
"kamu itu kalau cinta gk bisa menutupi perhatianmu, kamu terlalu polos" ucap Steven dengan menyentuh hidungku
"dia sangat baik dia hanya perhatian dan percaya padaku di bandingkan sahabat kami yang lain, itu yang membuat aku jatuh hati padanya, dia tipe cowok yang susah di dekat i, itu tipe idamanku, gk seperti kamu ceweknya banyak" menceritakan tentang nardo pada Steven dan mengodanya
"tapi hatiku juga setia ya, hatiku cumak buat kamu, mereka semua hanya alasan untuk melupakanmu namun tak ada yang bisa mengubah rasaku" steven membela diri dari prasangkaku
"tp tetep aja playboy, hobinya nyakitin wanita" aku mengejeknya
"apalagi itu yang kamu kenalkan di kos dulu siapa tu namanya aku lupa" aku mengingatkan akan mantannya waktu SMA
"iya, dia yang cengeng banget hingga aku susah memutuskannya" jawabnya membuatku merasa puas mengejeknya
"kalau kamu putusin berusaha terisak biar nangis, agar kamu gk tega mutusin dia, dan kamu kalau jauh darinya kamu tirukan di depanku" aku sambil tertawa mengingatnya
"iya, susah sekali putus darinya, memang cantik dia tapi itu yang bikin aku gk betah dikit dikit nangis kayak aku ini orang jahat" akhirnya kami membahas kisah lama yang bukanya membuat hati sedih malah bikin tertawa
"trus gimana ceritanya kamu bisa putus sama dia, kamu tu tega banget dia sampai mutusin pacarnya loh demi jadian sama kamu" aku menceritakan hal yang aku tau tentang dia.
"jadi kamu selidik i dia ya,?? hayo ngaku!!" steven malah balik mengodaku
"bukan, aku gak selidikin dia, tapi teman temanku ingatkan sabrina dan lia, waktu aku cerita kamu jadian e besoknya uda dapat informasi detail tentang erna mantanmu itu" aku menjelaskan sambil tertawa, betapa lucunya dulu aku di bela belain sama teman teman agar aku bisa merebut steven, namun aku tak sampai hati menyakiti sesama perempuan.
"jadi ingat waktu ngerjain sabrina, sahabatku itu, dulu sepedanya aku bawah ke kos aku umpetin di teras belakang kos, dia sampai nangis dan lapor ke guru dan satpam tapi mereka aku beri isyarat kalau aku dan lia ya g ngumpetin dan mereka pun kerja sama denganku untuk membuat sabrina makin bingung" aku cerita sambil tertawa mengingat hal konyol di masa SMA dulu.
"iya kamu tau gak sabrina loh pernah nembak aku, karena dia temanmu jadi aku gk terima dia" ucap Steven sambil cengengesan
"ha yang bener padahal aku selalu curhat sama dia malah dia nembak kamu ??, dasar dia itu teman penghianat" ucapku sambil tertawa membayangkan sabrina menyatakan cinta
__ADS_1
"iya beneran" jawab Steven sambil tersenyum
"aku jadi ingat dulu kita sering jalan jalan bertiga ya sama sabrina, aku yang malu mau mendekat ke kamu tp dianya nempel trus sama kamu tapi waktu itu aku gk curiga malah aku mengira emang kalian uda deket sebelum aku hadir" aku bercerita dengan tawa seakan bukan aku yang di hianat i sahabatku
"kalian itu sama sama suka nyanyi dan aku yang main gitar tapi jujur ya suara kamu lebih enak di dengar tapi sayang kamu gak pernah PD tampil di depan umum malah sabrina yang terlalu PD" ucap Steven
"aku grogi kalau di lihat orang" jawabku sambil meminum es yang ku pegang
"kamu ingat gak teman sabrina yang di coblangkan ke kamu, waktu itu aku ketawa loh lihat kamu berusaha kabur tapi gak bisa" ucap Steven mengodaku
"ih kamu memang nyebelin, tau aku susah malah kamu pergi sama erna" jawabku jutek
"iya gimana erna merasa kamu menganggu waktu kami, kamu datang padaku mintak tolong berkali kali, erna juga tau kali kalau kamu caper sama aku, kamu gk bisa nutupin kalau kamu punya perasaan padaku" ucap Steven tertawa kecil
"ih nyebelin kalian, kamu gak tau betapa takutnya aku duduk sama cowok gila itu tiap aku pindah tempat dia ngikutin, sesuka sukanya aku sama kamu males lah nyamperin kamu yang lagi pacaran kalau gk karena kepepet takut sama cowok gila yang di tinggal sabrina di kos, sedangkan sabrina malah asik pergi pacaran" aku jadi kesal sama steven karena sengaja ninggalin aku berdua sama cowok gila karena pacarnya cemburu.
