
Episode 35/ Tersudutkan Yang Menegangkan.
Malam semakin larut, dan dingin juga semakin melanda. Rasa sakit yang dialami oleh Detektif Brian tidak seberapa dengan rasa sakit yang akan diderita ketika melihat Alice telah menemukan cinta sejatinya, mungkin dengan menghilang, akan membuat hidupnya menjadi lebih nyaman.
Memang benar cinta itu buta, bahkan saking butanya, seorang rela mengorbankan nyawanya, tidak masalah? Tapi entah kenapa melakukan pengorbanan tanpa ikatan, jelas bukan tujuan utama. Bagaimana jika dirinya memilih bersama orang lain, sementara kamu semakin menderita dengan rasa ini?
Terdengar jeritan dari atas, seakan mereka menangisi kepergian dua orang penting di dalam mobil yang sudah hangus terbakar, Alice tidak akan membiarkan kesempatan emas ini, dirinya berteriak minta tolong karena berpikir itu mungkin saja anggota mereka.
Hanya saja, Detektif Brian langsung menutup mulut Alice, dirinya tidak berpikir jika yang ada di atas sana anggota mereka. Alice heran, dirinya seakan memiliki banyak pertanyaan yang semakin menghantui, tapi mau bagaimanapun gelengan kepala yang diberikan oleh Detektif Brian sudah menjadi bukti kuat, jika di atas sana musuh mereka.
Detektif Brian berusaha mencari tempat persembunyian yang bisa mereka andalkan, dirinya yakin, jika yang ada di atas sana tengah mengincar nyawa mereka. Nasib baik, bekas gigitan ular itu masih berhasil ditahan olehnya, dia melihat sebuah tempat persembunyian aman, yah dengan memanjat pohon di atas sana.
Awalnya Alice berpikir ide itu sangat gila, bagaimana jika mereka mengetahui keberadaannya, sudah pasti ancaman besar akan terus mengintai. Detektif Brian kemudian membisikan rencananya kepada Alice, dirinya menyimak semua ucapan yang Detektif Brian katakan.
‘’Apa Detektif yakin jika rencana itu akan berhasil?’’ tanya Alice, dirinya tidak meragukan semua ucapan dari Detektif Brian, Alice hanya khawatir dengan kondisi Kesehatan seniornya.
‘’Apa kamu meragukan saya, Alice?’’ ucap Detektif Brian.
Alice menggeleng, mau tidak mau dirinya mengikuti arahan Detektif Brian, mereka melangkah dengan perlahan, bahkan langkah kaki saja tidak akan terdengar. Dan sekarang mereka telah berada di tempat yang akan menjadi satu-satunya alasan mereka bertahan hingga detik penghabisan.
‘’Sekarang kamu manjat ke atas!’’ titah Detektif Brian.
Dirinya sangat ragu, terlebih jika mengingat semua rencana yang akan dijalankan oleh Detektif Brian, mengorbankan diri sebagai umpan.
‘’Kita tidak punya banyak waktu Alice! Kamu cepat naik ke atas, dan pegang senjata ini! Jika waktu sudah tepat, kamu harus bisa memberikan tembakan yang tidak akan meleset. Semua keberhasilan ini bergantung kepada kamu, saya sangat mempercayai kamu, Alice!’’ ucap Detektif Brian menyeka air matanya, sekalipun semua kemungkinan berhasil sangat tipis, dirinya akan berusaha untuk menyelamatkan nyawa wanita yang ia cintai.
‘’Detektif, aku tidak yakin dengan rencana ini. Daripada mengorbankan nyawa Anda untuk dijadikan umpan, lebih baik biarkan saya yang mengganti posisi itu!’’ kata Alice.
Detektif Brian memberikan sebuah senyuman, senyum yang mungkin akan menjadi senyum terakhir. Dirinya memeluk erat tubuh Alice, dan berkata, ‘’Jangan pernah korbankan kehidupanmu demi pria ini, masa depan kamu masih panjang dan kamu berhak bahagia. Biarkan pria ini yang akan berjuang dan terus memastikan jika kamu aman,’’
Pelukan berakhir, dirinya akan merelakan tubuhnya untuk keselamatan Alice. Siap mati demi cinta, siapa takut.
