
Episode 34/ Klu Cinta Dari Detektif Brian.
Mereka berdua masih berdiam diri di dalam mobil, mereka masih harus menunggu instruksi berikutnya, hal apa yang akan mereka lakukan. Setelah puas menunggu hingga dua puluh menit tanpa kabar berikutnya. Alice merasa bosan, terlebih rasa kantuk mulai menyerang. Dirinya berusaha untuk tetap terjaga hingga mendapatkan perintah baru dari mereka yang tengah melakukan penangkapan akan kasus saat ini.
Detektif Brian yang merasa kasihan ketika melihat Alice berusaha untuk bangun sementara matanya sudah begitu mengantuk, hanya saja Alice masih bersikeras untuk tidak tidur, dirinya akan berjaga hingga mampu melumpuhkan pelaku di saat genting.
‘’Sudahlah, Alice. Jangan berpura-pura terus seperti ini, jika memang mengantuk, maka tidurlah sebentar!’’ ujar Detektif Brian.
‘’Tidak! Sudah saya katakan tidak! Lagian saya tidak akan membiarkan Detektif yang seorang diri mencuri poin dari saya!’’ Alice yang masih bersikeras pada pendiriannya.
‘’Terserah kamu saja, lagian mana mungkin seorang yang mendapatkan banyak penghargaan ini akan dikalahkan oleh juniornya sendiri!’’ ucap Detektif Brian yang mulai menutup matanya dan membiarkan Alice terjaga.
Alice kesal, kenapa Detektif Brian tidak peduli padanya. Sekalipun ia meminta untuk tetap terjaga, tapi kan tidak tahu nanti, bagaimana jika di saat genting mereka malah tertidur. Dengan kesal Alice tetap terjaga dan membiarkan Detektif Brian yang sudah terlihat tertidur.
‘’Dasar senior paling aneh! Bisa-bisanya ia tidur dalam kondisi genting seperti ini!’’ batin kesal Alice.
Dirinya melirik kepada Detektif Brian yang masih memejamkan matanya, Alice menajamkan penglihatannya kepada seniornya.
‘’Jika di perhatikan lebih detail lagi, rasanya wajah ini sangat familiar. Tapi … kapan? Kan saya dan Detektif Brian bertemu pertama kali ketika melakukan tugas pertama, tidak mungkin jika pernah bertemu sebelumnya. Dia saja dingin minta ampun!’’ pikir Alice.
Alice kembali teringat tentang usia Detektif Brian yang sudah mendekati angka 35 tahun, usia yang sangat matang untuk memiliki kekasih, tapi sayangnya wajah tampan seorang Detektif Brian masih belum bisa menemukan wanita yang akan menemani sisa umurnya.
‘’Padahal Detektif Brian tampan, namun … kenapa dia masih betah hidup dalam kesendirian. Tidak kah berpikir untuk mencari pasangan hidup?’’ pikir Alice.
__ADS_1
Jika di perhatikan lebih jauh, Detektif Brian memang mempesona, rahang keras disertai hidung mancung, Alice teringat jika dia tanpa sengaja membaca riwayat kehidupan Detektif Brian yang memiliki darah campuran amerika, Indonesia dan Turki. Jadi tidak salah jika ketampanannya ini pernah mencuat beberapa tahun yang lalu, hingga akhirnya Detektif Brian menyembunyikan ketampanannya kepada khalayak public, hanya orang-orang markas yang tahu dan terus bisa menatap wajah tampan Detektif Brian.
‘’Ah, iya. Mana mungkin seorang pria tampan sepertinya, mau memiliki kekasih hidup, toh tanpa mencari pun, dirinya akan mendapatkan banyak wanita dalam sekejap mata. Siapa yang tidak tertarik dengan wajah tampan ini, tapi heran … kenapa Detektif Brian tidak pernah terlihat akrab dengan wanita manapun, untuk satu orang saja tidak pernah. Apakah dia hanya menggunakan ketampanannya ini untuk mempermainkan hati semua wanita?’’ gumamnya.
‘’Jangan fitnah terlalu dalam!’’ ujar Detektif Brian yang mendadak membuka kedua matanya.
Alice kaget ketika dirinya kedapatan tengah menceritakan semua hal yang ia pikirkan tentang seniornya sendiri, ketika Detektif Brian mulai menatap lekat kepada Alice, detak jantungnya menjadi tidak karuan, rasa kantuk yang sudah lama hilang semenjak Alice mulai menatap wajahnya dengan intens, membuat dirinya semakin penasaran akan kata-kata yang akan keluar.
‘’Maaf,’’ lirih Alice.
Dirinya menjadi pucat pasi ketika ketahuan oleh Detektif Brian, dia hanya takut akan dikeluarkan secara tidak hormat karena masalah pribadi ini, Alice tahu sekali jika Detektif Brian memang paling tidak suka jika ada orang lain yang mencari tahu tentang dirinya terlalu jauh, apalagi urusan asmaranya.
