
Episode 31/ Godaan Terbesar Pria Adalah Wanita.
‘’Ekhem,’’ ujar Detektif Brian yang memecah adegan romantic yang telah terjadi di hadapannya.
Alice dan pria itu lantas melirik kepada Detektif Brian yang melangkah mendekat, pria itu hanya tersenyum mendapati rekannya ini menahan api kecemburuan, padahal ia ketahui jika Detektif Brian bukan tipe yang mementingkan urusan wanita dan asmaranya, sudah lebih dari lima tahun, dirinya menjomblo, tapi sekarang ketika berhadapan dengan gadis mungil yang terlihat masih berusia dua puluh tahunan, wajahnya malah merah padam.
Pria itu terus mengobati kaki Alice yang terkilir, tanpa memperdulikan jika Detektif Brian akan menghajarnya nanti, memang itu yang dinantikan olehnya, melihat Detektif Brian yang kembali merasakan api kecemburuan adalah cita-citanya dari awal.
‘’Kaki kamu juga terluka?’’ tanyanya pada Alice.
Alice mengangguk, dirinya baru sadar jika mendapatkan luka karena terlalu lama dalam memakai sepatu hak tinggi. Pipinya malah merona ketika pria itu menatapnya dengan sangat lekat, padahal hatinya terbiasa bergejolak ketika hanya bersama dengan Prince, dan kenapa sekarang? Kenapa hatinya menjadi tidak karuan? Apakah ini yang di namakan cinta?
‘Tidak! Ini bukan cinta! Bukan! Ini bukan cinta!’ batinnya merasa kesal dengan perasaan yang tiba-tiba muncul.
Alice pergi meninggalkan dua pria tampan itu, awalnya dia hanya mengira jika apapun yang terjadi hanya kebetulan, tidak mungkin ia bisa jatuh cinta lagi setelah hatinya nyata terkunci atas kehadiran Prince, mau bagaimanapun dirinya juga bukan tipe yang bisa memperlakukan hatinya sesuka hati.
‘’Tidak, tidak mungkin aku jatuh cinta pada pria asing! Prince saja masih sulit untuk ku lupakan, dan sekarang aku harus jatuh cinta pada pria asing? Tidak, tentu tidak!’’ geram Alice.
Dia merasa bingung kenapa mendadak hatinya bisa berkata jika pria itu dapat membuatnya jatuh cinta, sementara hatinya sendiri tidak pernah tahu apapun, mungkin ini hanya perasaan biasa, tidak mungkin seorang bisa jatuh cinta ketika pertama kali bertemu, hanya cinta monyet, dan tidak ada dalam kamus hidup Alice CINTA MONYET.
Dirinya terus melangkah kembali ke apartemen, dan lagi-lagi nomor yang belum ia simpan menghubunginya, dengan kesal ia membiarkan dering ponsel itu berbunyi, toh lebih baik dia langsung tidur.
__ADS_1
Berusaha untuk memejamkan mata, malah berakhir dengan kesal yang tidak terbendung, padahal data seluler sudah ia matikan, tapi kenapa malah ponselnya terus berdering tidak jelas, ia tebak yang menghubunginya itu pasti Prince, pria yang sangat menyebalkan.
Dengan langkah penuh kantuk, ia mematikan telepon dan berniat untuk menghidupkan mode pesawat, tapi nyatanya Prince masih terus menghubunginya, bahkan hal yang lebih mengejutkan lagi, pria itu sudah berada di depan apartemennya, itulah kenyataan yang di terima oleh Alice, dirinya segera berlari ke daerah kaca dan benar saja Prince tengah menunggu di samping motor gedenya.
‘’Haduh, tuh bocah sudah kehabisan akal! Kenapa dia malah datang kesini coba? Sudah tahu orang begitu capek!’’ ujar Alice yang sangat malas untuk menemui Prince.
Dirinya masih berpikir jernih, jika tidak menghampiri Prince sekarang, maka pria nekad itu yang akan datang menghampiri dan tentu akan menjadi masalah besar jika itu terjadi, dirinya harus dengan cepat berubah menjadi Tuti sebelum ia melihat siapa dibalik tubuh Tuti yang berusaha ia pertahankan hingga penyelidikan ini berakhir.
