah aku pecahkan, tidak mungkin untuk urusan asmara aku akan kalah begitu saja!’ batin Detektif Brian yang menyambut kembali kedatangan Alice dan Ronald, setelah berkelana cukup jauh di ruangan pribadi Ronald, tempat dimana semua kecanggihan terjadi.
‘’Bagaimana dengan tur rahasianya?’’ tanya Detektif Brian yang mulai ramah.
Alice dan Ronald saling pandang satu sama lain, dirinya hanya heran dengan keramahan yang diberikan oleh Detektif Brian, yang terkenal paling dingin, dan sekarang justru senyum manis yang terlihat di wajah super jutek itu, wajah yang sangat jarang untuk tersenyum, namun justru malah memberikan ekspresi yang begitu menggemaskan.
‘’Lima detik,’’
‘’Sepuluh detik,’’
‘’Lima belas detik,’’
Detektif Brian malah ikutan heran dengan hal yang tengah dilakukan oleh Alice dan Ronald, entah apa yang tengah mereka hitung, ketika ingin menanyakan alasannya, justru terdengar panggilan darurat yang mengharuskan mereka cepat bergerak dan menuju ke lokasi yang sudah ditentukan.
‘’Baiklah, kasus baru di malam tahun baru ini sudah datang, cepat bergerak! Dan bawa semua perlengkapan yang akan berguna untuk kita!’’ titah Detektif Brian.
‘’Hmm,’’ balas Alice dan Ronald dengan kompak.
‘’Oh, yah. Ron, jangan lupa bawa semua barang yang mungkin akan sangat berguna nantinya!’’ ujar Detektif Brian kepada Ronald ketika dirinya akan mengambil sesuatu di atas meja.
‘’Baik Detektif,’’ balas Ronald yang berlari kembali ke ruangan penuh keajaiban di dalam sana.
Detektif Brian segera menarik tangan Alice untuk keluar dari ruangan itu, mereka berlari ke parkiran, tempat mobil dinas mereka, pegangan tangan masih belum di lepaskan oleh Detektif Brian, dirinya tidak mungkin melewatkan momen istimewa dan langka ini, berpegangan tangan dengan wanita yang sangat ia cintai, merupakan impian terbesarnya.
‘’Detektif,’’ panggil Alice.
Jujur saja, Alice merasa tidak nyaman ketika pegangan tangan itu masih belum dilepaskan, padahal seluruh pasang mata menatap kepada mereka. Genggaman tangan itu berakhir ketika mereka telah berada di lokasi parkiran.
Disana sudah ada mobil super keren, rakitan khusus Ronald. Mobil yang dirancang ketika berada di kondisi pelik seperti ini, toh tidak ada salahnya untuk mencoba mobil yang masih dalam tahap uji coba.
‘’Tunggu sebentar, kita akan menggunakan mobil ini?’’ tanya Alice, dirinya baru pertama kali mengetahui, jika mereka memiliki koleksi mobil baru.
‘’Hmm, tunggu apalagi. Kasus tengah menanti kita di ujung sana,’’ jawab Detektif Brian yang membukakan pintu mobil bagian depan.
Alice menatap kepada Detektif Brian yang ia rasa semakin aneh saja, padahal dirinya bukan tipe yang peduli terhadap orang lain, tapi semenjak beberapa menit yang lalu dirinya menjadi sangat baik dan perhatian.
‘Ada apa dengannya? Kenapa sangat aneh malam ini?’ pikir Alice.
Dirinya menepis semua rasa penasaran tentang perubahan yang terjadi kepada Detektif Brian, mereka segera melaju meninggalkan markas dan bergerak ke lokasi yang mereka tuju.
‘’Tunggu sebentar, Detektif. Apakah Anda tahu tentang lokasi ini?’’ tanya Alice ketika mobil itu bergerak dengan sangat laju.