‘’Tidak, aku tidak setuju!’’ bantah Alice.
Alice mengajak Detektif Brian untuk bersembunyi di semak-semak, ketika dirinya melihat sebuah pencahayaan mulai bergerak dari atas sana.
‘’Alice, jangan gila kamu! Kita tidak bisa terus bersembunyi disini!’’ bisik Detektif Brian.
‘’Kita memang tidak bisa bersembunyi disini untuk waktu yang lama, tapi … saya juga tidak bisa membiarkan Detektif mengorbankan diri begitu saja kepada mereka. Detektif, Anda tahu saya sangat benci dengan yang namanya kematian tanpa kejelasan. Bagaimana mungkin saya bisa hidup tenang ketika orang lain malah menyerahkan kehidupannya begitu saja? Saya akan gila jika hal itu terjadi!’’ ucap Alice.
‘’Dan Detektif tenang saja, saya sudah menghubungi pihak markas untuk membantu kita. Setidaknya alat canggih Ronald bis akita gunakan,’’ ucap Alice yang mengeluarkan berapa barang yang ia bawa dari ruangan rahasia milik Ronald.
Detektif Brian memperhatikan lebih detail semua barang- barang yang dibawa oleh Alice, diirnya melihat Alice yang malah cengigisan tidak karuan, padahal situasi ini sangat menegangkan, bisa-bisanya gigi gingsul itu terlihat.
Dirinya kembali teringat ketika mereka masih di dalam mobil yang sudah hangus terbakar di atas sana, ketika kembali melihat kepada Alice, justru senyuman dan lirikan mata sudah menandakan jika Alice telah berhasil membaca situasi yang akan terjadi.
__ADS_1
‘’Alice, jangan katakana jika kamu ini hanya berpura-pura bodoh?’’ tanya Detektif Brian dengan berbisik.
Alice tidak langsung menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Detektif Brian, dirinya menyibukkan diri untuk merancang semua barang yang berhasil ia bawa. Detektif Brian memperhatikan semua hal yang dilakukan oleh Alice, rasa kagumnya semakin meningkat ketika mengetahui jika kemampuan Alice berkembang pesat, bahkan mengalahkan dirinya.
‘’Tinggal susun rencana berikutnya!’’ gumam Alice, rancangan aneh itu hampir berhasil.
Dirinya menoleh kembali kepada Detektif Brian, dan berbisik karena situasi mereka semakin tersudutkan. Tidak mungkin jika membiarkan seorang senior menghadapinya seorang diri, terlebih dengan situasi yang membahayakan.
‘’Tenanglah, Detektif. Sedari tadi saya hanya berpura-pura bodoh, karena saya tahu mereka sebenarnya telah berhasil melacak kita ketika Anda sibuk mengejar mobil mereka,’’
Detektif Brian akhirnya membiarkan ide gila Alice terlaksana. Dirinya butuh penjelasan detail jika mereka masih disayangi oleh Tuhan, alasan kenapa Alice mengatakan jika musuh mereka sebenarnya telah mengetahui dan berhasil melacak.
‘’Kamu hutang penjelasan, Alice!’’ bisik Detektif Brian.
‘’Hhaha, tenanglah. Akan aku ceritakan semuanya, sebagai balasan atas benturan di kening dan gigitan ular itu, jadi aku tidak perlu merasa bersalah dan kita sama-sama impas!’’ balas Alice dengan senyum penuh kemenangan ketika berhasil melumpuhkan musuh mereka.
Dengan kecanggihan alat bantuan Ronald, mereka berdua berhasil selamat. Terlebih bantuan lain datang tepat waktu, orang-orang markas telah berhasil menangkap musuh mereka. Alice dan Detektif Brian berhasil selamat, mereka berdua memang tidak ikut dengan orang-orang markas karena Detektif Brian masih terus menagih alasan tentang semua kemenangan telak yang berhasil Alice lakukan.
Mereka berdua dibantu oleh Ronald dan anggota lain untuk naik kembali ke atas, setelah memastikan musuh-musuh itu tidak berhasil menatap dan melihat wajah yang berhasil melumpuhkan mereka.
