
saat aku berada di kampus berkumpul dengan teman teman tiba tiba ponselku berdering dan yang membuat aku kaget dia yang selama ini mengabaikan perasaanku, yang selama ini hanya mengagapku hanya sekedar teman dekat waktu berada di kost saat masih sekolah SMA, dia cinta pertama yang membuat aku jadi wanita seutuhnya, aku berdandan aku mengubah gayaku yang dulu seperti anak laki laki sedikit lebih feminim karena ingin merebut perhatiannya.
"Steven tumben sekali dia telp" batinku
aku binggung harus angkat telp ini apa tidak aku takut terbawa perasaan, karena jujur saja rasa ini masih ada, setiap bertemu dengannya aku selalu salah tingkah, terakhir bertemu dengannya ketika aku curhat setelah putus dengan mantan pacarku, yang selingkuh dengan wanita yang tak lebih baik atau pun lebih cantik dariku hanya karena bosan hubungan sudah lama.
waktu itu ada tatapan beda darinya seperti tak biasa Steven lebih mendengarkan dan memerhatikan aku, beda dengan dia yang dulu dia mendengarkan keluh kesaku tapi seakan tak mendengarkan bahkan kadang meninggalkanku begitu saja.
"halo" ucapku tanpa mengucapkan salam karena dia non muslim, ya awal aku jatuh cinta aku tak tau kalau dia non muslim, karena hanya memandang saja dan tak pernah mendekatinya hingga suatu saat dia dan aku bertemu di kost yang akan aku tempat i dan ternyata dia kos di situ juga dan akhirnya kami akrab tp hanya sebatas teman, karena dia tak pernah menunjukan ada rasa lebih padaku.
"halo, kamu dimana? " Tanya Steven
"aku di kampus, ada apa sepertinya kamu kangen sama aku?" jawabku yang sudah biasa bersikap ke GRan padanya
"aku kesana ya? kamu selesai jam berapa kuliahnya? tanya Steven memastikan
"ini aku baru selesai mau ke kantin sama teman teman, kesini aja aku traktir bakso nanti" ucapku
"wah mantap ni siang siang makan bakso sama esnya sekalian ya, aku kesana sekarang" jawabnya penuh semangat seperti biasa
"ok aku tunggu di kantin, parkir di gerbang Utara ya" lalu ku tutup telp dan memasukan ponsel ke tas
lalu aku dan teman temanku melangkah menuju kantin, dan memesan makanan karena sangat antri kami menunggu cukup lama, dan Steven pun belum datang karena jarak kampusnya ke kampusku lumayan jauh, teman teman mengirah tadi yang telp itu putra karena aku kelihatan deket.
"cie yang habis di telp sang pujaan" kata fariz mengodaku
"ih sok tau" jawabku tersenyum
"dia doang yang di traktir, kita gk sekalian" ucap nardo sahabat dekatku sama seperti mery dan faris yang selalu menemaniku
"iya iya kalian bertiga juga di traktir" jawabku tersenyum pada mereka
"kalau nardo yang bilang aja langsung di iya in kalau aku sama fariz aja di cuekin" protes mery karena mery tau kedekatan sama nardo beda.
"ya uda aku gk nurutin nardo, aku gk jadi traktir kalian" jawabku sambil tertawa
"tukan mery si protes segala, gk terima aja" protes nardo
__ADS_1
"wah mery gk jadi dapat traktiran kita" sahut faris
"iya maaf, traktir ya nin" bujuk mery dengan muka sok imut
"gak bisa uda di cabut tadi traktirannya" jawabku ketawa senang melihat mereka
tak lama kemudian Steven datang dari jauh aku melambaikan tangan agar dia tau tempat duduk kami
"kok bukan putra yang datang, nin" tanya fariz
"mangkanya jangan sok tau" jawabku sambil senyum
"siapa dia nin?" kali ini nardo ikut bertanya
"dia itu Steven sahabat nina waktu SMA" jawab mery yang sudah pernah aku kenalkan karena mereka seagama
"duduk sini" ku persilakan duduk di samping nardo di depanku.
"kok makanannya belum datang ya? tanya meri yang mulai lapar
"aku tanya dulu jangan jangan lupa mbaknya" jawab komting atau faris
"Steven kenalin mereka sahabatku di sini" aku memulai percakapan dan mereka langsung berkenan menyebut nama masing masing
"tumben nemuin aku, kangen ya sama aku yang imut ini" ucapku yang sok manis sambil pegang pipi
"iya kangen, sama sikapmu yang lebay dan menyebalkan" jawab Steven
"walau menyebalkan tapi kan selalu bikin kangen " jawabku ke PDan
"idih GRnya kambuh lagi ni bocah" jawab nardo yang selalu kata katanya bikin jengkel
"ih nardo" ucapku sambil cemberut
Steven hanya senyum sambil geleng geleng kepala, tak lama kemudian bakso dan es blewa datang dan mbaknya di ganguin sm fariz dasar faris si pria pengoda, hobi banget bikin cewek baper.
"ayo jalan jalan nanti, bosen di kos" ajak Steven
__ADS_1
"rame rame ya biar seru" jawabku
"iya siap ikut" jawab fariz
"ayo ikut do, ngapain kamu di rumah sendirian" aku ajak nardo
"main game lah " jawabnya ketus yang emang biasa ketus sama aku
"ayo lah, ayo ikut" ajakku manja
lalu mereka ngobrol bersama aku pergi bayar makanan kami secara diam diam biar mereka gk tau kalau aku traktir, lalu aku duduk kembali.
"enaknya kemana?" mereka bertanya
"kemana ya ke suramadu aja nongkrong sambil lihat laut biar gk jauh jauh, karena nanti harus pulang lagi ke jombang " jawabku
"ya uda gk papa ke sana aja" sahut mery
"ya uda ayo biar nanti gk kemalaman pulangnya" jawabku
"bayar dulu lah kalian mau kabur gak bayar, habis makan kabur" ucap nardo
mereka pun berjalan mau membayar makanannya sedangkan aku dan steven berjalan keluar kantin mereka pun mengikuti aku
"uda di bayar gk bilang bilang, kan aku jadi enak" ucap mery sambil tertawa
"iya gk bilang bilang kalau bayar tau gitu nambah" ucap fariz ikut tertawa
"dasar kebo" ucap nardo ke fariz
mereka selalu ribut tapi kemana kemana selalu bersama, karena keributan kami berdasar canda tawa, bulyan kami agar kami saling tertawa bahagia.
kami pun berjalan bergegas ambil motor, sebagian motornya di tinggal di kampus aku sama Steven, mery sama faris walau gak akur mereka selalu bersama, karena motor nardo gk bisa buat boncengan karena di jok belakang di ganti limas.
selama di perjalanan aku dan steven bercanda tertawa hingga aku mengingat bagaimana kami dulu duduk di teras kos, Steven bermain gitar aku yang bernyanyi, walau sering di ejek olehnya, kenangan itu membangunkan rasa yang pernah ada di hatiku, seakan bangkit kembali, terasa nyaman dan rasa ingin memilikinya.
Namun tatapan Steven yang berbeda membuatku merasa dia pun mulai memiliki rasa yang sama seperti ku dulu, aku merasa sikapnya pun berubah lebih memerhatikanku dan lebih lembut padaku
__ADS_1
sesampainya di suramadu kami pun mencari tempat yang nyaman untuk ngobrol, selama bersama Steven aku semakin yakin dia berubah
namun aku harus ingat sekarang ada putra yang betul betul mencintaiku, membuatku special dan merasa berharga.