
Episode 26/ Gengsi dan Keras Kepala Membuat Semua Merana.
‘’Ahh, sudahlah. Aku juga masih banyak kerjaan, lebih baik selesaikan kasus ini sendirian!’’ ujar Ronald, sudah capek rasanya ketika harus menjadi korban akan keras kepalanya kedua detektif ini.
Alice dan Detektif Brian memilih untuk berdamai, memang ini kesalahan mereka yang terlalu gengsi untuk saling mengutarakan perasaan mereka, yah walaupun Alice hanya menganggap Detektif Brian sebagai seniornya, maka perasaan berbeda tidak dapat di tapik dari Alice, dirinya menyimpan sebuah rasa yang sudah sangat lama ia tahan.
‘’Hei, Ronald. Tunggu, kamu ini seperti anak kecil saja, toh padahal ini hanya masalah biasa, lebih baik kita mulai saja investigasi ini,’’ saran Detektif Brian menarik tangan Ronald dan mengabaikan Alice yang menatap kepada mereka dengan heran.
‘’Siapa peduli dengan perkara itu!’’ geram Alice melangkah ke garis polisi yang terpasang.
Alice berdiri di sebelah Ronald, yah dirinya masih kesal dengan Detektif Brian, dan ini akan terus terjadi, sekalipun Ronald sudah berusaha untuk mendamaikan kedua detektif hebat ini.
Mereka melakukan invesigasi tidak terlalu lama, terlebih kasus ini hanya kasus sederhana, ketika kasus itu berhasil di pecahkan Alice teringat dengan Prince, ingin sekali rasanya kembali berada di sisi Prince.
‘Apakah dia sudah pulang?’ pikir Alice ketika mobil itu kembali masuk ke bagasi.
Detektif Brian yang melihat semuanya, khawatir seorang Alice membuat dia begitu lemah, padahal ini hanya masalah cinta, tapi kenapa lebih sakit dari sebuah kegagalan ketika memecahkan kasus? Entahlah, sekarang Detektif Brian hanya berusaha damai dengan hatinya.
Ketika mereka semua sudah turun dari mobil, Detektif Brian memilih untuk melangkah terlebih dahulu kembali ke ruangannya, di dalam ruangan itulah, dirinya mengambil satu pajangan foto kecil, yang mana foto itu adalah foto Alice, yah foto yang mereka ambil pertama kali, dan satu-satunya foto yang dimiliki oleh Detektif Brian, sebuah kenangan yang takkan ternilai harganya.
__ADS_1
Dirinya terus memandang foto itu dengan lekat, senyum nya mengembang hingga tak sadar jika Ronald sudah berada di dalam ruangan yang sama, yah Detektif Brian lupa, ketika baru datang kembali ke markas, ruangannya memang belum bisa dipakai, karena masih banyak renovasi yang ia lakukan pada ruangan itu, membuatnya menjadi damai dan tenang, terlebih dia akan menetap lama di markas, kasus luar negerinya sudah tuntas.
‘’Ehem, ternyata Detektif Brian menyukai Detektif Alice!’’ tebak Ronald ketika tanpa sengaja melihat siapa dibalik pajangan foto itu, yah hanya dengan di andalkan teknologi super canggih di ruangan Ronald, ia bisa tahu apapun yang di lakukan oleh Detektif Brian yang menumpang di tempatnya.
‘’Hei, kamu kenapa bisa ada di ruangan saya?!’’ tanya Detektif Brian dengan gelagapan.
Ronald mengatakan jika siapa yang salah masuk ruangan, sudah jelas dirinya hanya menumpang di ruangan canggih itu, dan betapa malunya ketika Detektif teringat jika ini bukan ruangan pribadinya melainkan ruangan Ronald, seorang ilmuwan yang merambat ke bidang detektif, entah seberapa encer otak Ronald.
Dirinya memang di kenal paling sering melakukan eksperimen gila, dan tentunya eksperimen itu di dasari oleh teori kuat, sudah banyak penemuan yang berhasil dan membantu tugas detektif, Ronald sudah di ibaratkan permata yang tak ternilai.
