Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.

Tuti Gendut Penakluk Pria Tampan.
Episode 30/ Kamu Bermain Licik, Aku Bermain Cerdik.


__ADS_3

Episode 30/ Kamu Bermain Licik, Aku Bermain Cerdik.


Aneh sekali rasanya ketika Prince mengajak Alice alias Tuti di lingkungan kampus untuk mengerjakan tugas kampus bersama, dirinya merasa ada yang tidak beres ketika mantan kekasihnya ini mengajak untuk mengerjakan tugas kelompok bersama-sama.


‘’Aku masih harus tetap hati-hati dengan pria itu, bisa-bisa ini juga hanya sebuah jebakan dan jangan bilang jika dia tengah merencanakan hal licik lainnya! Huh, dia pikir Alice ini sebodoh itu? Maaf, ini Tuti, jika dia bermain licik maka aku akan bermain cerdik!’’gumam Alice, dirinya kembali teringat ketika Prince mengeluarkan kata-kata buayanya.


Kilas balik ….


Prince yang terus-menerus meneror dirinya dengan panggilan yang tidak kunjung berhenti, Alice terpaksa melangkah dengan tergesa-gesa terlebih dirinya masih menggunakan sepatu hak tinggi, langkah cepatnya membuat dia hampir saja terjatuh, seandainya jika tidak ada sebuah tangan yang berhasil menarik tubuh itu ke dalam dekapannya.


Hap.


Alice kaget ketika dirinya merasakan lengan kekar tengah memegang pinggangnya, maklum Alice sudah lama tidak berada dekat dengan seorang pria, semenjak ia tidak menjalin hubungan apapun bersama Prince, dirinya memang berusaha untuk menjaga jarak, bahkan tidak pernah ia biarkan pria manapun untuk bisa masuk ke dalam hatinya.


‘’Maaf,’’ ujar Alice, dirinya menatap wajah tampan yang ada di hadapannya.


Hanya sekejap karena dering ponsel menyebalkan itu masih terus menganggu hidupnya, hingga dia dengan kesal meminta izin pada pria yang tengah bersamanya, dengan kesal ia mencopot sepatu hak tinggi yang ia pakai dan langsung membuangnya sembarangan.


Pria itu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah lucu Alice, dirinya jadi penasaran untuk lebih mengenal Alice. Tapi dirinya ingat, ada janji temu dengan seseorang, yah dia pun melanjutkan perjalanan sembari terus memikirkan tentang gadis yang ia tolong.


‘Gadis yang menarik, tidak! Bukan hanya menarik, dia juga sangat menggemaskan,’ batinnya dengan tersenyum-senyum sendiri.


Ketika telah berhasil menjauh dari area kantor kepolisian, sudah seperti maling yang hampir tertangkap basah, Alice malah bersembunyi di toilet paling ujung, dia hanya tidak ingin orang lain mengetahui tentang masa lalunya, terutama tentang Prince.

__ADS_1


Pria yang sangat menyebalkan, sudah tidak terbayang berapa panggilan masuk yang terus mengacaukan hidupnya, dengan kesal Alice mengangat panggilan dari Prince.


[Huh, susah banget sih nelfon lo! Lo ini kemana saja? Sudah berlagak seperti orang penting!]


[Sudah berapa kali gue berusaha menelepon lo, hah! Sudah dua puluh kali panggilan, dasar cewek aneh!] celotehan panjang Prince, Alice hanya menjadi pendengar dengan celotehan Prince, di sisi ia kesal tapi di sisi lain ia juga rindu.


‘’Jika hanya ingin membacakan celotehan lo yang panjang seperti naskah scenario, mendingan stop karena gue memang sangat sibuk!’’ ujar Alice.


[Eh, enak aja lo, sudah bersusah payah gue menelepon lo, dan lo abaikan gue begitu saja, enak banget yah hidup lo!]


[Nasib baik gue ini masih bermurah hati dan pantang menyerah untuk menghubungi lo, gue cuman mau bilang kalo kita satu kelompok untuk tugas mata kuliah biologi, bye!]


Sambungan telepon pun terputus, Alice menatap ponselnya dengan kesal, harusnya dirinya yang marah karena Prince terus menganggu hidupnya, eh ini malah dia yang marah, sungguh aneh. Alice menatap dirinya lewat pantulan cermin, dia akhirnya mengerti betapa mempesonanya dia dengan polesan make up cukup menantang.