__ADS_1
‘’Hmm, tenanglah. Dengan bantuan semua kecanggihan mobil ini, kita bisa dengan cepat ke lokasi yang akan dituju,’’ balas Detektif Brian, dirinya melesatkan mobil itu dengan kecepatan tinggi, padahal kondisi jalanan cukup ramai, terlebih malam ini adalah malam pergantian tahun, banyak muda-mudi yang tengah merayakan pergantian tahun.
‘’Detektif, Anda harus hati-hati dalam berkendara! Kondisi jalanan sangat ramai malam ini,’’ saran Alice.
Dirinya akui jika Detektif Brian sangat mahir dalam semua hal, terlebih dirinya juga pernah menjadi juara balap motor di usia mudanya. Tapi bukan itu yang di khawatirkan oleh Alice, dirinya yakin jika mobil yang tengah ia tumpangi ini masih dalam tahap uji coba, bagaimana jika mobil itu mengalami permasalahan ketika Detektif Brian mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi.
‘’Tenanglah, tidak perlu memasang wajah khawatir seperti itu. Saya tahu jika Anda tengah khawatir tentang keselamatan kita, tidak perlu memasang wajah cemas seperti itu. Apakah Anda meragukan kemampuan balap motor saya, Alice?’’ tanya Detektif Brian melirik sekilas kepada Alice, detik berikutnya ia kembali fokus ke jalanan.
‘’Bukan begitu, saya tahu mobil ini masih dalam tahap uji coba. Saya hanya takut, jika kita mengalami permasalahan di saat kasus malam ini belum tuntas. Hanya itu yang saya cemaskan,’’ ucap Alice, dirinya begitu takut ketika Detektif Brian menambah kecepatan mobil itu.
Detektif Brian tidak menanggapi ketakutan yang dirasakan oleh Alice, justru dirinya malah semakin gemas ketika melihat wajah Alice saat ini. Sejenis hiburan kecil untuk menghilangkan rasa kantuk yang mulai merajalela di kepala Detektif Brian, maklum dirinya tidak tidur seharian penuh, banyak kasus beruntun yang harus segera dirinya selesaikan, dan itu sangat menyita jam tidurnya.
‘’Kita sudah sampai,’’ ucap Detektif Brian.
Alice membuka perlahan kedua matanya, dirinya bernafas lega ketika dirinya masih selamat atas kegilaan yang terjadi. Detektif Brian tersenyum, jujur dirinya paling mengerti semua hal tentang Alice, seorang wanita yang berpura-pura tangguh di hadapan semua orang, sementara hatinya yang paling rapuh.
‘Aku tahu jika kamu memiliki luka dalam, sayangnya aku sendiri masih belum bisa menjangkaunya. Kamu benar-benar hebat Alice, aku berjanji akan melindungi kamu, bahkan aku akan menyerahkan kehidupannku untuk memastikan kamu tetap aman,’ batin Detektif Brian.
Detektif Brian kembali teringat dengan pertemuan mereka, dimana awal rasa cinta itu hadir di relung terdalam.
Ketika Detektif Brian kembali ditugaskan ke Indonesia, dirinya tengah berada di sebuah jalanan. Tanpa sengaja dirinya melihat seorang gadis yang tengah meracau hebat di seberang sana.
‘’Apakah gadis itu tengah mabuk?’’ pikir Detektif Brian heran.
Hujan mulai turun, Detektif Brian yang melihat lampu lalu lintas kembali hijau, melajukan mobilnya ke lokasi gadis di ujung sana. Ketika sudah berada tepat di lokasi, dirinya langsung turun dan menghampiri gadis yang tengah meracau tidak jelas.
Detektif Brian kemudian membawa gadis itu ke sebuah penginapan yang tidak terlalu jauh dari sana, tidak mungkin gadis yang tengah mabuk berat ini di biarkan seorang diri di jalanan lengang, toh pada akhirnya justru bahaya besar yang akan terjadi nantinya.
Detektif Brian menghubungi anggotanya dan mengatakan jika dirinya kemungkinan akan terlambat untuk menghadiri jamuan makan malam yang telah disepakati, sekalipun semua anggota heran, namun mereka tidak bisa untuk membantah semua ucapkan yang dikatakan oleh Detektif Brian.
