Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.

Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.
episode 39/ Perhatian Klunya, Alice!


__ADS_3

Episode 39/ Perhatikan Klunya, Alice!


‘’Huh,’’ helaan panjang menjadi pertanda jika hari ini merupakan hari yang paling sulit bagi Alice.


Dirinya kembali ke apartement dengan membawa pulang Pak Fardi, namun mereka berdua tidak bisa pulang sekarang, tidak mungkin aka nada banyak fitnah yang bertebaran jika pria dan wanita yang tidak memiliki status sah berada dalam satu kamar yang sama.


Dengan terpaksa mereka berdua menghabiskan hari di taman yang tidak terlalu jauh dari apartement tempat tinggal Alice, suasana malam yang semakin mencekam, membuat Alice sangat kedinginan dan Pak Fardi yang mengetahuinya pun melirik dan melepaskan jaket tebal yang terpasang di tubuh kekarnya dan memberikan kepada Alice.


‘’Eh, ini apa? Kenapa memberikannya kepada saya? Lebih baik Anda yang pasang jaket ini, takutnya malah Anda semakin sakit,’’ cemas Alice, ia tahu jika Pak Fardi belum seutuhnya sembuh, toh diirnya juga hanya berpura-pura kuat di hadapan Alice.


‘’Tidak masalah, ini kamu saja yang pakai, saya tahu jika kamu tengah menahan dingin, janga berpura-pura kuat di depan saya. Saya sendiri tahu jika Anda mengalami masalah besar, sekarang pakai jaket ini dan jangan ada kata penolakan! Karena saya begitu dengan benci hal semacam itu!’’ ujar Pak Fardi dengan memasang wajah sangarnya,


‘’Huh, memang dosen berhati psikopat!’’ kesal Alice, padahal dia hanya khawatir dengan kondisi Pak Fardi, eh malah memberikan ancaman balik, yang jelas membuat dirinya tidak terima jika niat baiknya malah dicurigai.


‘’Sudahlah! Saya sudah bosan menunggu disini, lebih baik Anda jelaskan apa maksud simulasi itu, sedari tadi Anda hanya diam, dan saya hanya bagaikan patung!’’ kesal Alice.


Yah, sudah lebih dari tiga jam mereka berada di taman dekat apartement, mereka hanya saling diam, tanpa mengatakan sepatah katapun. Dan lebih menyebalkannya lagi, setiap kali Alice hendak berbicara, maka ia akan dicegah oleh Pak Fardi.


Entah apa alasan dosen dinginnya ini meminta untuk tidak berbicara dalam waktu yang lama, siapa yang bisas tahan coba. Namun Pak Fardi terus memberikan ancaman jika Alice bicara, maka semua hal yang sangat perlu diketahui oleh Alice, tidak akan pernah ia sampaikan.


Dan dengan kesal, Alice terpaksa menuruti semua kemauan Pak Fardi, dan menunggu hingga tiga jam tanpa kepastian yang tepat. Ketika dilirik pun Pak Fardi masih dengan tatapan lurus ke depan, tanpa menoleh sedikitpun, hal itu malah membuat Pak Fardi layaknya seperti patung, bedanya patung hanya benda mati, namun dosennya ini benda hidup.

__ADS_1


‘’Berhenti bicara, Alice! Jika kamu ingin tahu hal penting, jangan pancing saya untuk berbicara sekarang!’’ ujar Pak Fardi.


Sudah sangat bosan rasanya Alice mendengar ucapan yang sama dari mulut dosennya ini, toh apa salahnya katakan alasan kenapa Pak Fardi lebih memilih untuk diam, dan berani bertahan tanpa kabar, benar-benar aneh, namun hal itu membuat Alice semakin kesal, dan tentunya akan membuat Alice yang tidak pernah sabaran, menjadi bosan.


‘’Awhg! Sudahlah! Daripada saya masih terus berada disini bersama dengan manusia yang hidup bagaikan patung, lebih baik saya kembali ke apartment sekarang!’’ kesal Alice, ia sudah hilang kesabaran menunggu tampa kepastian.


Kepergian Alice masih belum ditanggapi oleh Pak Fardi, entah apa yang telah terjadi, namun jelas malah membuat Alice kembali. Pak Fardi masih berdiri disana dengan menatap lurus ke depan, tanpa menoleh, ia Nampak menyulingkan sebuah senyum.


‘’Awhg! Ini sungguh membosankan, tidak bisakah Anda bicara?’’ kesal Alice.


Ternyata ia kembali hanya untuk mengatakan itu semua, yah walaupun dalam hati kecilnya Alice sangat khawatir dengan Pak Fardi, bayangan musuh-musuh yang masih belum ia kenal, justru membuatnya cemas tidak ketulungan.


