
"nina aku mohon jangan marah padaku" pinta putra
"uda lah nin sebaiknya bicara baik baik, kamu itu biasanya masalah apapun kamu buat santai kenapa sekarang tegang begini" ucap faris
"aku sudah terluka, teng kamu tau itu, gak bisa aku senyantai dulu, sepercaya dulu, walau orangnya berbeda aku yang sudah tak bisa menahan sakit lagi" ucapku
"aku tulus sama kamu nin, aku tak masalah dengan semua itu tapi bicara lah saat kau marah" jawab putra
"tapi masalah bagiku jika masa lalumu selalu hadir dan kamu tak bisa tegas padanya" ucapku
setelah mereka meyakinkan ku tak lama ibuku datang untuk duduk bersama kami, ibu ikut ngobrol ngobrol, bersama kami ibu menceritakan kenapa ibu menolak putra dan akhirnya menerima putra.
"gimana ni faris sebenarnya aku melarang putra mendekati putriku, tapi dia makin sering kemari dan membawah oleh oleh" ibu mengoda putra
"lah iya bu, putra mukanya melas kalau di tolak jadi gak tega, dia juga tak mudah nyerah" jawab faris
"iya bu sebab anak ibu pantas di perjuangkan mati matian " jawab putra malu malu
"iya tapi jangan sampai anakku merasakan sakit, ibu hanya takut kamu seperti orang tuamu bercerai dan anakku yang terluka." ucap ibuku
"iya bu saya akan bertahan hingga akhir karena saya juga tidak mau anak saya merasakan yang saya rasakan" janji putra pada ibuku
"ibu tak ingin anak ibu di bawah pergi, kalau kamu mau kalian tinggal di sini bersamaku" pinta ibu pada putra
"siap bu saya juga suka di sini, lebih tenang" jawab putra
"jangan janji janji entar udah nikah anakku kau bawah pergi" tuduh ibuku pada putra
"tidak bu, kalau beberapa hari aja boleh kan bu?" putra menawar permintaan ibuku
"belum apa apa sudah nawar, aku berubah fikiran binggung kamu" jawab ibuku bercanda
"jangan donk bu, kalau ibu berubah fikiran aku tiap hari kesini, sampai ibu merestui" putra pun membalas candaan ibuku
"kalau gak karena kakak kakaknya nina bantuin kamu meyakinkan aku belum tentu sekarang ibu terima kamu" ibuku masih mengodanya
"bosen aku di omel i mereka" sambung ibu sambil tersenyum
aku hanya senyum melihat ibu dan putra sudah akrab pernah sebelumnya saat ibu masih menentang hubungan ku dengan putra saat putra datang sama faris, ibu yang tidak bisa melihat dengan jelas mengatakan hal yang tidak di sukai tentang putra kepada putra karena ibu mengira yang di ajal bicara adalah faris.
ya lucu juga si tapi malah keberuntungan buat putra jadi dia bisa memperbaiki diri dan bisa mengambil hati ibuku.
__ADS_1
"mauku nina itu nikahnya sama orng sini saja biar gak pergi, kemarin aja di lamar sama teman fajri anak kerjanya di BUMN aku tolak takut nina di bawah ke banten juga, dan aku jauh dari putri kecilku" ibu bercerita pada putra yang di kira faris
"trus putra juga orang tuanya cerai aku takutnya putra juga seperti orang tuanya" sambung ibu sebelum putra menjawab
"dan orang surabaya itu kasar kasar gak peduli sama orng tua bicaranya kasar, kurang sopan, aku sebenarnya sudah memilihkan calon tapi nina sepertinya memilih putra. aku gk tau kenapa nina suka sama putra" ibuku melanjutkan ucapannya.
