UJIAN MENJELANG PERNIKAHAN

UJIAN MENJELANG PERNIKAHAN
bab 24 Penentuan hari pernikahan


__ADS_3

sesampainya di rumahku ternyata ada keluargaku dan pak ustad yang sedang berkumpul di ruang tamu, ya tradisi Jawa pihak wanita yang menentukan dan mencari hari baik untuk pernikahan, sebelumnya ini mereka juga berkumpul menentukan perhitungan jodoh dan alhamdulillah aku dan putra di anggap cocok dan hasil istiqoroh pak ustad dan yang lainnya juga baik jadi putra di terima dan di izinkan melamarku dan sekarang tanpa aku tau mereka sedang menghitungkan hari baik menurut hari kelahiran kami kalau orang jawa bilang menghitung dari weton.


" assalamualaikum" ucapku dan putra bersamaan yang heran banyak orang di rumah


"walaikumsalam kalian kok baru pulang" tanya kakakku


" iya tadi putra maksa mau anterin jadi nunggu putra pulang kerja dulu" jawabku agar mereka tak berfikir macam macam karena aku pulang telat.


"ya uda mandi dulu gi biar segar, putra kamu mandi di kamar mandi atas aja biar gk lama nunggu nina mandi setelah itu kalaian makan lulu kemari lagi" perintah ibuku


"ok bu " jawabku lalu bergegas mandi karena aku penasaran ada apa kenapa aku di suruh ngumpul ke depan, putra pun langsung naik ke atas bergegas mandi. setelah mandi kami langsung berkumpul dengan mereka.


"kok gak makan dulu ?" tanya ibu


"kami tadi uda makan, tadi nina merengek katanya sudah sangat lapar jadi berhenti beli makan dulu" jawab putra


"ya uda kalau begitu ini pak ustad dan tetua di kampung kita sudah menghitung tangal pernikahan kalian, dan ternyata pada tgl 1 bulan agustus jadi kurang 3 bulan lagi hari pernikahan kalian, kebetulan putra ikut kesini jadi nanti kamu beritau keluargamu ya, karena dapatkan hari sangat dekat untuk persiapan, kami tidak bisa kesana" ucap ibuku


"kenapa cepat sekali ? apa gk ada tanggal lain bu?" ucapku yang kaget karena kuliahku belum sidang skripsi dan wisuda, namun berbeda yang tampak di wajah putra dia tampak bahagia sekali.


"ada tgl lain tapi lebih cepat lagi 5 minggu lagi, kita belum ada persiapan untuk hal itu jadi lebih baik jmyang tgl 1 kita masih bisa menyiapkan segalanya " ucap kakakku fikri


"ini terlalu cepat, apa mau tahun depan aja?" goda mbk dewi


"Jangan mbk itu saja gapapa nanti aku beritahu keluargaku" sahut putra dengan semangat dan aku memperhatikan dia heran


"sepertinya mas putra yang gak sabar ini" jawab pak ustad mengoda putra


"gimana mau nunda pak, kalau saingan saya banyak" ucap putra sambil tertawa kecil


"tapi aku belum wisuda " protesku


"gapapa mbk nina, lebih baik di halalkan dulu dari pada dosa trus pingin nyolek aja dosa deketan dosa lebih baik halal nyolek pahala, gandengan pahala, kan kuliah gk melarang orang yang menikah" pak ustad memberikan nasihat

__ADS_1


" Baiklah bagaimana baiknya saja, tapi biaya pernikahan juga gk sedikit dalam waktu 3 bulan uangku saja cumak sedikit" ucapku sedih


"aku akan membantu aku punya tabungan walau cumak sedikit" sahut putra


akhirnya kami sepakat dan memilih tanggal itu, setelah bercakap cakap dengan semua orang di depan cukup lama, putra berpamitan pulang karena besok harus berkerja, namun sama ibu di cegah ibu menyuruh pulang besok saja habis sholat subuh.


"kalau begitu saya pamit pulang dulu bu sudah malam" putra berpamitan pada ibu


"Jangan pulang sekarang besok saja, di sini masih ada kamar biar nina tidur sama ibu dan kasian kamu capek belum istirahat takutnya ngantuk, ini uda malam sebaiknya tidur dulu" pinta ibu yang di dukung dengan kakak ku


"iya tidur di sini aja gak akan ada fitnah karena di sini banyak orang dan tiap malam aku dan teman teman masih bergadang" ucap mas fajri


"aku bereskan dulu kamarku" aku berlalu pergi masuk kekamar sebenarnya hanya mengambil selimut untuk putra karena kamarku sudah selalu rapi seandainya aku lupa bereskan selalu di bereskan mbk tutik sama mbk Asia yang bantuin beresin rumah sejak aku kecil hingga sekarang.


mbk tutik sama mbk Asia selalu menyayangiku dan membantuku, mereka setia berkerja di rumah ini, tiap ingat almarhum ayah mereka selalu merasa kasian padaku karena aku di tinggal ayah sebelum menikah, namun aku bersyukur karena mempunyai kakak kakak yang sangat menjaga dan suport aku.


ku ambil selimut dari dalam lemari ku taruh di atas bantal, karena di sini udaranya sangat dingin seperti di puncak jadi kami selalu sedia stok selimut buat persiapan kalau ada teman atau kerabat uang menginap, setelah itu aku keluar mempersilakan putra tidur di kamarku.