‘’Ya ampun, Detektif. Lihat kondisi Anda ini, sungguh menyedihkan! Lihat kepala Anda sudah dipenuhi dengan darah yang membeku dan lihat kaki Anda ini sudah membiru karena tidak ditangani dengan baik!’’ cerca Ronald.
‘’Shtt! Daripada terus mengatai-ngatai saya, lebih baik ambilkan semua obat yang bisa digunakan untuk membaluti semua luka yang di dapatkan oleh Detektif Brian,’’ saran Ronald.
‘’Kamu harus ingat, kamu masih memiliki hutang penjelasan kepada saya. Jadi setelah ini kita tidak akan langsung kembali ke markas bersama yang lainnya, kita akan kembali ke suatu tempat,’’ ucap Detektif Brian mencegah langkah Alice.
Detektif Brian hanya memberikan senyuman aneh di wajahnya, jelas hal itu justrru akan mengundang kecurigaan yang mendalam bagi Alice, sayangnya rasa penasaran itu terhenti ketika Ronald telah datang dengan membawa alat p3k.
‘’Detektif, kita masih harus membicarakan tentang masalah itu!’’ ujar Ronald.
‘Ugh, sial! Kenapa aku malah lupa dengan hal itu. Jadi berantakan semua rencana untuk membuat Alice kembali teringat dengan kejadian yang pernah terjadi antara aku dan dia,’ batin Detektif Brian.
Dirinya seakan berdialog dengan lawan bicara yang tidak lain adalah dirinya sendiri, tidak mungkin harus mengabaikan semua rencana yang hampir matang, tapi dirinya juga tidak bisa mengabaikan tentang hal yang ingin sekali Alice ketahui.
Akhirnya dengan berat hati, dirinya kembali menunggu waktu yang tepat untuk membuat Alice kembali teringat. Dirinya sudah terlanjur berada dalam situasi sulit dan sayangnya kesepakatan masih belum bisa ia dapatkan.
‘’Baiklah, setelah ini kita harus membicarakan hal penting dan harus mendapatkan kesepakatan pagi ini!’’ ucap Detektif Brian yang melangkah meninggalkan Alice yang menatap kepergian Detektif Brian dan Ronald.
‘’Bagaimana dengan saya?’’ teriak Alice.
‘’Untuk masalah itu, kita bisa bicarakan lain hari. Dan lebih baik setelah ini kamu kembali ke apartemen, bukannya kamu ada acara di tempat penyamaran?’’ ucap Detektif Brian yang sudah berada di dalam mobil yang tengah di kendarai oleh Ronald.
Mobil yang dikendarai oleh Ronald melaju dengan pesat, meninggalkan Alice yang masih mematung di tempat. Dirinya tidak mempermasalahkan jika akan gagal untuk mengatakan semua alasan dibalik keberhasilannya dalam kasus kali ini, justru dirinya semakin penasaran dengan hal yang akan dilakukan oleh Ronald dan Detektif Brian dan tentang kesepakatan apa yang harus mereka raih.
‘Sungguh mencurigakan, kenapa kesepakatan kali ini, mereka berdua tidak melibatkan aku?’ batin Alice.
__ADS_1
Lamunan Alice buyar ketika sebuah mobil yang ia kenal mendekat, mobil Prince. Dirinya kembali bertemu setelah lima tahun berpisah tanpa kabar. Betapa kaget Alice ketika Prince sudah berdiri di depannya, nasib baik Alice sudah berganti pakaian biasa, setidaknya identitas Alice masih bisa terselamatkan.
‘’Hei, sudah lama kita tidak bertemu!’’ ucap Prince dengan wajah juteknya, justru sangat berbeda ketika berhadapan dengan Tuti, wajah ceria dan ucapan yang akan lebih dari lima menit tidak akan mau berhenti.
‘Mampus aku,’ gumamnya.
Semua sorot mata orang-orang markas menatap heran kepada pria yang tengah bersama degan Alice, karena selama ini identitas asmara masa lalu Alice memang tersimpan dengan rapat, jadi tidak ada yang mengetahui tentang Prince.