"iya maaf karena aku dulu juga mengirah dia benar kamu cumak caper" ucap Steven yang bikin aku makin kesal
"iya maafkan aku aku gk tau kalau dia segila itu, kalau aku tau pasti aku bantuin, aku kira teman sabrina baik siapa tau karena dia kamu bisa move on" ucap Steven membela diri
"q gk selemah itu hingga harus move on dengan bantuan orng ke 3" jawabku jutek karena masih kesal
dia masih meminta maaf padaku sampai beberapa waktu, tiba tiba hpku berdering panggilan dari putra, yang langsung membuatku tersenyum senang, entah apa sebabnya suasana hatiku bisa berubah drastis saat kulihat ada panggilan dari putra
"halo assalamualaikum mas putra" jawabku dengan seutas senyuman
"walaikumsalam dek nina, apa uda balik dari ketemu steven ? " terdengar jawaban dari putra
__ADS_1
"belum, kenapa memangnya, cemburu ya?" tanyaku mengoda
"ini sudah sore loh sayang, nanti kemalaman pulangnya, perjalanannya kan jauh" jawabnya kuatir padaku aku pun langsung memastikan jam saat ini dan aku terkejut melihat jam menunjukan pukul 5 sore tak terasa ngobrol membuat kami lupa waktu, terlebih di dalam ruangan yang membuat kita tidak tau kalau sudah sore.
"oh iya aku harus segera pulang, kenapa baru ingetin sekarang ? " tanyaku yang panik
"aku sudah mengingatkan lewat wa, tapi wa dariku tak kau baca, ya uda kamu ke rumah saja nanti aku anter, tunggu aku di rumah" jawab putra
"iya aku ke kampus dulu ya ambil motor, assalamualaikum " jawabku berpamitan
"iya hati hati walaikumsalam" jawabnya
aku menjelaskan pada Steven kalau sekarang sudah sore dan aku harus kembali ke kampus ambil motor dan segera pulang.
"steven ini uda sore aku harus balik dulu ke kampus ambil motor" aku berpamitan pada Steven.
"iya ayo aku anter tadi kan aku yang jemput" jawab Steven sambil bersiap pergi
kami di perjalanan sambil ngobrol ngobrol seakan semua seperti biasa, hanya sahabat tak lebih dari itu, rasa ini sudah berubah aku lebih bahagia bersama putra mungkin cinta ini mulai merekah, aku tak berat melepaskan steven walau dia sudah menyatakan cintanya, kini aku hanya harus melepaskan cinta pada nardo semoga semua berjalan dengan mudah karena aku lebih terbiasa bersama sebelum dekat dengan putra
"sepertinya kamu sudah jatuh hati pada putra" ucap Steven padaku secara tiba tiba ganti topik obrolan
"kenapa kamu berfikir begitu" tanyaku penasaran
"iya karena raut wajahmu berubah saat dia telp, kemarahanmu langsung pudar saat itu juga, sama seperti dulu kamu tampak marah pada temanmu saat aku menyapamu kamu gk jadi marah" dia menjelaskan padaku hal yang dia lihat
"kamu bisa tau sedetail itu tentang aku" tanyaku penasaran
__ADS_1
"iya kan aku juga suka sama kamu jadi ya aku perhatikan dari jauh, dan aku sengaja menyapamu untuk menurunkan emosimu agar suasana hatimu kembali ceria" jawabnya jujur
memang dulu tiap aku berselisih paham dengan temanku, tiap aku kecewa, tiap aku kesal tiba tiba dia hadir mengembalikan keceriaan yang terpancar di wajahku.