untungnya faris juga ada di situ jadi putra memberi isyarat agar faris menjawab
"putra itu baik bu, sama teman juga baik, tapi aku juga gak ngerti bu kenapa nina milih putra padahal ya ganteng aku loh bu " jawab faris mencairkan suasana agar semua ketawa
"ya mana mau teng nina sama kamu, kamu segentong gitu" ibuku mengoda komting atau faris
"tapikan aku punya jely bu" sambil memukul perutnya yang mengelambir seperti jely sambil ngakak
"walah teng kamu itu uda gemuk hitam pula, kayak gajah" jawabku membulynya
"gini gini banyak yang naksir" jawab komting dengan PDnya
"siapa? yuni? du ceweknya juga agak miring teng" jawabku tak mau kalah
"jelek jelek gini yang kamu cari pertama di kampus ya aku sma mery aja" komting membalasku
"iya iya kalian yang selalu bikin hariku tertawa trus dengan tingkah konyol kalian
"nin kok bengong" kata komting memgagetkanku tersadar dari lamunan, masa itu membuatku bengong dan senyum
"trus kenapa nina semalam menangis?" tanya ibuku
"nina salah paham bu" jawab putra
"belum apa apa kamu sudah membuat anakku menangis gimana nanti" jawab ibuku namun tak marah ibu tau itu hal biasa dalam hubungan.
"maafkan aku bu" ucap putra
"ya sudah selesaikan masalah kalian" ucap ibu
"bu aku dan mery mau ke kelud" sengaja bilang di depan putra
"lah trus putra sama komting pye?" tanya ibuku
"kami ikut ke kelud bu" jawab faris
__ADS_1
"jadi kalian kesini janjian mau pergi ke gunung kelud? ibu kira putra kuatir pada nina yg demam semalam" tanya ibuku
"sebenarnya dia kuatir bu sampai subuh subuh jemput aku langsung lemari, kami juga gak tau kalau nina sama mery mau pergi ke gunung, jadi ya sekalian ikut masak kami di tinggal disini" jawab faris memperjelas
"yaudah kalian hati hati, putra jaga nina!!" ucap ibu sambil melangkah masuk
sambil menunggu kedatangan mery aku bersiap siap, sedangkan putra dan faris melihat tv dulu tak lama kemudian mery datang dan masuk rumah dia tidak tau kalau ada faris dan putra.
"leh kenapa gendong air ada disini, jangan bilang kamu mau ikut ke kelud" ucap meri pada faris
"iya tu mer dia bisa merasakan kalau kamu mau kesini jd pagi pagi dia uda di sini menunggumu" ucapku mengoda mery
"jadi kamu menungguku, kenapa si kamu mengikuti aku trus" ucap meri sambil tertawa memukul pundak komting
"kalian ini selalu berantem jangan jangan kalian jodoh" ucap putra mengoda
"ih amit amit " ucap meri dan komting serempak
"ogak aku punya suami segentong nanti kalau nikah kayak angka 01, mana item pula" ucap mery
"yakin gak mau sama aku, aku kan empuk, tampan dan mempesona" jawab komting tak mau kalah
"ih jangankan aku gunung kelud aja menangis kalau kamu kesana" jawab meri sambil cengengesan
"kenapa gunung kelud menangis mer kalau komting kesana " tnya putra
"ya karena merasa kalah besar dan berat di injak komting" ejek meri sambil ketawa dan semua ikut tertawa termasuk komting
"iso ae mer mer" jawab komting
"sebenarnya kalian itu kompak loh tapi mulut kayaknya gk enak ya kalau gak berdebat" jawabku sambil menuruni tangga.
"ya uda ayo berangkat biar gak panas di jalan" ajakku
selama perjalanan mery dan komting ribut melulu hingga aku dan putra geleng
geleng padahal biasanya aku ikutan kami naik motor ke kelud biar gk ribet aku sama putra mery sama komting.
menikmati pemandangan di sekitar kanan kiri jalan terhampar tanaman nanas karena mayoritas orang di daerah sini petani nanas dan cengkeh. akhirnya aku pun mulai mau di ajak ngobrol sama putra, dan lupa akan masalah yang kemarin.
sesekali dia menoleh kebelakang dan bilang "aku cinta kamu" sambil tersenyum
__ADS_1
dan akupun jadi malu melihat dan mendengarnya, dia seperti tanpa beban, dan tampak bahagia mungkin karena perjuangannya mengambil hati ibu sudah berhasil melulukannya.
dan keluarga ku yang lain menyambut dengan baik tinggal menentukan tanggal acara lamaran, aku berharap semua akan lancar sampai akhir nanti dan tak ada orang ketiga di hubungan kami, karena jika masalah susah aku yakin bisa melewatinya tapi jika di hianati membayangkan saja aku tak mampu.