Detektif Brian yang merasa malu, lantas saja bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar, dirinya tidak bisa terus seperti ini, berada terus di dalam ruangan Ronald, akan membuat dirinya tersiksa, dan semua rasa yang ia simpan akan ketahuan dan hal itu yang berusaha di hindari olehnya.
Ia merasa semakin insecure untuk memiliki perasaan lebih pada Alice, dan tentunya setelah mengetahui jika Detektif Brian memiliki rasa yang sama pada Alice, memang pesona Alice tidak ada duanya, siapapun yang pernah dekat dengannya pasti akan jatuh cinta, sebuah hukum alam.
Ronald memilih untuk melanjutkan eksperimennya pada cctv yang terpasang di gubuk tempat Prince di hajar habis-habisan, memang ketika seorang ilmuwan patah hati dan merasa insecure, maka jalan tengahnya, yah dengan menciptakan hal baru.
Dirinya berusaha semaksimal mungkin untuk melupakan Alice dalam benak maupun pikirannya, dan sekarang semua hal yang ia lakukan menjadi sia-sia, bayangan Alice terus membuatnya tidak focus, padahal dirinya sudah terbiasa seperti ini, hanya saja ketika mengetahui jika Detektif Brian juga mencintai Alice, membuat dirinya semakin jauh untuk bisa mendapatkan Alice yang penuh dengan pesona mematikan, bahkan lebih mematikan dari sebuah kasus.
‘’Aku tidak boleh seperti ini, ini hanya masalah hati, lantas kenapa aku seakan paling tersakiti? Tenang Ronald, kamu harus bisa memecahkan hal yang ada di hadapan kamu ini, bukan memikirkan hal lain!’’ gumam Ronald berusaha melanjutkan eksperimennya.
__ADS_1
Sementara itu, Detektif Brian sangat malu karena telah ketahuan memiliki perasaan lebih pada Alice, sepanjang perjalanan dirinya menggeruti kebodohan yang telah ia perbuat, kenapa dirinya bisa tidak menyadari jika ruangan yang baru saja ia masuki adalah ruangan Ronald bukan ruangannya.
‘Kenapa juga di ruangan itu banyak sekali alat canggih, bisa-bisanya aku harus menahan malu serta gengsiku!’ batin Detektif Brian.
Dari kejauhan ia melihat Alice yang tengah duduk di taman yang menjadi tujuan langkahnya, hanya saja ia masih tidak sanggup untuk merasakan patah hati yang kedua kalinya, sekarang dirinya memutar Haluan dan tanpa sadar bertemu dengan Profesor.
‘’Prof, mau kemana Anda?’’ tanya Detektif Brian yang teringat ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
‘’Oh, untuk pembicaraan kita, di tunda dulu yah. Saya masih ada urusan di luar kota dalam dua hari ke depan, oh yah, saya titip Alice yah, dia terlihat lebih sering murung belakangan ini,’’ ucap Profesor yang kembali melangkah.
Mendengar itu semua, tatapannya kembali pada Alice yang masih berada disana, dirinya jadi teringat apa yang tengah di lamuni oleh Alice, apakah dirinya sedang memikirkan Prince?
Untuk menemukan jawabannya, Detektif Brian melangkahkan kakinya ke ruangan dimana Prince dirawat, dan betapa kagetnya Detektif Brian yang mendapati ruangan itu sudah kosong, tidak ada tanda kehidupan seorang manusiapun di dalam sana.
‘’BAGUSLAH JIKA PRIA MENYEBALKAN ITU TIDAK ADA DISINI LAGI,’’
‘’TAPI … APAKAH ITU YANG MEMBUAT ALICE SEDIH? KEPERGIAN PRIA YANG BERNAMA PRINCE?’’ pikir Detektif Brian.
dirinya berusaha memikirkan semua hal yang bisa menjadi terkaan paling benar dan tentu semakin di pikirkan, maka otaknya semakin tidak bisa berpikir dengan tenang.
__ADS_1
rasa cemburu itu malah membuat dirinya kesal.