[Baiklah, Detektif. Kami akan mengatakan semuanya seperti yang Anda katakan,]
Sambungan telepon akhirnya terputus, Detektif Brian sesekali melirik kepada gadis yang sedang tidur di belakang sana, entah kenapa, rasa kasihannya malah menjelma, padahal mereka berdua belum saling kenal.
Lima belas menit telah berlangsung, dan mobil yang dikendarai oleh Detektif Brian juga telah berada di depan sebuah penginapan. Dikarenakan kondisi hujan yang mulai lebat, dirinya meminta bantuan staf penginapan untuk membawakan payung.
Detektif Brian menggendong tubuh mungil itu ke dalam penginapan, dirinya memesan satu kamar karena dirinya tidak mungkin akan menunggu gadis ini hingga kembali sadar, dirinya punya kehidupan sendiri.
Dirinya tatap wajah yang sudah tertidur pulas, senyum manis justru terpasang. Dirinya hanya tidak tahu tentang gadis itu, entah kenapa Detektif Brian mengabadikan momen lucu ini dengan benda pipihnya.
‘’Kamu terlihat sangat lucu, terlebih dengan mulut menganga itu!’’ gumam Detektif Brian yang mengambil beberapa gambar.
Ketika dirinya merasa puas dengan semua gambar yang berhasil dirinya abadikan lewat benda pipih miliknya, sebuah panggilan masuk.
[Halo, Detektif. Apakah Anda masih jauh? Semuanya sudah berkumpul,]
‘’Hmm, baik. Saya tengah dalam perjalanan, kamu alihkan saja perhatian mereka dengan mencicipi semua hidangan yang tersedia,’’
[Baiklah, Detektif]
__ADS_1
Sambungan telepon terputus, dan ketika dirinya hendak melangkah keluar dari ruangan, terdengar suara dari gadis yang masih terpengaruhi oleh alcohol.
Karena gadis itu menangis, Detektif Brian menghentikan langkahnya untuk meniggalkan gadis itu. Dirinya duduk di tepi ranjang dan memeriksa suhu tubuhnya yang semakin panas. Entah kenapa dirinya menjadi khawatir pada orang asing yang baru ia temui, Detektif Brian kemudian menghubungi staf penginapan, dirinya meminta dikirimkan bubur hangat dan alat kompres yang bisa ia gunakan, terlebih dirinya meminta agar mereka menghidangkan menu sarapan untuk esok hari.
Hanya berharap ketika gadis itu bangun, dirinya tidak kelaparan, dan kesehatannya segera membaik. Selang beberapa menit berikutnya, ketukan pintu terdengar, Detektif Brian yang hendak berdiri di cegah oleh tangan mungil yang tidak mau lepas darinya.
‘’Jangan pergi!’’ ucapnya.
Seketika bayangan seseorang menyelimuti relung hati terdalam Detektif Brian, ucapan yang pernah membuatnya merasa bersalah, kini kembali terdengar. Sekalipun dari orang yang berbeda, luka masa lalunya begitu dalam.
Dirinya tidak bisa melakukan kesalahan yang sama, akhirnya ia mengirimkan pesan kepada seseorang lewat benda pipih yang berada di atas nakas, sebelum menyuapi gadis malang itu.
[Saya tidak bisa hadir malam ini, ada hal yang jauh lebih penting dari kasus. Kalian putuskan apapun yang terbaik, saya akan mempercayai itu dan maaf telah membuat menunggu.]
Setelah ia mengirimkan pesan singkat, dirinya langsung mematikan data seluler dan mengganti dengan mode pesawat, dirinya tidak ingin diganggu malam ini.
‘’Apa kalian bisa keluar dari tempat ini!’’ ujar Detektif Brian yang fokus menatap kepada gadis malang yang masih menggenggam erat tangannya.
‘’Huhh,’’ dirinya menghela nafas kasar dan mulai memberikan kompres di kening gadis itu.