"iya, jgn lupa bangunin" ucapnya sambil melangkah masuk kamar


aku pun kembali bergabung dengan orang orang sudah biasa di rumahku banyak orang dan bergadang bersama, tetangga dan teman kakakku sering berkumpul di sini, saat aku mulai mengantuk dan bersiap mau tidur aku lupa kalau baju tidur ku masih d kamar, aku coba wa siapa tau dia dengar dan balas


"assalamualaikum " ku kirim pesan wa pada putra


"walaikumsalam " ternyata putra belum tidur


"belum tidur? bisa keluar sebentar !" ku kirimkan pesan lewat wa, tanpa ada balasan orang nya uda keluar mendekat ke arahku


"ada apa?" tanya putra


"aku mau ambil baju tidurku sebentar gak enk tidur pakai baju begini" jawabku lalu aku masuk mengambil bajuku dan bergegas keluar.


"sudah tidak ada yang tertinggal, cream malam misalnya" ùcap putra mengingatkan, aku langsung berlari mengambil skincare yang biasa aku gunakan saat mau tidur dan bergegas kembali

__ADS_1


"sudah semua, sekarang silakan istirahat " jawabku sambil membawah baju dan dompet skincare dan di sambut senyuman mengoda dari putra.


aku pun masuk kamar ibu, aku merasa capek rasanya ingin tidur namun sulit memejamkan mata karena teringat tanggal pernikahan yang sudah dekat 3 bulan bukan waktu yang lama untuk mempersiapkan semua itu.


"gk bisa tidur ya" pesan wa dari putra yang seakan tau apa yang aku rasakan


"kamu juga gak tidur, kamarku gak nyaman ya buat kamu?"


"nyaman kok, malah aku seneng banget tidur di kamarmu, aku kira aku bakal tidur di sini saat kita udah suami istri, ternyata malam ini aku disuruh tidur di sini"


"iya karena kamar kakak ku di pakai kan sekarang lagi berkumpul di rumah, sejak acara lamaran kita kemarin besok mereka baru balik ke jakarta dan ke banten"


"iya enak ya rame kalau pada pulang, sayangnya tadi kita kemalaman pulangnya jadi gk ketemu safa dan sania mereka uda tidur" jawab putra yang merindukan keponakanku yang dulu bertemu si banten.


"besok subuh pasti ketemu mereka uda biasa bangun subuh saat semua sholat subuh" jawabku


"kamu kenapa gk bisa tidur? " putra balik bertanya padaku


"aku kepikiran tanggal pernikahan kita, aku rasa terlalu mendadak dan cepat" jawabku


"Jangan pikirkan biaya aku akan usahakan, apa kamu gak suka bersama ku?"


"bukan begitu, mungkin aku hanya kaget aja" aku berusaha mencari alasan karena aku tak mau dia berfikir seperti tadi aku mengharapkan steven atau lainnya.


"aku sangat bahagia dengan rencana pernikahan kita, dan aku tak mau kamu terpaksa, kalau kamu mau di undur baiklah tahun depan saja" balasan wa putra membuatku merasa bersalah


"tidak semua uda sepakat aku hanya binggung apa aku bisa menyiapkannya secepat itu, sudahlah ayo kita tidur, kita fikirkan besok saja" balasku


"aku akan membantu menyiapkannya, iya ayo tidur, selamat malam assalamualaikum "


"malam, walaikumsalam " jawabku


kami tertidur karena capek habis perjalanan, sebelum adzan subuh berkumandang ku dengar safa dan sania sangat cerewet dan berisik membuat aku dan putra sama sama keluar kamar, tampak sekali mereka senang melihat om putra yang mereka sayang i, mereka berhamburan berlari memeluk putra dan putra pun tampak senang sekali menerima pelukan dari mereka, mereka para sodarah laki laki bersiap mau ke musholah dan safa, sania dan najwa ank mas fikri ikut ke musolah tampak anak anak bahagia dan ingin dekat dengan putra, namun sayangnya setelah sholat subuh putra hanya bisa bermain sebentar karena harus kembali ke surabaya dia harus berkerja.

__ADS_1


__ADS_2