
" Maria?"
" maaf gw sekarang gak bisa temuin lo " ucap Chirst dan sebelum ia pergi tangannya ditarik Maria
" elo sengaja?" tanya Maria Chirst hanya diam tidak mengucapkan sepatah kata apapun
" Jawab !" bentak Maria
bagaimana tidak setiap hari ia chat tidak dibaca bahkan saat ditelepon tidak diangkat apa itu yang namanya sahabat?
" Jawab!" bentaknya sekali lagi
Adsel masih melihat adegan persahabat yang sangat menarik tentunya ya walaupun cemburu
" baiklah terserah lo aja deh " ucap Maria dan berbalik badan tapi sebelum nya Chirst mengucapkan sebuah kata
" Maria maaf kan aku itu semua aku yang salah karna tidak pandai dalam berteman"
" Maksud lo?"
" iya karna .."
" karna apa?"
" karna aku suka sama mu Maria ,tapi ayahku ingin aku melanjutkan di luar negri dan aku menjauh dari mu karna aku ingin menghilangkan rasa suka ku padamu"
Maria pun memeluk Chirst sebagai sahabat tidak lebih tapi saat Chirst mengucapkan kalau ia menyukai Maria.Adsel dan Maria terkejut bukan main .
" elo kenapa gak bilang sih elo juga tau kalau gw ini orang nya gak pekaan " memeluk Chirst dengan erat dan ini adalah perpisahan mereka sebagai sahabat
tanpa Chirst sadari kalau Maria menangis di pundak Chirst
" hiks...hiks...maaf "
" elo nangis Mar, ah gak enak lo Mar ini mah bukan Maria yang gw kenal sebagai pemberani"
" bacot" menyeka air matanya
" udah dulu ya Mar gw pergi dulu"
" tunggu"
__ADS_1
" apa?"
" elo harus sering kasih gw kabar ok jadi elo jangan lupain gw sebagai sahabat, janji"menunjukkan jari kelingkinnya
" ok janji" membalas jari kelingking Maria
" bye Maria" ucap Chirst dan pergi
" bye Chirst "
" bodo" sambungnya dengan teriak
Maria kembali menangis setelah kepergian sahabatnua Chirst Adsel pun datang menghampiri Maria yang menangis dalam keaadan jongkok
Adsel pun jongkok dan memegang kepala Maria,Maria mendongkakkan kepala nya dan melihat Adsel
" Adsel " gumam Maria
Maria langsung memeluk Adsel dengan tangisan nya Adsel membalasnya mengelus rambut panjang Maria
selang beberapa menit kemudian Maria menyelesaikan tangisnya dan melihat baju Adsel basah
" ah King baju mu basah tunggu sebentar aku ambilin tisu dulu" menggali kantong celananya
jantung Adsel kembali berdetak saat Maria mendekat kearahnya
" udah siap King dan baju nya kan agak basah nanti saat sampai ke markas saya akan mencucinya" dan pergi .Adsel pun mengikuti Maria dari belakang yang menuju ke markas
disisi lain dimana Fetricia dan Tresa yang gelisah karna Davie masih belum pulang dari kemarin malam
sampai...
Tok..Tok..Tok..suara ketukan pintu rumah
Tresa pun langsung membuka pintunya ia kira suaminya yang ternyata paket besar
" paket siapa ni?"
" ini dari seseorang yang namanya tidak disebutkan.silahkan"
orang yang mengantar paket itu salah satu anak suruhan Adsel untuk mengantar mayat Davie
__ADS_1
setelah orang itu pergi Tresa membawa paket itu tapi karna paketnya besar dengan terpaksa ia membuka isi paketnya dan saat itu ia terkejut sampai Fatricia datang menghampiri ibunya
AAHH...suara teriakan Tresa
" ada apa ma?" sampai Fatricia dan Tresa menangis karna Davie sudah mati di dalam kardus itu
" hiks...hiks...hiks..."
" nak perusahaan ayahmu sekarang dalam kritis dan mama minta kamu mengurus perusahaan ayahmu ya nak" ucap Tresa meyakini anknya
" engga ma Fatri gak pandai ngurus perusahaan mama aja" tolaknya mentah mentah karna ia sering dimanja jadi ia tidak tau apa apa tentang perusahaan
" mama juga gak bisa jadi gimana?"
" mama fikirin sendiri intinya Fatri gak mau miskin " ucapnya
Fatricia pergi dari rumah dan pergi ke rumah temannya.sebenarnya teman Fatricia hanya memanfaatkan Fatricia karna kaya bukan perasaan teman.
sesampainya ia dirumah sahabatnya ia langsung diusir karna Fatri miskin
" dasar teman laknat lebih baik aku hubungi Josefa yang lebih kaya "
seorang gadis yang baru saja selesai mandi tiba tiba saja ada suara telepon
" sepertinya rencana ku berhasil" tersenyum simrik
ya perusahaan KRS itu Maria lah yang menghancurkan dengan bantuan Adsel dkk dan pasti ia tau kalau Fatri pasti akan meminta bantuannya karna ia kaya
ia pun menekan tombol hijau menerima panggilan dari sepupunya
" ada apa sayang?"
" hm.. itu sayang aku boleh gak bertemu dengan mu?"
" tentu saja boleh sayang, tapi dimana?"
" di restoran XXX "
" baiklah sampao bertemu sayang "
Maria pun memutuskan panggilanya dengan Fatri dan memakai baju pria tapi sebelum ia pergi ia melihat Adsel didepan pintu kamarnya
__ADS_1
" ngapain?"