‘’Pantas saja semua mata tertuju padaku, rupanya mereka terpesona dengan kecantikan yang tiada tara. Haha hahah, siapa yang tidak akan oleng coba, bibir seksi ini, ugh sangat mengairahkan,’’ puji Alice pada dirinya sendiri.


Dirinya menghapus semua make up yang berada di wajahnya, dan mengganti pakain yang biasa ia kenakan, sudah dari tadi ia risih menggunakan pakaian ketat yang memperlihatkan tubuh seksinya. Hanya menghabiskan waktu sepuluh menit, Alice telah kembali menjadi dirinya yang berpenampilan tomboy.


‘’Ugh, akhirnya!’’ ujar puas Alice yang terbebas dari riasan make up dan gaun yang begitu menyebalkan.


Dirinya kembali teringat dengan Ronald, yah karena tujuan awalnya memang ingin bertemu dengan Ronald dan meminta dibuatkan penyamaran Tuti yang baru dan tentunya dengan bahan yang lebih baik, eh malah insiden yang tidak terduga justru terjadi, malah Ronald yang pingsan.


‘’Apes banget hari ini,’’ gumamnya dengan lesu dan kembali melangkah ke ruangan Profesor, tempat Ronald dirawat

__ADS_1


Padahal tujuan awalnya untuk kembali ke kantor kepolisian setelah seharian suntuk ia berada di kampus, walaupun dia memang tidak masuk ke jam pelajaran satupun. Entah hukuman apa yang akan ia dapati, setelah bolos dalam perkuliahan, terlebih dari jam pembelajaran Pak Fardi, dia tidak yakin bisa keluar begitu saja dari hukuman besoknya.


‘’Bodoh amat, mau dihukum sama dosen killer itu. Toh dia juga sudah salah, kenapa setiap saat memberikan tugas yang sungguh menumpuk banyak, dia pikir ini otak nggak lelah, dia pikir ini perangkat computer yang bisa mencerna setiap kata-katanya!’’ ujar kesal Alice.


‘’Tapi emang sih dia tampan lagi mempesona, memang sih dia itu sangat membuat mata manapun tidak bisa berhenti untuk menatapnya. Tapi … sayangnya pria itu sangat menyebalkan! Kenapa Tuhan harus menciptakan manusia seperti dia! Sungguh menyebalkan, seandainya sikap dia lebihh manis, pasti hati wanita akan semakin melting, heheh!’’


Alice yang masih terus melangkah di kagetkan dengan seorang pria yang telah membantunya beberapa menit yang lalu, toh akhirnya dia juga bertemu kembali dan mungkin akan melakukan kasus bersama.


‘’Siapa pria itu? Kenapa ekspresi wajahnya sangat serius ketika berhadapan dengan Detektif Brian, apakah akan ada kasus baru yang sedang mereka bicarakan?’’ pikir Alice, dia berusaha untuk menguping pembicaraan antara dua pria tampan yang terlihat seumuran.


‘Ish, apa sih yang sedang mereka bicarakan. Kenapa tidak bisa terdengar lagi!’’ kesal Alice.


Dirinya masih belum bisa mendengar dengan baik pembicaraan yang terjadi, padahal jiwa keponya tengah memberontak. Salah sendiri kenapa ruangan itu tidak ia minta agar dipasang anti kedap suara.


Ketika Alice tengah berusaha untuk menguping pembicaraan yang terjadi di dalam sana, ketika itu pula pintu terbuka, dan Alice yang tengah menguping malah mendapatkan karma. Dua kali ia hampir terjatuh dan dua kali juga pria itu kembali menyelamatkan Alice.


Mata mereka kembali beradu, sementara Detektif Brian yang berada di dalam sana sudah kepanasan melihat kemesran atas dasar ketidak kesengajaan.


‘’Maaf,’’ ujar Alice dengan kikuk.


‘’Oh, tidak apa. Apakah kaki kamu terkilir?’’ tanya pria itu yang melihat Alice tengah meringis kesakitan di bagian kaki kirinya.


‘’Hmm,’’ balasnya.

__ADS_1


‘’Sini biar saya obati,’’ ujar pria itu dengan baik hati.


Detektif Brian hanya menjadi penonton tanpa bayaran pada adegan romantic yang terjadi, sementara itu Alice sudah merona bagaikan kepiting rebus.


__ADS_2