Alice memberikan kode agar mereka langsung kembali ke markas, dirinya yakin jika pasti orang-orang markas akan sangat penasaran dengan kehidupan pribadi Alice setelah ini, dirinya sudah yakin serratus persen.
Prince merasa heran kenapa Alice, malam-malam bisa berada di lokasi yang menegangkan. Tanpa pikir panjang Alice manarik tangan Prince untuk menjauh ketika ada mobil yang akan melindasnya.
‘’Kamu masih tetap gegabah, Prince!’’ Hardik Alice.
Dirinya melangkah menjauh tapi ditahan oleh Prince.
‘’Kamu jangan pergi kemanapun sebelum menjelaskan semuanya!’’ ucap Prince, dirinya masih kaget dengan kepergian Alice tanpa kabar ketika Ia merasa hubungan mereka baik-baik saja.
Alice yang masih belum yakin jika sekarang waktu yang tepat untuk mengatakan semua kebenaran dibalik kepergiannya, terlalu banyak luka yang masih belum sembuh, jika sudah waktu yang tepat, tanpa dimintapun Alice akan menceritakan semuanya kepada Prince.
Dirinya berusaha mengulur waktu, dan tentu ketika dirinya merasa sudah berada di situasi yang tepat, ketika Alice melihat ada kedatangan sebuah sepeda motor yang mendekat. Dirinya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, dan tentu Prince kemudian berusaha mengejar Alice.
‘’Ugh, sial! Padahal aku hanya ingin meminta alasan dibalik semua perpisahan itu, kenapa dai malah pergi tanpa sebab jelas, dan sekarang … dia juga pegi tanpa sebab! Begitu menyebalkan!’’ ujar Prince yang kehilangan arah untuk menanyakan alasan dibalik kandasnya hubungan mereka.
Alice yang sudah di antar kembali ke apartementnya, berterima kasih pada pria yang telah menyelamatkan nyawanya dari kejaran Prince, bukan nyawa lebih tepat, tapi kegundahan hati yang berusaha ia bina dan rajut untuk memastikan membuang nama Prince.
‘’Hanya sekedar ucapan terima kasih?’’ tanya pria yang membuka helmnya.
‘’Terus apalagi? Jangan katakan, apakah saya harus menjamu Anda dengan secangkir kopi?’’ tanya balik Alice yang langsung mendapatkan anggukan setuju dari pria itu.
Pria itu melengang begitu saja dan melangkah ke pada kamar Alice, dan lebih kagetnya lagi, dirinya memiliki kunci duplikat, rasanya Alice tidak pernah memberikan kunci apapun kepada orang lain, terlebih orang asing yang baru bergabung dengan markas.
‘’Tunggu sebentar! Bagaimana Anda bisa memiliki kunci duplikat kamar saya? Saya tidak pernah memberikan kunci duplikat manapun kepada orang lain!’’ sergah Alice ketika pria itu dengan santai duduk di ruang tamu kecil.
‘’Hanya untuk mendapatkan kunci duplikat kamar kamu ini, bukan hal yang berat untuk saya lakukan. Dan mana jamuan secangkir kopi untuk seorang pria asing yang telah menyelamatkan kamu dari mantan pacar kamu yang menyebalkan itu?’’ tanyanya.
‘’Dan bagaimana Anda bisa tahu semua tentang masalah asmaara saya?’’ tanya Alice yang masih tidak percaya jika dosennya ini tahu semuanya, dan jangan katakana jika dirinya juga mengetahui tentang identitas Tuti.
Nasib baik sebelum Alice meninggalkan apartement, dirinya sudah merapikan semua hal yang berkaitan dengan penyamarannya menjadi Tuti.
‘’Apa Anda masih akan terus berdiri mematung disana, tanpa menjamu saya dengan secangkir kopi?’’ ujar Pak Fardi yang membuyarkan lamunan Alice.
‘’IYA, BAWEL!’’ balas Alice dengan jutek.
Dirinya melangkah ke dapur mini dan menyiapkan secangkir kopi untuk Pak Fardi, sementara itu Pak Fardi hanya tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
‘Sungguh hebat, jika gadis kecil itu yang akan memecahkan kasus yang tersembunyi karena teka-teki!’ batinnya.