‘’Ahh, sial! Aku yang seharusnya bisa guling-guling di kasur empuk ini, malah dengan terpaksa harus menemui pria menyebalkan itu!’’ gumamnya kesal, dengan cepat ia mengganti kembali pakaian Tuti yang kebetulan sudah di perbaiki oleh Ronald, yah walaupun belum terlalu sempurna, tapi setidaknya masih berfungsi.
Dan satu tantangan yang harus di hindari oleh Alice adalah tercebur ke dalam air, jika itu terjadi, hancur sudah semuanya.
‘’Jangan sampai dia menagih janji itu,’’ batin Alice yang sudah sempurna menjadi Tuti.
‘’Ada apa kamu menghubungi terus menerus? Tidak bosan kah kamu terus menggangguku?’’ tanya Tuti dengan cuek.
‘’Baru juga beberapa jam yang lalu, sudah kesal duluan. Sudahlah, sekarang lo ikut dengan gue!’’ ujar Prince meminta Tuti untuk naik ke mobilnya.
Tuti sangat kesal dengan Prince, dirinya seperti tengah kembali menguji kesabaran, mana mungkin motor itu akan muat ketika ia naik, dengan kesal Tuti melangkah ke dalam apartemennya dan meninggalkan Prince yang masih berusaha mengejar.
‘Dasar bodoh! Kenapa juga aku mau saja di bodohi oleh dia? Sudah untuk yang kesekian kalinya ini terjadi!’ geramnya.
__ADS_1
Prince masih berusaha mengejar Tuti hingga masuk ke dalam apartemen, dirinya tidak peduli dengan semua sorot mata yang melirik padanya dengan perasaan aneh.
‘’Tuti, buka dulu pintunya. Lo kenapa main kabur aja sih? Kan gue cuman berniat mengajak lo untuk buat tugas kelompok kita, kenapa lo malah main nyelonong saja kembali ke dalam?’’ tanya Prince yang masih setia untuk mengetuk pintu kamar Tuti.
Sementara itu, Tuti di dalam sana semakin kesal, dirinya yang ingin kembali menjadi Alice tidak bisa akan kehadiran Prince, terlebih teriakan sang mantan yang akan menimbulkan keributan di luar sana. Ini tidak boleh dibiarkan, dirinya melangkah kembali untuk bertemu dengan Prince.
‘’Apa?!’’ tanya Tuti dengan sangat jutek.
‘’Lo kenapa main kabur aja sih? Kan gue berniat untuk mengajak lo, tapi main nyelonong aja!’’ kesal Prince.
‘’Sudahlah, gue ngantuk. Besok saja kita bikin kalo gitu, dan mendingan lo segera cabut dari tempat gue! Lo nggak ngelihat apa, jika lo itu tengah menjadi pusat perhatian?’’ tanya Tuti dengan berbisik, dirinya kembali melangkah masuk dan meninggalkan Prince yang baru sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian orang banyak.
Prince akhirnya memilih untuk meninggalkan apartemen milik Tuti, dirinya mendengar sayup-sayup pembicaraan penghuni apartemen itu.
[Tuh coba lihat, si bongsor di kejar-kejar oleh pria tampan. Mana ada ceritanya coba? Gue yakin pasti pria tampan itu telah di guna-guna]
[Hmm, lo benar. Mana ada ceritanya yang tampan untuk yang bongsor!]
Suara bisik-bisik yang membuat Prince kesal, dirinya malah bersuara dengan lantang, berharap semua gadis-gadis di apartemennya Tuti berhenti untuk melakukan hal yang dapat merugikan orang lain.
‘’MEMANGNYA KENAPA? APA ITU ADA MASALAH DENGAN ANDA SEMUA? TOH, CINTA SEJATI TIDAK Pernah MEMANDANG DARI APAPUN, FISIK KAMU SEMUA MEMANG CANTIK DAN SEMPURNA, TAPI TIDAK DENGAN HATI ANDA YANG LEBIH BUSUK DARI SAMPAH!’’
__ADS_1
di dalam sana Tuti masih bisa mendengar kejadian yang tengah terjadi di luar sana, dirinya semakin bingung dengan perasaannya pada Prince.
'Kenapa ketika aku hendak melupakan mu, kenapa malah kamu yang terus berusaha mengambil hatiku untuk kesekian kalinya?'