Detektif Brian dengan perlahan melepaskan genggaman tangannya, dirinya juga menyelimuti tubuh gadis itu karena kondisi semakin dingin, guyuran hujan lebat membuat Detektif Brian kembali menyesali masa lalunya yang sama persis dengan kejadian detik ini juga.
‘Seharusnya aku tidak pergi waktu itu,’ batinnya mulai meneteskan air mata.
Detektif Brian masih terjaga hingga dini hari, sudah menunjukan pukul tiga pagi, dirinya masih belum bisa untuk memejamkan mata sejenak. Bayangan tentang gadis yang ada di hadapannya kembali mengingatkan tentang semua permasalahan hidup yang sudah ia lewati.
‘Aku harus pergi sekarang, setidaknya aku meninggalkan gadis malang ini ketika semuanya mulai membaik. Panas tubuhnya juga sudah mulai turun, dan pengaruh alkoholnya pasti sudah berkurang. Aku harus kembali kepada kehidupanku sendiri, jaga dirimu gadis malang!’ batin Detektif Brian yang kembali menghubungi pihak penginapan agar menyiapkan semua keperluan dan makanan yang akan dibutuhkan.
Sebelum pergi, dirinya ingin suatu saat nanti gadis malang yang bertemu dengannya akan ingat tentang kejadian malam ini. Dirinya meraih satu lembar kertas putih bersih dan mulai menuliskan hal penting yang ingin sekali dibaca olehnya ketika telah sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol.
Detektif Brian meletakkan lembaran itu di sampingnya dan melangkah keluar, ketiga dia bisa merasakan jika gadis yang ia tolong perlahan bangun, dirinya meminta kepada pihak penginapan agar tidak memberitahu apapun tentangnya ketika gadis malang itu bertanya nantinya.
Setelah itu, Detektif Brian kembali ke mobilnya dan melaju ke markas, lokasi yang sempat ditunda. Dengan kecepatan tinggi, dirinya menghela nafas kasar.
‘Jika kita bertemu kembali di masa depan, dan kamu telah menjadi hal yang aku tulis di lembaran putih itu, maka aku mengucapkan sumpah, JIKA AKU AKAN KEMBALI MENJAGAMU!’
Detektif Brian memang tidak mengetahui gadis malang yang telah ia tolong malam itu, hanya saja tiba masanya mereka kembali dipertemukan dengan situasi yang lebih baik. Yah dalam kondisi gadis malang itu akan menjadi juniornya di dalam dunia investigasi.
Dan ketika itulah Detektif Brian menjalankan sumpah yang pernah terucap di masa lalu, sekalipun itu hanya sebuah ucapan pada diri sendiri, pantang bagi seorang Brian mengkhinati semua ucapan yang terucap.
‘Akhirnya kita kembali bertemu,’ batinnya menyambut kedatangan gadis yang pernah ia tolong.
Hingga saat ini, Alice belum menyadari jika seorang pria yang berada di sampingnya, pernah menjadi bagian penting dalam karir cemerlang yang ia punya. Seorang pahlawan yang telah berhasil merangkai kata demi kata yang mampu membuatnya kuat dan bisa setegar sekarang.
Gadis malang yang akan selalu dikenang oleh Detektif Brian, dirinya akan menunggu waktu itu datang, waktu yang akan menceritakan semuanya. Detektif Brian setia menunggu dan akan mulai memberikan kode-kode kepada Alice, jika mereka pernah bertemu di masa lalu.
‘Sudah terlalu lama aku biarkan semua rasa ini tumbuh dengan sendirinya, hingga aku sadar, aku adalah pria yang paling bodoh. Kenapa bisa aku malah jatuh cinta kepada gadis seperti kamu, Alice? Kenapa?’ batin Detektif Brian.
‘Kamu akan segera mengingat semua hal yang pernah terjadi! Dan kamu akan tahu dengan sendirinya nanti, antara AKU, KAMU, dan MASA LALU KITA!’
__ADS_1