‘’Sekarang katakan hukuman apa yang pantas saya berikan sekarang?’’ tawar Detektif Brian dengan memasang wajah dinginnya.
Detektif Brian tidak tahan ketika melihat Alice menjadi ketakutan seperti ini, dirinya malah gemas sendiri dengan tingkah random yang diberikan. Di lain sisi dirinya melihat ada seorang pria yang tengah berlari ke arah mobil di ujung sana, nasib baik mata Detektif Brian sangat jeli, dirinya mengabaikan Alice untuk sementara dan mengejar mobil yang ia Yakini mobil pelaku yang berhasil kabur.
Alice kaget ketika dirinya menyadari jika mobil yang dikendarai Detektif Brian mulai bermasalah, sudah ia duga jika hal ini akan terjadi, mengendarai mobil dengan kecepatan di luar batas, pasti akan membuat mobil itu bermasalah.
‘’Awhg, sial! Kenapa dalam kondisi terdesak seperti ini malah mendadak mati! Padahal sebentar lagi mereka bisa ditangkap!’’ geram Detektif Brian ketika mobil itu benar-benar berhenti.
Detektif Brian mengajak Alice untuk segera keluar dari dalam mobil yang bau-bau akan ada kebakaran hebat yang melanda. Dirinya berlari dengan menggenggam erat tangan Alice untuk melompat ke sebuah jurang yang tidak terlalu dalam, ketika ledakan besar terjadi.
‘’Apakah Anda baik-baik saja, Detektif?’’ tanya panik Alice.
__ADS_1
Detektif Brian merelakan dirinya yang terkena benturan dengan sebuah kayu besar di dasar jurang dangkal itu, kepala Detektif Brian mengeluarkan darah segar, kepanikan yang melanda Alice semakin menjadi-jadi ketika kaki kiri Detektif Brian di gigit oleh ular, dan itupun dilakukannya karena menyelamatkan Alice dari gigitan ular tanah.
‘’Awhg!’’ rintih pilu Detektif Brian.
Alice bingung mereka tidak memiliki perlengkapan obat-obatan yang akan dibutuhkan dalam kondisi terdesak, otaknya benar buntu sekarang, dirinya berusaha untuk menghubungi bantuan, sayangnya ponselnya mati begitupun dengan ponsel Detektif Brian, ponsel mereka menjadi rusak total.
‘’Detektif harus kuat!’’ Alice berusaha untuk mencari apapun yang bisa digunakan.
Dirinya merobek sedikit bajunya untuk membaluti bekas gigitan ular, dirinya juga merobek sisi lainnya untuk mengikat kepala Detektif Brian, setidaknya ketika darah itu tidak terlalu deras, sekalipun masih tergolong luka ringan, hati Alice menjadi tidak tenang, terlebih ketika ada orang lain yang berusaha merelakan dirinya agar bisa memastikan Alice selamat.
‘’Kamu kenapa menangis, Alice? Saya baik-baik saja,’’ ujar Detektif Brian yang tidak bisa untuk melihat setetes air mata itu jatuh.
‘’Baik apanya! Lihat kondisi Detektif sekarang, penuh dengan luka, dan itu terjadi karena menyelamatkan saya. Saya hanya takut sekarang, hiks!’’ Alice menjadi sangat rapuh.
Detektif Brian malah menyulingkan senyum ketika mendengar dan merasakan kepedulian yang diberikan oleh wanita yang ia cintai, rasa sakit yang dirasakan tubuhnya mendadak hilang ketika Alice mengatakan jika dirinya sangat khawatir.
‘’Jangan menangis, jika kamu terus menangis, maka rasa sakit saya akan semakin lebih besar. Berhentilah, luka ini tidak seberapa dengan semua kehilangan yang akan terjadi. Saya akan sangat bahagia ketika Tuhan mencabut nyawa saya dalam kondisi seperti ini, kondisi dimana saya sangat berguna bagi seseorang,’’ ucap Detektif Brian menatap lekat Alice.
Keheningan terjadi seketika, terlebih ketika tangan penuh luka itu menyentuh pipi yang penuh dengan air mata, Detektif Brian berusaha menyeka air mata yang masih terus mengalir dan menciptakan kedamaian dan ketenangan untuk Alice.
‘’Jangan teteskan air mata itu untuk menyesali semua hal yang telah saya lakukan pada kamu, kamu bagian penting dalam kehidupan saya. Jadi jangan berpikir saya akan membiarkan kamu terluka sedikit saja,’’ ujar Detektif Brian.
‘’Maksud Detektif?’’ tanya Alice tidak paham.
__ADS_1
‘’HANYA SEBUAH KLU, AGAR KAMU MENGERTI TENTANG SUATU HAL!’’ jawab Detektif Brian dengan tersenyum.