Hanya saja Alice terlalu gengsi untuk mengatakan jika ia kembali karena mencemaskan kondisi Pak Fardi, nanti bisa-bisa Pak Fardi malah merasa di perhatikan olehnya.


Ia sudah menunggu lebih dari dua puluh menit, namun dosennya ini masih belum mengatakan apapun, masih dengan kondisi yang sama seperti sebelumnya, masih menatap lurus ke depan sana. Dan jelas mengundang keheranan bagi Alice, padahal Pak Fardi sendiri yang mengatakan jika dirinya akan mengatakan tips untuk bisa lolos dalam simulasi pertama nya.


Namun yang malah ia dapat, hanya pria ini masih tetap diam, dan hidup bagaikan patung. Jelas menjadi tanda tanya yang begitu besar bagi Alice. Dia menghela nafas kasar dan duduk kembali di bangku yang tersedia, melirik lekat kepada Pak Fardi yang masih sama, hanya menatap lurus ke depan sana.


‘Entah apa yang tengah di pikirkan oleh dosen ini? Sungguh aneh, padahal dia sendiri yang mengatakan jika akan memberikan klu untuk bisa lolos simulasi pertama itu, namun ketika sudah berada disini, eh malah diam seribu bahasa!’ pikir Alice dengan kesal.


Namun Alice kembali teringat dengan ucapan yang dikatakan oleh Pak Fardi ketika masih bisa berada disana, yah sebelum Alice kembali mendorong kursi roda itu.

__ADS_1


[JANGAN TANYAKAN APAPUN, SEBELUM SAYA YANG MEMULAI PEMBICARAAN. JIKA ITU TERJADI, MAKA KAMU AKAN MENGALAMI HAL BURUK NANTINYA.]


Kalimat yang di katakan oleh Pak Fardi, Alice yang hanya berpikir jika itu semua hanya ucapan bisa, lantas dirinya tidak menganggap serius, dan seakan mengabaikan ucapan Pak Fardi.


‘’Oh Tuhan!’’ geram Alice, kenapa dirinya begitu bodoh dengan aturan pertama yang di sampaikan oleh Pak Fardi.


Pak Fardi yang tahu jika Alice sudah sadar akan klu penting yang ia berikan, hanya memberikan senyum tipis di wajahnya, tanpa menoleh pun ia sudah tahu pasti Alice sangat kesal dan marah yang campur menjadi satu sekarang.


Alice hanya mengacak-ngacak rambutnya, keteledoran yang ia lakukan karena tidak menganggap penting ucapan terakhir Pak Fardi yang merupakan klu penting. Ia hanya bisa terus kesal pada dirinya sendiri, dan untuk saat ini Alice tidak berkata apapun, hanya mengumpat dalam hatinya.


Pak Fardi akhirnya melirik kepada Alice, ia memberikan sebuah lembaran kertas, anehnya lagi lembaran yang diterima oleh Alice hanya lembaran kosong, tidak ada satupun coretan yang tersisa.


Alice menatap lembaran kosong itu dengan sangat heran, awalnya ia berpikir jangan bilang jika di balik lemaran kosong ini ada klu lainnya, ketika lembaran kosong itu ia terima, Alice dengan gusar berusaha untuk menemukan hal yang tidak pasti.


‘Aku yakin, di lembaran kosong ini ada klu penting. Tidak mungkin ini hanya sebuah lembaran kertas biasa,’ pikir Alice.


Dirinya seakan masih sibuk untuk menemukan kode rahasia yang mungkin bisa digunakan untuk memenuhi rasa penasarannya kepada simulasi pertama yang akan ia lewati, namun apa semuanya nihil. Sudah lebih dari sepuluh menit, dirinya mencoba melakukan banyak hal untuk menemukan kode misterius, namun tidak ada yang mencurigakan dari lembaran kertas yang ia terima, seakan kertas itu memnag hanya kertas biasa.


‘’Sudah puas dengan lembaran kertas itu?’’ tanya Pak Fardi.


‘’Entahlah, saya tidak mengerti dengan jalan pikir Anda! Terlalu rumit untuk di pikirkan, pertama saya sudah menunggu lebih dari 3 jam, namun tidak ada jawaban pasti dari simulasi itu. Dan sekarang … Anda memberikan kertas ini, seakan ada kode yang perlu saya pecahkan, namun semuanya nihil!’’ ujar Alice yang menyandarkan tubuhnya di kursi taman dan menatap lepas ke langit.

__ADS_1


‘’Apakah saya sudah meminta Anda untuk melakukan hal lain kepada kertas itu?’’ tanya Pak Fardi dengan santai yang sontak membuat Alice menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


‘’SATU HAL YANG HARUS KAMU PERHATIKAN, IKUTI SEMUA KLU YANG DIBERIKAN, JIKA TIDAK ADA PERINTAH, JANGAN LAKUKAN!’’


__ADS_2